Pertemuan dalam Ruang Tunggu..

Akhirnya kita ada di satu titik pertemuan. Melempar banyak pertanyaan, dibalut tawa sungguhan. Malam yang menyenangkan. Mungkin hanya bagiku. Bagimu, malam ini berulangkali ada, dengan banyak pasang mata yang bukan milikku.

Ribuan menit aku menunggu malam ini terjadi, atau sengaja terjadi. Malam yang tak akan terulang hanya lewat doa dalam sunyi. Aku sudah melihat kursi yang Kau duduki berulangkali dalam bingkai gambar. Mengingatnya hanya menghilangkan tawa yang aku buat, rasanya hambar. Untungnya, warna-warni gores yang tepat berada di belakangmu, menenangkan. Meskipun tak lama, tapi cukup meredakan irama degup yang terus berangsur hadir tak beraturan.

Aku memilih menduakan pandangan pada secangkir kopi di depanku, memisahkan resahku dan lipatan tanganmu di seberang. Bukan baru sekali ini canggungku datang, tapi baru kali ini aku kehilangan cara membuangnya. Aku ingin sekali bicara, satu pertanyaan yang rasanya mustahil aku sampaikan langsung di depanmu. Di depan pasang mata yang selalu berhasil mengatupkan bibir tanpa banyak kedip. Padahal pertanyaan yang aku bagi dalam dua frase itu sudah aku tulis dan aku ketik. Semuanya menguap, seperti harum kopi yang aku hirup.

Akhirnya kita ada di satu titik pertemuan. Mengalihkan banyak pandangan pada satu layar yang harusnya kita simpan. Aku, mungkin juga Kamu, mungkin tidak, menunggu senyum kita bertemu. Aku mengiyakan, menunggu itu membosankan. Tapi pura” menunggu adalah kejahatan.
Selengkapnya...

Janji Senja..

Datang dan pergi seketika, adalah kisah yang pernah senja titipkan padaku. Meminang pikiran agar lebih dalam menyelami rindu padamu. Tapi sejak awal, aku sengaja membiarkan romansa itu lewat dengan syahdu. Aku tau, setiap paragraf ini hanya mengantar rindu, semuanya semu, seperti katamu.

Hari belakangan, langit selalu berhasil mencuri perhatianku. Bukan karena aku menunggu gelap dan hujan setelahnya. Tapi karena senja yang selalu Kau ceritakan indahnya. Bukan karena aku menanti mendung yang menjadikan awan tampak abu. Tapi karena pendar jingga yang Kau ceritakan sebelum petang membuatnya berlalu.

Diam", aku rajin mendaki anak tangga pergi ke loteng, ruang yang tak dimiliki siapapun. Aku perlahan menengadahkan kepala, memicingkan mata menikmati matahari turun. Padanya, aku bertanya tentangmu. Kamu yang tak tau bagaimana cara menikmati rindu karena tertimbun jarak. Menunggangi resah, yang hanya berotasi pada satu lingkar layaknya awan berarak.

Tapi aku percaya pada senja. Dia selalu menjanjikan satu hal; ada. Dia selalu hadir melengkapi hari, dan pergi saat petang mengganti. Aku, ada.
Selengkapnya...

Bagaimana Caranya..?!

Katakan, bagaimana cara menemukanmu dalam mimpi..? AKu ingin tidurku tak lagi hitam putih. Aku ingin ada warna di sekelilingku sampai aku terbangun lagi. Sudah lama aku membiarkan tidurku penuh dengan ukiran huruf di atas kanfas. Semua berdasar putih dan kumpulan hitam dengan banyak spasi di antaranya. Bisakah Kamu menyelipkan banyak warna dari masing" jeda itu. Jadi, katakan, bagaimana cara menemuimu dalam mimpi..?

'Miim', meskipun jika aku menemukanmu nanti, aku tak tau apa aku mengingatmu setelah bangun kembali.
'Miimm', suara perempuan, sepertinya Ibu.
'Miimm, Kamu tidur..?', iya, itu Ibu.
'Hmmmm, iya Bu. Hah, enggak Bu. Kenapa..?',
'Ada Silvi nih',
'Oo iya Bu',
'Eh, bangun. Itu ada Silvi', suara Ibu semakin dekat. Ternyata Ibu berdiri di depan pintu kamar.
'Iya, biarin aja Bu. Saya ngantuk',
'Silvi pengen ketemu Kamu',
'Oo, sama siapa Bu..?', aku bicara masih dengan mata terpejam dan suara lirih.
'Tadi sama Sofyan. Sekarang sendirian tuh',
'Oo, iya',
'Miimm, kasian lho daritadi mereka',
'Iya Bu, saya keluar', mataku sepet, aku benar" ngantuk. Aku seperti gak bisa bedain mana pintu mana lemari. Keduanya terlihat sama, tapi beda. Aku langsung duduk di samping Silvi dan mengagetkannya. Kepalaku aku sandarkan di tangan yang aku lipat. Sepertinya Silvi daritadi ngomong, tapi aku gak dengerin.
‘Sil, bentar deh. Saya cuci muka dulu. Mau minum apa..?’
‘Udah nih Ibumu bawain barusan’,
‘Oo, bentar ya’, aku menuju kamar mandi dan tidur. Tidak, aku cuci muka dan kembali menemui Silvi.
‘Jadi, ada apa..? Maaf ya, aku ngantuk banget. Eh tadi Ibu bilang Kamu sama anak” ke sini..?’,
‘Iya, tapi udah pulang pas Ibumu bilang Kamu baik” saja’.
‘Maksudnya..? Emang aku kenapa..?’,
‘Mau aku certain..? Tapi cukup aku bilang abis itu gak usah nanya ya. Deal..?’,
‘Iya deh. Apaan..?’,
‘Hmmm, ada anak sini yang katanya hampir mati karena kelelep’,
‘Hahahahahaa. Sialan. Udah sana pulang’,
‘Kok ketawa..?’,
‘Bapak udah memperingatkan sih. Katanya ini bakal jadi banyak diomongin orang. Kok bisa gitu ya..? Kenapa..?’,
‘Aneh aja ada anak Sepulu hampir mati karena gak bisa renang. Tadi pas dikasi tau sama Ibumu kalo Kamu masih idup, ya Sofyan dan yang lain pulang’,
‘Kamu..?’,
‘Mau ngobrol. Ada yang mau saya obrolin’,
‘Tentang..?’,
‘Kalau ngomong juga sama kayak chat nya ya..?! Singkat singkat’,
‘Tentang apa Sil..?’,
‘Tentang anak Sepulu yang hampir mati kelelep’, saat Bapak bilang tentang kabar ini akan menyebar, aku mikir macem”. Banyak. Mungkin aneh saja, ada anak Sepulu yang gak bisa renang. Sepulu adalah daerah pesisir. Gak usah melakukan perjalanan dua jam dan jalan” sempit seperti di Malang buat ke pantai. Mencari pantai dengan pasir putih dan lautnya yang nenangin, gak usah harus eksodus ke kota” tetangga seperti tinggal di Surabaya. Saat mau liburan ke pantai, harus ke Gresik atau Lamongan, bahkan beberapa harus ke Pacitan karena pantai di Surabaya hanya satu dan pasti sesak saat liburan. Ditambah lagi, aku adalah anak dari seorang nelayan yang sudah lama, memiliki reputasi bagus sebagai nelayan diantara teman”nya. Bukan karena selalu mendapat banyak hasil melaut, tapi salah seorang yang senior.
‘Tentang apa Sil..?’,
‘Hmmm, hidup’,
‘Mulai deh. Drama nih pasti’,
‘Aku udah gak tau lagi mau ngapain..? Udah cukup tau rasanya………’, Silvi bercerita banyak tentang hidupnya yang harus sendirian dan tinggal bersama neneknya. Sejak kecil, keluarga Silvi sudah tak lagi utuh. Pindah” ke beberapa kota. Menemukan dan kehilangan cinta juga jadi jadi bagian cerita di hidupnya. Dan kaparatnya, aku kadang tidak ada untuk mendengarkan ceritanya.
‘Kalau gitu, segera nikah. Apalagi yang ditunggu..?’,
‘Harusnya gitu. Tapi beberapa hari ini aku jadi mikir, nikah hanya akan menyelesaikan satu persoalan hidupku. Lainnya..? Aku rasa enggak’,
‘Hahahahaa. Sil, dulu seseorang pernah bilang gini. Hidup ini kompleks. Cerita di hidupku gak hanya aku yang menjalani. Ada orang” lain. Diantara mereka ada yang menetap dan ada juga yang lewat. Kau boleh egois, sesuka hatimu berbuat, karena ini hidupmu. Tapi Kamu hanya egois, kecanduan egois dan egois itu akan menjadi dirimu’, Silvi mulai mengernyitkan dahi sambil senyum”.
‘Kayak pernah denger. Di mana dan kapan ya..?’, tentu saja Silvi pernah denger. Ini adalah nasehatnya saat aku pernah berada di posisinya, enam tahun lalu mungkin, saat aku baru menjalani tahun kedua kuliahku, kuliah yang berantakan.
‘Masak sih..? di buku kali. Lagian nih ya. Eh bentar, ada terusannya. Orang itu juga bilang ke aku kalau hidup ini bukan tentang beban yang kita pikul, sendirian. Jangan merasa hidup adalah sekumpulan beban dan beban itu milikmu semua. Gimana..? Keren gak..? Udah cocok gak jadi motivator..?’,
‘Harusnya temenmu itu yang cocok jadi motivator’,
‘Siapa bilang dia temenku. Seseorang. Hanya orang’,
‘Pinter banget balik”in omongan. Kamu banget tuh’,
‘Jadi gimana..? Fell better..?’,
‘Lumayan’,
‘Kok cuma lumayan. Susah lho nginget yang barusan’,
‘Gak jadi lumayan deh kalo Kamu traktir minum’,
‘Ntar malem ya..? di Sofyan..? Boleh deh’,
‘Kalau mau’,
‘OKe’,
‘Bener nih..? Gak sibuk..?’,
‘Halah, paling juga kalian nelpon mulu. Bikin gak tenang. Iya ntar malem abis Isya’ ya’,
‘ih ge-er. Eh tapi beneran ya..?’,
‘Iya, beneran. Kenapa..?’,
‘Soalnya kalau ada Kamu, kita gak bayar’,
‘Kok gitu..?’,
‘Gak tau. Tiap kita ngumpul” di sana, bayar. Tapi pas tiap ada Kamu, gratis tis. Beneran’,
‘Hmmm, jadi itu sebabnya aku dipaksa nongkrong di Sofyan mulu tiap pulang..?’,
‘ge-er. Tapi bener sih. Hahahaha..’,
‘Apa Ibu gak narik bayaran ya kalau Sofyan beli soto Ibu..? Balas gitu’,
‘Ya rugilah Ibumu kalau Sofyan gak ditarik bayaran. Sofyan kan berporsi-porsi kalau makan soto Ibumu’,
‘Yaudah deh, ntar malem. Jangan telat. Keseringan. Gak usah dandan deh kayak kemarin. Dandanmu buat calon suamimu aja’,
‘Gak ada perempuan yang gak dandan. Ah Kamu kebanyakan temenan sama laki sih. Homo kali ya..?’, Silvi beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah sepeda motornya.
‘Oh iya, nasehat tadi ada lanjutannya. Katanya, jangan lupa bahagia’, Silvi berbalik arah, melihatku dan berkata ‘Kurang panjang ah’,
‘Hmmm, karena bahagia hanya Kamu bisa ciptakan sendiri’,
‘Pinter. Jadi, kapan Kamu bahagiain dirimu sendiri..? Untuk beberapa kali, bikin orang ketawa Kamu jago. Tapi jangan palsu, kayak apa ya. Kayak kosong gitu. Buat bikin orang seneng, Kamu dulu yang harus seneng. Gitu cara kerjanya. Jadi, udah nyatain sama dia..?’,
‘Ini kok ujung”nya saya kena..? Udah sana pulang”, aku masih melihat ke arahnya. Aku tau Silvi tidak akan berhenti meledekku sampai benar” enyah dari hadapanku. Benar. Silvi senyum” sambil mengerlingkan mata sambil menyebut tanpa suara seorang nama perempuan yang pernah aku ceritakan padanya. Sekitar empat detik kemudian, Silvi benar” hilang dari pandangan mataku.

Aku jadi semakin ingin tau jawabanmu, bagaimana cara menemukanmu dalam mimpi..? Karena dengan begitu saja, aku sudah bahagia. dan aku tak bisa bayangkan jika itu bukan dalam mimpi, level bahagianya bisa naik beberapa tingkat.

30 April 2016
Selengkapnya...

Jeda Antara Mati dan Hidup..

Siang ini aku hampir mati, dalam arti sebenarnya. Bukan karena merindukanmu, bukan juga karena berusaha mengusir namamu dalam doaku setiap rindu itu datang. Aku hampir mati, karena satu ironi yang sampai sekarang aku benci menanggungnya. Anak nelayan yang tidak bisa berenang. Mungkin salahku, mendahulukan keinginan duniawi daripada menjalankan ibadah wajib.

Siang ini aku berada di rumah untuk banyak hal. Dari semuanya, hal yang paling aku sukai adalah hmm apa ya, gak ada sih. Semuanya menarik. Kenyataan kalau aku berada di rumah dan bertemu semua penghuninya, itu adalah weekend terbaik yang pernah ada. Semua orang juga berpikir hal yang sama sepertiku. Kenyataan kalau akan ada bincang” tipis antara aku, Sofyan, Silvi, Hilmi, Ook dan Lauhim kedua kalinya juga membuatku antusias menjalani hari sampai petang menjemput. Hal lainnya adalah, spekulasi kalau aku akan ‘pandinan’, pergi ke pantai, laut untuk bermain, seolah berenang atau hal lainnya. Ternyata, hal lainnya adalah pilihan yang Tuhan berikan padaku.

Siang ini seorang teman Bapak datang ke rumah, bilang kalau Bapak butuh bantuan untuk menyelesaikan ‘dandanan’ kapalnya. Sudah dua hari Bapak gak melaut, karena ada masalah di mesin dan alas di bagian buritan kapal. Setelah semua selesai diperbaiki dibantu satu tukang, tibalah Bapak sendirian harus melakukan semacam finishing touch untuk kapal ini. Saat permintaan bantuan itu datang di daun telinga pintu rumah, tanpa basa basi aku dan Zainal ganti celana pendek dan melepaskan kaos. Mengucap salam pada Ibu, dan langsung menuju pantai yang hanya berjarak 50 meter dari belakang rumah. Aku pergi, tepat saat adzan Dzuhur berkumandang. Keraguan langkah kakiku untuk kembali ke rumah atau meneruskan perjalanan ke pantai semakin besar saat aku sudah melihat kapal Bapak dari kejauhan. Aku sempat kembali ke rumah, tepat di depan rumah, tapi yang aku lakukan hanya menyapa Zein yang baru selesai mandi dan jalan lagi ke pantai.

Siang itu, air laut lagi pasang. Aku tak menyangka bakal setinggi ini. Aku benar” tenggelam, tinggi air laut di atas kepalaku. Untung ada tali perahu yang satu ujungnya mengikat kapal dan bebatuan di pantai di ujung satunya. Lumayan bergelantungan buat mencapai kapal Bapak.

‘Pak’, aku menjulurkan tangan kananku yang disambut uluran tangan kanan Bapak dan aku menciumnya.
‘Itu kenapa kakimu..?’, Bapak menunjuk darah yang muncul di pergelangan kaki kananku.
‘Oh, kapan ini ya..? Kok gak kerasa..?’,
‘Kena tiram paling. Tadi renang deket tali..?’, tanya Bapak santai.
‘Iya sih Pak. Aw’, sakitnya mulai kerasa sekarang. Darahnya keluar lumayan banyak dan segera aku pindahkan kaki ke air laut untuk aku basah. Sementara itu, Zainal sudah bolak balik naik dan turun kapal buat bersih” kapal dan berenang.
‘Ini air di dalam keluarkan pakai pompa itu, kalau udah tinggal dikit, dikeluarin manual pakai gayung kayu itu’, Bapak memberi instruksi padaku dan Zainal.
Kami berdua mengeluarkan air yang ada di lambunng kapal seperti yang diinstruksikan. Bagiku siang itu, apalagi yang bisa membuat bahagia selain situasi ini..? Jika ada, situasi itu adalah Nurul dan Zein juga di sini. Sepintas, aku memikirkan Nurul. Dia akan menjalani UN SMP 9 Mei nanti dan aku belum menelponnya memberi semangat. Walaupun entah itu berfungsi atau tidak. Sepintas juga aku berencana meminta Ibu nelpon pesantrennya, karena orang tua santri lebih punya kuasa atas pembicaraan lewat sambungan telpon dengan santri.
‘Kak, bisa renang..?’, tanya Zainal padaku seketika.
‘Enggak. Kamu..?’,
‘Bisa dikit’, jawab Zainal dengan langsung menceburkan diri ke laut turun dari kapal.
‘OKe, saya nyebur ntar tangkep ya. Tolongin’, pintaku.
‘OKee’, jawaban Zainal aku sambut dengan loncatanku ke laut. Sial, aku tidak bisa merasakan tanah di bawah kakiku. Aku tenggelam. Jarak antara tanah dan kakiku mengapung terlalu jauh, jauh. Saat sampai di tanah, aku kembali naik ke atas dengan susah payah. Dari sudut pandang yang sangat singkat itu, aku melihat Zainal mengarah ke posisiku tenggelam dan menarikku. Tanganku dia tempatkan ke bahunya dan memegangnya. Tapi aku melihat Zainal tidak bisa menguasai gerakan tangannya. Gilak, dengan posisi ini malah Zainal yang akan tenggelam dan mati. Akhirnya aku melepaskan tanganku dari bahunya dan menenggelamkan diri kembali. Aku berusaha menyentuh tanah di bawah dan kembali mendorong ke atas. Seketika itu, aku berteriak dengan keras.
‘Pak, tolong Zainal. Pak’, teriakku sekeras mungkin. Tapi sepertinya tak cukup kuat. Sekilas aku melihat Bapak tersenyum sebelum meloncat dari kapal. Sementara aku sudah tidak lagi melihat Zainal. Dua detik kemudian, ada tangan yang menarik tanganku ke atas. Ternyata itu tangan Bapak. Aku kaget. Sial, kenapa aku duluan yang ditolong. Bapak membawaku menyentuh bagian kapal yang bisa dinaiki.
‘Pak, Zainal Pak. Di mana dia..?’, detik itu juga aku merasa bersalah. Mataku celingukan mencari Zainal saat tanganku sudah menyentuk kapal dan menaikinya sebagian dengan sisa tenagaku. Dalam kondisi panik itu, aku bertanya pada Bapak dengan mulut penuh air laut, asin. ‘Pak, mana Zainal..?’,
‘Itu di sana..? Sebaiknya Kamu naik dan duduk dulu’, suara Bapak benar” tenang. Bapak menyelingi perkataannya itu dengan senyum. Padahal aku di sini sudah takut terjadi apa” pada Zainal.
‘Saya di sini Kak’, suara Zainal datang dari arah kanan tempatku bergelantungan. Dia juga sama bergelantungan, tapi dengan kaki masih di laut. Sementara Bapak melihat sekeliling, menghitung berapa kapal yang ada penghuninya dan melihat kejadian ini. Bapak menghampiri saya dan ketawa.
‘Empat orang melihat ini. Sepertinya, sore sampai malam nanti kita akan kedatangan banyak tamu. Sekitar 30 sampai 1 menit berhenti depan rumah bertanya keadaanmu’,
‘Hah..?’, aku gak paham apa yang dikatakan Bapak.
‘Coba duduk’, Bapak memintaku. Aku melakukannya. ‘Atur nafasmu. Kamu yang tenggelam, Zainal masih bisa menyelamatkan diri tadi. Harusnya Kamu tidak melepaskan tanganmu dari bahu Zainal’, Bapak tidak berhenti tersenyum saat berkata ini padaku.
‘Tapi Zainal bisa mati kalau tidak aku lepaskan tanganku dari bahunya. Aku memberi beban terlalu banyak pada bahunya’,
‘Tidak, Kamu panik. Zainal jadi korban kepanikanmu. Akhirnya dia juga berpikir kalau Kamu harus diselematkan terlebih dahulu dan kehilangan keseimbangan menggerakkan kakinya’,
‘Bapak kenapa ketawa..?’,
‘Bapak tau Kamu memikirkan hidup Zainal saat itu’,
‘’Iya, Pak’,
‘Sekarang kita berdua tau kelemahan yang sangat ingin Kamu tutupi. Setidaknya itu menjadikanmu tau mana batasan yang harus Kamu simpan untuk dihindari dan batasan yang harus Kamu robohkan’,
Siang itu Bapak seperti ingin kembali mengingat bahwa selalu ada pelajaran penting dari jeda pendek yang memisahkan mati dan hidup. Aku dan Zainal kembali naik kapal dan menyelesaikan kerjaan ini dan pulang sekitar sejam kemudian.

30 April 2016
Selengkapnya...