Sudah Saatnya..

mungkin sudah saatnya saya mencari pemantik semangat. untuk banyak hal. yang aku inginkan adalah semangat menulis. yang orang lain inginkan dari saya, pemantik untuk punya pasangan. sudah lama saya ingin menerjemahkan, mengurai, dan merapikan bisikan-bisikan liar di kepala. tidak untuk dibaca orang lain, tapi merilis sakit kepala yang lama saya idap.

sementara itu, orang-orang lain menginginkan saya lekas menikah. setidaknya memiliki pasangan. mereka, termasuk keluarga, sudah mulai mengenalkan seseorang demi seseorang, dengan tujuan menjalin hubungan. sayangnya, kekuatan saya yang itu sudah lama hilang. atau mungkin hanya berkurang, tapi tidak sekuat harapan orang-orang.

karenanya, mungkin sudah saatnya saya mencari pemantik semangat. untuk beranjak dari yang sudah tanggal dan menguatkan yang masih tinggal. membuang ingatan-ingatan yang sudah lalu dan benda-benda mati yang bisu. sulit. karena kenangannya sudah bercampur dengan debu jalanan. yang tidak hanya aku lewati, tapi sudah menyatu dengan pandangan dan penciuman.

maka hari-hari ini, saya sudah melatih cara tidur yang benar. menegakkan kerangka jendela dan membuka tirai-tirai tempat sinar matahari tertahan. lebih banyak membiarkan udara masuk, membaca, dan mendengar. 'berkenalan dengan banyak hal' sudah masuk dalam list, tapi belum berada di urutan teratas.

makanya, mungkin sudah saatnya.
Selengkapnya...

... Maka Aku Menulis

dulu sangat mudah menulis. aku melihatmu, maka aku menulis. tatapan matamu seolah mantra alohomora yang membuka semua diksi. aku hanya butuh secangkir kopi. atau setengah darinya. atau senyum tipis yang tidak sengaja Kau lempar saat kita adu pandang. atau aku persingkat bahwa Kau adalah inspirasi.

kita lebih banyak diam saat berjumpa, meskipun pertemuan itu disengaja. tapi kita tidak bisa menutup mata, yang menjadi tempat rindu bicara. bibirku berkata-kata, tapi pandanganku mengungkap rasa. lalu kita terjebak pada kegelisahan. Kau yang salah tingkah dan senyummu yang melebar.

di tempat itu, bahkan waktu beristirahat. kita diam, tapi mata kita saling bicara. aku mengungkap rindu, Kau menerimanya tanpa syarat. tanganmu dengan tegas bersender pada puggung tanganku. menggenggam dan menjadikannya tawanan. kini kita saling menghela napas, berharap waktu masih istirahat panjang.

'Mas, Mbak. Maap, warungnya mau tutup', lhaaaa.
Selengkapnya...