aku kira sudah saatnya menulis lagi. entah apa, tentang apa, siapa, dan apapun tujuannya. gejolak keinginan menulis ini semakin tinggi akhir-akhir ini, seiring semangat belajar hal-hal baru setiap harinya. tapi feel perfeksionis kadang kambuh berkejaran dengan kehendak itu. membuat hasrat patah dan kemauan mundur perlahan. kadang juga, 'mood' dan 'malas' berkolaborasi dengan purna sejak hari dimulai sampai petang hanyut dalam gelap. seringnya, aku berteman terlalu akrab dengan 'distraksi' dan mencarinya saat dia tak di samping. menemaninya lama, hingga 'waktu' merutuk dan pergi. sedangkan aku, duduk menyesal dengan kepala tertunduk. diam-diam, hari-hari ini aku menemukan beberapa suara yang seirama. menjadi penuntun untuk menata ulang niat, menunjuk beberapa kalimat untuk didengar dan dipelajari, serta menjadikannya kausa untuk tetap berpijak. mungkin saat ini, ikhtiar untuk konsisten adalah doaku yang akan sering disebut. Selengkapnya...
Sebelum Hujan..
matahari tenggelam sebelum waktunya. mendung berusaha menutupinya dan gerimis berkali-kali datang untuk meyakinkan. tapi siang masih setia, memberi waktu sedikit lagi padanya untuk bersinar. aku yang menengadah ke langit, mengindahkan apa yang dilakukan hari. aku tak ingin terjebak di jalan ini, belum.
dari jendela mobil yang gelisah, tidak ada yang tampak indah. jalanan masih kering dan sibuk. kendaraan roda empat dan seterusnya keluar masuk Jalan Slompretan, menyesaki aspal tiga meter yang hanya berlaku satu arah. teriakan tukang parkir menderu bersama bising mesin" yang lelah. sekali lagi aku menengadah dan awan gelap belum memisahkan diri.
kami masuk ke sebuah toko yang ramai, oleh raga dan suara. mereka berkelintaran dan menggema, memastikan semua pengunjung ditemani dan terlayani. aku menyembunyikan diri tepat di pintu masuk, membuka dan memakan roti isi selai kacang tanpa aba". sesekali menengadah ke luar, menyaksikan kuasa mendung yang tak kunjung habis.
urusan kami selesai dan memutuskan pulang. langit yang lusuh masih mengintai, mengepung semua pandangan saat aku sekali lagi menengadah padanya. di baliknya, seolah matahari masih menahan hujan tumpah di kota ini. tidak ada guruh, tidak ada kilat. tapi dia mengirimkan udara dingin, yang kami rasakan sesaat setelah keluar dari toko. sebagai penanda bahwa dia tak lagi mampu menahan rinai turun.
dua puluh satu menit kemudian, gerimis turun dan semakin deras.
Selengkapnya...
Keinginan Menemuimu..
hai, aku tak sengaja membuka pesan yang tak mungkin aku balas. atau, akan aku balas tapi tak mungkin Kau baca. kita berdiri di dunia yang berbeda. tapi kita masih memiliki banyak kemungkinan untuk bertemu dan bertamu. seperti yang sering Kau lakukan akhir-akhir ini, kita duduk ngobrol tertawa dalam mimpi.
sesekali, aku bangun darinya tanpa melakukan apa-apa. merenungi hal-hal yang mungkin aku sesali. dulu. seperti memintamu untuk berlaku layaknya putri yang anggun, tidak tertawa di depan banyak raga, dan berperan seperti bukan Kamu. hingga akhirnya aku menyadari bahwa pondasi hidupku saat itu dibangun oleh keegoisan, keangkuhan, dan kebodohan. aku tak sengaja menularkannya, tapi sepertinya Kau bisa membendungnya dengan tangkas.
sesekali, aku seperti ingin kembali tidur dan menemuimu lagi. menagih obrolan yang pernah Kau janjikan tapi Kau lupakan. menagih janji nonton film yang sudah aku beli tiketnya tapi Kau abaikan. tapi pasti Kau lebih banyak menagih hal" yang aku janjikan, kan? aku tidak banyak ingat, mungkin karena aku asal bicara dan bedebah. menghindar agar Kau tidak marah dan manyun, lalu menjauh dari pandanganku.
tapi sesekali, aku ingin sekali menghentikan obrolan" tak perlu saat kita bertemu dalam mimpi" itu. berterus terang bahwa aku merindukanmu, merindukan semua obrolan kaku kita. karena pertemuan kita sering kali berisi Kau memandangiku, dan aku menghindarinya. lalu Kau bersikeras agar aku melihat matamu dan berakhir kita tertawa sipu.
kadang sesekali, aku ingin sekali bilang bahwa aku sangat canggung. jika Kau perhatikan, bahkan bibir dan tanganku akan gemetaran. aku tidak sanggup berada di dekatmu. apalagi saat Kau memintaku duduk di sebelahmu yang segera aku tolak dengan alasan" tidak masuk akal. jika Kau tau kalau dadaku akan meledak karena berada di dekatmu, mungkin Kau tidak ingin bertemu denganku. tapi kita berdua tau, bahwa saat kita bertemu, sebagian kebahagiaan di dunia hinggap di pundak kita.
tapi malam ini aku tidak bisa tidur. keinginan menemuimu tidak bisa aku lakukan saat ini. dan, belum tentu juga Kau mau menemuiku malam ini. ya, kan?
Selengkapnya...
Apakah Harus..?
jika sekali lagi aku merindukanmu, mungkin ada yang salah dengan lagu hari ini. aku tau Kau tidak tiba-tiba menginginkan muncul dalam ingatanku yang sempit ini. tapi jauh sebelum hari ini, Kau sudah menanam banyak kenangan yang sulit dihapus. beberapa di antaranya hidup permanen sebagai bukit, dengan banyak pohon dan ranting yang rimbun. satu ditebang, akarnya masih kuat untuk bertahan hidup dan tumbuh sekali lagi.
kita sudah pernah membicarakannya, jangan dengarkan lagu-lagu tertentu dalam kondisi terpuruk karena asmara. karena di masa depan, saat dirimu sedang baik-baik saja, jiwamu akan kembali sunyi saat lagu itu terputar lagi. hari ini aku merindukanmu, lagi, dan ada kemungkinan tanpa sengaja aku mendengarkan lagu-lagu yang dimaksud. ngehe.
tentu tidak ada masalah. aku senang jika rindu ini kembali datang. tapi sering kali dia tak sendirian. dia membawa serta kekosongan dan kesepian, sehingga aku harus beranjak dari kamarku. menyusuri jalan-jalan bedebah dan penuh debu.
pertanyaan sebenarnya adalah, apakah aku harus selalu merindukanmu saat lagu-lagu ini hinggap di pendengaran..? apakah harus..?
Selengkapnya...
Cerita Patah Hati..
patah hati memang menyakitkan. membuatmu seperti dikhianati kegembiraan. seperti tersisihkan sebentar dari dunia yang berantakan. bisa jadi lama jika sakitnya sulit diabaikan. karena sakitnya sering kali berasal dari luka yang dibiarkan menganga, atau waktu yang tidak tepat datangnya.
patah hati memang tak langsung membunuhmu. dia perlahan menggerogoti kesadaran agar semakin larut dalam kesedihan. berkubang di antara dadamu yang sesak dengan ingatan tentangnya. kenangan yang singkat dan terasa kurang lama. tapi seperti kata pepatah; sakit yang tak membunuhmu, membuatmu jauh lebih kuat.
katanya, kejahatan ada di mana-mana. di kota-kota maupun di kata-kata. atau segala sesuatu yang Kau sebut kita. dalam bentuknya yang paling sempurna, dia bernama kebahagiaan.
ingin aku habiskan tulisan ini bersamaan dengan datangnya petang. tapi aku segera mengakhirinya saat temanku yang sedang curhat bilang, 'dalam hubungan, ada level yang lebih atas dari rasa nyaman, yaitu rasa yakin.'
sesi curhat ini selesai. mungkin patah hatinya belum usai, karena baru dua hari dimulai. tapi, katanya, 'hidup harus lanjut, Bang.'
Selengkapnya...
Mengurai Alasan..
saya tidak ingin beralasan. meski kadang dalih-dalih itu datang sendiri menyibak pikiranku yang rumit dan berantakan. seringkali aku menutupnya dengan kain tebal berlabel kesibukan. tapi tatapanmu yang tajam sekali waktu mengembalikan beberapa ingatan, yang menggerakkanku malam ini menulis lagi, entah untuk apa.
saya beneran tidak ingin beralasan. tapi Kau tau, orang-orang pulang kerja dengan pikiran-pikiran lama di kepala. di jalan, dia tak sanggup memilah mana yang harusnya dibuang dan dikenang. adakalanya dia enggan berpindah, adakalanya tak mau singgah. ya, itu juga yang saya alami malam ini.
jalan pulang menjadi sangat cepat meski macet. perlahan, saya pilah lembar-lembar kenangan yang berisi pertemuan dan utas serabutan berisi rindu. seperti yang Kau terka, keduanya sangat sulit diurai. dan seperti yang Kau reka, secangkir kopi selalu bisa diandalkan untuk menuai.
dan di tulisan ini, saya hanya ingin merenungkan diriku dan seluruh yang tidak ingin aku lupakan. karena saya tidak ingin beralasan.
Selengkapnya...
Sudah Saatnya..
mungkin sudah saatnya saya mencari pemantik semangat. untuk banyak hal. yang aku inginkan adalah semangat menulis. yang orang lain inginkan dari saya, pemantik untuk punya pasangan. sudah lama saya ingin menerjemahkan, mengurai, dan merapikan bisikan-bisikan liar di kepala. tidak untuk dibaca orang lain, tapi merilis sakit kepala yang lama saya idap.
sementara itu, orang-orang lain menginginkan saya lekas menikah. setidaknya memiliki pasangan. mereka, termasuk keluarga, sudah mulai mengenalkan seseorang demi seseorang, dengan tujuan menjalin hubungan. sayangnya, kekuatan saya yang itu sudah lama hilang. atau mungkin hanya berkurang, tapi tidak sekuat harapan orang-orang.
karenanya, mungkin sudah saatnya saya mencari pemantik semangat. untuk beranjak dari yang sudah tanggal dan menguatkan yang masih tinggal. membuang ingatan-ingatan yang sudah lalu dan benda-benda mati yang bisu. sulit. karena kenangannya sudah bercampur dengan debu jalanan. yang tidak hanya aku lewati, tapi sudah menyatu dengan pandangan dan penciuman.
maka hari-hari ini, saya sudah melatih cara tidur yang benar. menegakkan kerangka jendela dan membuka tirai-tirai tempat sinar matahari tertahan. lebih banyak membiarkan udara masuk, membaca, dan mendengar. 'berkenalan dengan banyak hal' sudah masuk dalam list, tapi belum berada di urutan teratas.
makanya, mungkin sudah saatnya.
Selengkapnya...
... Maka Aku Menulis
dulu sangat mudah menulis. aku melihatmu, maka aku menulis. tatapan matamu seolah mantra alohomora yang membuka semua diksi. aku hanya butuh secangkir kopi. atau setengah darinya. atau senyum tipis yang tidak sengaja Kau lempar saat kita adu pandang. atau aku persingkat bahwa Kau adalah inspirasi.
kita lebih banyak diam saat berjumpa, meskipun pertemuan itu disengaja. tapi kita tidak bisa menutup mata, yang menjadi tempat rindu bicara. bibirku berkata-kata, tapi pandanganku mengungkap rasa. lalu kita terjebak pada kegelisahan. Kau yang salah tingkah dan senyummu yang melebar.
di tempat itu, bahkan waktu beristirahat. kita diam, tapi mata kita saling bicara. aku mengungkap rindu, Kau menerimanya tanpa syarat. tanganmu dengan tegas bersender pada puggung tanganku. menggenggam dan menjadikannya tawanan. kini kita saling menghela napas, berharap waktu masih istirahat panjang.
'Mas, Mbak. Maap, warungnya mau tutup', lhaaaa.
Selengkapnya...
Cerita-Cerita Duka..
hari-hari menjadi semakin melelahkan. kabar duka tidak hanya datang di chat grup, tapi juga meja makan. menjadi pembicaraan berkali-kali, menjadi sukar ditanggapi, dan sulit dipahami. yang bisa dilakukan hanya mengerti dan bersimpati.
tepat pekan lalu, saya pergi melayat. Bdoer, sahabat saya kehilangan bapaknya. sudah dua tahun ini stroke dan tinggal jauh dari rumah di kampung. mereka sewa rumah di kota, yang dekat dengan rumah sakit. semingu sebelum meninggal, kondisinya memburuk, bersamaan dengan banyaknya kasus positif Covid-19 di lingkungannya. Bdoer kemudian pulang di hari Senin. kedua adiknya datang kemudian; Selasa dan Rabu. lalu bapaknya menghembuskan napas terakhir. dalam kelakarnya, sahabat saya bilang 'Tuhan selalu tahu. Bapak meninggal menunggu kami semua berkumpul'.
Bdoer bilang kalau setahun ini dia sudah ikhlas kalau-kalau bapaknya tiada. tapi saat menghadapi kenyataan ini, dia tau kalau dia belum siap. dia melihat ibunya yang akan hidup sendirian, tanpa pasangan. dan menahan sendiri semua kepedihan.
saat meninggal, hasil tes antigen bapaknya positif. dan hasil tes PCRnya tidak diambil. karena kesedihan sudah tidak bisa dibendung dengan data itu. tapi semua anggota keluarga akhirnya tes PCR agar tenang dan tidak menambah kegusaran. dia meminta semua orang agar tidak melayat. semua. termasuk kami. tapi mana mungkin.
saya sedih bukan hanya karena sangat dekat dengan keluarga ini. tapi karena saat saya dikabari, masih ada ragu untuk melayat. saya merasa malu dengan keraguan itu. akhirnya saya melakukan tes antigen siangnya, dan melayat malam harinya. besok paginya, saya tes antigen lagi untuk jaga-jaga. memang tidak akurat, tapi hanya itu yang sementara ini bisa dilakukan.
saya jadi tau perasaan ibu saya saat ada tetangga dan kerabat di rumah yang meninggal akhir-akhir ini. saya meminta ibu untuk tinggal di rumah, dengan bilang 'tidak usah melayat, Bu. insya Allah semua orang mengerti dengan kondisi ini'. ibu saya mengiyakan. tapi beberapa kali saat menghubungi Zein dan bertanya di mana ibu, dia bilang 'ibu melayat'. tidak sekali, tapi seringkali. nyatanya, kita tidak bisa mengatur kesedihan orang dan bagaimana dia menghadapinya. meski rendah literasi, ibu hidup di lingkungan yang gotong royong dan simpatinya sangat tinggi.
empat hari setelahnya, di Rabu siang bolong, chat grup ramai lagi. Alfian ngabarin kalau bapaknya tiada. padahal sebelumnya, kami sedang berdoa untuk mamanya yang masuk rumah sakit karena Covid. saya segera nelpon Alfian dan mengucapkan bela sungkawa. mungkin tidak pengaruh banyak pada kesedihannya, tapi saya sungguh berduka.
tidak lama, sekitar satu jam. chat grup ramai-ramai bersedih. Mahrus, salah satu di antara kami meninggal. sama seperti lainnya, saya terhenyak. ternyata selama sepekan terakhir, dia sedang sakit dan merahasiakannya. saya tidak berpikir panjang dan langsung menghubungi semua teman yang ada di Surabaya, untuk melayat. tapi kita mulai berdebat. posisinya terlalu jauh dan kondisinya sedang tidak baik.
Mahrus adalah pengasuh pesantrean di Waru Pamekasan, dan saat kami sedang dalam perdebatan, pihak pesantrennya meminta kami untuk mengurungkan niat. untuk keselamatan. akhirnya kami menghela napas dan melakukan yang bisa dilakukan; kami ngadain khotmil Quran online untuknya sepanjang hari itu.
sejak saat itu, setiap malam, saya menerima whatsapp dan telpon dari temen-temen jauh. dua yang paling mengejutkan adalah Kiki dan Sherry. Kiki yang bertugas sebagai dokter di Dr. Soetomo sedang struggling merawat pasien. sementara Sherry, kita menghabiskan puluhan menit waktu untuk bertukar info. lebih tepatnya, menyemangatinya.
suami dan bapak Sherry positif. suaminya demam sudah empat hari, begitu juga bapaknya. malam tadi, dia harus berpisah dengan keduanya, yang akhirnya dipindah ke gedung karantina yang disediakan pemda Balikpapan. mereka harus antre dua hari baru mendapat ruangan. setelah pindah pun, bapaknya langsung dirujuk ke rumah sakit, karena memiliki gejala berat; sesak napas.
'bohong kalau saya tenang. saya berusaha pun, tidak bisa. sebelum nelpon ini, saya baru kelar nangis', katanya. saya merasakan beberapa sengguk dan serak suaranya dari ujung telpon. Sherry menelpon setelah anaknya yang masih bayi lelap. sambil mendengar semua ceritanya, kepala saya berpikir keras untuk menguatkannya. sialan, saya hanya bisa berkata-kata. pandemi menambah jarak yang sudah jauh semakin jauh.
terjaga tengah malam tidak pernah semelelahkan ini. bahkan saat menulis ini, saya masih berusaha menjelaskan pentingnya vaksin pada keluarga yang sudah terlanjur termakan kabar 'katanya'. bener kata Kiki, 'sekarang cuma bisa menjaga diri biar tetep sehat dan tetep waras'.
Selengkapnya...
Saling Memiliki..
musik sudah mati, lampu perlahan meredup. kita saling tatap, dan hatiku mulai kencang berdegup. kita mulai membuang pandang, tapi tangan kita bersentuhan. aku tidak ingin menggenggam karena tanganku masih penuh dengan gumpalan. yang kiri, dosa. yang kanan, kejauhan. aku tak ingin membalikkan arah jalan kita hanya untuk menyambut pesan 'pegang erat' tanganku itu.
musik sudah mati, lampu masih remang. kita bicara seolah hari ini terakhir untuk bersenang-senang. padahal besok masih ada waktu. untuk membuat perasaan ini pasti atau dikantongi ragu. tawa-tawa itu dan semua senyum ini, harusnya masih bisa disimpan untuk lain kali. saat kita tak lagi sibuk dengan rutinitas pagi. Kau dengan menerjemahkan mimpi dan aku dengan secangkir kopi. tapi kita sedang bersiaga kalau-kalau tak ada 'lain kali'.
musik sudah mati, begitu pun lampu. kini tak ada alasan untuk tidak mengaku. perasaan-perasaan yang selama ini disimpan bisa keluar tanpa malu. karena tak ada cahaya, juga hingar bunyi. sejauh apapun suaraku setelah ini, telingamu bisa mendengar. begitu pun aku. bisa mengindahkan yang akan Kau bisikkan dengan sipu. tapi rasanya kita tak memerlukan lagi kondisi dramatis itu. karena kini, tangan kita saling menyentuh dan menggenggam.
semua gelap dan sunyi. mataku masih terbuka, tapi tak satu pun dari bagian ragamu yang aku lihat. yang aku tahu, tangan kita saling memiliki di bawah sana.
Selengkapnya...
Selamat Lebaran, Nek.
halo, Nek. gak kerasa udah lima kali lebaran. lima musim juga, rumah tidak lagi sama. kumpul keluarga masih selalu menyenangkan dan penuh nostalgia, tapi tanpamu, kumpuk-kumpul itu sporadis. namamu hadir hanya untuk dikenang dalam obrolan. kadang, mengenangmu adalah tujuan utama kumpul-kumpul itu.
kami baik-baik saja, Nek. ini sudah hari ketiga lebaran dan saya baru bisa pulang ke rumah. katanya, di hari pertama kemarin lusa, Kak Reza, Lilid, dan Iin ke rumah. Mbak Iseh dan Kak Aziz juga di rumah. sedangkan Sinal dan Zein memang menghuni rumah. hanya Kak Hakim, saya, dan Nurul yang gak bisa join, karena ada di Surabaya. oia, Nurul sudah kerja. tahun lalu dia sempet magang di Trans Hotel Bandung dibantu Kak Aas, tapi karena Covid-19, semua anak magang luar kota harus dipulangkan termasuk Nurul. padahal baru dua minggu.
September setelahnya, dia nyari tempat magang lagi. susah banget, karena banyak hotel merugi dan tutup. adapun, pasti gak dibayar. dan benar, setelah dibantu sekolahnya, dia keterima magang di Four Point by Sheraton. enam bulan, lumayan menguras tenaga dan pikiran. saya selalu takut dia sakit, karena dia tinggal di lingkungan kerja yang banyak gak mematuhi protokol kesehatan.
ngomong-ngomong, kita sedang di masa pandemi covid-19, Nek. udah lama, sejak Maret 2020di Indonesia. gak penting juga dikabarin. karena di sana pasti Nenek udah ketemu beberapa orang yang mati karenanya. singkatnya, saya juga pernah menderita penyakit ini. alhamdulillah tidak parah, tidak ada gejala serius. tapi pikiran saya tercabik-cabik sama situasi yang menyertainya. bahkan, setelah sembuh pun, Ibu yang mendengar kabar ini gak bisa tidur berhari-hari.
Sinal sudah berhenti kerja. sekarang bantu ibu-bapak di rumah. sedangkan Lilid, menikah. sepertinya ini jadi kabar yang harusnya saya kasi tau pertama ya, Nek. hahaha. maap maap. prosesnya serba cepat. menemukan pasangan, undangan, dan pernikahannya tanpa banyak ba bi bu. saya belum kenal dengan suaminya, belum pernah salaman juga. tapi kata Kak Reza, orangnya baik. ya saya percaya saja. selama Jober senang dan nyaman, semua ikut bahagia. dan semoga selalu bahagia. saya ingin menulis kalimat yang mengancam di paragraf ini, tapi sepertinya belum dulu.
Iin. nah, si ngol ngol kuliah di Ngudia Husada, kampus Kak Reza jadi dosen. jadi sudah ada yang menjaga. selain itu juga deket rumah. gak seperti Lilid yang jauh di Jogja atau Mbak Iseh yang sempat jauh di Cianjur. itu kan yang selalu Nenek khawatirkan..? cucunya jauh, dipenuhi gelisah, dan digoda gelapnya kehidupan. tenang, Nek. kami akan saling menjaga.
dan karena situasi pandemi ini juga, berbagai kebijakan banyak diterapkan untuk mencegah orang berkerumun, Nek. itu juga yang membuat Kak Hakim belum bisa pulang ke sini. ada penyekatan di Suramadu. rencananya Selasa akan pulang, saat penyekatan berakhir.
hmm, tulisan ini tidak banyak menjatuhkan kata rindu. tapi di banyak kesempatan, namamu selalu kami sebut dalam doa, bersamaan dengan al-fatihah, kadang yaa-siin.
maap kalau kepanjangan, Nek. sepertinya harus disudahi biar Nenek bisa istirahat lagi.
Selengkapnya...
Yang Tak Adil Sejak Dalam Pikiran
Apakah Kau merutuk saat membaca judulnya? Atau simpul senyummu terbuka karena teringat salah satu istilah? Haha. Tenang, frase yang benar adalah `seringkali tak adil`, tapi untuk memadatkan gagasan dalam judul, maka jadinya begitu. Tapi mungkin Kau sudah menyadarinya, yang tak adil sejak dalam pikiran, yang kita semua punya, dan rasa.
Saya ingin menambahkan apa yang dikatakan Ali, bahwa soal cinta, kita semua pemula. Benar. Juga, kita seringkali jadi tak adil sejak dalam pikiran. Seperti: diam-diam saling menaruh rasa, tapi saling tak tau. Kita tak adil, menyembunyikan perasaan itu hingga terasing. Terkatung-katung, lalu dipungut orang lain. Bisa saja kan kita mengungkapkannya. Apapun resikonya, apapun jawabannya.
Juga seperti: Kau menaruh rasa pada orang lain dan berharap orang itu juga merasakan hal yang sama. Lalu Kau mengutuk semua hal saat kenyataannya tidak demikian. Ada juga: Kau bertemu orang baik yang selalu ada buatmu. Tapi Kau membenci dirimu sendiri karena belum bisa mencintainya, karena ada cerita lama yang belum pergi dari pikiranmu.
Ada banyak situasi percintaan lainnya, yang tak adil sejak dalam pikiran. Tapi Kau diamkan, karena Kau belum bisa berbuat banyak untuk menguasainya. Atau Kau mampu menguasainya, tapi tak ingin. Malam ini, aku adalah semuanya.
Selengkapnya...
Malam yang Ragu..
malam yang jenuh. bulan separuh, tapi keraguan masih utuh. bersemayam di balik rindu, ragamu, dan ragaku. kita hanya menjalani hari-hari. tapi kata-kata sembunyi. mengheningkan getar dan menumpuk sepi. jangankan puisi, udara yang Kau hirup pun tak berbunyi. ternyata, kita memang dipenuhi keraguan.
aku tau, Kau juga sedang menatap malam yang sama. langit yang sedang berkabut dan bulan yang setengah tertutup. berotasi pelan menyesuaikan pandangan orang-orang. pandanganku juga. yang pertemuannya tak pernah berusia lama di dekat pandanganmu. kabur, tidak menjelaskan apa-apa dan meninggalkan banyak tanya.
apakah, kita yang menciptakan keragu-raguan itu atau memang dia memilih kita sebagai inangnya? jika Kau bisa menjawabnya, mungkin kita masih di malam yang sama untuk membicarakan ini sepuasnya. di malam yang tidak pernah memberikan tangan kita jarak yang seringkali disebabkan oleh lebarnya meja.
tapi, apakah benar, bahwa keraguan itu ada di antara kita..?
Selengkapnya...
Setengah Cangkir Kopi..
setengah cangkir kopi akan menatapmu menulis, mungkin saat Kau membaca, atau saat Kau mendengarkan lagu yang sebenarnya tak pernah ada di playlist. sesekali setengah cangkir kopi akan menatapmu kembali, dengan sebelah mata. karena dia tidak utuh. dia berkedip berat, seolah tidak dipedulikan olehmu.
Kau pun berhenti bicara, dan mulai menghirup harumnya yang mulai pudar. Kau tenggak satu, atau dua kali. Kau lalu berpikir untuk menghabiskannya saja. dan beralih pada aktivitas lainnya, tentu ditemani dengan cangkir kopi lain lagi.
setengah cangkir kopi, adalah kopi yang tidak utuh. Kau tidak bisa menikmatinya dengan teman, sahabat, atau orang yang Kau anggap saudara. tidak bisa. karena kopimu hanya setengah cangkir saja. isinya setengah, yang membuat obrolan menjadi singkat. pertemuan menjadi canggung. setengah cangkir kopi akan mengalihkan malam oleh pesan-pesan obrolan dalam gawai. setengah cangkir kopi, seringkali merusak suasana meja obrolanmu. karena setengah, Kau harus berpihak.
tapi Kau, jangan bertanya apa yang bisa aku lakukan dengan setengah cangkir kopi? jangan. karena aku tidak pernah berharap kopiku tinggal setengah. dan tidak utuh. Selengkapnya...
Belajar Lagi..
tengah malam pertama setelah sekian lama. setelah sembuh dari Covid-19, pola hidup saya nyaris teratur, disiplin, dan sehat. tidur siang, makan tiga kali sehari, berjemur laiknya bule, dan istirahat malam lebih dini dari biasanya. tapi hari-hari itu mungkin akan segera berlalu. buktinya, saat menulis kata ini, jam di hape saya menunjukkan angka 01.05 WIB.
dalam konteks pandemi, kewaspadaan akan kesehatan akhir-akhir ini menjadi bias. ada banyak isu yang terdorong tampil dan menebalkan blur tentang protokol kesehatan. banyak ironi mengambil alih perhatian, kebijakan-kebijakan pemerintah sangat minim dampak, dan kebijakan lain di luar kesehatan yang sangat menguras emosi.katakanlah Pilkada, tetap dilaksanakannya acara ini semakin mempertajam sudut pandang bahwa aktivitas ini bermuara pada keserakahan akan kuasa. tidak lebih.
saya membaca kembali paragraf di atas, dan ternyata agak melenceng dari curhatan malam yang rencananya ingin saya tulis. bahkan sesampainya di kalimat ini, saya lupa mau cerita tentang poin apa. menguras emosi, kan?
dari paragraf pertama, saya belajar bahwa kita harus terus belajar. bingung gak? ya, pola hidup yang sudah sehat itu sekarang akan goyah. akan terganti dengan keinginan-keinginan dan kesempatan-kesempatan untuk terjaga lebih lama saat malam, lebih lama di kasur daripada ke luar untuk berjemur, dan menggerak-gerakkan layar hape daripada menggerakkan badan. gak baik. sangat gak baik.
karenanya, saya kudu kembali belajar menata pola istirahat, pola aktivitas, dan pola makan. soal poin terakhir, itu sangat bergantung pada denyut dompet. belajar lagi tentang posisi kerja yang sedang saya tempati. karena ternyata di luar sana, ada banyak kriteria yang belum saya kuasai. dan belajar lagi untuk konsisten, hal sulit untuk dibicarakan, lebih sulit lagi dilakukan.
dan karena belajar-belajar ini bisa bermanfaat, ada baiknya dilakukan bersama teman.
Selengkapnya...
Saling Mengenang..
jika pada suatu sore Kau melihatku tanpa sengaja, abaikanlah. itu bukan diriku. tapi kenangan yang Kau tanam dan sengaja Kau kubur. suatu saat kenangan itu menguap dan mencapai permukaan. menyapamu dalam banyak bentuk. bayang-bayang, mimpi, dan semua wajah yang lewat di depanmu. dia hanya menyapa, tanpa maksud memberi pesan apapun. jangan bayangkan satu kalimatpun darinya. dia akan diam, dan Kau akan sadar. bahwa Kau sedang rindu.
kita saling meninggalkan agar bisa selalu saling mengenang. agar bisa selalu berandai-andai. menit berhenti, waktu berulang, dan memperbaiki banyak hal. posisi tangan yang menggenggam, ruang yang harus diisi dengan pelukan, dan semua malam yang harusnya kita lewati bersama. semakin kita larut, semakin kita menyesalinya. dan berkata dalam hati, dengarkan, lihatlah, waktu kita tidak banyak.
sayangnya, saat sudah memiliki banyak waktu, kita tidak memiliki banyak kata. seringkali kali diam dan saling memandangi. kita saling bahagia karena sudah menciptakan tawa. pikirmu, pikirku, kita baik-baik saja. tidak harus diwakilkan kata-kata. semua ini adalah isyarat. bahasa tanpa suara. tapi, pertemuan-pertemuan itu selalu diakhiri dengan sesal. begitu mengunci kamar masing-masing, kita masih bertanya-tanya. apa yang barusan terjadi. lalu, waktu itu tidak lagi terulang.
suatu hari, kita akan saling bertemu untuk membuktikan mana yang lebih kuat, langit atau pandangan itu.
Selengkapnya...
Mixtape Penggugah Sambat..
bangun tidur aku tak pernah ke kamar mandi buat sikatan, seperti yang ada di lagu-lagu. bangun tidur aku membuka mata sambil duduk di pojok kasur. memikirkan hal-hal yang harus aku lakukan hari itu, untuk memutuskan apa aku harus kembali gegoleran lebih lama atau beranjak lebih cepat.
biasanya aku sengaja tidak buka hape yang dari malam harinya aku set mode pesawat. harusnya itu yang aku lakukan dan biarkan pagi ini. tapi entah kenapa impuls otakku meminta jari jemari meraih handphone di meja dan menghidupkan internetnya. dari sekian notif, ada satu chat dari bangsat yang tidak ingin aku abaikan.
aku membuka chat whatsapp itu. bertengger di antara chat rame taik grup kantor. ternyata hanya link, ke sebuah tulisan ceplas-ceplos gaya Tito, berhadiah mixtape dengan penjelasan khas gayanya yang bisa aku bayangkan bagaimana dia bicara. niat gegoleran lebih lama di rangkulan kekasih sirna. aku beranjak nancepin charger ke hape yang baterainya tinggal 11% dan menyalakan JBL GO.
karena Tito, akhirnya aku tau kalo langganan spotify-ku habis. karena setelah lagu pertama Timur milik The Adams, ada dua iklan masuk yang membuatku tambah merutuk. tapi lagu setelahnya, Mati Suri yang dinyanyikan Rumahsakit bikin kepala agak mendingan. liriknya depresif tapi tempo lagunya membuatku beranjak lebih jauh dari kasur.
sekarang aku sedang membuka laptop, memilih notepad kosong, dan menulis surat pada presiden. berbisik bahwa menteri-menterimu gak becus. tidak berpihak pada pancasila, terutama sila ketiga dan kelima. dan jangan undang artis lagi ke istana. tapi aku urungkan. bahasaku terlalu santai di surat itu. masuk ke kotak pos rumahnya di Solo saja mungkin tak akan, apalagi sampai di tangannya yang sekarang harus menanggung banyak dosa.
aku menghapus semua isi notepad, select all lalu delete. tak terasa lagu keempat main. Laguland milik Danilla mulai mengisi ruang dengar kamar. lagu yang kata Tito paling dia sukai dari semua lagu Danilla yang keteknya mulus. lagu yang katanya sering dia dengerin menjelang resign dari kantor lama. meski saya tidak tahu kantor lama yang dia maksud yang mana. sebelum ini dia punya dua kantor. satu bergerak di bidang sambat, satunya lagi kerjo apapun disambut.
spotify masih jalan saat pandanganku tak sengaja melihat empat angka di pojok kanan laptop. sepuluh dua dua. shit. sekarang aku harus benar-benar beranjak dari kursi biru ini dan mandi. sebelum menyudahi terusan sambat ini, sepertinya aku harus membawa sound kecil ini ke kamar mandi. lagu-lagunya masih enak. makasih, To. lagu-lagunya memang tidak banyak memberi pencerahan. tapi sangat meringankan beban hidup yang aku juga tak tau dari mana asalnya.
Selengkapnya...
Lupakan Tulisan Ini..
dunia bekerja dengan cara misterius. sebuah jalan terbuka bagi semua orang, tapi tidak semua orang bisa memiliki jalan itu. atau, saat kita sudah menemukan jalan dan hidup untuk melupakan seseorang, hidup mempertemukan keduanya dengan alasan lain. hal-hal yang ingin aku pahami, tapi tak berani aku selami lebih dalam dari ini.
lupakan paragraf di atas. aku hanya ingin menyapamu, dalam bentuk lain selain suara. sayangnya, aku hanya bisa menyentuhmu lewat kata-kata. yang dasar dan juga kasar. yang kadang membuatmu marah dan juga ramah. meski sebenarnya aku tak pernah bermaksud dengan alasan keduanya. aku hanya tidak mampu menjelaskan, apalagi mengartikan yang sedang aku ragukan, yang sedang aku rasakan.
perhatikan paragraf ini. aku akan mengatakan sesuatu padamu. perhatikan, karena aku tak akan mengucapkannya dengan suara, yang bisa Kau dengar. aku akan menuliskannya di sela-sela paragraf ini. dan saat membacanya, Kau hanya bisa mendengarnya sendiri. atau jika Kau membaca dalam diam, hatimu yang mendengarkan. bahwa aku diam-diam tidak bisa memungkiri rindu-rindu ini. yang berserakan di jalan dan menguap di udara.
Kau bisa melupakan paragraf ini. karena maksudku sudah tersampaikan di paragraf sebelumnya. tentang sendunya malam ini dan aku terbuai olehnya. tentang hebatnya rindu terlarang dan aku takluk olehnya. acuhkan saja paragraf ini. tapi meski begitu, aku tak bisa menyudahi paragraf ini. karena aku masih ingin mendeskripsikannya secara tersurat yang arti sebenarnya sama saja dengan paragraf sebelum ini.
aku tak bisa merindukanmu dengan cara ini lagi. hidupku terlalu lama dikontrol oleh rindu semacam ini dan berakhir luka yang tak bisa dijelaskan dengan basa-basi. tapi aku tidak bisa menahannya. karenanya, aku menyalurkan cerita-cerita itu dalam riuhnya kalimat, yang aku sendiri tak mengerti alurnya. mengangguklah jika Kau juga setuju. tersenyumlah jika Kau merasa konyol dengan pernyataanku barusan.
kalau begitu, baiknya aku sudahi saja tulisan ini. yang hanya membuang-buang waktumu. dan membuatmu bodoh karena bingung mau bereaksi apa. atau, Kau akan merasa jijik karena susah dimengerti.
Selengkapnya...
Terbenam..
hanya ada kegelapan saat matahari terbenam. seperti asmara yang sedang kita bangun. gelap, saat kita harus mengucapkan perpisahan. harus, karena ada yang tersakiti jika kita memilih bersama. walau sebenarnya, apapun jalan yang diambil untuk masa depan hubungan ini, selalu ada korban yang terluka. dan saat paragraf ini berakhir, Kau tau siapa yang tertusuk.
hari-hari kemudian menjadi biasa. tapi berjalan lambat. tidak ada lagi suara berbisik di telinga dan kepala yang mendekat untuk mendengarkan. senyum yang merekah karena tau akan bertemu. atau alasan-alasan lain yang membuat kita sangat bergairah. menyapa adalah suara yang ingin aku dengar. membalasnya, adalah momen canggung yang tak pernah siap aku lakukan. keberadaanmu di dekatku adalah kabar baik. tapi memulai perbincangan tak pernah jadi keahlianku. dan selalu Kau yang pertama menyebut namaku.
kita tidak pernah menjadi prioritas. selalu ada hal lain di atasnya. dan itu yang menjadikan setiap pertemuan adalah candu. perjumpaan tanpa jadwal. silang pandang yang sangat memuaskan. dan tanpa sengaja mencium aromamu adalah kebahagiaan. meski, tidak semuanya diwarnai dengan senyuman. selalu ada kegelisahan. ada tangan dan bibir yang gemetaran. walau itu hanya sekadar perbincangan singkat.
rasanya memuakkan. aku menulis semua paragraf ini dengan mengingat wajahmu dan mengumpulkan kerinduan. tapi, semuanya sudah terbenam. seperti kalimat pertama saat Kau membaca kata ini.
Selengkapnya...
Mimpi Lagi..
hai, Kau masuk lagi.
sudah lama sejak terakhir kita bertemu dalam mimpi dan aku mengikatnya dalam tulisan. sudah lama sekali sepertinya. aku tidak tahu persisnya. tapi setelah bangun tidur tadi, ada kerinduan yang tak bisa aku pungkiri. seolah aku harus bertemu denganmu, bicara, dan memelukmu lagi. sudah lama sekali.
hari ini aku menuliskannya tanpa secangkir kopi. aku sudah sangat mengurangi. sejak tahun lalu aku patuh pada komitmen untuk perlahan membiasakan makan sebelum ngopi. aku tidak ingin melihat ibuku menangis lagi. sudah cukup di rumah sakit itu. tapi jika karena bahagia, mungkin aku akan merelakannya. hmm, aku tau ibu sangat ingin melihat aku menikah. tapi Kau tau, aku masih belum punya keinginan yang sama. ibu tidak pernah mengucapkannya, tapi matanya berbicara.
soal menikah, Kau pasti tertawa di paragraf ini. membayangkan bagaimana waktu itu kita ngobrol tentang ini dan menertawakannya. hahaha. cukup disimpan. sepertinya kita sudahi paragraf ini.
oia, tentang mimpi. adegan terakhir di mimpi itu selalu sama. terasa nyata, karena pernah terjadi di dunia nyata. kita memanen rindu-rindu yang bertebaran dan tak sengaja bertemu di satu ruangan. kita tidak ngobrol banyak, karena kita saling tau apa yang sedang kita rasakan dan apa yang tidak boleh terjadi. tapi pandangan kita berkata lain. senyum yang tidak berhenti tersungging dan kata-kata asing yang terlontar setelahnya. kita seperti orang gila yang penuh rahasia.
cara ngobrol denganmu yang paling aku suka adalah, Kau tidak ngobrol denganku. aku pikir lebih indah membaca bibirmu ketika Kau tidak mengucapkan kata-kata. tentu aku tidak bisa membaca pikiranmu, atau jalan yang sedang dilaluinya saat itu. aku hanya menghentikan niat berjalan ke luar ruangan ini saat Kau mulai memicingkan mata. itu artinya kita akan lebih lama di sini dan diam memikul canggung berjam jam.
lalu pagi menjemput kantuk, membangunkan mata yang bingung jalan pulang. sayangnya dia tak sendirian, dia membawa serta berton-ton rindu untuk dijejalkan ke raga. mengisi bilik-bilik yang lama kosong. aku bukan tidak bisa berkutik, aku hanya ingin menghadapinya meski tidak bisa dilawan.
Selengkapnya...