Talak 3; Pesan Moral yang Segar..

Apa jadinya jika sepasang suami istri yang sudah bercerai dengan vonis talak 3 ingin rujuk? Itu yang sedang diusahakan Bagas dan Risa setelah 3 bulan pengadilan negeri mengabulkan gugatan cerai mereka. Keinginan rujuk itu semakin menjadi setelah kerjaan utama mereka berdua menjanjikan bayaran besar yang akan menyelamatkan kondisi keuangan keduanya. Syaratnya, keduanya harus kembali bersatu. Tapi, niatan rujuk tersebut baru berhasil setelah si perempuan melewati satu kali pernikahan lainnya atau yang disebut muhallil. Jadilah Bagas dan Risa mencari seorang pria untuk jadi suami 'sementara'.

Usaha mencari muhallil ini tidak mudah. Dari seorang kenalan Bagas sampai mantan pacar Risa saat SMA sudah didatangi sebagai kandidat suami sementara ini, tapi selalu saja ada kriteria penting yang mengharuskan si kandidat gugur. Sebelumnya, Bagas juga sudah melakukan cara melanggar hukum dengan membuat identitas palsu dan menyuap, tapi juga tidak berhasil. Pada akhirnya, mencari muhallil tetap dilakukan dan pilihan tersebut jatuh pada Bimo; teman kerja Bagas dan sahabat Risa sejak SD.

Singkat cerita, Bimo harus melakukan peran sulit pertamanya sebagai orang yang akan melamar Risa, yaitu menaklukkan hati Budhe Risa. Tapi masalah utama muncul, benih-benih cinta antara Bimo dan Risa hadir di tengah usaha rujuk ini. Persoalan semakin runcing setelah Bagas mengetahui perasaan keduanya. Semua konflik ini bisa Kamu saksikan di film Talak 3, yang masih tayang di beberapa bioskop Indonesia hari ini.

Umumnya, animo orang nonton film karena keterkenalan salah satu unsur di dalamnya. Entah pemain, sutradara, penulis skenario atau cerita (diadaptasi dari novel terkenal atau biografi). Bahkan beberapa calon penonton menjadikan unsur-unsur itu sebagai jaminan kalau film tersebut bagus. Film ini, banyak. Pemainnya, Vino G Bastian sebagai Bagas, Reza Rahardian sebagai Bimo dan Laudya Cintya Bella sebagai Risa. Soal reputasi, ketiganya tidak perlu lagi diragukan. Vino adalah aktor utama terbaik FFI 2008, Reza menerima penghargaan yang sama di tahun 2010 dan 2013, sedangkan Bella sudah malang melintang di banyak sinetron, FTV dan film bioskop sejak masih sangat belia. Maka, kombinasi ketiganya dalam satu film, itu keberuntungan kita sebagai penonton.

Sutradaranya dua sineas kreatif; Hanung Brahmantyo dan Ismail Basbeth. Mungkin Kamu sudah tau karya-karya Hanung, tapi agak asing dengan Ismail. Pria 30 tahun ini memang besar sebagai sutradara film indie. Tapi tahun lalu, Ismail adalah penerima piala FFI ‘Sutarada Terbaik’ lewat film bioskop pertamanya ‘Mencari Hilal’. Sudah? Belum. Sampai di sini mungkin Kamu merasa tulisan ini muji habis”an film Talak 3. Santai, penulis bukan tipe gawat muji karena hal” tertentu, tapi film ini memang maksimal menyajikan semua komponen dalam film. Hanung, Ismail serta Hilman (penulis skenario) terasa berhasil mengeluarkan kemampuan akting ketiga aktor utamanya, sehingga alur ceritanya kuat dan konflik yang dibangun benar” greget.

Talak 3 tidak hanya memberikan cerita adem dengan konflik, tapi kesegaran ide beserta pesan moralnya. Kehidupan rumah tangga sederhana yang dimunculkan Talak 3 seolah nyata bisa ditemui di sekitar kita. Pasangan muda, kerja keras, egoisme, ekonomi kreatif, intrik, pengkhianatan, persahabatan, kejujuran, cinta terpendam dan ikhlas. Semuanya mengepung film ini dengan persoalan yang seakan tiada putus sejak awal. Lalu jujur pada diri sendiri yang bermuara pada ikhlas muncul sebagai antiklimaks. Segar.

Belum lagi latar tempat yang dipilih kedua sutradara ini adalah Jogjakarta; wilayah yang penuh dengan kreatifitas dan budaya. Kamu yang pernah, datang, tinggal di Jogja terasa diajak bernostalgia dengan jalan-jalan, bangunan ikonik dan tempat wisatanya, meskipun cuma satu. Sekaligus jadi nilai minus yang penulis temukan, eksplorasi latar tempat yang tidak banyak. Hanung dan Ismail tau betul memainkan sisi emosi lainnya; romansa.

Sampai tulisan ini dibuat, 2 pekan di bioskop, Talak 3 menempati posisi kedua film Indonesia dengan penonton terbanyak (368.736)*. Btw, seperti biasa, Hanung (sepertinya beserta Ismail) muncul di salah satu adegan. Hmmm, dengan kesotoyan ilmu film yang penulis buat, nilai film Talak 3: 8.5/10. Layak ditonton.


*sumber: filmindonesia.or.id
Selengkapnya...

Mengasingkan Diri..

Semalaman aku sengaja mengasingkan diri di sini, di sudut ruang New Media. Telingaku menikmati suara Adele dalam alunan lagu 'When We Were Young', sementara jemariku tak berhenti mengetik sejak petang, saat Surabaya diguyur hujan deras. Sebenarnya, aku hanya berpura menikmati lagu ini, aku berusaha. Aku sedang mengembalikan mood menulisku, yang perlahan memudar. Saat mendengar intro single ini, aku seperti menemukanmu, seperti aku menemukan cara mengembalikan mood menulis beserta inspirasinya.

Malam ini aku berada dalam gelisah yang jumlahnya tak sedikit. Aku ingin menulis banyak hal, aku sudah tak ingin menampungnya di kepala kecil ini. Terlalu banyak, berkecamuk ingin keluar semua bersamaan. Baru" ini aku berusaha mengingat menulis review film, genre yang sudah lama tak aku lakukan sejak SMA. Aku ingin sekali menulis review film 'Talak 3', film bagus yang aku tonton di tayang perdana kemarin. Saat nonton film ini, kepalaku tak berhenti mengatur alur untuk menulis sinopsisnya. Tapi, selalu begitu. Muncul saat tak diinginkan, dan menguap saat di kamar, di depan meja, di depan laptopku.

Suara bass dan piano lagu 'When We Were Young' masih menggema di telingaku saat ini. Keresahanku bertambah saat melihat gelas berisi kopi di samping keyboard. Sekilas mengingatkanku, kopi Lanang Malangsari di toplesku menipis. Aku bingung harus diisi kopi yang mana lagi tu toples. Berharap besok aku bisa menemukannya. Belum lagi, aku masih memikirkan bagaimana cara menulis review film yang baik. Aku sudah mencari file majalah SMAku dulu sebagai komparasi. Tapi hasilnya nihil. Ironis, hal itu juga yang terjadi padaku. Semakin berusaha mencari dan menemuimu, semakin tebal tembok yang ada di hadapanku untuk aku robohkan. Tapi aku enggan. Aku tidak ingin merusak apapun, merobohkan apapun, jika akhirnya bukan menyisakan senyum di bibirmu.

Malam ini, sekali lagi, aku berpura tak terjadi apa". Aku menggerakkan kaki sepanjang tulisan ini dibuat dan mematikan androidku. Aku sedang berusaha mengembalikan mood, memintalnya hingga menumpuk dan menulis review film 'Talak 3'. Bodoh. Cara menulis review film-nya saja aku masih mencari. Aku lupa. Aku tidak ingin menulis dengan struktur biasa" saja untuk review film yang tidak biasa saja. Ini juga yang sedang aku lakukan untukmu, mungkin. Aku tidak ingin menjadi biasa" saja, untukmu yang tidak biasa saja.
Selengkapnya...

Pengasingan..

Malam ini, aku berada dalam pengasingan. Di satu sudut ruang kepalamu yang tak bisa aku terka, tak bisa aku baca. Aku tidak memilihnya, aku berada di sini untuk suatu alasan yang belum aku temukan. Mungkin aku bersembunyi, sengaja. Mungkin juga aku tersembunyi, di sini, di satu sudut ruang kepalamu.

Aku melihatmu berkali", dari dalam sini, di satu sudut ruang kepalamu. Seringkali saat Kau terpejam, beberapa kali saat Kau membuka mata tak sengaja. Apa Kau merasakannya? atau hawa kehadiranku terlalu tipis untuk Kau rasakan? Aku pernah berteriak, memanggil namamu, tepat di telinga kananmu. Saat tau tak terdengar, aku pergi mengelilingi kepalamu. Aku tiba di ujung telingamu yang lain, aku teriakkan namamu lagi. Tapi sepertinya aku memang begini, berada dalam pengasingan.

Aku masih di sini, terjaga, mendengar dongeng yang mampir di pendengaranmu. Sesaat kemudian, matamu mengecil, menutup, lalu terpejam. Sedang aku, tergerak mendekat, berlari ke arah suara yang belum berhenti bercerita dongeng padamu. Mungkin untuk mengantarkanmu tidur, atau Kau tak sengaja tidur mendengar cerita dongeng itu. Beruntung sekali pemilik suara itu, mengantarkanmu tidur, lalu melihat senyum aslimu sesaat setelah matamu terpejam. Aku berusaha keluar, tapi semua organmu tak bekerja. Ternyata aku benar" berada dalam pengasingan.

Aku sudah bertanya padamu, saat Kau tidur tadi, tentang keberadaanku. Apa benar aku berada dalam pengasingan, di satu sudut ruang kepalamu? Mungkin Kau mengigau, atau Kau benar" mendengar suaraku lalu menjawab? 'Semalam saja', katamu lirih masih dengan mata terpejam. Tidak, bahkan aku tidak ingin berada di sini lama. Dalam pengasingan, entah terjebak atau tidak, tapi aku tidak ingin melewatkan malam tanpa merasakan indramu. Aku ingin keluar dari sini. AKu akan memaksa keluar dari sini jika benar aku berada dalam pengasingan. Untuk melihatmu, untuk menatapmu, untuk menuntaskan rindu.

Malam ini, aku berada dalam pengasingan, di satu sudut ruang kepalamu. Untuk apa aku di sini? Benarkah aku berada dalam pengasingan, atau Kau sengaja menempatkanku di sini?
Selengkapnya...

Hari Kesembilan..

Sudah delapan hari Surabaya diguyur hujan dengan rutin. Setiap hari hujan dan setiap hari deras. Delapan hari itu, Surabaya jadi adem setelah sebelumnya didera panas yang sangat tanpa setetespun hujan. Dua hari pertama dari delapan hari itu, hujan turun saat pagi. Setelah Subuh sampai mengantarku berangkat kerja. Aku tak bisa menolak rezeki ini. Hujan"an berangkat ke kantor. Enam hari berikutnya, hujan turun deras saat petang. Hampir rata di Surabaya, sebagian datang lebih awal hingga petang membenamkan senja, peristiwa yang sudah lama tidak aku dan Kamu lakukan bersama.

Pagi ini adalah hari kesembilan, mungkin seperti hari sebelumnya, Surabaya diguyur hujan saat petang nanti. Meski begitu, Surabaya pagi ini adem sejak Subuh. Mendung agak lama mendiami langit Surabaya. Sampai aku menulis ini pk. 09.30 WIB, mendung masih nampak dan memberikan senyum sumringah di beberapa bibir yang aku temui saat berangkat kerja tadi. Termasuk Rahman, seorang teman yang datang berkunjung dari Banjarmasin sejak Sabtu kemarin. Seharian kemarin, dia heran, cuaca Surabaya tak seperti yang dia kira. Adem dan nyaman seperti saat dirinya tinggal 5 tahun di Jogja dulu.

Pagi hari kesembilan ini, aku kerja lebih pagi. Aku melakukannya karena mendapat teror dari Zaki, seorang teman yang akan melangsungkan resepsi pernikahan petang nanti, waktu yang biasanya hujan sejak enam hari lalu. 'Mim, datang. Beberapa kali ngopi gak bisa, resepsiku harus bisa. Kalo gak, awas'. Teks ini datang bersama sebuah foto undangan pernikahan, dua pekan lalu, sepekan sebelum teror Sarinah terjadi. Mungkin maksud dia agar aku bisa izin lebih awal pada kantor. Aku tak membalasnya, karena undangan ini sudah Ia sampaikan dua bulan lalu, saat aku bersama dia dan teman" lainnya ngopi di kawasan Bendul Merisi. Kami semua mengiyakan, setelah kaget dua detik. Rahman, juga datang jauh dari Banjar karena resepsi ini. Zaki dan Rahman adalah sepasang kekasih. Sori, maksudku, mereka berdua adalah Comanisty yang melanjutkan pendidikan di Jogja. Hanya mereka berdua. Jadi, seolah tidak mungkin Rahman tidak datang ke acara ini.

Seharian kemarin, di hari kedelapan, aku, Izzin dan Lukman kebagian ber-kelanakota menemani Rahman keliling Surabaya. Hampir di semua lokasi yang kita datangi, aku hanya menguap dan mencari tempat duduk untuk bersender dan tidur. Sesekali pesan kopi jika ada atau buka handphone jika sempat. Izzin dan Lukman lebih lama berada di Surabaya, jadi mereka lebih paham tentang tempat asik di Surabaya, yang membuat Rahman rileks, dan membuatku nyaman tidur.

Pagi ini, di hari kesembilan, aku mulai bosan dengan teks yang datang padaku, mengajak, bertanya dan memaksaku cabut dari kota ini. Hampir semuanya mengajak liburan di kotanya dan dua teks diantaranya memintaku untuk pindah kerja. Gresik, Malang, Kediri, Semarang, Bandung, Cianjur dan Jakarta. Hmmm, aku masih ingin menemanimu ke Jogja. Harus tembus. Rencana ini sempat pupus karena Laras akan melakukan umroh di waktu yang sama. Setelah tau travel Laras mengundurkan jadwal, di kepalaku masih ada Jogja sebagai destinasi pertama liburan di kota lain, bersamamu. Setelah itu, aku harus menemui teror lainnya di Malang, sodara" yang sudah lama tak aku jumpai.

Pagi ini, di hari kesembilan, aku suntuk, dipenuhi kantuk dan membusuk. Butuh liburan, butuh hiburan. Bisa saja aku mendapatkannya petang nanti bersama Comanisty lainnya. Tapi aku selalu mendapatkannya saat hujan datang delapan hari ini, dan saat bersamamu.
Selengkapnya...

(Masih) Untuk Kalian Bertiga..

Hari ini, aku akan kedatangan tamu istimewa; Zainal, adikku. Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak lama, sejak niat bertandangnya hinggap di pendengaranku, hari pertama 2016. Zainal tidak mengatakan langsung padaku. Dia katakan pada Ibu, Ibu menelponku, aku sms Zainal dan Zainal mengkonfirmasi. Birokrasinya mbulet (kayak panggilan siapa gitu). Muter gitu terus sampe Surabaya turun salju.
November lalu, Zainal pernah kirim pesan teks padaku, membalas pesan dariku sebelumnya. Aku tanyakan kabarnya, Zainal membalas dengan panjang. Saat membacanya, aku tertampar. Dia mengeluhkan ketiadaanku selama ini. Tak ada pernah ada waktu untuknya, memenuhi keinginannya, tapi tak pernah menanggapi kebutuhannya. Kebutuhan akan perhatian yang hilang dari sosok seorang kakak. Hemm, aku memang sadar aku bukan kakak yang baik. Buat ketiga adikku, sejak mereka kecil. Bagi Zainal, bagi Nurul dan sekarang Zein. Ketakutanku pun sudah terbukti; aku tidak ada saat mereka berkembang. Aku tidak pernah ada saat Zainal ingin mengobrolkan sesuatu, hal yang ingin dia pilih. AKu tidak di sana saat Nurul menyapu bersih penghargaan di pesantrennya. Bahkan Zein, aku tidak banyak tau apa saja yang sudah dia lakukan di sekolah.
Saat lebaran Idul Fitri tahun lalu, Zainal tiba" duduk di sampingku, di teras, saat tangan kananku pegang cangkir kopi. Zainal mengatakan sesuatu, tanpa aku minta dia cerita. Apa yang dia katakan saat itu, adalah alasan aku masih di sini, di tempat busuk ini. Aku menghapus beberapa rencana, tidak aku ganti sampai sekarang.
'Kak, mungkin saya akan tinggal di Surabaya, satu atau dua tahun, sebelum mengelilingi dunia nanti', katanya tiba".
'Hah..? Kapan..?', tanyaku dengan wajah menahan panas kopi.
'Mungkin awal, atau pertengahan 2016 nanti',
'Oo, bagus. Sama temenmu..?',
'Enggak. Harapannya sih, saya tinggal bareng Kakak', aku mengernyitkan dahi mendengar jawabannya. AKu melihat ke arahnya. Samar" aku melihat sepasang mata mengawasi kami, di balik tembok, di antara lorong yang memisahkan dapur dan ruang utama; Ibu. Ibu lalu menundukkan kepala dengan pelan. Seolah ingin aku mengiyakan keinginan adikku.
Bodoh. Segitunya. Padahal aku masih bersama kalian. Aku masih bisa kalian jangkau. Tidak, kalian masih dalam jangkauanku. Aku bisa dengan mudah datang dan hadir saat kalian perlukan. Mungkin Ibu tidak setuju dengan persepsiku ini. Dua pekan lalu, dua hari setelah detik pertama 2016, Ibu menelpon. Menanyakan kabar, lalu memberi tau bahwa Ibu sedang di Malang, di pesantren Nurul, mengantarkannya balik setelah liburan sekolah. Ibu bilang, selama di rumah, Nurul selalu bertanya tentangku, kapan aku pulang. Nurul bahkan menerka" kalimat apa yang akan dia lontarkan saat bertemu denganku nanti. Ibu bercerita tidak lugas, bahasanya tak lancar. Sesekali Ibu hentikan pembicaraannya. Diam lalu menghela nafas. 'Kamu tidak hanya punya Ayah dan Ibu. Kamu juga punya Zainal, Nurul dan Zein. Sesekali temui mereka, Ibu dan Ayah di sini baik" saja', pungkas Ibu di ujung pembicaraan sore itu.
Hari ini, aku akan menemui mereka. Tepatnya, aku kedatangan satu diantara ketiganya. Seperti yang aku bilang, aku sudah siapkan semuanya. Tidak hanya untuk mendengar, tapi juga menunjukkan, bahwa semua yang aku lakukan di sini, masih untuk kalian bertiga.
Selengkapnya...

Selamat Jalan, Pak Kiyai..

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raaji'un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu. Selamat jalan KH. Makhtum, terimakasih atas semuanya.

'Assalamu'alaikum Tadz. Kiyai Makhtum baru saja wafat di RS Darmo. Belum tau kapan kembali ke pondok dan dikebumikan. Kalau berkenan ke pondok, hubungi saya ya'
'Tadz, kalau sudah gak sibuk, tolong bales'
'Tadz, infonya Kiyai Makhtum Insya Allah nyampe pondok jam 8 malam dan dikebumikan besok pagi. Nungguin anaknya yang di Madinah dan Jogja'
'Tadz, kami sudah dalam perjalanan kembali ke pondok'

Empat pesan datang berangsur dan menyesaki inbox hapeku sejak siang dan sore kemarin. Aku bukan tidak membacanya, tapi aku bingung menjawabnya. Saat membaca, kesedihan langsung membawaku berjalan memutari waktu. Lama dan pelan.
Entah kenapa, aku mengingat hampir semua ekspresi almarhum di pertemuan kita. Almarhum tidak pernah secara langsung mengajar di kelasku, 6 tahun di Al-Amien. Kesempatanku bertemu beliau hanya saat Kuliah Subuh yang pengisi utamanya selalu tiga serangkai anak" Djauhari atau saat acara Kuliah Umum Kemasyarakat, bekal menjelang liburan. Aku tak pernah tau rasanya belajar pada beliau di kelas, dengan jarak yang hanya terpisah meja dan lantai. Tidak pernah. Tapi aku bisa membayangkannya. Sama rasanya saat duduk bersila mendengar suara dari kedua kakaknya, yang lebih dulu tiada. Seolah ada rasa intimidasi keilmuan yang dalam. Ragaku bergetar seolah sedang jatuh cinta. dan aku, tak pernah melewatkan setiap pertemuan dengan ketiganya tanpa pena dan kertas.
Siang itu, untuk sesaat, aku mengalami de javu yang, tidak, aku ingin lama memasuki de javu. Aku tidak konsentrasi dengan yang aku kerjakan di meja redaksi. Beberapa kali atasan memanggil tanpa jawaban, hingga akhirnya berujung instruksi dengan teriakan. Aku tak bisa menahan sedih ini. Meskipun di depan dua perempuan siang itu di ruangan. Aku hanyut dalam sedih. Anehnya, aku merasa sangat kehilangan. Padahal sudah lama aku tidak pernah bertemu almarhum. Terakhir, enam tahun lalu di RSI Sumenep, saat beliau tergolek sakit. Padahal, almarhum bukan pengajar di Tahfidz, lembaga tempatku berada. Apa karena beliau adalah penyandang terakhir dari Djauhari, tepat di belakang namanya. Tidak, aku tidak mengerti. Aku hanya sedih, sangat. dan kehilangan.
Sampai di kamar pun, aku ingin sekali menangis. Aku tak berhenti berdoa, memohon ampunan untuknya padaNya. Aku ingin menangis, tapi tidak bisa. Ada sesak yang bergemuruh di dada, ingin aku ungkapkan, tapi tak ada air mata. Sudah aku coba membangun suasana sedih. Surat Yaasin yang aku baca bahkan hanya mengantarkanku pada mata yang sembab tanpa genangan air di pelupuknya. Bagaimana lagi aku mengungkap kesedihan ini. Satu"nya air mata pada almarhum yang aku rasakan, keluar saat tulisan ini dibuat. Saat pagi, saat aku baru memasuki kantor 10 menit, saat almarhum sudah dikebumikan.
Bersama beberapa teman, aku sudah berencana menjenguk beliau ke RS Darmo. Sore atau petang, di sela" kerja. Tapi kabar duka itu benar" menyesalkan. Aku tidak berhenti menyalahkan diri, menunda rencana menjenguk beliau yang sudah 2-3 hari dirawat di Surabaya. Hal paling mengecewakan lainnya adalah aku tidak mengikuti shalat janazah di Al-Amien pagi ini. AKu hanya bisa shalat ghaib di kos, di kamar, dengan kondisi yang sangat sial, kondisi air mata tertahan tanpa tau kenapa.
Kemarin, di kamar, aku mengingat semua yang bisa aku ingat tentang beliau. Anak Djauhari paling cerdas, pintar dan jenius. Kedua kakaknya pun mengakui hal itu. Banyak yang bilang kalau almarhum punya ilmu ladunni, sejak masih nyantri pada Kiyai Imam Zarkasyi di Gontor sampai S2 di Madinah sana. Semasa hidup, mendengar beliau memberi ceramah, sama hanya aku mendengar Yudi Latif bicara. To the point, sangat berbobot, berkelas dan bermanfaat tak hanya secara pengetahuan, tapi menyentuh sisi kehidupan yang harus dijalani sebagai seorang santri. Selama memimpin majalah sekolah dua periode, cita"ku adalah mendapat tulisan beliau di rubrik Kolom, tapi tak pernah berhasil. Sudahlah, aku tak sanggup lagi meneruskan tulisan ini.
Selengkapnya...

Reason..

Sampai hari ini pun aku belum cerita ke Kiki, konsultasi tentang sakitku yang sudah 3 pekan ini bersarang. Kiki bukan satu"nya temenku yang dokter, tapi dia selalu menjelaskan keluhanku dengan sangat detil dan, dengan solusinya. Tapi Kiki paling bawel kalau aku gak nurut, apalagi mengacuhkan. Tiap sakit dan mau konsultasi, itu alasan pertama yang membuatku enggan menghubunginya.
Seringkali, saat Kiki memberi jawaban, sakitku selalu berbarengan dengan pancaroba. Dan selalu berlangsung lama. Satu hari kolaps di tempat tidur, lalu bisa berhari" setelahnya beraktifitas dengan minim stamina, lemas dan sakit di bagian kepala. Terjadi berkali" dan aku jadi pasien tetapnya. Sebenarnya, tadi pagi dokter muda ini bertanya tentang JTF 2015 via teks. Tapi aku terjebak dengan kamera di tangan, lupa cerita. Cerita pun, paling dibuka dengan omelan. Apalagi kalau dia tau kalau kali ini sakitku juga karena mengabaikan cuaca. Bahkan, empat hari terakhir, tidak ada siang yang aku lewatkan tanpa hujan"an. Tapi siang ini, hujan"annya terasa spesial. Gak pake telor.

Malam ini, aku memutar komposisi Reason milik Eva Celia berkali-kali. Tanpa henti. Hanya lagu itu. Sial, enak banget. Sudah sejak pertama kali dilaunching, aku sudah jatuh cinta dengan lagu ini. Tapi baru kali ini aku sempat mendengarnya dengan tenang, di tempat sepi tanpa ada orang lain, ditemani secangkir kopi di samping keyboard dan menemani hingga tulisan ini berakhir. Baru kali ada kompsosisi dari musisi perempuan yang menemaniku menulis. Menulis sekali lagi, tentangmu. Tidak, kali ini tentang senyummu. Ya, hanya senyummu.
Aku tak mengira malam ini akan panjang bagiku. Kenyataan seharian ini belum istiarahat, mata digunakan maksimal dan besok pagi harus sudah kembali ke kantor, harusnya sudah cukup jadi alasan buat kembali ke kamar dan tidur. Tapi aku malah menambahkan gula ke setiap minuman yang aku teguk untuk menahan reduksi semangat. Aku masih tak menyangka bisa melihatmu tersenyum dengan sengaja. Sayangnya, senyum itu berada tepat di depanku. Situasi yang membuatku semakin meneruskan niatku kabur dari kursi petang itu. Aku berkali" memintamu pindah duduk di sampingku, tapi negatif. Kau memilih tetap di kursimu dan aku masih dengan grogi yang aku sembunyikan di tempatku duduk, di depanmu, karena senyum itu.
Reason masih terdengar jelas di ruang dengarku. Mengalun ladid, seolah Eva juga berkomunikasi dengan gesturnya padaku. Seperti yang aku lihat malam itu. Sesekali sebuah senyum tersungging tanpa sengaja dan sialnya, aku juga melihat tanpa sengaja. Jadilah kondisi yang harusnya tidak sama" tau, aku melanggarnya. Kau tidak tau aku melihat senyum itu, tapi aku tau Kau sedang tersenyum. Sehingga beberapa kali aku sengaja diam dan berhenti bicara, agar Kau juga diam dan tersenyum saat tak melihatku. Tak semua berhasil, tapi beberapa kali aku menangkap momen itu dengan mata, kamera sempurna ciptaan Tuhan. Oh shit, ternyata kamera hapeku juga membingkainya.
Bagaimana jika pembahasan ini aku akhiri saja..? Biarkan aku menikmatinya sendiri dan mendeskripsikannya diam". Sudah lama aku tidak berkisah lagi di sini. Penyakit 'invisible' ku belum sembuh. Memulainya kembali pun butuh waktu lama dan satu pelecut sempurna agar jemari juga ikut menepikan rasa malas itu. dan pelecut malam ini adalah sneyum itu, senyummu.


I could be all that I am, right now I know I'm on my way to it I want to be
Even if I ever feel lost inside, you are the reason I find my way again
Reason_ Eva Celia
Selengkapnya...