Hari Kedua; Kualitas Pertemuan..

Bagiku, setiap momen dengan orang disayang, tak boleh dilewatkan semenit pun. Karenanya, lebih cepat lebih baik. Semakin lama juga semakin bagus. Sebentar pun, kudu berkualitas. Karenanya, aku tak ingin meninggalkan rumah sebentar apapun.

Hari ini sudah mulai banyak yang tau kepulanganku. Hapeku penuh tak hanya di inbox sms dan chat, tapi juga ditag di media sosial. Ajakan berbuka puasa dan diskusi lebih banyak mendominasi.
Selengkapnya...

Hari Pertama; Zein..

Ibu langsung menceritakan banyak hal padaku setibanya di rumah. Cerita paling menarik bagiku adalah banyak orang membicarakan Zein yang tidak naik kelas. Pihak sekolah menemui Ibu dan memberitau kondisi Zein di sekolah, semua skill yang bisa dilakukannya dan apa yang tidak bisa dilakukannya. Zein dipertimbangkan untuk tidak naik kelas untuk yang terakhir, untuk hal yang tidak bisa dia kuasai; bernalar, menjawab pertanyaan ujian. Saat mendengar cerita ini, aku sedih bukan kepalang. Karena semua orang yang membicarakan Zein juga menyeret nama baik keluarga dan aku, merasa bertanggungjawab atas kesedihan Zein.
Selengkapnya...

Kronologi..

Setahun lalu sadar atau tidak, aku menyukai dan mulai mendekatimu sampai sekarang. Kemudian aku menemukan risalah yang sampai saat ini tak bisa aku pahami, diam" aku gundah dengan banyak cemburu yang hadir. Tak ada yang terjadi, karena aku menemukan senyum mu merekah dengan keberadaan raga lain. Cemburuku tertata dan aku mulai membiasakannya, karena aku senang melihatmu tersenyum.
Selengkapnya...

Percakapan dalam Temu..

Sudah lama aku kehilangan hangatnya semua percakapan kita. Beberapa pekan lalu. Tapi rasanya sangat lama. Bahkan aku sudah lupa intonasi bicara dan renyah suaramu. Terhalang oleh banyak kabut; hawa dingin yang menjadikan kita semakin jauh dari rasa takut. Jauh dari rasa cemas kehilangan dan menjadikannya uap air dalam muara ketiadaan.

AKu tau, semua percakapan itu memiliki banyak kebohongan. Rekayasa yang kita susun hanya untuk bertahan lebih lama duduk diam melipat tangan, bersebrangan dan seringkali tak bersebelahan. Lirih lagu yang diam" kita dengar pun hanya mengalun tanpa melodi di pendengaran. Semuanya biasa, kita yang menjadikannya luar biasa. Bukan untuk cangkir kopi dan gelasmu yang isinya beragam, tapi karena ada aku dan kamu, saat itu. Tapi sudah lama sekali tak terjadi, bagiku.

Percakapan itu hanya berhasil saat kita bertemu dalam dunia yang katanya tak berbatas. Menegur keteraturan dengan sapa yang harusnya lebih hangat saat langsung diucapkan. Tidak hangat dan seringkali tak berbekas. Padahal ada banyak frasa yang kita kirim sebagai obrolan. Memang temu menjadikan kita berbeda. Temu yang membuat kita jadi begitu. Menjadikan tatap lebih banyak menyampaikan impuls ke bibir untuk tersenyum. dan harapan bertemu menjadikanku selalu menulis tiga paragraf dalam pekan" dengan anomali cuaca ini.
Selengkapnya...

Seperti Ini Hujan..

Malam ini hujan turun membasahi bumi. Mungkin itu sebaris kalimat umum yang sering orang" tulis untuk menggambarkan hujan. Malam ini, atau di malam" lainnya. Aku, ingin sekali menulis 'apa kabarmu?' di lembar chat kosong kita. Karena hujan bersahabat tidak dengan semua orang. Tapi kumpulan huruf itu hanya berisi tanya di belakang, tanpa tau angin malam benar" melindungi ragamu dari rinai hujan.

Aku sengaja meneruskan perjalanan saat hujan turun, membasahi bumi. AKu hanya ingin tau seberapa besar cintaku pada gerombolan air ini saat sendiri. Saat tak ada lagi tangan yang bisa aku genggam hangat setelahnya. Di kerumunan ini, di antara aspal yang basah dan tergenang, aku hanya memastikan bahwa ingatan pendek tentang wajahmu masih tersimpan rapi di kepala. Tapi mungkin tercampur, dengan pertanyaan apakah hujan membasahi lainnya selain bumi.

Sebenarnya tak ada alasan aku membuat tulisan tiga paragraf ini, saat hujan masih membasahi bumi. Aku hanya ingin mengungkap romansa yang baru saja terjadi. Antara aku dan hujan yang akhirnya kembali. Nuansa itu belum kuat lagi, setelah lama aku membenci mendung dan menempatkannya di sana, di tempat yang sepi. Karena aku tau, hujan bersahabat tidak dengan semua orang, seperti Kamu.
Selengkapnya...

Awal Juni..

Pertemuan kita selalu terpisahkan oleh kenangan-kenangan. Oleh kenangan yang baru saja terjadi atau yang lama dan kembali Kau gali. Ingatan sendu yang membuatmu haru. dan ingatan riang seperti saat Kau lari-lari kecil di antara ilalang. Jadi, sudahilah kepura-puraan ini. Tak pernah ada 'kita' dalam pertemuan ini, pertemuan itu dan pertemuan-pertemuan lain yang terencana dan tak terjadi.

Aku sering melihat mata itu. Mata yang tak pernah bulat seperti saat di depan wajah lainnya. Mata tanpa sambungan saraf ke bibir yang membuatmu tersenyum. Aku, aku yang salah. Aku terlalu lama berdiri di sini dan mempertemukan harap. Ternyata ada kisah lain yang Kau buat dan bersembunyi di balik tawamu. Mungkin tidak satu. Kisah-kisahmu itu mengendap di balik tawa yang aku suguhkan saat langkahmu masuk mengerubungi banyak ruang di kepalaku.

Mei sudah habis, sudah lewat. Bulan setelahnya baru dua hari berjalan. Sampai detik ini, aku masih mencuri setiap masa pertemuan denganmu. Sampai waktu itu, aku masih berusaha melihat mata dan senyummu, meskipun dekat. dan saat tulisan ini aku selesaikan, aku merasa bodoh, ternyata aku tidak tau apa" tentangmu.
Selengkapnya...

Pertemuan dalam Ruang Tunggu..

Akhirnya kita ada di satu titik pertemuan. Melempar banyak pertanyaan, dibalut tawa sungguhan. Malam yang menyenangkan. Mungkin hanya bagiku. Bagimu, malam ini berulangkali ada, dengan banyak pasang mata yang bukan milikku.

Ribuan menit aku menunggu malam ini terjadi, atau sengaja terjadi. Malam yang tak akan terulang hanya lewat doa dalam sunyi. Aku sudah melihat kursi yang Kau duduki berulangkali dalam bingkai gambar. Mengingatnya hanya menghilangkan tawa yang aku buat, rasanya hambar. Untungnya, warna-warni gores yang tepat berada di belakangmu, menenangkan. Meskipun tak lama, tapi cukup meredakan irama degup yang terus berangsur hadir tak beraturan.

Aku memilih menduakan pandangan pada secangkir kopi di depanku, memisahkan resahku dan lipatan tanganmu di seberang. Bukan baru sekali ini canggungku datang, tapi baru kali ini aku kehilangan cara membuangnya. Aku ingin sekali bicara, satu pertanyaan yang rasanya mustahil aku sampaikan langsung di depanmu. Di depan pasang mata yang selalu berhasil mengatupkan bibir tanpa banyak kedip. Padahal pertanyaan yang aku bagi dalam dua frase itu sudah aku tulis dan aku ketik. Semuanya menguap, seperti harum kopi yang aku hirup.

Akhirnya kita ada di satu titik pertemuan. Mengalihkan banyak pandangan pada satu layar yang harusnya kita simpan. Aku, mungkin juga Kamu, mungkin tidak, menunggu senyum kita bertemu. Aku mengiyakan, menunggu itu membosankan. Tapi pura” menunggu adalah kejahatan.
Selengkapnya...