Alasan Merindukanmu..

Aku menyukai senyummu, tapi bukan itu alasanku merindukanmu. Aku seringkali mengambil jarak buat melihat senyum itu. Beberapa meter bahkan hanya centimeter. Berapapun jaraknya, asal Kamu tidak melihatku, asal Kamu tidak mengetahui keberadaanku, aku akan diam” menikmati senyum itu. Tidak banyak kebetulan yang aku dapatkan saat senyum itu merekah, tapi memiliki satu masa saja sudah sangat aku syukuri. Hmmm, jangan bertanya bagaimana caraku menemukan senyum” itu. Aku juga tidak tau kapan dan di mana Kau akan tersenyum. Aku hanya tau kalau senyum” itu seringkali ada saat tidak ada aku. Tapi suatu saat, aku ingin jadi penyebab senyum”mu tersungging. Entah kapan. Karena aku menyukai senyummu, meski bukan itu alasanku merindukanmu.

Aku menyukai suara tawamu, tapi bukan itu alasanku merindukanmu. Tawamu kadang aneh, kadang aku juga melihatnya terpaksa. Aku merasa ada kekosongan dalam tawa itu. Tapi suaranya begitu khas. Suaramu. Tipis dan menggelegar. Seperti bercak rindu yang aku miliki untukmu. Keberadaannya tipis tapi bulat dan tebal, seperti tekadku mendekat ke arahmu agar mendengar suara tawa itu. Tidak ada keraguan dalam tawamu. Sama halnya dengan suara yang mengiringinya; lewat dengan keras. Tapi beda dengan senyum”mu, suara tawamu bisa aku prediksi. Sehingga banyak masa yang bisa aku siapkan untuk meluruskan pandanganku, membuka semua indra pendengaran dan samar” menyelinap diantara pipimu yang memerah. Aku selalu akan menyiapkan itu. Karena aku menyukai suara tawamu, meski bukan itu alasanku merindukanmu.

Aku menyukai caramu yang dulu melihatku, tapi bukan itu alasanku merindukanmu. Dulu, hanya dua cara Kau melihatku; tajam dan teduh. Seringkali pandangan kita beradu dalam ketimpangan, Kau memicingkan mata seolah ingin berkelahi dan aku memutar mata ke sekitar wajahmu. Sering juga Kau memandangiku dengan mata yang lebar dan senyum yang terselip diantaranya; meneduhkan. Saat itu, saat dua pandangan itu Kau munculkan, saat itu juga pandanganku bisa aku alihkan dari cangkir kopi yang aku pegang. Belakangan, aku berharap pandangan kita bertemu dalam kondisi itu. Karena aku menyukai caramu yang dulu melihatku, meski bukan itu alasanku merindukanmu.

Aku merindukanmu, karena aku menyukaimu. Tapi, aku tau diri..
Selengkapnya...

Episode Kesedihan..

Tidak mudah menjalani hidup setelah kehilangan. Menjaga irama langkah tetap teratur, memberikan jeda pada tiap tarikan nafas dan membiarkan mata tertutup saat malam. Semua tidak akan biasa setelahnya. Kehilangan sosok pasangan hidup, teman berbagi, teman hidup, teman segalanya dalam obrolan, teman yang selalu ada saat kerasnya hidup sesekali hinggap. Teman, yang juga juga jadi ladang pahala di dunia untuk bekal di akhirat. Kehilangan, akan selalu berarti kehilangan.

Senin pagi di pekan terakhir 2016, Mbak Restu muncul dari balik tangga ruang redaksi New Media. Sepertinya dia naik dengan susah payah. Tangan kirinya bertumpu kuat di kayu pegangan tangga. Dia memakai baju hijau terusan, dengan jilbab lebar panjang hitam. Dia baru saja kehilangan Mas Taufan, suaminya, sepuluh hari sebelumnya. Setelah semua kesedihan itu, dia memaksa masuk kerja dan beraktifitas lagi.

Kehilangan itu tambah terasa saat sapa pertamanya memenuhi ruangan New Media. 'Assalamu'alaikum', dia jatuhkan tas yang dia bawa ke sofa ruangan dan melanjutkan langkah kakinya ke arah meja kerjanya. Pelan. Sambil menyapaku, Dwi, Tito dan Bruriy secara bergantian. Wajahnya sendu, seolah lelah bersemayam dalam dirinya di beberapa masa. Dia duduk. Pelan. Membersihkan debu yang terlanjur mampir di mejanya setelah lama dia absen. Dia hidupkan komputer tanpa bicara sedikitpun. Aku masih di mejaku, tepat di samping kiri mejanya. Aku diam. Aku tak berani bicara. Aku hanya melihatnya dengan senyum, siap" jika dia melihat ke arahku.

Selanjutnya, episode kesedihan pagi itu bergeser pada ingatan yang tak bisa dia buang. Pada semua memory kehidupannya yang dia jalani berdua beberapa tahun belakangan. Isak tangisnya mulai menderu. Perlahan. Tanpa banyak bicara dia ambil tisu yang hanya tersisa beberapa lembar di atas mejanya. Dan kemudian habis. Semuanya dia pakai untuk mengusap air matanya. Aku merasa jadi pecundang pagi itu. Aku tak tau harus melakukan apa. Aku berharap dia memanggilku agar aku bisa mendekat dan menenangkannya, meskipun tak tau bagaimana caranya.

Dwi bergegas turun ke bawah. Lalu Dwi kembali menaiki tangga dengan seplastik tisu di tangannya. Dia ambil beberapa lembar untuk mengusap air mata Mbak Restu yang sudah deras menetes, turun diantara sembab matanya. Dua detik selanjutnya, ruangan ini sudah ramai dengan suara tangisnya. Kami mendekatinya secara refleks. Dwi berdiri tepat di sampingnya. Eddy di sebelah kanan. Sementara aku, terus berusaha mendengarkan keluh kesahnya. Mbak Restu meracau dengan suara yang parau. Aku tidak tau apa yang dia bicarakan. Bahkan aku tak mendengar dengan jelas permintaannya saat menunjuk jarinya padaku.

Semua larut dalam kesedihan ini. Aku ingin sekali memegang pundaknya, memenggam tangannya dan berharap memberi keteduhan. Memberi ekpresi wajah yang bisa menenangkan. Memeluknya lalu membiarkan dia menangis sejadi-jadinya. Kadang, seseorang hanya ingin didengarkan untuk mengurangi bebannya. Bukan untuk dinasehati pesan klise. Tapi aku hanyalah aku, seorang teman yang jauh dikenalnya setelah dia memilih Mas Taufan sebagai pasangan hidup. Dwi hanyalah Dwi dan semuanya hanyalah teman kantor. Sementara orang yang berusaha kami tenangkan, adalah perempuan yang baru saja kehilangan satu orang untuk segalanya dalam hidupnya.

Mbak Restu memutuskan pulang setelah sekitar dua puluh menit duduk di meja itu dan mencurahkan semua kesedihannya. Baru tiga tahun belakangan aku kenal Mbak Restu dan semua interaksi itu berada di kantor. Tapi aku merasa ada ikatan lain selain hubungan kerja. Mungkin juga karena kultur komunikasi yang dibangun Suara Surabaya. Kami semua merasa seperti saudara. Dan aku, kami, baru saja mengalami sedih yang mendalam karena kehilangan yang dialami Mbak Restu.
Selengkapnya...

Banyak Bicara..

aku sudah berubah, itu yang aku yakini malam ini. aku bukan lagi hujan yang menggenangi jalanan yang Kau tempuh. rinai yang membasahi dahan" yang Kau pegang saat menghindari setiap rintik hujan. aku bukan lagi hujan yang itu. aku hanya hujan, yang sengaja turun untuk melihat wajah kesalmu lebih lama saat berteduh. karena saat itu, wajahmu lebih mudah dirindukan. mungkin karna belakangan, aku sulit membuatmu tersenyum. atau mungkin, senyummu sudah tak ada di tempat yang dulu aku temui.

aku sudah berubah, tapi Kau masih menuduhku tidak. aku mendengar langsung darimu semalam, di mimpi. perlahan, Kau dekatkan badanmu saat duduk dan mengajukan banyak tuduhan. 'Kau masih sama, tidak ada yang berubah darimu. Kau terlalu banyak bicara. Lalu diam panjang. Tidak ada yang berubah darimu, dan selalu itu yang aku rindukan', matamu tajam melihatku dengan banyak senyum dalam satu menit percakapan.

aku sudah berubah, atau entahlah, mungkin juga tidak. aku hanya ingin menyangkalmu, agar Kau kesal, agar aku bisa melihat wajahmu yang itu. aku akan lakukan berulang", agar aku bisa lebih sering dan lama melihatnya. tapi saat aku berhasil melakukannya, Kau menghilang dari pendanganku. Kau pergi sebelum aku sempat melihat wajah kesalmu. wajah manis dengan suara merengek setelahnya. lucu. Kau harus melihatnya kapan". atau Kau bisa bercermin saat merasa kesal olehku.

aku sudah berubah, setidaknya itu yang aku yakini malam ini. tulisan ini aku buat dengan secangkir kopi untuk membantuku. agar aku tau bagian mana yang sudah berubah dariku. atau sebaliknya, agar bisa membantuku menyangkal klaim ini. hmmmm..
Selengkapnya...

Tuduhan Pada Hujan..

aku punya banyak pertanyaan pada hujan, yang membelah kita pada banyak hal. rindu dan gengsi. temu dan malu. sapa dan kelu. peduli dan angkuh. lupa dan terdiam. dan banyak hal lainnya yang hanya aku dan kamu tau. mungkin juga sengaja disimpan agar tak ada lagi ruang untuk menduakan tatapan dalam satu waktu.

malam ini aku sengaja membelah angin dalam lipatan jaket. aku ingin menemui hujan sangat lama. menemuinya dan mengurangi dingin yang diakibatkan. sudah beberapa kali aku pergi ke atap dan jalanan kota untuk mencari sudut senja yang sering mendung sembunyikan. agar aku tau ke mana akan mengajakmu berlari dari semua kebusukan ini.

aku sudah bosan menyulam benang ingatan saat hujan turun. membiarkannya tergenang dan menutupi semua lubang yang pernah hinggap dalam lintasan yang aku buat. aku ingin hujan menjawab semua pertanyaan, tidak, semua tuduhan yang akan memberatkannya. tidak akan ada pembelaan, karena semuanya aku sangkakan. tidak akan ada masa tahanan, semua sudah aku bebaskan sebelum waktunya. tapi hujan harus menjawab semuanya, agar aku punya alasan buat melepaskan.

aku tau hujan sengaja turun tidak deras malam ini. agar aku perlahan lupa dengan perjanjian yang kapan hari pernah kita tulis. mungkin Kau lupa, tapi aku tidak. mungkin, usaha hujan menghapus ingatan itu darimu berhasil saat kepalamu Kau biarkan basah olehnya. menetes lembut di kepalamu dan meluruhkan memory itu ke jalanan yang Kau lewati. dan malam ini, aku sangat senang karena hujan mau datang dan memenuhi undanganku.
Selengkapnya...

Sedang Buntu..

aku mencari" alasan agar bisa kembali menulis. menulis apapun yang bisa aku tulis. aku juga tidak tau apa yang ingin aku tulis. aku tak ingat hal terakhir yang membuatku semangat menulis. yang aku ingat sekilas, seorang teman memintaku menulis tetang kopi di blog, menanyakan sudah aku kirimkan ke kompetisi blog yang sedang berlangsung atau belum lalu aku lakukan. dua pekan kemudian, aku mendapat hadiah smartphone, terkirim ke kosku.

oia, aku ingat. hahahahaa.. semua isi blog bangsat ini berisi curahan hati, kadang milikku atau orang yang kebetulan sedang cerita padaku. tidak semuanya berisi keresahan. banyak diantaranya juga tentang kerinduan pada seseorang, yang aku ingat selalu memiliki masa untuk dirindu. entahlah, aku hanya ingin meracau. mungkin bisa membenamkan kebuntuan yang sedang hinggap padaku malam ini.

beberapa kali aku bisa dengan mudah merobohkan dinding" keras itu. menghancurkannya seperti hanya menyentuh dengan telapak tangan, dan tanpa banyak kekuatan yang harus aku kumpulkan. tapi kadang, aku harus memejamkan mata untuk berpikir menghilangkan kebusukan" yang mengitariku. seolah semua kehidupanku hanya untuk mengepalkan tangan dan menghatamkannya tapi tetap tidak pecah.

tapi iya, seringkali aku menyudahi kebuntuan menulis ini dengan kopi. secangkir kopi yang aku buat sendiri atau dengan adikku atau dipaksa mampir ke kedai kopi bersama teman. iya, itu saja. sebaiknya malam ini aku mengiyakan ajakan ngopi seorang teman kantor tadi..
Selengkapnya...

Menyudahi Keresahan..

tidak semua resah bisa padam oleh malam. sengaja memejamkan mata dan berpura tidak terjadi apa". saat bangun, saat membuka mata pertama kali pagi hari, gelisah itu masih ada. hanya sebentar reda dengan nada yang berbeda. berulang kali gundah itu aku kumpulkan di dada. menepikannya bersama serpihan tumpukan penyesalan yang lalu-lalu. orang" bilang itu persoalan asmara. aku bahkan tidak peduli dengan asmara. dengan semua drama yang menyertainya. dengan semua kebusukan di dalamnya. mungkin suatu hari iya. tapi tidak sekarang. tidak selama aku masih bisa memiliki sumber lain menemukan tawa.

akhir" ini resah itu berkubang di dalam raga. betah berlama" dan menjangkiti hampir bagian indera lainnya. bukan maksudku membiarkan. memberi ruang dan masa untuk menjadikannya tuan. aku hanya tak ingin lagi membuang tenaga untuk satu perhatian. atau mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. kembali menemukan sumber persoalan dari awal. hal" yang tidak ingin aku mengerti. karena kadang membiarkan diri dalam ketidaktahuan jauh lebih baik, untuk beberapa kasus.

aku masih bersama segelas kopiku saat menulis ini. menimbang banyak perihal sengaja maupun tidak, yang mampir di hidupku. aku ingin memindahkannya ke tempat lain, tapi entah ke mana. aku tidak ingin wajahku terlihat muram dan membuat wajah lain di depanku geram. banyak hal yang tidak bisa diceritakan hanya karena bertatap muka. berdampingan di satu tempat duduk atau bersebrangan di lebarnya meja makan. menceritakannya via suara bisa lebih baik, atau tidak. membicarakannya dalam banyak penggal kalimat di aplikasi perpesanan bisa lebih baik, atau tidak. aku tidak tau. mendiamkan dan menunggunya luruh juga bisa lebih baik, atau tidak.

malam ini aku memilih menuliskannya, meskipun tidak satupun kata yang mendeskripsikan keresahan itu. negara ini sudah carut marut. kita yang di dalamnya berpura sedang tidak terjadi apa". banyak yang mulai gila memikirkannya. mendewakan cara berpikir. dan ada yang menjadikan dirinya dewa dalam banyak urusan. merasa paling benar dan berkoar berpendapat. keresahan ini jauh lebih kecil dari persoalan bangsa ini. membaca tulisan ini pun hanya akan membuat beberapa detik terbuang. jadi, aku akan menyudahinya.
Selengkapnya...

Rindu Tanpa Irama..

akhir" ini rindu datang dengan deras. seperti aku tidak bisa lagi diam saat bertemu denganmu. ingin sekali aku menatap dalam matamu, agar Kau tau ada ribuan wajahmu yang tertanam di sana. agar Kau tau bahwa di retina yang aku miliki, bersemayam senyummu yang aku simpan diam". tapi melihatmu dengan sengaja hanya akan membuat kebekuan ini tambah dingin. tak ada lagi sapa, apalagi tawa.

aku menghindari pertemuan. membenci keramaian dan menjauhi semua pandangan. mata itu terlalu tajam untuk aku balas. seringkali aku tertusuk tanpa sengaja saat lirikanmu menemukanku. aku terpojok tanpa pertahanan. dan membuang semua ingatan agar tak ada lagi niat yang pernah aku lafalkan. karena yang aku tau, Kau bukan lagi candu yang aku sembunyikan. Kau sudah menjadi lembar kisah di banyak buku. di banyak cerita yang mampir di pendengaran.

rindu ini juga yang membuatku selalu menunggu larut mengunjungi malam. agar tak ada lagi bunyi"an yang menggangguku menuliskan gugahan, gelora yang tak lagi bisa aku diamkan. rindu ini berubah jadi sangat deras, seperti yang aku ceritakan di awal. rindu ini menjelma jadi wajah memalukan. menyimpan obsesi di dalamnya dan akan sangat membahayakanmu. sebaiknya aku simpan agar tak mengganggumu, seperti yang sudah sudah.

malam ini aku tidak ingin menulis hanya tiga paragraf kerinduan padamu. karena rindu ini sudah sangat memilukan. bahkan, ketukannya membuat huruf di keyboard yang aku sentuh menjadi syahdu. seperti lagu yang aku nyanyikan tanpa petik gitar. kacau. tak berirama dan menjadi liar. rindu ini menggebu". seperti gemuruh yang menemani kilatan petir saat mau hujan. aku tak bisa menghentikannya. memprediksinya saja sulit. bukan hanya saat keberadaanmu terdeteksi sangat dekat, tapi saat wajah dan namamu melintas di pikiranku. dan sialnya, itu terjadi hampir setiap saat.

akhir" ini rindu datang sangat deras. tapi aku tak bisa terus"an mengejawantahkannya dalam kata". dalam kalimat". karenanya, aku harus mengakhirinya. agar rindu ini bisa reda dan aku bisa berhenti mengganggumu.
Selengkapnya...