Kehangatan yang Emosional..

belakangan, pulang selalu jadi hal emosional bagiku. aneh, tapi itu selalu terjadi. bahkan sejak aku merencanakannya. sehari sampai dua jam mau berangkat, aku beberapa kali muntah, tanda kalau akau sedang excited pada sesuatu. kadang ini terjadi saat aku berencana bertemu denganmu, muntah" di atas sepeda motor dan bingung cari air minum setelahnya. sepagian ini juga demikian. aku menyadari itu lalu membeli sebotol air mineral untuk persiapan.

aku harus menemui Ibu yang sedang menemani Sinal periksa di RSUD, di klinik THT. sakit tenggorokan Sinal sudah parah, tidak bisa makan dan minum dengan mudah. sebelumnya sudah ke Klinik Khusus THT, tapi hasilnya nihil. Ibu beberapa kali menelponku, mencurahkan perasaannya tentang sakit yang Sinal rasakan. mungkin tidak semua, karena samar" ada isak yang Ibu tahan, aku merasakan dari suaranya yang sedikit parau.

seperti biasa, Ibu, siapapun, akan punya perhatian berlebihan pada anaknya. Sinal, sama seperti saya, tidak peduli pada sakit" begini. karena tidak ingin membuat orang" di sekitarnya khawatir, apalagi Ibu. tapi justru begini jadinya. setiap kali Ibu menelpon membicarakan ini, aku berusaha meyakinkan Ibu bahwa Sinal baik" saja, dan ini bisa dilalui. tapi karena kekhawatiran Ibu semakin menjadi dan hanya aku yang dicurhati, aku merasa harus ke sana berbicara langsung pada Ibu.

kekhawatiran Ibu yang berlebihan sudah terlihat sejak pertama kali tatapan kita bertemu di ruangan depan RSUD. Ibu senang, juga sedih. senyumnya merekah melihatku, tapi matanya sayu lelah. aku mengambil tangannya dan segera mencium telapaknya. kita lalu menuju ruang tunggu di depan banyak pintu klinik. Sinal masih terlihat kurus sejak terakhir bertemu sepekan lalu. jelas karena asupan makannya kurang, karena susan nelan dan minum.

kekhawatiran Ibu yang berlebihan masih terlihat saat menemani Sinal masuk ke klinik THT dan bertanya banyak hal ke dokter, juga saat antre laboratorium, dan antre ambil obat. aku tidak bisa ngapa"in, ini urusan Ibu dengan hatinya yang sedang gelisah. aku hanya memegang tangan kanannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku masih memegang The Murder of Roger Ackroyd untuk aku baca.

malam hari di rumah, baru Ibu bisa mencurahkan hatinya yang dalam padaku, di depan Sinal juga dan Bapak. suaranya lebih parau dari biasanya, aku mendekatinya, bersandar di sampingnya dengan tangan kanan memeluk pundaknya. aku memberi kode pada Sinal agar memeluknya. Sinal bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Ibu yang duduk berselonjor.

Ibu, seperti perempuanya lain, punya sense yang peka dan berlebihan pada hal yang sangat Ia cintai. pada anak"nya, Ibu ingin yang terbaik. tidak ingin ada yang terluka dan sakit. sekecil apapun. karenanya, sikap yang sangat berlebihan ini sangat menggangu. tapi baginya, ini sangat mengganggu pikirannya. karena dia sudah menghadapi pertarungan batin, di hatinya, ada pertempuran yang tidak semua orang lihat.

masih dalam situasi awkard, Bapak tertawa, melontarkan sindiran pada Ibu, mengejeknya dan membully. senyum Ibu langsung pecah. sialan, begini amat ya suami istri. tahu bagaimana bersikap saat salah satunya sedih dan tepat sasaran. sebelum Bapak bersuara, bahkan aku dan Sinal bicara banyak, juga melucu, tapi tidak mempan. Ibu tetap nangis dengan memohon padaku agar menasihati Sinal agar tidak beraktivitas berat yang membuatnya tambah sakit. tapi begitu Bapak yang duduknya dua meter dari Ibu berseloroh, Ibu langsung tertawa dan balas mengejek Bapak. yaelah. suasana konyol yang sangat aku rindukan. suasana hangat berempat, karena Zein sedang pergi ngaji di TPQ.

ada di rumah selalu emosional begini, dengan atau tanpa kejadian yang seperti ini. bukan, bukan yang seperti itu. tapi yang sederhana saja. melihat cara Ibu mengerjakan banyak hal di dapur, membantunya dan berusaha mengambil alih beberapa pekerjaan kecil yang dilakukannya. atau melihat cara Bapak melengkapi pekerjaan Ibu selesai melaut, berbicara bersama teman"nya yang datang bertamu sore dan malam hari hingga akhirnya kita berkumpul di ruang tengah membicarakan hal" gak penting sampai yang menguras emosi. kadang Zein menengahi dengan keluguannya, kadang nyebelinnya. tapi Zein seringkali jadi alasan kami tetap senang dan tertawa begini.

pulang selalu jadi emosional sekarang, belakangan ini. ironisnya, itu terjadi setelah nenek tiada. kesempatan bertemu keluarga besar ini selalu menyenangkan. menjadi sangat berarti. irosnisnya setelah nenek tak lagi di dunia. kehilangan memang selalu merubah banyak hal. tidak ada yang sama setelahnya. dan semua kesadaran tentang penting dan berarti itu, datang setelah semuanya berlalu. kita akan lebih mudah memaknai setelah kehilangan menemui. dan karena mati adalah kepastian, menjadikan setiap pertemuan berarti adalah keharusan.

sabtu, empat belas Juli 2018
Selengkapnya...

Hanya untuk Memastikan..

aku tau namamu bukan Salma. ingatanku masih kuat dan ini baru saja terjadi belum satu windu. jadi jangan meremehkan dan membuatku menundukkan muka. aku hanya bingung dan merasa malu. sudah banyak menit yang aku lalui tanpa membicarakanmu, dengan hati sendiri sekalipun. aku menahan semua kegilaan di kepala, berpura" mendengar dengan memejamkan mata. padahal Kamu masih mengisi semua jiwa dan raga. tiba" bergelora dari seutas senyum sampai sekali ucapan sapa.

aku tau namamu bukan Siska, bukan Dara, Rina apalagi Raisa. namamu sangat mudah diucapkan dan diingat. aku sering menyebutnya dalam doa. jadi jangan membuatku bingung karena kita sudah tak lagi bertemu dengan banyak tatapan muka. meskipun nanti bertemu, itu pasti menyedihkan. pasti mengusik rindu" yang sudah lama kita coba, dengan upaya yang berat, untuk diasingkan. lalu kita berpura-pura baik" saja. memenjara semua sapa dan keluhan di hati. diam" mengutuk pertemuan" itu, juga diam" mematung tidak ingin pergi.

aku tau namamu, aku hafal dan sangat lekat di kapala. atau di hati. atau di telinga kananku. juga di kedua tanganku. atau, pergilah ke mana saja ingin Kau singgahi seluruh anggota badanku, pasti akan Kau temui Kamu, atau setidaknya namamu. bertengger dengan pongah. menantang untuk ditemui dan ditatap dengan gagah. namamu sangat mudah ditemui di semua ragaku. jadi jangan membuatku bingung dengan semua huruf lain yang Kau lempar di sembarang lantai tempatku menyapu. aku tak akan menghindar, Kau pun juga menginginkan demikian. sampai akhirnya ada reruntuhan atap yang membuat semua langkah berjauhan. langkahmu, jalanmu, dan semua garis hidup yang sengaja atau tidak kita hadapi.

aku tau namamu, kurang dari lima huruf dengan dua konsonan yang mirip denganku.
Selengkapnya...

Hari Kedua; ArtJog 2018..

'halo, Mas. nunggu lama pasti ya..? duh, maap ya. maap terus nih dari kemarin', Ullya memegang pundakku dari belakang dan segera menghadirkan raganya di depanku. kaki meja yang aku tempati tiba" berdecit berkali-kali karena Ullya menggesernya juga berulang kali.

'Mas, maap ya. duh, jadi malu nih tuan rumah', kata Ullya masih dengan menggeser kaki meja untuk menyesuaikan tatanan kursi yang dia duduki.

'iya gapapa. nafas dulu lah, biar enak', kataku juga terengah-engah melihatnya.

'hahahaa. iya nih baru selesai tugasnya. tapi kan kita janjiannya pas petang, nah ini udah jam tujuh aja. yaudah kalo gitu kita lama ya di sini', pandangan Ullya lurus menuju ke arahku, dengan rasa bersalah dan memelas.

'eh iya gapapa kali. santai. Ullya pesen dulu dah',
'bentar, katanya nafas dulu. bentar ya', Ullya menanggalkan tas kecil yang melingkari tubuhnya. menaruhnya di atas meja dan kembali memandangiku, dan juga es krimku.
'mau..?'
'enggak. itu rasa apa aja..?',
'greentea, duren dan cappucino. mix yang aneh kan..?',
'bentar ya, Ullya pesen dulu', Ullya berlalu dari meja, ke kasir untuk membayar dan mengambil pesanan. sekitar tujuh menit kemudian, Ullya sudah kembali lagi ke meja dangan cup small.

'sambil nunggu Ullya tadi, saya sempet mikir gini. kan yang medium empat puluh ribu dapet tiga rasa. yang small dua puluh ribu dua rasa. nah, harusnya beli dua small dan kita dapet empat rasa', kataku dengan suara yang pelan.
'hmmm, bener juga. pinter, kok gak dari dulu ngasi taunya. ntar kalo ke sini lagi Ullya coba begitu',
'ya kan baru kali ini saya ke sini. barusan kepikiran',
'hmm, kebanyakan mikir. oh ya, gimana ArtJog..? seru..?',
'seru seru aja. oia, sendirian nih Ullya..?',
'iya, Mas. pada gak bisa. si Sipit Vidia juga lagi ada acara. hmm, Mas',
'oo gitu. hmm iya apa..?',
'kenapa sih jarang post fotomu di medsos..? hampir gak ada lho',
'kenapa emang..?',
'kemarin tuh pas nyari" Kamu di SevenSky, Ullya tuh ditanya Vidia. begimana perawakannya. nah, Ullya itu gak inget wajah Mas', mendengar ini aku langsung tertawa terbahak. kaget, juga lucu.
'eh jangan ketawa Mas. beneran. jadi Ullya itu nginget" di medsos, Mas Hamim nih kok lupa ya wajahnya. lama banget lho kita gak ketemu. Mas juga gak pernah posting apa" di medsos. tipe misterius', Ullya cerita lagi dan aku tertawa lagi.
'wah, Ullya jahat juga ya', kataku menahan tawa. 'eh, aku jadi inget rumah', kataku tiba".
'hah..? karena ketemu sama Ullya..?',
'bukan, karena ada yang manggil Hamim. itu kan cuma orang rumah yang manggil nama itu',
'oia sih. abisnya gak biasa manggil Mas Kid. kan..? gak enak. canggung',
'hahaa iya gapapa. sambil dimakan, mencair udah',
'ya Mas Hamim sambil cerita dong, ke mana aja tadi', Ullya memasukkan sendok pertama es krimnya ke mulut. aku tidak bertanya rasa es krim apa yang dibeli Ullya. sepertinya enak. hmm, bukan. rasanya semua varian di Tempo Gelato ini enak. kata Ullya, Tempo Gelato ada dua di Jogja, di Prawirotaman dan di Jalan Kaliurang ini. kita memilih di sini karena dekat dengan kos Ullya. bangunannya besar dengan kesan tua dari luar. di dalam pun demikian. banyak ornamen dan perabotan yang memberikan kesan itu. bangunannya dua lantai. kami di lantai pertama. kalau malam minggu atau weekend, kata Ullya, bisa rame sampe atas. tapi mereka yang makan es krim di sini biasanya tidak lama. duduk, begitu es nya habis, ya pulang. bukan es yang menemani mereka ngobrol. tapi ngobrol adalah teman buat menghabiskan es. kami? sebaliknya dong.

malam di Jogja ya sama saja seperti biasa, dingin. apalagi kawasan Jakal. jadinya, sejak keluar kos tadi, aku tidak membiarkan jaketku lepas. sedangkan pagi tadi, ya panas, agak adem kalo lagi kebetulan ada di bawah bayang bangunan yang menutupi matahari. jalan kaki keliling Malioboro dan mampir ke Shopping juga jadi aktivitas yang melelahkan, karena cuaca tadi, bikin gerah dan keringetan. apalagi buku yang ingin aku beli gak ada, blas di semua toko. saya sudah naik turun bangunan tiga lantai itu, gak ada. akhirnya aku kembali ke penginapan, perlahan, sambil liat" aksesoris yang mungkin saja menarik buat dibeli. beberapa pesan masuk, termasuk dari Ullya, memintaku agar pakai masker karena erupsi freatik Merapi, barusan. aku iyakan, sepertinya abunya belum sampe ke Jogja Kota.

pagi masih panjang, dan aku melintas ke Stasiun Tugu buat menukar tiket kereta. bertemu dengan banyak orang yang lalu lalang menyebrang dengan tertib. aneh rasanya melihatnya. sangat menyenangkan bisa melihat kebiasaan seperti ini, tertib dan sabar buat antre. aku percaya kalo banyak hal yang dilakukan di jalanan seringkali menular, baik atau buruk. seperti saat kita melihat pelanggaran marka atau rambu lalu lintas, akan banyak yang ikut"an melanggarnya. melihat yang begini, antre nyebrang dengan tertib ini, juga demikian. wisatawan seperti aku ini, ya juga ikut antre nyebrang.

setelah shalat Jumat, aku gak langsung balik ke penginapan. duduk di pedestrian Malioboro, tapi nyari yang teduh. siang men. membeli secangkir kopi sampai habis, lalu kembali ke kamar buat persiapan ke kegiatan inti, tujuan utama aku ke Jogja; ArtJog. karena juga ada Deedee di Jogja, aku mengabarinya, siapa tau rencana dia ke ArtJog berbarengan waktunya. sambil kaget, dia menjawab 'pagi tadi'. dan akhirnya aku berangkat, tepat pukul dua. aku daftar curatorial tour yang diselenggarakan jam tiga sore nanti. karenanya, kudu dateng sebelumnya biar gak ketinggalan. sebenarnya gak terlalu butuh tournya, karena di ArtJog, semua karya seni sudah bisa dinikmati dengan penjelasan di samping karyanya. tapi buat pengalaman begimana sih tour di ArtJog, aku daftar.

tour berlangsung satu jam-an, dengan puluhan peserta. jadi Jogja National Museum yang berupa lorong-lorong itu penuh. perbedaan mendasar peserta tour dan enggak hanya pada majalah yang dikasi saat masuk. tetep bayar, 50ribu, dikasi buku pegangan jadwal kegiatan-kegiatan di Jogja selama Mei-Juli 2018 dan satu majalah apalah. karena aku bawa kamera di tas dan males nenteng-nentengnya, majalah itu aku taroh di depan ruang panitia, berharap diambil sama mereka. pengunjung yang gak daftar tour sebenarnya juga bisa ikut. karena ya gak ada yang melarang. kami berhenti di hampir semua karya seni, mendengarkan penjelasan konsep masing" karya oleh Ignatia Nilu sebagai salah seorang kurator ArtJog 2018. perempuan yang rambutnya sekarang keriting itu menjelaskan dengan lugas, penjelasannya sangat menarik buat didengarkan.

karena kebutuhan dokumentasi, aku seringkali keluar dari rombongan dan menjelajah sendiri satu dua ruangan. kadang aku tertahan di satu karya seni sampai bermenit-menit sebelum rombongan datang memenuhi ruangan itu. mereka semua gila, keren-keren kerja seninya. aku yang tiap kali ngobrol tentang tulisan masih mempertanyakan dari mana datangnya ide, mereka malah idenya di luar nalar. kepikiran dari mana ya. menakjubkan. karenanya, aku sangat mengagumi orang-orang kreatif dan menghormati mereka. aku selalu berpihak pada kreatifitas, jadi kalo ada orang yang mengancam proses kreatif orang lain, aku gak bisa menahan amarah.

hampir semua karya seni di ArtJog 2018 aku suka. dari yang paling sederhana tapi idenya menakjubkan, sampai yang sangat sulit aku cerna. aku harus membaca berkali-kali penjelasannya sampai aku paham latar ide dan maksudnya. mereka menerjemahkan 'enlightenment' yang menjadi tema dengan persepsi masing-masing. aku sangat menikmati semua enjawantah itu. mulai Aura karya Tantin di sebelah kiri begitu masuk, Hutan Dilipat yang memanjang di lorong setelahnya, Handiwirman dengan toleranintoleransi yang memakai ruangan spesial, karena harus bergantian masuk ke ruangan tempat karyanya dipajang berupa bentuk anyaman dari karet. di ruang seberangnya, ada lukisan-lukisan Human Study karya Ronald Ventura, Kevin Zhang dengan Free to Soar yang menampilkan Kite (layang layang), foto bentukan unik dari ratusan pusar karya Mella Jaarsma bertajuk Blinds & Blinds, sampai di Healing Garden milik Hiromi Tango. samar", aku merasa ada yang mengikuti. setiap kali aku berhenti untuk memotret, ada yang seolah memungut sepi dengan berada di sampingku.

kemudian aku naik ke lantai dua dan tiga bergantian. aku segera menemui karya sederhana menakjubkan Syagini Ratna Wulan '389-696-104-554' yang mendeskripsikan Persepsi dan Kesadaran dengan warna, kumpulan ingatan Davy Linggar ft. Tulus sang penyanyi, permainan cahaya dengan pipa bertajuk Reflex oleh Setu Legi & Sulistyanto, Fajar Abadi dengan Everlost yang menggugat makanan ringan di negara berkembang seperti Indonesia, dan Bandu Darmawan yang dengan menarik menggambarkan Pernyataan Tidak Tertulis. aku kembali turun ke lantai satu untuk keluar, meninggalkan rombongan yang masih tertahan di lantai tiga. bersamaku, seorang perempuan dengan pakaian hitam terusan tanpa lengan, bucket hat warna peach, totebag putih bergambar wajah sepertinya musisi perempuan, kamera di tangan kanan dan hape di tangan kiri, dua kalung hijau dan merah melingkar di lehernya, dan tato di belakang bawah tengkuknya, menuruni anak tangga bersamaan. saat aku berhenti untuk kembali memotret di ujung tangga, dia berhenti. lalu aku berjalan, diapun begitu. sampai akhirnya aku menoleh ke arahnya, melihat wajahnya dua detik mungkin, dan membuang muka. dia membalas tatapanku dan tersenyum. hmm, aku takut dengan perasaan beginian, dan segera kembali menuruni tangga.

aku menuju pintu keluar, tapi terganggu oleh God of War karya Ichwan Noor yang tak bisa aku hindari. mendekati pintu keluar pun, mata dan minatku dimanja oleh konstruksi patung dari bongkahan banyak biji keyboard bertajuk Satu oleh Awan Simatupang. aku memutarinya, sampai akhirnya pandanganku kembali tertuju pada perempuan bucket hat yang juga berada di ruangan ini. karena keduanya kalinya tatapan kita bertemu, aku tidak segera membuang muka. aku melihatnya, dia juga membalas melihatku. dia tersenyum, aku juga, atau begitu menurutku. entah ini aku terlihat seperti sedang tersenyum atau tidak. lalu aku beranjak keluar dan membeli merchandise ArtJog 2018 yang masya Allah mahal.

di menuju garbang Jogja National Museum, aku pura" menerima telpon. karena di depan, ada dua orang kameramen dengan satu reporter yang sedang menunggu pengunjung untuk diwawancarai. kalau dari seragamnya, sepertinya dari TV. sialan, cuma aku yang lagi lewat menit itu. jadi saat mereka berusaha memanggilku, aku semakin mengencangkan pembicaraan dan gesturku seperti sedang serius menelpon. aku melangkahkah kaki dengan cepat, lalu menjumpai gerbang Jogja National Museum di depan.

aku memencet hape untuk pesan ojek online saat pandanganku kembali bertemu dengan perempun bucket hat, di tempat duduk bundar dari semen, dia berdiri saat melihatku berjalan ke arah gerbang. aku tersenyum ke arahnya, atau begitu menurutku. dia membalas senyumku dan kemudian kita saling melempar pandangan dan tawa. tawa, karena aku dan dia tersenyum sampai gigi terlihat lalu mengeluarkan bunyi. kita berdua sama" berada di gerbang. dari cara dia melihat hape, sepertinya dia sedang menunggu dijemput. pacarnya mungkin, atau orang tuanya. tidak sampai semenit kemudian, ojek online datang. menyebut namanya, tapi samar sehingga aku tidak mendengar, lalu dia menganggukkan kepala tempat wajah manisnya berada, ke arahku masih dengan senyum, lalu menaiki motor itu dan berlalu. sedangkan aku, mematung dan mengutuk, sialan, apa yang barusan aku lewatkan.

aku melihat ada penjual es cendol biji hitam di seberang, di depan mushalla. aku berjalan ke sana dan memesannya satu. menghabiskannya sesaat sebelum namaku disebut oleh salah seorang driver ojek online di depan gerbang JNM. aku menghampiri, menaikinya dan juga beranjak dari JNM. aku memintanya berhenti di depan Malioboro Mall, masuk dan segera mencari Gramedia. masuk, ngubek" komputer pencarian dan mengetik Aruna dan Lidahnya. layar memunculkan angka-angka dan aku segera mencarinya. nihil. aku kesulitan menemukannya. empat belas menit kemudian aku menghampiri kasir dan meminta tolong ke salah satu petugas membantu mencari. kasir lalu memanggil satu petugas perempuan membantuku. 'gak usah, Mas. duduk aja di sini, biar saya yang nyari', katanya saat aku mau beranjak dari kursi. gak sampai dua menit, dia kembali datang membawa buku di tangannya. 'nih, Mas', dia menyodorkan Aruna dan Lidahnya padaku. aku cium bukunya, aromanya harum, lalu mengeluarkan dompet dari saku celana dan membayar. mungkin si Ibu kasir udah eneg liat aku melakukan hal" tadi.

aku pulang, ke arah penginapan dengan riang dan hati gembira. petang masih bersela, adzan Maghrib belum hadir di telinga, aku berjalan melintas pedestrian Malioboro sambil tertawa. entah kenapa, tapi aku sangat senang bisa mendapatkan Aruna dan Lidahnya, pada akhirnya. aku baru tau novel Laksmi Pamuntjak ini, setelah Parali Film mengabarkan rencana mau bikin filmnya. aku gak hanya kaget, tapi sangat antusias saat Edwin yang ditunjuk jadi sutradaranya. lebih excited lagi saat castnya dipenuhi bintang idola; Dian Sastro, Nicholas Saputra, Oka Antara dan Hannah Al Rasyid. wah, bakal keren banget dah ni film. yang wah lagi, kenapa aku tertarik baca novelnya ya..?! aneh. satu"nya novel tebal yang pernah aku baca dan tamatkan adalah Ayat-Ayat Cinta, dulu sekali saat masih SMA. setelahnya, aku hanya punya novel" tebal, tanpa dibaca. karena juga tidak beli sendiri, hampir semuanya dikasi temen, sebagian lainnya hadiah dari penerbit. keanehan lainnya buatku, aku suka bikin fiksi, tapi hanya sekali menamatkan novel.

aku berjalan, lalu duduk. berjalan lagi, lalu duduk di kursi" itu. memandangi langit yang hampir gelap. mengantarkan matahari terbenam bersama pendarnya. saat lampu-lampu mulai menyala, aku kembali ke penginapan. shalat dan beberes, lalu kembali keluar menemui Ullya.

'selalu ada orang kayak Kamu, Mas. dari sepuluh orang, ya ada satu lah yang gak tau cara bersikap pada perempuan. dan biasanya orang kayak gini kalo udah kenal perempuan, suka ngeselin', kata Ullya.
'justru itu keahlian saya', kataku dengan mengangkat alis.
'he'em gapapa. selama bukan saya yang dibikin kesel', katanya lagi, juga dengan mengangkat alis. 'oia, besok ke mana..? kalo belum ada, Ullya punya tempat bagus buat didatangin',
'oia boleh. besok saya free. kan ke sini buat ArtJog aja. hari ini udah, besok free',
'OKee ya, besok jam sembilan di Malioboro',

perbincangan kami lalu megarah pada persoalan menikah, asmara dan semua chapter selanjutnya dari usia yang sedang kami injak sekarang. karena aku lebih tua, Ullya dengan leluasa mengejekku. tapi karena Risa, sepupunya yang seumuran, sebentar lagi nikah, aku juga punya alasan buat mengejeknya. aku tidak tau kapan terakhir kali aku bisa becanda begitu lepas, setidaknya dua pekan terakhir ini. aku tertawa dengan berat, tertahan dengan sangat dan saat sadar, semuanya sudah terlambat. hampir saja aku lupa, bahwa hidup terus berjalan. dunia tidak akan menunggu, itulah nasib.

sebelas Mei 2018
Selengkapnya...

Menyudahi Ketidakjelasan..

hidup yang aku jalani kadang terasa aneh, bagiku. saat sendiri, tiba" semua rindu datang menghampiri. di kamar, di jalanan dan semua tempat favorit yang sering aku kunjungi jadi terasa asing. semua musik dan teriakan Chester Bennington yang masuk telinga seakan sulit menyelamatkan meski bising. tiba" semuanya berjalan pelan. mengalun lambat seolah ingin dijemput. membuai rendah untuk dibalut. terlihat babak belur dan segera diobati untuk kembali melaju. untuk mendatangi kembali tempat-tempat yang membuat gairah hidupku berlanjut.

siang ini semua warung kopi favoritku tiba" tidak menyenangkan. Kedai 27 Dukuh Kupang masih tutup, sudah dua kali aku datangi selama tiga hari ini dan masih tutup. lainnya ramai orang" dan pasti gaduh. tidak cocok buat membaca. menulis saja mungkin bisa aku lakukan, tapi tidak untuk membaca. moodku tiba" tidak ramah. aku akhirnya memilih kembali ke kamar dengan dua bungkus kopi hitam racikan Om Raffi, pemilik warung kopi langganan yang siang tadi ramai. aku buka satu, kutuang ke gelas, dan segera membuka laptop untuk menulis sebuah review film. sampai akhirnya satu jam terlewat, menutup laptop dan pergi mandi dengan hal" gak jelas.

aku bergegas ke kantor, memenuhi ajakan berbuah janji yang pagi tadi dibuat dengan Dhafin. beli buku di Gramed yang sedang diskon dengan debit BNI, berlaku hanya hari ini. mengesalkan. ini masih awal bulan memang, tapi aku tidak suka pergi ke Gramed. aku seringkali tidak ikhlas beli buku di sana. mungkin karena aku sudah terbiasa ke Togamas yang selalu menyediakan diskon 15% untuk semua bukunya. jadi saat di Gramed tadi, aku tiba" muak dengan toko buku ini. aku muak saat aku menemukan buku bagus dan tau mau beli buku apa. tapi akhirnya terpaksa beli, tiga buku. bedebah. keliatan kan betapa gak ikhlasnya transaksi ini aku lakukan.

lalu aku menuju ke kantor dengan terburu-buru. ada ledakan diduga bom di Pogar Bangil. grup WhatsApp redaksi dari tadi hectic dan aku telat datang. aku masih di meja redaksi saat menulis ini. membagi fokus dengan banyak kejadian. ledakan di Bangil, kebakaran bus di tol dan semua kemacetan di jalanan. samar", aku melihat beberapa pesan di hape dan terus melanjutkan menulis. samar" juga, di kepalaku, mengalun suara" Chester dan musik Linkin Park. hahahaa, mungkin ini yang aku rindukan. problem solved. satu.

kedua, ternyata aku sangat merindukan aktivitas ini. berbagi fokus menulis dan berbagi cerita. OKee, sementara ini, sudah ada tiga list tulisan yang menjadi deadline. dua review film (bisa jadi tiga), dua cerita perjalanan di Jogja, dan satu tugas essai Singapore yang diminta Direksi. but, satu ini dulu lah untuk menyudahi kerinduan.
Selengkapnya...

Hari Pertama; Pengalaman Bersama transJogja..

'Mas Hamim..?', dari belakang, seorang memegang dan menarik pundakku. seolah dia ingin aku menoleh dan melihat wajahku. aku membalikkan wajah empat puluh lima derajat dan samar" menemukan wajah Ullya. aku menoleh dan menganggukan kepala. Ullya, diikuti seorang perempuan di belakangnya lalu berjalan mengitariku dan duduk tepat di depanku.

'gak lama kan nunggunya..? lumayan rame ternyata Mas di sini. maap ya', kata Ullya membuka percakapan. 'capek ya..? gak ngomong apa" gitu', Ullya menjejal pertanyaan yang seharusnya aku jawab segera.

'enggak. eh, pesen dulu deh', kataku agak bingung karena aku juga belum pesan apa". kami bertemu di SevenSky Rooftop di atas Lippo Mall. tempatnya rame, banyak tenant makanan mirip bazaar dan anak" muda beraktivitas. ada yang maen skateboard sampe ada yang foto" dengan banyak fasilitas narsis yang disediain. memang bagus kalo sore ke sini, foto"nya bisa sangat instagramable. tapi kami di sini sudah malem, petang pun gak sudah lewat.

'kenalin dulu nih Mas, temen Ullya',
'Vidia, Mas', suara perempuan di samping Ullya terdengar dengan uluran tangan ke arahku.
'eh iya, Hamim', aku selalu membenci perkenalan dengan perempuan. karena mereka semua selalu membuatku malu, kikuk dan gak berkutik. hal ini juga yang membuat semua orang berpikir aneh, termasuk Ullya. sudahlah, gak usah dibahas.

'jadi, ini hasil seharian di Jogja..?', Ullya menggerakkan tangannya membentuk lingkaran di udara dengan wajahku sebagai objek.
'hah..? iya. begini. keliatan begimana emang..?',
'ruwet. capek banget ya Mas..? maap ya gak bisa nemenin sejak di Jogja',
'halah, gapapa. kan Ullya punya kegiatan. malah maunya saya gak mau ngubungin Ullya, takut ngerepotin',
'gak boleh gitu dong. jadi, sekarang cerita. ngapain ke Jogja dan ke mana aja hari ini..? eh, berapa hari jadinya..?', Ullya tidak bener" ingin tau, dia hanya kita bertiga punya obrolan. karena baginya, aku tamu dan keluarga yang kudu dibuat nyaman.

kedatanganku ke Jogja kali ini tidak hanya karena ArtJog. aku memang butuh liburan, menjauh dari Surabaya dan semua persoalan yang mengitarinya. atau tepatnya, mengitariku. tidak hanya suntuk, tapi juga ingin menghilankan jumud, resah, sedih, marah, dan semua hal yang ditimbulkan karena cerita" di tulisan sebelum ini. tapi tentu ArtJog adalah magnet yang gak bisa aku singkirkan sebagai tujuan.

aku ingin sendiri saja di sini. tiga hari, sendiri. tapi karena komitmen untuk lebih ramah pada sekitar, aku milih kulo nuwun. sayangnya, temen"ku yang S2 di Jogja sudah pada lulus dan angkat kaki. semua. sedangkan Ullya, jadi satu"nya kerabat yang memilih berdomisili di Jogja yang aku kenal. inginnya kulo nuwun aja, ternyata Ullya pengen nemenin jalan", karena dia juga butuh hiburan. hmm, keberadaanku ternyata bisa jadi batu loncatan juga.

seperti kebiasaan ke Jogja sebelum"nya, berangkat malam dengan bus, nyampe pagi dan menghabiskan hari sampai petang di Jogja. prinsipku keras soal ini, soal liburan. aku tak ingin memotong jatah liburan di perjalanan dan tidur. jadi kalo udah di kota orang, atau udah nyampe destinasi, aku pantang tidur. nguap berkali" gak jadi soal, asal gak melewatkan setiap menit liburan. aku akan memilih menanggung kantuk dan lelah, daripada menghilangkan setiap detik yang sudah aku perjuangkan untuk sampai di sini.

begitu sampai di Janti pagi tadi, aku langsung menuju ke Malioboro buat nyari penginapan, menaroh tas dan kembali jalan. ojek mengantarkanku ke kawasan Sosrowijayan, surganya motel di kawasan Malioboro. tempat yang strategis bagiku. dekat dengan banyak tempat yang aku butuhkan, kecuali wisata" alam. diantar oleh guide, atau anggaplah seperti itu, nemu motelnya, deal, lalu mandi dan segera membuat kemungkinan" ke mana aku harus pergi.

aku tidak begitu peduli dengan penginapan. bagiku, penginapan hanya untuk merebahkan badan dan tidur. jadi gak usah mahal, kalau bisa nyari yang sangat murah. aku dapet seharga lapan puluh ribu, kamar mandi luar dan kipas angin. kalo nyari lagi, mungkin dapet yang lebih murah. tapi sekali lagi, aku tidak ingin motong waktu liburanku.

saat keluar penginapan, langkah" kakiku langsung memacu otak mikir ke mana tempat pertama yang harus aku datangi. keluar gang, cuaca panas dan orang" menyambutku. ada yang nawarin makan, becak dan guide. aku tidak peduli dengan warung makan dan semua dagangan di Malioboro. jalan terus sampai tak ada lagi orang" yang menawarkan ini itu. pedestrian Malioboro sisi kanan sedang diperbaiki, dipercantik seperti sisi kiri yang sudah nyaman buat jalan" turis.

saat aku keluarkan kamera, ada transJogja lewat. hmmm, sepertinya aku belum pernah naik. hahaha, satu ide muncul. aku keluarkan hape dan mencari rute transJogja. ternyata transJogja yang lewat di Maioboro ini tujuan akhirnya di Prambanan. kesempatan, aku juga belum pernah ke Prambanan. satu usapan lagi, ternyata lokasi Prambanan berdekatan dengan Ratu Boko. ckck, ulam pun tiba. Prambanan terlalu mainstream dan Ratu Boko juga belum pernah aku jajaki. beberapa ketukan berikutnya, aku sudah mendapatkan semua info cara menuju ke sana pakai transJogja termasuk semua ongkosnya.

ternyata duit masuk Prambanan dan Ratu Boko sama, empat puluh ribu. naik sejak akhir tahun lalu yang sebelumnya dua lima ribu. ada tapinya. Ratu Boko ini dikenal sangat favorit untuk pengejar sunset. jadi, di atas jam tiga sore, duit masuknya naik jadi seratus ribu. pengunjung gak kalah ide. taktiknya, mereka datang sebelum jam tiga sore, dan bertahan di dalam sampe petang. mantab, aku juga niru cara ini.

transJogja yang aku tunggu datang. sebelumnya aku sudah bayar tiga ribu pakai duit cash, karena aku gak punya kartu"an. transJogja nyaman, kurangnya hanya tempat yang terbatas, dikit, gak besar. jadi kalo ada anak kecil, perempuan atau orang cacat, kita kudu berdiri. saat aku masuk, masih ada kursi kosong yang bisa aku tempati. beberapa halte berikutnya, ternyata rame penumpang anak" dan perempuan. aku berdiri bersama banyak pria lainnya. lumayan lama, hampir sampe dua hal terakhir baru sepi lagi. perjalanan dari Malioboro sampe halte Prambanan, kurang lebih empat puluh lima menit.

sampe di halte Prambanan, aku naik ojek. menurut panduan, itu satu"nya cara. bisa pilih, ojek online atau ojek pangkalan. karena lebih murah, aku milih ojek online. tapi kalo soal ribet, ojek online menang. karena di Prambanan adalah zona merah, kawasan yang dilarang pickup penumpang, jadi kudu jalan lagi ke tempat yang agak jauh dari halte. aku melakukannya setelah deal dengan drivernya. dan melaju pelan ke Ratu Boko dengan nyaman. aku selalu membiasakan ngobrol dengan driver ojek online, kali ini juga. selalu menarik ngobrol dengan mereka. tapi gak usah aku bicarakan di sini, terlalu panjang dan menarik. beneran, saking menariknya, si driver ini pakai rute yang lebih panjang nganterinnya. jalanan berliku mirip Pujon dari Batu. ternyata ini pintu belakang Ratu Boko.

satpam langsung menghampiriku setelah turun dari motor. bertanya dengan ramah dan menunjukkan loket yang bisa aku samperin. harusnya loket pintu belakang untuk turis mancanegara, tapi karena mataku yang sipit seperti Chinese, aku diperbolehkan beli situ. dulu sekali saat SD, aku sering dibilang China. dulu sih putih banget ni kulit, turunan dari Bapak dan ibunya Bapak. tapi setelah negara Nikaragua menyerang, sisa sipitnya aja, putihnya udah diambil ekstrak manggis buat iklan. empat puluh ribu, lalu aku mendapatkan selembar tiket masuk.

wisata ini punya dua kawasan. satu di depan, berupa restoran dan titik kumpul. satu lagi jalan akses menuju dan Ratu Boko-nya. setelah menunjukan tiket dan distempel, kita akan menemui guide. kalau make, bayar. karena aku suka efek kejutan, aku gak make. aku hanya make highless kalo lagi mau mangkal aja.

jalannya paving dan rindang, panjangnya sekitar 200m. di sepanjang jalan juga, ada tempat duduk berupa kursi" panjang seperti di pedestrian Malioboro dan juga gazebo dari kayu. di samping kanan dari tempat masuk ada taman atau rumput" yang bisa diduduki. ada air mancurnya juga dan jalan menuju masjid Alhidayah. alhamdulillah. di sisi kanan juga ada jalan menuju kamar mandi dan toilet. beberapa keluarga lagi duduk" di jalur rumput itu. dan hampir semua kursi dan gazebo terisi. di sepanjang jalan itu juga ada yang tiba" nawarin es degan, nawarin buat foto, buat ijazah, prewed sampe administrasi nikah. OKee, fokus ke cerita.

aku hanya ingin jalan" ke sini, pengen tau aja Ratu Boko. jadinya, gak begitu niat ingin tau tentang sejarah dan pengetahuan lainnya tentang candi yang juga disebut kraton ini. hari ini Kamis dan masih hari aktif. tapi di belakangku, ada banyak rombongan sepertinya dari perusahaan-perusahaan, karena pakai baju yang sama dan tua-tua. juga, ada beberapa kelompok anak sekolahan, kalau dilihat dari bajunya, SMP dan SMA. mereka berlarian di belakangku. beberapa diantaranya melewatiku dengan sapa, sebagian lainnya menabrakku mungkin tanpa sengaja. lalu meminta maaf dan meminta buat motret mereka. haha, lagu lama.

aku masih belum tahu sebenarnya apa tujuanku ke sini selain jalan-jalan. motretpun dari tadi hanya sekali dua kali. kamera yang aku kalungin, tidak banyak merekam moment. saat sampai di gerbang utamanya, aku berhenti dan diam. mematung dan berpikir, abis ini ke mana lagi ya. Ratu Boko terlalu luas buat diputerin. terlalu banyak batu dan sudut yang tersedia. luas dan panjang. sedangkan aku, sudah merasa puas melihat". aku membaca hampir semua petunjuk di papan" yang memberi pengetahuan tentang Ratu Boko, dua detik kemudian, menguap begitu saja. memori otakku terbatas, mereka kadang memfilter sendiri mana yang harus diinget dan mana yang enggak.

langit semakin menguning saat aku memutuskan kembali. hampir semua rombongan yang aku temui, ada satu-dua orang yang membawa kamera. bahkan kelompok yang berjumlah lebih kecil dan sejoli yang membawa tripod lengkap dengan lensa tele. kalau yang ini, sepertinya memang niat motret senja di Ratu Boko. sebagian lainnya masih bertahan di gerbang utama dan foto-foto. ada juga satu kelompok turis asing yang sedang berbincang bernaung di salah satu sudut gerbang. dari ciri dan bicaranya, sepertinya dari China. salah satunya memperhatikanku berjalan, memicingkan mata seolah punya, dan ingin mengakuiku anak. yang lainnya mengkerutkan dahi seolah ingin nagih uang mie ayam yang kemarin belum aku bayar. aku buru" lewat dan berlalu.

inget belum shalat ashar, aku mampir ke masjid AlHidayah tadi. masjidnya kecil dan ada bagian yang sedang diperbaiki. di komplek masjid, ada warungnya, berjualan minum dan makanan ringan terutama mie. aku mampir dan memesan dua gelas es teh, haus banget. ibunya agak kaget saat bertanya meyakinkan 'dua, Mas..? dua gelas..?', 'iya, Bu. duaaaaaaa. sarimie isi dua', Ayu Ting Ting muncul dari dalam warung.

masjidnya kecil, tapi bersih dan nyaman buat shalat. disediain mukena dan sarung juga di dalam. tempat wudhu'nya terpisah dari bangunan masjid dan disediain sendal ke sana. setelahnya, aku keluarkan sarung dari tas dan maling. bukan lah. aku selalu bawa sarung ke mana", buat nyolong. bukan lagi. buat persiapan aja. banyak teman menganggap jins bolong" yang aku pakai buat gaya"an. padahal emang jinsku bolong" semua di lutut. makanya aku bawa sarung ke mana". tas apapun yang aku pake, ada sarung di dalamnya. jaga" tempat ibadah yang aku singgahi gak ada sarungnya. tapi beruntungnya, selalu ada sarung di tempat" itu.

keluar dari masjid, aku pulang tanpa banyak printilan dan penyesalan. padahal sebentar lagi kan senja terlihat dan Ratu Boko jadi wisata seksi buat foto". saat aku keluar masjid, ada pertunjukan musik dengan angklung di jalan menuju gerbang utama. pelakunya banyak dan memakai pakaian adat Jawa. langit makin redup dan senja mulai turun. aku, berlalu dengan hape di tangan. membaca pesan dari Ullya yang memintaku menemuinya di Lippo Mall segera setelah petang. aku iyakan dan kembali memencet hape. pesan ojek online dengan sedikit insiden dan balik ke halte transJogja Prambanan.

kawasan Prambanan juga sedang ramai, banyak mobil dan bus balik dari arah Prambanan. halte transJogja juga ramai calon penumpang. saat aku masuk transJogja, bersamaku, banyak yang berdiri tidak kebagian tempat duduk yang diisi perempuan dan anak". dari dalam, cahaya langit mulai pudar dan gelap. di setiap halte yang kita kunjungi, juga ramai ditunggu. karena kapasitas, mereka harus tertahan dan menunggu moda selanjutnya. keluar dari halte Adi Sucipto, jalanan Jogja mulai terang. lampu" penerangan mulai dinyalakan. masih dari dalam, matahari terbenam dengan purna. tidak ada lagi kuning dan semburat jingga.

empat puluh menit berlalu dan halte yang aku tuju disebut berkali". pertanda aku harus mendekati pintu transJogja untuk siap" ditendang dan diusir karena sudah ikut menyesaki Jogja. dari halte, ada jarak sekitar 100m ke Lippo Mall. kalau di Surabaya, Lippo Mall seperti transmart. kecil dan langsung disambut dengan food court di lantai dasar. aku, langsung mencari cleaning service nanya mushalla. ternyata agak tersembunyi, tapi pastinya terletak di parkiran. karena waktu Maghrib yang sebentar, mushalla rame. benar" rame. setelahnya, aku menuju SevenSky Rooftop di lantai paling atas.

sudah lama banget gak ngobrol dengan Ullya. baik lewat lisan maupun teks. dua tahun. jadi agak lambat memulainya, karena aku, dan juga Ullya, harus mengira" di mana obrolan bisa kita mulai. setelah mengalir, tak ada tawa yang lewat dari kalimat" kami. dan bersyukur ada Vidia, ternyata dia lucu dan penghasil tawa. tapi karena ada jam malam buat Vidia, kami harus pulang. Ullya masih memintaku pindah buat ngobrol" lagi setelah mengantar Vidia. tapi atas pertimbangan masih ada besok dan lusa, kita sepakat buat menuntaskan pertemuan hari ini. aku kembali memencet hape dan memesan ojek online.

di penginapan, aku tidak benar" istirahat. karena seperti yang aku bilang, pantang bagiku merebahkan badan saat berlibur. aku ke penginapan hanya buat shalat dan menaruh tas. lalu kembali keluyuran ke Malioboro, duduk", mengeluarkan buku catatan dan memesan secangkir kopi di Koling dekat Malioboro Mall sampai dini hari. aku bukan memaksakan diri, tapi ini caraku berlibur dan menghibur diri. bagiku saat berlibur; tak ada pedoman di sini, aku harus menulisnya sendiri.

sepuluh Mei, 2018
Selengkapnya...

Aku Marah, Juga Sedih..

aku tidak hanya marah, aku juga gusar dan risau. padahal Sancaka Pagi baru berjalan setengah jam dan grup WhatsApp redaksi mulai ramai karena ada ledakan bom bunuh diri di gereja Ngagel Surabaya. biadab, bangsat, jancok, aku tidak berhenti misuh, tapi dalam hati. aku kehabisan kata pisuhan dan rasanya tidak bisa bernafas dengan benar. aku berdiri, pria yang duduk di sampingku melihatku dan tanpa diminta, dia memberiku jalan.

aku memukul-mukul buku yang aku pegang dengan sangat geram. aku berjalan menuju lorong di gerbong tiga. membuka pintu dan bersandar di pintu toilet. grup WA tambah rame, dua ledakan serupa terjadi di dua gereja lainnya. sialan, satunya di dekat tempatku tinggal, GKI jalan Diponegoro. aku menarik nafas dalam, sangat dalam. di kepalaku sedang mendaftar nama" yang harus aku hubungin. Sinal dan Kak Hakim baik" saja. saat mau ngubungin temen" Comanraiden, ternyata di grup mereka rema dewe dan semua aman.

aku masih berdiri di depan toilet saat temenku di redaksi mulai mengupdate jumlah korban meninggal. satu, dua, tiga dan tidak berhenti. yang terluka lebih banyak. aku masih memantau lewat grup WA dan semuanya sedang hectic. pikiranku masih melayang ke lainnya. shit, shit, shit, Ibu. aku langsung menelpon Ibu.

'Assalamu'alaikum. ada apa, Nak..?',
'Ibu di mana..? Bapak dan Zein..?',
'di rumah. Bapakmu lagi nerima telpon. Zein main. kenapa..?',
'alhamdulillah. gapapa, Buk. gapapa',
'Kamu tuh jangan sering" panik. sering mikir ini itu. Kamu tuh mikir kesehatanmu',
aku terdiam, tidak fokus. 'hah. gimana, Bu? oh iya, pasti', aku menjawab sekenanya. 'yaudah Bu. Assalamu'alaikum',

akhirnya aku masuk ke toilet. menaruh 'Aruna dan Lidahnya' yang sedari tadi aku pegang di dekat jendela toilet dan mencuci muka. aku tak berhenti merutuk. sialan, kenapa mereka macem" dengan Surabaya. kenapa memilih Surabaya. kenapa sekarang, berselang tiga hari setelah kejadian di Mako Brimob Jakarta. aku tidak ingin berspekulasi, tapi aku tak berhenti misuh.

aku kembali ke tempat dudukku dengan muka yang masih murung. setidaknya itu yang dikatakan penumpang sebelahku. 'kenapa murung, Mas? maaf jika kami mengganggu', tanyanya. mengganggu, kenapa mengganggu. aku masih belum fokus. oh iya. mungkin yang dimaksud mengganggu karena anaknya dari tadi teriak-teriak. pria ini melakukan perjalanan dengan istri dan satu anaknya. anak dan istrinya ada di 14C dan D. sementara dirinya bersamaku di 14B.

'oh enggak, Mas. gapapa',
'maaf, tapi Mas pucat',
hah, iya kah..? sebelum menjawab, saya kembali menarik nafas dan memutar banyak kata untuk aku keluarkan. 'gapapa, Mas. mungkin karena belum sarapan', aku menjawab ngaco.
'ini, Mas', dia menyodorkan sebungkus Sari Roti.
'oh, makasih Mas. saya baru saja mau makan roti yang saya bawa. ini', saya mengambil roti dari tas. pembicaraan kami berhenti, karena dia harus menenangkan anaknya dan aku kembali melihat hape memantau situasi biadab ini.

aku tak hanya marah, tapi juga geram. beberapa grup WA dan sesekali japri, menginfokan kabar keliru, kabar tak jelas dan berdasarkan katanya katanya. aku geram, ingin misuh pada mereka-mereka yang menambah kepanikan dan menyebarkannya menimbun keresahan.

aku tak hanya marah, tapi juga sedih. aku sedih, dalam arti sebenarnya. sialan, aku sedih. aku sedih, seperti sedang kehilangan.
Selengkapnya...

Lebih Peduli..

aku seringkali memilih tidak tau banyak hal. diantaranya, aku memang tidak peduli. mungkin itu juga yang membuatku seolah sinis pada banyak perkara. terlihat tak acuh dan tak menghiraukan banyak sapa. itu juga yang membuatku lebih banyak diam di tengah ramainya suasana. itu juga yang membuatku sering lupa bertanya kabar" yang ingin aku dengar, bahkan keluarga. bukan pada Bapak-Ibu, tapi pada lainnya. Ibu yang sering menegur. memintaku untuk menelpon sodara"ku dan kerabat lainnya. bukan karena kesombongan yang merenggut simpati itu, tapi memang aku belum biasa melakukannya. karena aku selalu berpikir, mereka selalu baik" saja. sodara"ku orang hebat, mereka selalu menemukan jalan di tengah gelapnya nasib.

seminggu sebelum ini, Ibu menelpon. mengabarkan kalau akan menjenguk Nurul di pondoknya bersama orang tua lain. Bapak tidak menyertai, tapi Zein ikut. juga mengabarkan kalau ada satu seat lagi di mobil, seolah menyiratkan ajakan padaku. agar aku ngobrol dengan Nurul yang sebentar lagi kelas tiga es em aa. juga, memotivasi Nurul yang sekarang terdepak sebagai pemeran utama di video" milik pondoknya, di semua film pendek dan clip kreatif pondoknya. bersamaan itu, Ibu yang mendapat kabar dari ustadz asramanya, bilang, kalau sejak terdepak, nilai akademik Nurul ikutan turun. Nurul belum bercerita banyak pada Ibu saat beberapa kali suara keduanya bertemu di telpon. karenanya, Ibu ingin mengajak kakaknya. entah aku atau Sinal. tapi hanya aku yang bisa. di hari yang sama, Sinal tidak libur.

kebetulan, aku juga sudah lama tidak bersua Nurul. pun ngobrol. tapi saat Ibu mengabarkan perihal ini, aku sedang lelah yang teramat. kegiatan yang diadakan kantorku benar" menguras tidak hanya energi secara harfiah, tapi juga pikiran. benar" melelahkan. meski begitu, aku tidak berpikir dua kali untuk berkata iya. memutar otak bentar, ngobrol dengan Laras dan Pram, dan ketemu solusinya. semiggu berlalu dan Jumat dini hari yang agung tiba. sebenarnya saat itu aku sedang bersedih atas tersingkirnya Arsenal di semifinal UEL. bukan karena kekalahannya, tapi karena permainan tim yang buruk malam itu. juga, karena era Wenger harus berakhir dengan begini.

sementara dini hari yang beku mulai menyesakkan karena Arsenal, hatiku kembali hangat saat Ibu nelpon. menyampaikan kalau dirinya sudah berangkat dan sekira satu jam lagi sampai di tempat pertemuan yang dijanjikan. begitu aktivitas Subuh selesai, aku menyusuri jalanan Surabaya yang asing di penglihatan. titik pertemuan di depan RS Adi Husada Kapasari. duh, ini di mana. 'Kapasari ya, bukan yang Undaan', Ibu berkali" mengingatkan. aku hanya mengiyakan, menenangkan Ibu agar tak lagi nelpon khawatir. atas bantuan Jarvis, Friday dan Zordon, nyampe juga di titik transaksi. iya transaksi. karena Sinal turun dari mobil dan diganti aku. Sinal juga kebingungan. 'Kak, ini saya pulangnya ke mana..?'. 'cari, berhenti, minggir, liat maps dan pelajari'. tidak sampai dua puluh menit, Sinal mengabarkan lewat WhatsApp kalau dirinya sudah nyampe kos. gud.

aku sendirian di kursi belakang saat Zein diam" melihatku berkali". entah karena dia merindukanku, ingin duduk bersamaku, atau hanya ingin pinjam hape buat maenan. sedangkan satu kursi di belakang, di sampingku, harus dihilangkan, karena memuat banyak barang buat Nurul dan teman"nya yang juga ikut dijenguk. suasana mobil agak ramai. karena emak" ngobrol dan aku gak ngerti apa yang kudu aku jawab saat sesekali pertanyaan mampir menyebut namaku. 'hahaha, iya', begitu terus jawabanku sampai akhirnya aku tertidur. lalu kembali bangun.

pagi itu, fajar di jalan Tol Surabaya-Malang begitu mempesona. aku sempat mengabadikannya di IG Story sebelum akhirnya tertidur lagi. bangun-bangun, perjalanan sudah tinggal separoh. kami sudah sampai di exit Tol Gempan. lalu lintas yang lancar dan suasana pagi yang nyaman, membuat semua tidur emak" di mobil tidak nyenyak. mereka ketiduran, lalu dipaksa bangun untuk melihat suguhan indahnya pagi, hingga akhirnya kami sampai di AnNur setelah beberapa insiden.

Jumat biasanya dipilih banyak wali santri untuk menyambangi anak"nya. membuat semua lapangan dan parkiran penuh serta gedung" dipakai buat pertemuan. kami tidak hanya memenuhi sepetak, tapi separuh satu bangunan kelas alam. kami hanya empat wali santri, tapi santri/wati yang kami sambangi ada sebelas. karena wali santri lainnya tidak bisa ikut dan memilih mengirim paket jajan, makanan daaann, ini yang aku kecewakan, hape. mereka sukses jadi generasi merunduk saat hape di tangan. beruntung Nurul tidak banyak keperluan dengan hapenya, jadi saat aku atau Ibu meminta hapenya untuk ditaroh, Nurul manut dan ngobrol dengan kami. esensi untuk sambang jadi hilang. padahal dulu saat aku di pesantren, sambang berarti kebahagiaan tak terkira. karena momen bertemu keluarga, tidak terjadi setiap hari. aku sesekali ngomel, tapi entahlah. aku memilih ngobrol dengan Nurul dan Zein yang diliat Ibu sambil tiduran. meminta Nurul agar selalu memanfaatkan hapenya dengan baik, melihat dan menggunakan sisi positifnya.

sebelumnya, aku dan Zein menjemput Nurul di asramanya. 'Rul, ini ya kakakmu yang itu..? wah iya ya ternyata', teman" Nurul bertanya dalam Bahasa Arab, sambil melihatku lama sampai akhirnya kami meninggalkan asramanya dan pergi ke kelas alam tempat semua emak" dan anaknya yang kecanduan hape berada. entah apa yang pernah diceritakan Nurul pada teman"nya. sepertinya mereka mengenal dan tau beberapa informasi tentangku.

'soal nilai, aku tidak begitu peduli nilaimu bagus atau tidak. selama Kamu punya passion dan keinginan, aku dan sodara"mu akan mendukung', aku membuka percakapan di perjalanan menuju titik sambang. Nurul masih diam.
'tapi di kelas tiga nanti, Kamu harus belajar banyak. biar masuk kampus bagus sesuai ilmu yang ingin Kamu pelajari', aku meneruskan obrolan.
'hahaha iya, Kak. dari awal saya kira Kakak gak begitu peduli ke saya. karena sejauh ini Kakak lebih membela Kak Sinal dan mendukung buat kerja sesuai keinginannya', aku mulai terhenyak.
'oh ya..?', aku bertanya heran.
'sejak SMP, saya suka teater dan tampil di banyak acara dan lomba. sampai akhirnya saya selalu jadi pilihan pertama di teater sejak SMP. saya cerita itu ke Ibu, tapi tidak pernah dapat respon apa" dari Kakak. karena saya yakin Ibu pasti cerita kan', keluhnya. aku diam, menata semua kata yang akan aku keluarkan.
'Kak Sinal sudah hidup bersama Kakak, dan bisa ngasi banyak hal ke Bapak-Ibu. saya belum. pikirku, saat tampil di film" pendek punya pondok, itu membanggakan kalian. membanggakanmu, karena pasti akan tersiar lewat YouTube', Nurul meneruskan curhatnya lalu diam. perjalanan menuju kelas alam masih jauh ternyata.
'hahahaa. Kamu harus meluruskan niat. bukan saya yang harus Kamu banggakan. Kamu tidak perlu membuktikan apa”. sejauh ini, Kamu paling hebat secara akademik. di rumah, di atas kulkas, lemari di kamar Bapak, berisi semua pialamu. saya dan Kak Sinal dulu gak pernah begitu. Kamu suka teater dan akting, harus berdasarkan keinginanmu. Kak Sinal bekerja dan memilih hidup di Surabaya sekarang karena keinginannya. Kamu, suka teater dan tampil di banyak acara, juga harus karena keinginanmu. Kamu tidak perlu meragukan pepatah tua kalau punya kemauan, pasti ada jalan', sialan, apa yang aku katakan barusan sangat emosional. aku pelan" mengatakannya.
'soal film pendek, saya sudah tidak lagi terpilih di video" itu. mungkin karena ini', Nurul menunjuk jerawat di beberapa titik wajahnya.
'Kakak pasti udah tau kan kalau nilai akademikku turun. aku sudah memperbaikinya. nih', Nurul menunjukkan kertas rekap nilai ujiannya. hasilnya bagus. rata" sembilan puluh.
'bagus. teruskan semangat ini sampe setahun ke depan. di UN dan di ujian masuk kuliah. soal video, Kamu gak usah khawatir. lagian Kamu masih terpilih di pementasan teater, kan..?', kataku membesarkan hatinya. Nurul meresponnya dengan anggukan.
‘ada harga yang harus dibayar agar kita menjadi seperti sekarang. Kamu fokus pada akademikmu, dan beginilah nilaimu sekarang. dulu, fokusmu terpisah dan sebagian nilaimu turun. ada harga yang harus dibayar untuk yang kita lakukan’, aku menata kalimat ini untuk menenangkannya. Nurul melihatku, bernafas dalam lalu bersuara.
‘apa harga yang sudah Kakak bayar akhir” ini..?’,
‘saya..? hmmm apa ya. saya baru aja putus cinta’,
‘iya..?! apa yang hilang..?’
‘semangat’,
‘semangat hidup..?’,
‘semangat nulis’,
‘bagaimana mengatasinya..?’,
‘saya mencari alasan lainnya’,
‘sudah nemu..?’,
‘sudah’,
‘cinta yang baru..?’,
‘bukan’,
‘apa..?’,
‘kalian. kalian semangat nulisku sekarang’,
‘hmm, kalau nanti ada cinta yang lain..?’,
‘entahlah. bisa jadi’,

bangunan kelas alam sudah dekat. jalannya menanjak dan Zein berlari ke atas, berteriak menyebut namaku dan Nurul. haahahaa, aku lupa kalau daritadi ada Zein di antara kita. mungkin sejak tadi dia mengumpat karena tidak dilibatkan dalam percakapan.

aku dan Nurul duduk di samping Ibu. aku memberi kode pada Ibu bahwa semuanya sudah clear, Nurul sudah bicara dan mencurahkan kesahnya. Ibu tersenyum dan segera membuka tas yang berisi nasi dan lauk yang dibawa dari rumah. bagiku, disambangi Ibu berarti piknik. dan masakan Ibu, adalah makanan paling enak tak hanya di lidah, tapi juga jiwa. halah.

di perjalanan pulang, aku mulai berpikir untuk sering" melihat hape. memilih tau banyak hal dan lebih peduli. mengontak semua yang aku kenal dan menyapa mereka lebih lantang. sepagian ini, aku lega bisa mendengar kabar semua sodara"ku. dan siang ini, aku ingin memperbaiki hubungan dengan teman yang pernah marah hingga memblokir kontakku.
Selengkapnya...