tidak ada yang bisa aku lakukan dengan nostalgia. kenangan yang mampir seenaknya. ingatan yang datang semaunya. bahkan menunjukkan batang hidungnya di depan mata. tapi hari selalu berlangsung dua puluh empat jam. hanya saat kita bangun pagi sampai kembali terpejam. jadi, tidak usah terlalu lama dipikirkan. cukup dinikmati hingga kembali terlewatkan.
hari-hari itu sudah lama berlalu. saat semua tawa dan alasannya adalah milik kita. senyum yang Kau sunggingkan, adalah ketidakmampuanku menjawab situasi yang Kau tanyakan. hari ini pun aku menegaskan, semua waktu itu sudah lama berlalu. tapi kita duduk di satu teras yang sama, tanpa sengaja. permainan nasib yang menyenangkan, tapi menyebalkan. Kau mulai bercerita, tentang luka-luka yang Kau kisahkan dengan suka-suka. tawa kita semakin lebar, saat rahasia satu-per satu terbongkar.
malam semakin pekat, dan Kamu semakin nekat. mengajak menyusuri jalanan dengan langkah kaki. ingin mendengarkan semua kisah yang sudah aku lalui selama ini. tentang karir, sekolah, terutama perjalanan asmara yang aku jalani. obrolan yang tak bisa aku tolerir hanya dengan ingatan. tapi kita cukup tau diri tentang semua isi percakapan ini. hampir memuncak saat Kau diam-diam mencarikanku cinta. aku menolak. lalu berakhir 'hidup harus berlanjut. aku mencintaimu, tapi aku menikah dengan orang lain. Kau juga harus begitu'.
Selengkapnya...
Malam yang Itu..
Selamat Datang, Hujan..
hari pertama hujan di Surabaya. hari yang dinantikan banyak orang, begitu juga aku. cuaca Surabaya sudah banyak menerima keluhan. menerima surat dari warganya dan orang-orang yang datang sebentar lalu pergi. melakukan perjalanan ke sini sama halnya menerima nasib yang tak bisa Kau benci begitu saja. karena Kau sudah tau konsekuensinya sebelum menerima takdir itu. tapi Kau tetap melakukannya karena ada hal lain yang Kau sukai di Surabaya selain cuaca panasnya. tapi Kau memilih melakukannya berpura-pura tak ada yang dikhawatirkan dari kondisi ini. dari udara, aspal, dan tanganmu yang mulai menghitam. tapi, hanya karena Kau mengabaikannya, bukan berarti itu tidak ada. saat Kau menyadarinya, kemarau makin tersenyum padamu.
hujan lalu turun sesuai prediksi, yang berganti-ganti karena anomali. musim yang diperkirakan datang bulan kemarin, pertengahan, lalu mundur sampai November dan berhasil tepat. hujan akan terus turun kemudian. tapi Kau menjadi manusia lagi. mengeluh, sampai Kau berada di titik aman yang Kau inginkan. mengeluh karena hujan membuat cucianmu tak kunjung kering, membuatmu telat melakukan perjalanan, dan membuat banjir. keluhan itu menjadi-jadi, Kau mulai mengumpat, dan memaki. tapi pada siapa? karena Kau tak tau, Kau sampaikan pada banyak pihak. pada pemerintah setempat, pada langit, dan pada Tuhan. lalu Kau sadari, bahwa yang membuatmu marah, adalah dirimu sendiri. tapi saat menyadarinya, semuanya terlambat. it's happenned.
kadang, hidup memang lebih mudah dalam kebohongan. berpura-pura tak terjadi apa-apa. berpura-pura tak marah saat cuaca panas sangat menyiksamu. Kau hanya perlu menyiapkan diri dan sedikit trik menghadapinya. sama halnya saat iklim membawamu pada hari-hari yang akan Kau lalui dengan hujan dan semua masalah yang menyertainya. berbohong pada dirimu bahwa Kau sedang excited dengan musim penghujan. ini adalah weekend yang biasa. yang sama seperti hari lainnya. Kau hanya perlu menyiapkan diri dan sedikit trik. seperti membawa payung sebelum hujan datang. mungkin jas hujan jika memakai sepeda motor. atau trik lainnya. seperti tidak membuang sampah sembarangan. berbohong. hmmm, berpura-pura. ini adalah hari-hari biasa, yang mungkin akan dipenuhi hujan. berpura-puralah. berpura merindukan dia yang seringkali mengalihkan perhatianmu.
tapi, hanya karena Kau mengabaikannya, bukan berarti rindu tidak ada.
Selengkapnya...
Tidak Semestinya..
tidak semua hal bekerja dengan semestinya. seperti obat penyeri sakit kepala yang baru saja aku minum. sakitnya hampir hilang, tapi aku tak kunjung bertemu kantuk yang selalu menyertainya. aku menunggu efek samping itu datang, tapi justru membuatku semakin tak tenang. dari tadi aku hanya membolak balikkan badan ke kanan dan ke atas. menempatkan kepala di bawah dan kaki ke atas. sampai akhirnya nyeri itu reda, dan aku kembali mengangkat kepala.
malam sudah larut saat masa tungguku mulai usang. sepertinya kantuk itu memang tidak akan datang. atau mungkin dia terlambat. atau memang dia ingin membuktikan kalimat pertama di atas sana. juga ingin membuktikan hal-hal serupa yang diharapkan manusia. harapan, strategi yang tidak baik buat hidup yang dinamis. rencana yang membingungkan untuk gerak manusia yang seringkali taktis. bahkan, untuk hal-hal yang tidak berwujud bernama rasa.
beruntung toplesku masih penuh dengan bubuk kopi. aku tak bisa menolak untuk tak membuatnya. dan sepertinya malam ini menemukan energinya untuk dituliskan. tapi aku tak suka kamar yang terlalu tenang saat semangat sedang menyala, apalagi lampu masih benderang. aku tidak punya banyak amunisi untuk menulis tentangmu. meski aku sedang rindu-rindunya, meski katanya sebulan lagi hujan. mungkin memang benar, tidak semua hal bekerja dengan semestinya.
Selengkapnya...
Mimpi yang Sebentar..
ah come on. aku baru saja bangun dari mimpi yang sebentar. mimpi yang aneh. aku duduk di sebelahmu dan berbincang banyak. tentang kegiatan yang mungkin akan Kau lakukan selama di sini dan kemungkinan harimu pulang. aku tau senyummu sangat manis, tapi melihat langsung dari dekat rasanya tidak percaya bahwa senyummu sangat mempesona. seorang teman perempuan yang duduk di sampingku, yang bercerita banyak tentangmu, mulai memicingkan mata mencurigai gerak tubuhku yang tak biasa. 'Kau terlihat semangat sekali', dia berbisik di telinga kiriku yang segera aku jawab 'bukan, aku nervous'.
pembicaraan kita berhenti sebentar saat seorang lelaki berdiri di samping meja kita. dia melihatku, temanku, dan Kamu secara bergiliran. aku tau dia. dari cerita temanku, dia adalah mantan kekasihmu selama setahun. kalian berdua bagiku sangat serasi. tapi tidak bagi temanku. dia bilang, kekasihmu sangat keren dan terkenal. terasa tidak sebanding dengan dirimu yang masih seumuranku dan tidak punya banyak sensasi. tapi aku menyukaimu, dan aku katakan itu berulang kali pada temanku yang masih duduk di sampingku.
mantan kekasihmu menyapamu dan semua orang yang duduk bersebelahan denganmu di meja ini. dia menjulurkan tangan untuk menjabat tanganku. lalu kita berjabat tangan dan menyebut namaku. lalu dia menyampaikan bahwa dia punya acara di sudut lain cafe ini dan menanyakan kesediaanmu bergabung dengannya. tapi Kau menolak, Kau memilih melanjutkan obrolan di meja ini yang rasanya belum selesai. lalu dia pamit dan segera berjalan ke sudut cafe tempat dia akan mengisi acara, semacam talkshow.
aku tidak ingat bagaimana pertemuan kita akhirnya usai dan obrolannya berakhir. yang aku tau, aku dan temanku bersalaman serta bergantian memelukmu sebagai perpisahan. lalu kami berjalan menuju pintu keluar cafe dan ... aku terbangun. sial. padahal ceritanya belum purna.
sial. mimpi mengesankan yang terlalu singkat. kenapa juga aku harus menjadikanmu objek bunga tidur di sela tidurku yang sebentar tadi? apa karena baru saja aku terpaksa menyelesaikan drama series yang Kau bintangi? atau karena baru kemarin temenku bercerita banyak tentangmu selama di kantor? entahlah, aku hanya buru-buru menulis ini setelah aku bangun tadi. keraguanku hanya semakin menurun, bahwa yang masuk dalam mimpimu, adalah yang baru saja Kau pikirkan. sampai jumpa di mimpi lain, Kang Sora.
Selengkapnya...
Janji yang Pudar..
'aku sudah menerima suratmu. harusnya Kau tak perlu sampai ke sini', aku membuka percakapan yang sepertinya tak akan terjadi sore ini, di sini, di tempat biasa kita bertemu. di meja yang sama. meja yang seringkali diam saat kita bicara, tertawa, dan berpegangan tangan. meja tempatku diam" menyembunyikan korek apimu dan membuatmu kebingungan menyalakan rokok. aku tertawa terkekeh saat Kau masuk ke dapur kedai ini sembunyi-sembunyi menyalakan kompor. aku tambah terbahak saat petugasnya datang memergokimu di daun pintu. Kau tau itu ulahku setelahnya dan Kau akan menjitakku setelahnya. aku tau. tapi aku tak tau apa yang sedang terjadi sekarang ini. seperti cuaca belakangan, yang tak bisa kita prediksi karena anomali. seperti aku juga tidak tau kenapa aku tidak segera mengakhiri paragraf pembuka ini.
aku sudah lama kehilangan jejak kisah kita. lama. sepekan setelah aku cerita bahwa aku melihat orang itu di rumahku, Kau tak bicara banyak. Kau tak pernah lagi melintasi kotamu untuk menuju kotaku. begitu juga aku. diam di kota masing-masing untuk meyakinkan diri kalau kisah ini tak akan berakhir begini.
sekarang, sudah empat bulan berselang. Kau kirimkan surat, membalas pos yang pernah aku kirim sebelumnya. memutuskan apa yang terbaik bagi kita. egoku tidak bisa menerima. hatiku selalu ingin menolak kenyataan yang bersembunyi di balik senyum orang itu. aku tak ingin mempersembahkan luka di hari-hari bahagianya. sudah cukup aku datang dengan simpati, aku tak ingin ada caci maki.
sore yang canggung. Kau masih diam, sunyi seperti suasana belakang kedai ini. tak ada apapun di atas meja. hanya tanganku yang terlipat dan tangan kirimu yang memegang sebatang rokok serta tangan kanan yang menggoyang-goyangkan gelas kopi. sedangkan matamu, berputar memandangi dinding belakangku. bola matamu terus mengitari wajahku, tapi tak pernah sejajar mataku. Kau menghindari pandanganku, seperti biasa saat Kau sedang canggung.
'iya, sudah jelas. tapi aku ingin melihatmu untuk terakhir kalinya sebagai ... hmm, sebagai ... aku tak tau kita akan seperti ini. Kau taulah kita sebagai siapa', suaramu terdengar pelan dan lirih. lalu menghilang bersamaan dedaunan di belakangmu yang turun karena angin.
aku pegangi tangan kanannya dan berkata 'pekan depan kita akan bertemu lagi. persiapkan dirimu', sialan. sekarang aku menangis. perlahan air mataku yang sedari tadi menggenangi pelupuk mata, sekarang turun jauh ke pipi hingga berhenti di dagu.
'loh, kalian di sini. sudah saling kenal ya rupanya..?!', aku kaget lalu menoleh. ibuku berdiri di samping meja kita bersama seorang pria yang akan dia nikahi, ayahmu.
interpretasi lagu Mimpi, Isyana Sarasvati.
permintaan dari Silviani Sari, dibayar pake segelas kopi.
Selengkapnya...
Hanya Ingin Bercerita..
hai. aku hanya sedang gak bisa tidur, bukan merindukanmu. semua urusan baru selesai jam segini, sebagian serba mendadak dan meeting yang bertubi-tubi. semuanya terjadi dalam sehari, yang tak hanya menguras tenaga, tapi pikiran dan juga waktu ngopi. aku hanya ingin cerita. jika di paragraf ini Kau sudah bosan, baiknya hentikan.
hari-hari belakangan cukup sulit. banyak cerita yang harus aku baca. semuanya berupa muka. yang tak bisa aku pilih dan membuat letih. aku harus menganalisis beberapa senyum di wajah, dahi yang mulai mengkerut, sampai kata-kata di balik amarah. karenanya, aku harus mengatur emosi dengan cepat. jika telat, aku hanya bisa mengungkapnya dengan sambat. mungkin, seperti yang sedang aku tulis sekarang. yang pura" aku ceritakan padamu, yang pura" sedang Kau baca.
hai. kabar baiknya, akhir" ini Surabaya kadang berawan. jalanan jadi rindang dan kamar tak segerah yang aku ceritakan. Kau juga, Kau juga mengeluhkannya kadang". berawan, meneduhkan pandangan, dan menghembuskan ilir angin yang tak sengaja lewat di samping pipimu. berawan, seperti mau hujan. cuaca yang tepat untuk bepergian.
sekali lagi, aku hanya ingin bercerita. bahwa playlist di Spotify-ku tak lagi bisa menolong dengan cermat aku menulis. aku lebih banyak menghabiskan waktu senggang yang sangat sedikit ini untuk tidur. beruntungnya, aku bisa tidur di mana saja dalam kondisi apa saja. aku cukup melihat jadwal dua puluh satu menit ke depan, jika kosong, aku hanya perlu menyenderkan badan dan kepala, lalu memejamkan mata. bahkan film yang ingin aku tonton di laptop harus aku putar enam kali baru kelar.
hai. terima kasih jika Kau membaca sampai paragraf ini. abaikan jika Kau pikir aku merindukanmu. aku hanya ingin bercerita. sekarang giliranmu.
Selengkapnya...
Bertemu Kali..
sesampainya di Surabaya, saya masih mikir-mikir buat nulis cerita ini. karena akan terdengar norak, alay, dan lebay. tapi mengungkap kesenangan, apa salahnya..?!
Sabtu (3/8/2019) malem hari, adalah hari terakhir liburan saya di Jogja. dua list yang masih tersisa di catetan adalah ngopi di Warung Mojok dan Klinik Kopi. saya gak peduli makan-minuman apa yang akan saya beli di sana nanti, saya ingin experience-nya. ingin merasakan suasananya. warung yang sering dijadikan aktivitas banyak penulis mojok dan sang kepala suku, juga kedai kopi yang mengakomodir banyak petani kopi.
bersama teman menjelang petang, saya berangkat dari penginapan di Sosrowijayan Malioboro dengan GoCar. timingnya kurang tepat. jam segitu Kota Jogja macet di mana-mana. ditambah ini adalah malem minggu, malem yang membunuh semua jalur di Jogja, kata drivernya gitu. jauh dan mahalnya gak jadi soal, tapi lamanya kita berada di jalanan adalah hal yang disesalkan. karena waktu Magrib yang sebentar dan kami tertahan di jalan.
setelah sekitar 40 menit, kami sampai di Warung Mojok. driver kami memilih jalur Palagan, ketimbang Kaliurang yang macet. hanya dua meja yang terisi, berpenghuni masing-masing dua orang. kami pesan sekenanya. saya pesan Wedang Cabai, yang pernah dipromosikan Puthut Ea di twitter.
semua tampak biasa. ada toiletnya, saya buang air kecil di sana, biasa. ada mushallanya, saya shalat Magrib di sana, seneng karena jarang ada warung menyediakan mushalla, tapi masih biasa. semuanya tampak biasa, sampai pada akhirnya seorang perempuan datang bersama seorang anak dengan tas ransel AS Roma.
saya dan temen saya adalah pembaca mojok.co. nyeleneh, tapi lucu dan pemberi jeda dari mumetnya deadline. awalnya kami membaca mojok.co karena Puthut. cara dia menyampaikan gagasan sangat baik dalam tulisannya. dia menganalisa persoalan dalam tulisannya dengan nyaman, hingga akhirnya menyentuh kesimpulan yang seringkali masuk akal. darinya, lalu saya juga menyukai tulisan" di circle mojok.co seperti Arman Dhani, Dea Anugerah, Sabda Armandio, sampai Agus Mulyadi dan Kalis. tapi semalem, saya ndredeg. bukan karena ketemu nama-nama itu, tapi sosok yang sering diceritakan Puthut di tulisan"nya; Kali.
apa jadinya, atau, begimana perasaanmu, bertemu seseorang yang sebelumnya hanya Kau dengar cerita-ceritanya dalam tulisan..?! freeze..? salting, mungkin. tapi saya jauh lebih kikuk dari bertemu dan mewawancarai Sheila On 7 di backstage, Ivan Makhsara di festival literasi FMF 2018 lalu, dan Aan Mansyur di acara yang sama. ketiganya adalah beberapa idola yang akhirnya berhasil saya jumpai. tapi bertemu Kali ini kayak beda.
saya memang belum pernah bertemu Puthut Ea, paling ya ndredeg juga. tapi ketemu Kali kok bisa se-ndredeg ini. kami saling pandang dan ngobrol gak penting beneran 'masak itu Kali..?!' | 'kampret, iya bener itu Kali. itu ibunya, saya pernah liat' | 'gilak itu beneran Kali..?! anak kecil yang biasa kita baca ceritanya..?!'.
karena profesi, saya biasa bertemu dan mewawancarai orang terkenal di bidangnya. karena gak nge-fans, saya biasa aja. saya juga gak tau kenapa ketemu Kali kudu ndredeg begini. harusnya kan sama Puthut-nya. ah entahlah. males mikir. kami malah nyari cara saat itu gimana caranya bisa ngobrol atau foto lah sama Kali. mau izin, tapi ibunya sedang rekap laporan warung dengan salah satu pekerja warung. jadilah kami hanya mendiskusikan beberapa tulisan Puthut tentang Kali, baik yang ditulis di instagramnya, maupun di buku Dunia Kali.
sialan, kayak gak ada kerjaan di Warung Mojok ngomongin Kali dan jalan pikirannya di tempat yang ada orangnya. Kali duduk terpisah dua meja dari kami, dengan tab di tangan dan matanya gak bergeser memandanginya dengan sesekali tertawa. sedangkan ibunya, duduk tepat di belakang meja kami. saya gak yakin ibunya dengar obrolan kami, karena pembicaraan tentang Kali ini sangat pelan dan ibunya ngobrol serius.
sampai jam lapan malem, kami masih membicarakan Kali dan betapa senangnya menjumpainya. akhirnya, kami memutuskan untuk mengakhiri ketidakjelasan ini dengan pergi dari warung. masih dengan peci haji warna kecoklatan, Kali masih sibuk dengan tab-nya. kami ngloyor dan sengaja lewat di celah mejanya lalu menyapa.
'halo, Kali', Kali menoleh dan menjawab 'halo, Om'.
Selengkapnya...