Keinginan Menemuimu..

hai, aku tak sengaja membuka pesan yang tak mungkin aku balas. atau, akan aku balas tapi tak mungkin Kau baca. kita berdiri di dunia yang berbeda. tapi kita masih memiliki banyak kemungkinan untuk bertemu dan bertamu. seperti yang sering Kau lakukan akhir-akhir ini, kita duduk ngobrol tertawa dalam mimpi.

sesekali, aku bangun darinya tanpa melakukan apa-apa. merenungi hal-hal yang mungkin aku sesali. dulu. seperti memintamu untuk berlaku layaknya putri yang anggun, tidak tertawa di depan banyak raga, dan berperan seperti bukan Kamu. hingga akhirnya aku menyadari bahwa pondasi hidupku saat itu dibangun oleh keegoisan, keangkuhan, dan kebodohan. aku tak sengaja menularkannya, tapi sepertinya Kau bisa membendungnya dengan tangkas.

sesekali, aku seperti ingin kembali tidur dan menemuimu lagi. menagih obrolan yang pernah Kau janjikan tapi Kau lupakan. menagih janji nonton film yang sudah aku beli tiketnya tapi Kau abaikan. tapi pasti Kau lebih banyak menagih hal" yang aku janjikan, kan? aku tidak banyak ingat, mungkin karena aku asal bicara dan bedebah. menghindar agar Kau tidak marah dan manyun, lalu menjauh dari pandanganku.

tapi sesekali, aku ingin sekali menghentikan obrolan" tak perlu saat kita bertemu dalam mimpi" itu. berterus terang bahwa aku merindukanmu, merindukan semua obrolan kaku kita. karena pertemuan kita sering kali berisi Kau memandangiku, dan aku menghindarinya. lalu Kau bersikeras agar aku melihat matamu dan berakhir kita tertawa sipu.

kadang sesekali, aku ingin sekali bilang bahwa aku sangat canggung. jika Kau perhatikan, bahkan bibir dan tanganku akan gemetaran. aku tidak sanggup berada di dekatmu. apalagi saat Kau memintaku duduk di sebelahmu yang segera aku tolak dengan alasan" tidak masuk akal. jika Kau tau kalau dadaku akan meledak karena berada di dekatmu, mungkin Kau tidak ingin bertemu denganku. tapi kita berdua tau, bahwa saat kita bertemu, sebagian kebahagiaan di dunia hinggap di pundak kita.

tapi malam ini aku tidak bisa tidur. keinginan menemuimu tidak bisa aku lakukan saat ini. dan, belum tentu juga Kau mau menemuiku malam ini. ya, kan?
Selengkapnya...

Apakah Harus..?

jika sekali lagi aku merindukanmu, mungkin ada yang salah dengan lagu hari ini. aku tau Kau tidak tiba-tiba menginginkan muncul dalam ingatanku yang sempit ini. tapi jauh sebelum hari ini, Kau sudah menanam banyak kenangan yang sulit dihapus. beberapa di antaranya hidup permanen sebagai bukit, dengan banyak pohon dan ranting yang rimbun. satu ditebang, akarnya masih kuat untuk bertahan hidup dan tumbuh sekali lagi.

kita sudah pernah membicarakannya, jangan dengarkan lagu-lagu tertentu dalam kondisi terpuruk karena asmara. karena di masa depan, saat dirimu sedang baik-baik saja, jiwamu akan kembali sunyi saat lagu itu terputar lagi. hari ini aku merindukanmu, lagi, dan ada kemungkinan tanpa sengaja aku mendengarkan lagu-lagu yang dimaksud. ngehe.

tentu tidak ada masalah. aku senang jika rindu ini kembali datang. tapi sering kali dia tak sendirian. dia membawa serta kekosongan dan kesepian, sehingga aku harus beranjak dari kamarku. menyusuri jalan-jalan bedebah dan penuh debu.

pertanyaan sebenarnya adalah, apakah aku harus selalu merindukanmu saat lagu-lagu ini hinggap di pendengaran..? apakah harus..?
Selengkapnya...

Cerita Patah Hati..

patah hati memang menyakitkan. membuatmu seperti dikhianati kegembiraan. seperti tersisihkan sebentar dari dunia yang berantakan. bisa jadi lama jika sakitnya sulit diabaikan. karena sakitnya sering kali berasal dari luka yang dibiarkan menganga, atau waktu yang tidak tepat datangnya.

patah hati memang tak langsung membunuhmu. dia perlahan menggerogoti kesadaran agar semakin larut dalam kesedihan. berkubang di antara dadamu yang sesak dengan ingatan tentangnya. kenangan yang singkat dan terasa kurang lama. tapi seperti kata pepatah; sakit yang tak membunuhmu, membuatmu jauh lebih kuat.

katanya, kejahatan ada di mana-mana. di kota-kota maupun di kata-kata. atau segala sesuatu yang Kau sebut kita. dalam bentuknya yang paling sempurna, dia bernama kebahagiaan.

ingin aku habiskan tulisan ini bersamaan dengan datangnya petang. tapi aku segera mengakhirinya saat temanku yang sedang curhat bilang, 'dalam hubungan, ada level yang lebih atas dari rasa nyaman, yaitu rasa yakin.'

sesi curhat ini selesai. mungkin patah hatinya belum usai, karena baru dua hari dimulai. tapi, katanya, 'hidup harus lanjut, Bang.'
Selengkapnya...

Mengurai Alasan..

saya tidak ingin beralasan. meski kadang dalih-dalih itu datang sendiri menyibak pikiranku yang rumit dan berantakan. seringkali aku menutupnya dengan kain tebal berlabel kesibukan. tapi tatapanmu yang tajam sekali waktu mengembalikan beberapa ingatan, yang menggerakkanku malam ini menulis lagi, entah untuk apa.

saya beneran tidak ingin beralasan. tapi Kau tau, orang-orang pulang kerja dengan pikiran-pikiran lama di kepala. di jalan, dia tak sanggup memilah mana yang harusnya dibuang dan dikenang. adakalanya dia enggan berpindah, adakalanya tak mau singgah. ya, itu juga yang saya alami malam ini.

jalan pulang menjadi sangat cepat meski macet. perlahan, saya pilah lembar-lembar kenangan yang berisi pertemuan dan utas serabutan berisi rindu. seperti yang Kau terka, keduanya sangat sulit diurai. dan seperti yang Kau reka, secangkir kopi selalu bisa diandalkan untuk menuai.

dan di tulisan ini, saya hanya ingin merenungkan diriku dan seluruh yang tidak ingin aku lupakan. karena saya tidak ingin beralasan.
Selengkapnya...

Sudah Saatnya..

mungkin sudah saatnya saya mencari pemantik semangat. untuk banyak hal. yang aku inginkan adalah semangat menulis. yang orang lain inginkan dari saya, pemantik untuk punya pasangan. sudah lama saya ingin menerjemahkan, mengurai, dan merapikan bisikan-bisikan liar di kepala. tidak untuk dibaca orang lain, tapi merilis sakit kepala yang lama saya idap.

sementara itu, orang-orang lain menginginkan saya lekas menikah. setidaknya memiliki pasangan. mereka, termasuk keluarga, sudah mulai mengenalkan seseorang demi seseorang, dengan tujuan menjalin hubungan. sayangnya, kekuatan saya yang itu sudah lama hilang. atau mungkin hanya berkurang, tapi tidak sekuat harapan orang-orang.

karenanya, mungkin sudah saatnya saya mencari pemantik semangat. untuk beranjak dari yang sudah tanggal dan menguatkan yang masih tinggal. membuang ingatan-ingatan yang sudah lalu dan benda-benda mati yang bisu. sulit. karena kenangannya sudah bercampur dengan debu jalanan. yang tidak hanya aku lewati, tapi sudah menyatu dengan pandangan dan penciuman.

maka hari-hari ini, saya sudah melatih cara tidur yang benar. menegakkan kerangka jendela dan membuka tirai-tirai tempat sinar matahari tertahan. lebih banyak membiarkan udara masuk, membaca, dan mendengar. 'berkenalan dengan banyak hal' sudah masuk dalam list, tapi belum berada di urutan teratas.

makanya, mungkin sudah saatnya.
Selengkapnya...

... Maka Aku Menulis

dulu sangat mudah menulis. aku melihatmu, maka aku menulis. tatapan matamu seolah mantra alohomora yang membuka semua diksi. aku hanya butuh secangkir kopi. atau setengah darinya. atau senyum tipis yang tidak sengaja Kau lempar saat kita adu pandang. atau aku persingkat bahwa Kau adalah inspirasi.

kita lebih banyak diam saat berjumpa, meskipun pertemuan itu disengaja. tapi kita tidak bisa menutup mata, yang menjadi tempat rindu bicara. bibirku berkata-kata, tapi pandanganku mengungkap rasa. lalu kita terjebak pada kegelisahan. Kau yang salah tingkah dan senyummu yang melebar.

di tempat itu, bahkan waktu beristirahat. kita diam, tapi mata kita saling bicara. aku mengungkap rindu, Kau menerimanya tanpa syarat. tanganmu dengan tegas bersender pada puggung tanganku. menggenggam dan menjadikannya tawanan. kini kita saling menghela napas, berharap waktu masih istirahat panjang.

'Mas, Mbak. Maap, warungnya mau tutup', lhaaaa.
Selengkapnya...

Cerita-Cerita Duka..

hari-hari menjadi semakin melelahkan. kabar duka tidak hanya datang di chat grup, tapi juga meja makan. menjadi pembicaraan berkali-kali, menjadi sukar ditanggapi, dan sulit dipahami. yang bisa dilakukan hanya mengerti dan bersimpati.

tepat pekan lalu, saya pergi melayat. Bdoer, sahabat saya kehilangan bapaknya. sudah dua tahun ini stroke dan tinggal jauh dari rumah di kampung. mereka sewa rumah di kota, yang dekat dengan rumah sakit. semingu sebelum meninggal, kondisinya memburuk, bersamaan dengan banyaknya kasus positif Covid-19 di lingkungannya. Bdoer kemudian pulang di hari Senin. kedua adiknya datang kemudian; Selasa dan Rabu. lalu bapaknya menghembuskan napas terakhir. dalam kelakarnya, sahabat saya bilang 'Tuhan selalu tahu. Bapak meninggal menunggu kami semua berkumpul'.

Bdoer bilang kalau setahun ini dia sudah ikhlas kalau-kalau bapaknya tiada. tapi saat menghadapi kenyataan ini, dia tau kalau dia belum siap. dia melihat ibunya yang akan hidup sendirian, tanpa pasangan. dan menahan sendiri semua kepedihan.

saat meninggal, hasil tes antigen bapaknya positif. dan hasil tes PCRnya tidak diambil. karena kesedihan sudah tidak bisa dibendung dengan data itu. tapi semua anggota keluarga akhirnya tes PCR agar tenang dan tidak menambah kegusaran. dia meminta semua orang agar tidak melayat. semua. termasuk kami. tapi mana mungkin.

saya sedih bukan hanya karena sangat dekat dengan keluarga ini. tapi karena saat saya dikabari, masih ada ragu untuk melayat. saya merasa malu dengan keraguan itu. akhirnya saya melakukan tes antigen siangnya, dan melayat malam harinya. besok paginya, saya tes antigen lagi untuk jaga-jaga. memang tidak akurat, tapi hanya itu yang sementara ini bisa dilakukan.

saya jadi tau perasaan ibu saya saat ada tetangga dan kerabat di rumah yang meninggal akhir-akhir ini. saya meminta ibu untuk tinggal di rumah, dengan bilang 'tidak usah melayat, Bu. insya Allah semua orang mengerti dengan kondisi ini'. ibu saya mengiyakan. tapi beberapa kali saat menghubungi Zein dan bertanya di mana ibu, dia bilang 'ibu melayat'. tidak sekali, tapi seringkali. nyatanya, kita tidak bisa mengatur kesedihan orang dan bagaimana dia menghadapinya. meski rendah literasi, ibu hidup di lingkungan yang gotong royong dan simpatinya sangat tinggi.

empat hari setelahnya, di Rabu siang bolong, chat grup ramai lagi. Alfian ngabarin kalau bapaknya tiada. padahal sebelumnya, kami sedang berdoa untuk mamanya yang masuk rumah sakit karena Covid. saya segera nelpon Alfian dan mengucapkan bela sungkawa. mungkin tidak pengaruh banyak pada kesedihannya, tapi saya sungguh berduka.

tidak lama, sekitar satu jam. chat grup ramai-ramai bersedih. Mahrus, salah satu di antara kami meninggal. sama seperti lainnya, saya terhenyak. ternyata selama sepekan terakhir, dia sedang sakit dan merahasiakannya. saya tidak berpikir panjang dan langsung menghubungi semua teman yang ada di Surabaya, untuk melayat. tapi kita mulai berdebat. posisinya terlalu jauh dan kondisinya sedang tidak baik.

Mahrus adalah pengasuh pesantrean di Waru Pamekasan, dan saat kami sedang dalam perdebatan, pihak pesantrennya meminta kami untuk mengurungkan niat. untuk keselamatan. akhirnya kami menghela napas dan melakukan yang bisa dilakukan; kami ngadain khotmil Quran online untuknya sepanjang hari itu.

sejak saat itu, setiap malam, saya menerima whatsapp dan telpon dari temen-temen jauh. dua yang paling mengejutkan adalah Kiki dan Sherry. Kiki yang bertugas sebagai dokter di Dr. Soetomo sedang struggling merawat pasien. sementara Sherry, kita menghabiskan puluhan menit waktu untuk bertukar info. lebih tepatnya, menyemangatinya.

suami dan bapak Sherry positif. suaminya demam sudah empat hari, begitu juga bapaknya. malam tadi, dia harus berpisah dengan keduanya, yang akhirnya dipindah ke gedung karantina yang disediakan pemda Balikpapan. mereka harus antre dua hari baru mendapat ruangan. setelah pindah pun, bapaknya langsung dirujuk ke rumah sakit, karena memiliki gejala berat; sesak napas.

'bohong kalau saya tenang. saya berusaha pun, tidak bisa. sebelum nelpon ini, saya baru kelar nangis', katanya. saya merasakan beberapa sengguk dan serak suaranya dari ujung telpon. Sherry menelpon setelah anaknya yang masih bayi lelap. sambil mendengar semua ceritanya, kepala saya berpikir keras untuk menguatkannya. sialan, saya hanya bisa berkata-kata. pandemi menambah jarak yang sudah jauh semakin jauh.

terjaga tengah malam tidak pernah semelelahkan ini. bahkan saat menulis ini, saya masih berusaha menjelaskan pentingnya vaksin pada keluarga yang sudah terlanjur termakan kabar 'katanya'. bener kata Kiki, 'sekarang cuma bisa menjaga diri biar tetep sehat dan tetep waras'.
Selengkapnya...