Strategi Emotional Appeal..

Kadang berada pada pijakan yang berbeda, membuat sebuah hubungan persahabatan sedikit bersitegang (dengan gaya bercanda..!). Adu argumen untuk menjagokan pijakan yang mereka pilih atau sebuah sindiran kerap kali terlontar dari masing-masing kubu. Bahkan debat kusir goblok layaknya Orang Awam, bisa jadi menu alternatif mereka untuk sekedar pembuktian kualitas. Seperti peristiwa yang aku alami kemarin sore dikampus dengan salah seorang sahabatku sehabis pulang kuliah.
Adalah sebuah stand diklat yang membuat kami melakukan hal bodoh ini hingga emosi kami (sedikit) terpancing. Sebelumnya, layak diketahui, kami adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi dengan beda konsentrasi. Sahabatku yang memiliki minat terhadap konsentrasi Public Relations sedikit memberikan sindiran padaku yang sedari awal hanya memiliki satu tujuan menjadi seseorang dengan gelar mahasiswa; Jurnalistik. Kebetulan stand diklat tersebut adalah Stand Diklat Jurnalistik yang diadakan oleh sebuah jurusan di salah satu fakultas Universitas yang kami tempati.
“Diklat apa sich..? Dasar Jurnalis kere..!”, sindirnya ketika kami melewati stand tersebut bersama teman-teman lainnya.
“Haah..? Elu Humas kere..!”, dengan mudah sindirannya membuat aku terpancing untuk membalas, sehingga terjadilah perdebatan berbeda suku ini antara Jurnalis kere dan PR (piar,red) kere.
“Ini bukti bahwa PR itu kere. Mana pernah PR ngadain diklat..?!”.
“Ini juga bukti bahwa Jurnalistik gampang dipelajari. Hanya dengan kita mengikuti diklat yang 2-3 hari saja sudah bisa kita kuasai..!?”.
“Iya ya..?!”, salah seorang temenku tersentak dan seakan secara tidak sengaja menanggapi.
“Kalau PR nggak ngadain diklat atau semacamnya, artinya PR bisa dikuasai lebih mudah dari Jurnalistik donk. 2-3 jam misalnya..!”.
“Bener juga ya..?!”, tanggapan spontan temenku lagi.
“Bahkan Jurnalistik bisa dipelajari dimana saja. Banyak situs Jurnalistik yang ada internet. Dan kamu bisa temui, disana isinya orang-orang biasa dan luamayan kere-lah..!”.
“Justru itu sebuah bukti bahwa Jurnalistik populer dan bisa dipelajari dengan banyak media untuk diakses. Disitu kelebihannya Bung..!?”.
“Iya tuch..?!”, sekali lagi temenku ikut nimbrung.
“Pasti kamu tau kan bahwa dalam Jurnalistik ada yang namanya Civil..civil..mmm.. ya Civil Jurnalisme..”, sejenak berhenti.
“Civil Jurnalisme..? Citizen Jurnalisme kali..!!”, temenku membenarkan.
“Ya, maksudku Citizen Jurnalisme. Itu menandakan orang-orang biasa semacammu itu bisa mempelajarinya. Artinya Jurnalistik bisa dipelajari siapa saja kawan..!”.
“Mang napa..? Jurnalistik bisa dipelajari siapa saja tanpa membedakan status sosial Man (men,red). Bahkan untuk orang menyedihkan semacammu..!”.
“Aku pulang dulu ya..!”, salam perpisahan salah satu teman kami menghentikan perdebatan yang aku pikir lumayan lebih keren dari debat keroyokan yang diperagakan salah satu reality show di TV. Dan percakapan yang hangat dan akrab kembali mewarnai perjalanan pulang kami sampai akhirnya berpisah didepan gerbang kampus.

Sekilas, jika mengambil pernyataan dari Claude E. Shannon dan Warren Weaver yang memberikan 5 unsur pada berlangsungnya proses komunikasi, tujuan dari proses komunikasi antar personal yang terjadi diatas adalah sebuah pengakuan akan pijakan siapa diantara keduanya yang lebih keren. Artinya perdebatan keduanya hanya memberikan sebuah efek pada keyakinan keduanya akan pijakan masing-masing. Namun secara tersirat, keduanya memberikan sebuah pesan yang tersembunyi dan persuasif, yaitu tepatnya Emotional Appeal. Penyampaian pesan macam ini bertujuan untuk menggugah emosional khalayak. Khalayak..? Siapa..?
Tujuannya adalah teman-teman lainnya yang pulang bareng kami. Termasuk disitu adalah salah seorang temenku yang secara tidak sadar telah ikut mendengarkan perdebatan kami. Dan artinya komunikasi yang kami susun secara Emotional Appeal ini sedikit berhasil menggugah dirinya untuk berkomentar. Kebetulan teman kami yang satu ini lagi kebingungan memilih konsentrasi mana yang harus Ia pijak (He hee..).
So, secara tidak langsung tulisan ini juga merupakan bagian dari komunikasi yang kami susun secara Emotional Appeal tadi. Ya moga aja Ia membaca dan memberikan respon yang aku (bukan kami lagi dunk..!?) harapkan.......

2 komentar:

Generasi45 mengatakan...

that's a great writing bung,,
ya..ya..
jurnalis kere' vs professional public relation??
hayoooo pilih mana??
Let'S mAke tHe other emotional appeaL..hehe,,
the kere is journalism
n
the professional is PR..
Go PR Go..................!!

Ahmed Rome mengatakan...

kLo LayoUtna SeH luMayaN, tp koQ artikeLna cm aTu??????
ehm kLo biZa seBeLum km posTing artikel Km bikin kategori dlu, khan nntinya keliatan rapi....

o ya layoutna pke templatena pa???n ati2 klo da yng ngsih komen yg da link webna....jgn asal diklik

Posting Komentar