Merindukan Malammu

Malam ini terlalu membosankan. Semua sentuhan rindumu kembali menyapa kamarku yang mulai berantakan ini. Tak hanya mengalun di telinga, tapi juga membuat dadaku berdesir. Entah bagaimana Kau melakukan ini. padahal kemarin pagi, aku hanya melihatmu dari atas. Melihatmu duduk di sepeda motor dengan kaos putih bergaris hitam dan jilbab hitam menutupi kepalamu. Aku tak sanggup menyapamu hingga Kau berlalu dari pandanganku dengan deru bising sepeda motor itu.
Aku merasa malam ini begitu tegas menyayat resahku perlahan. Begitu nyata dan merobohkan caraku bertahan. Aku seperti kehilangan. Sebuah pesan datang menghampiri dinding kamar dan memintaku untuk sandaran. Aku ingin sekali menghiraukan. Karena malam ini sudah menghadirkan pekat dan menghalangi pandangan. Bahkan aku tak dapat menghentikan tangan mendera dua lembar kertas dengan goresan.
Sudah lama sekali aku tak melewati malam dengan rindu yang begitu hebat padamu. Padahal kesibukan ini sudah lama membelenggu kisahmu. Ingatan tentangmu hanya berakhir dalam lelap. Tak pernah kembali dalam rasa ingin bertemu. Sekedar kekakuan melihat senyummu dari beberapa gambar. Tapi malam panjang dengan suhu 35 derajat celcius di kota ini, wajah dengan rona anggunmu datang. Menghinggapi semua ketulusan dan mendekap kehadiranku untuk segera berlabuh. Tapi sayang sekali, aku ingin menghindarimu dan bayangmu, berlari ke arah pohon cempaka kemudian berteduh.
Tidak sekali ini juga rindu datang menyakiti, tapi baru malam ini mataku menjadi saksi. Aku begitu tergugah. Aku terpesona. Aku ingin sekali bicara padamu. Sungguh aku ingin ucapkan satu kali saja kegelisahan ribuan kata. Sudah lama sekali aku terdiam dalam hening yang tak tau kapan berakhir. Sekali lagi mataku menjadi saksi kelunya bibir ini. Saksi kakunya raga ini. Saksi tak berdayanya hati ini dalam rindu.
Hingga malam ini akan berakhir, hanya kesunyian datang menemani. Benar katamu, kesepian adalah teman yang setia. Menempa celah dalam jiwa untuk kuat. Memberikan sedikit bayang senyummu dalam semangat. Terus begitu hingga aku tak lagi mampu mengingat. Setiap detil wajahmu. Setiap centi senyummu. Setiap huruf dalam bisikmu. Setiap desah dalam suaramu. Setiap gores jejakmu. Setiap lembar nafasmu. Semua tentangmu abstrak dalam setiap tetes tanyaku.


0 komentar:

Posting Komentar