(Masih) Satu Cerita..

Siang ini aku kembali mendengar suaramu. Meskipun bukan berarti aku melihatmu. Aku tau, Kau berada di ruangan itu. Kau ada di gedung itu. Gedung yang selalu memiliki alasan untuk memisahkan kita. Gedung yang selalu berhasil menciutkan egoku untuk menahanmu lebih lama berada di sini. Aku sangat membenci saat” seperti ini. Saat aku tak bisa menyapamu dalam tulisan apalagi suara. Tapi aku akan sangat kecewa jika aku mengganggu proses itu. Proses Kau kembali ceria dan menyunggingkan senyum itu padaku. Ya, ke arahku.
Siang ini aku lebih beruntung. Suaramu berhasil meredakan sesak dada yang penuh berontak ini. Padahal sore kemarin ada sendu yang menggelantung berat di dadaku. Aku juga tidak tau apa sebenarnya yang berada dan mengisi di dalamnya. Aku hanya merasakan ada sesuatu yang ingin membuncah ke luar dari dada ini. Jangan ditanya, karena aku juga bingung apa itu. Tapi aku tidak menyangsikan jika itu semuanya tentang Kamu.
Tawa lepasmu adalah pandangan favoritku selama tiga hari kemarin. Sebenarnya senyum kecilmu saja sudah cukup membuatku semangat untuk membuatnya lagi. Tapi tawamu adalah bonus yang sangat istimewa. Dan aku berhasil membuatnya beberapa kali. Walaupun Kau mengganggu dengan selalu menatapku sinis, tapi aku tidak pernah menyeka pandangan itu. Aku akan menerima semua emosimu asal Kau memberiku tawa.
Lalu, jika Kau tanya tempat favoritku tiga hari kemarin, dengan lantang akan aku jawab tempat duduk di sampingmu. Entahlah, alasannya bisa bermacam”. Tapi ada kenyamanan yang tiada sangka saat Kau membolehkan aku duduk di sampingmu. Gemetar dan canggungku hilang. Aku bisa berbicara denganmu sangat lepas; bukti kenyamanan yang sangat pas. Tapi sayang sekali, itu terjadi hanya sekitar 40 menit sebelum seorang teman datang. Bukan aku tak suka, aku masih duduk di sampingmu saat itu. Tapi itu tak cukup memberiku kenyamanan. Jika Kau tanya dengan detail, aku tak tau. Tapi aku sangat memfavoritkan tempat itu; duduk di sampingmu.
Kau selalu ingin melihatku. Tak apa, karena akan konyol jika Kau melupakan wajah ini. Tapi akan sangat senang jika Kau menyisakan tempat di sampingmu untuk aku tempati. Sebenarnya, aku juga ingin selalu melihatmu. Mata ini harusnya melihatmu lebih sering. Tapi aku tidak memiliki banyak kemampuan untuk itu. Menatap matamu saja aku berjuang. Saat Kau berbicara, pandanganku selalu tertuju pada sepatumu. Sepatu yang selalu aku injak agar kotor dan tak lagi bisa Kau pakai jalan”. Mungkin jahat, tapi aku tidak ingin Kau selalu bepergian, setidaknya sampai Kau kembali 100%.
Siang ini, di kamar ini, kegilaanku karenamu masih berlanjut. Tapi tak apa, aku bisa menahannya dengan menuliskan namamu di setiap sudut kamar. Nama yang selimuti tebal pandangan rapuhku. Dengan begitu, aku tak akan sadari bahwa Kau tak lagi di sini. Bahwa tak ada lagi tempat favotit itu. Tak ada lagi pemendam mimpi yang selalu ingin aku temukan. Tak ada lagi sesumbar dari lagu Lyla yang selalu Kau dendangkan.
Aku tidak tau secara pasti apa yang sebenarnya ingin aku tulis di cerita kali ini. Aku hanya tidak mampu lagi berbohong untuk mengatakan bahwa aku tidak merindukanmu. Mungkin kedengaran lebbay, tapi siang ini, semua angin yang berhembus mengarah ke telingaku seakan membisikkan setiap kenang kita. Karena semakin hari terbangun, aku memikirkanmu. Tapi aku sadari, ini tidak akan menjadi nyata sebelum kita bertemu lansung. Kau masih ingat aku memplesetkan sebuah pepatah yang temukan, bahwa ‘gelap tidak bisa mengusir gelap, hanya cahaya yang bisa.. rindu tidak akan mengusir rindu, hanya pertemuan yang bisa’.
Oleh karenanya, aku ingin sekali mengatakan padamu: ‘Ijinkan tulisan”ku hidup dengan semua ilustrasimu’.

0 komentar:

Posting Komentar