Kak Reza mendekatiku dan langsung bertanya 'Selain karena film, baru kali ini saya lihat Kamu nangis',
'Hah..? Kelihatan ya..?',
'Iya tadi Nazril melihatmu mengeluarkan air mata saat meluk kaki Nenek. Nazril berbisik ke saya dan saya lihat',
'Hahahahaa', tawaku sambil menahan kembali air mata keluar.
hari ini cucu Nenek berdatangan. Nenek tergolek sakit. lemah terbaring di kasur sejak lima hari lalu. aku yang bangsat ini baru bisa datang kemarin pagi karena libur. Kak Reza juga baru bisa datang di hari yang sama. sedangkan Mbak Siti dan Kak Aziz sudah berhari" menjaga Nenek bersama Ibu dan Budhe.
kemarin pagi, aku datang dan bergegas masuk ke kamar Nenek. mengambil tangannya dan menciumnya. aku melihat ke mata itu sambil terus menggenggam tangannya. tak ingin aku lepas. aku juga tidak ingin bertanya tentang sakitnya dan pertanyaan gak penting lainnya. aku ingin seperti ini sampai Nenek berkata sepatah kata padaku. Nenek hanya melihatku dengan pandangan sayu. aku melekatkan pandanganku membalas. mata itu, menyimpan banyak sakit yang tak terkata. kedipnya pelan masih dengan mulut tertutup tanpa suara.
kemarin siang, aku masih di kamar Nenek dengan Mbak Siti dan Ibu. sementara Budhe di ruang tengah menemui tamu yang menjenguk. sesekali aku memijat tangannya. mengelusnya sampai dia tertidur sebentar. lalu bangun lagi seperti mimpi buruk baru saja mampir di pejamnya. aku melihat cara Ibu dan Mbak Siti membantu Nenek makan dan minum. aku tidak lagi sedih, tapi tersedu" dalam hati. aku dekatkan telapak tangannya yang hangat ke wajah kananku. sampai Nenek membalikkan tubuhnya dan tidur. sampai kamar ini tenang dan sunyi. sampai akhirnya aku juga tertidur.
kemarin sore, aku kembali ke kamar Nenek untuk menemaninya bersama Mbak Siti dan Kak Aziz. bangsat. kenapa saat" seperti ini malah membuatku terharu. aku tidak lagi ingin beranjak dari kamar ini. tiba" waktu hinggap dengan banyak kenangan. muncul dan menghampiriku tanpa aku mau. saat Nenek menemaniku tidur saat kecil di kamarnya, karena Ibu tidur sama adikku yang masih bayi. menceritakan tentang Makkah dan gagahnya kota Madinah. cerita kalau makanan di Arab Saudi itu enak. dan memintaku harus besar sebelum naik haji nanti. karena harus berdesak"an dengan Muslim bangsa lain dan banyak yang meninggal saat lempar jumrah. Nenek juga cerita tentang semua ikan laut yang pernah dijualnya dan bagaimana Kakek mendapatkannya dulu. Nenek bercerita banyak, tapi aku mengingatnya baru sekarang. aku takut.
kemarin petang, Kak Aziz pulang dan Kak Reza datang. dia juga langsung menuju kamar Nenek dengan banyak barang dan buah bawaan di tangan kanan-kirinya. memeluk Nenek dan mencium tangannya. lalu dia mencoba berbincang dengan Nenek tapi hasilnya nihil. Nenek tidak bisa diajak bicara. kami akhirnya ke masjid, menunaikan shalat Maghrib. aku bergegas pulang ke rumah meninggalkan Kak Reza. di lobi rumah, tiba" sepi. aku langsung ke kamar Nenek dan menemui mereka semua di sana. Nenek meracau gak karuan. di dalam kamar Nenek, juga ada Mbak Nazril, Kakak Ipar. Nenek berisik. suaranya meracau terengah". aku sontak kaget. Mbak Siti mengelus dada Nenek, Ibu memegang tangannya, aku tersungkur lemas dan memegangi kaki Nenek. cukup lama Nenek seperti itu. brengsek, tiba" air mata keluar dari sarangnya. turun cukup panjang, keluar dari sudut gelap mataku. kami semua memenuhi kamar termasuk Kak Aziz yang kembali datang dan Bapak yang sudah pulang melaut. tidak, tidak. aku tidak ingin. belum saatnya. setengah jam berlalu. setengah jam lalu Nenek tenang. kami berusaha menenangkan diri masing" dan berpura menguatkan diri bahwa semua sedang baik" saja. kami keluar dari kamar dengan senyum palsu setelah Nenek tertidur. kami melanjutkan beraktivitas. masak bubur buat Nenek, masak nasi dan lauk buat makan malam serta menemui tamu yang sengaja kami terlantarkan sesaat tadi.
kemarin malam, suasana makan malam di rumah jadi meriah. semua tawa hampir terdengar merdu dan menyenangkan. di rumah ini, tidak ada yang bisa menampik Tenggiri Panggang buatan Ibu. semuanya suka dan tergiur. tamu" kami yang berkunjung dan menjenguk Nenek juga ikut merasakan nikmatnya. apalagi, Ibu menyiapkan tiga sambal berbeda sekaligus. sayang, Nenek gak bisa ikutan. Nenek terbaring dan tidur setelah makan bubur tadi. hingga malam semakin larut, Kak Reza pulang kembali ke rumah, ke Kota. sementara Mok Nap, Ibu Kak Reza, menetap dan berencana menginap beberapa hari ke depan. tidak lama, aku menerima kabar duka dari Malang. hapeku berbunyi, seorang teman nelpon kalau Inal meninggal karena sakitnya yang parah. Inal, sahabatku semasa kuliah. Inal, sangat disayangkan. Inal, selamat jalan. Inal, aku hanya bisa berdoa dengan sedih yang sangat mendalam.
tadi pagi, aku baru sadar kalau dini hari Arsenal main dan sekarang sudah Subuh. aku melewatkannya. kondisi Nenek dan kabar duka dari Malang belum membuatku menjadi diriku sendiri seharian kemarin. aku tidak peduli ke banyak hal. sampai akhirnya aku kembali melihat Nenek terbaring, masih di kasurnya. aku menganggukan kepala memberi isyarat agar Mbak Siti istirahat dan tidur. dari matanya aku tau kalau Mbak Siti semalaman belum tidur, menemani Nenek di kamar. Zein mengikutiku ke kamar Nenek dan menyanggupi permintaanku buat memijat kaki Nenek. padahal sebelum ini, keduanya adalah rival di rumah. keduanya selalu bertengkar karena beda keinginan. hahahahaa. aku berada di kamar Nenek sampai akhirnya tertidur di sampingnya.
tadi siang, aku pamit kembali ke Surabaya. Nenek hanya mengangguk dan mengedipkan mata seolah memberi restu. aku meninggalkan kamarnya dengan perasaan campur aduk. aku tidak ingin beranjak dari rumah. aku ingin di sini sampai Nenek sembuh. pikiran itu mengangguku sampai akhirnya gas sepeda motor aku tarik. di perjalanan, semua jadi tidak mudah. pikiranku masih terfokus ke Nenek. seharian kemarin menjadikanku berpikir banyak. satu diantaranya, aku tidak ingin lagi bertengkar, aku tidak ingin berdebat dan terlibat perseteruan di kantor. aku tidak ingin membuang energi percuma. ada hal lain yang sekarang lebih penting. ada hal lain yang membutuhkan energiku. aku tidak ingin banyak membuka mulut dan berbusa hanya untuk semua kebodohan. ada hal lain yang tidak ingin aku lewatkan. aku hanya tau; ke mana Tuhan membawa kita, ke sanalah Ia menyediakan kekuatan untuk menopang kita.
Selengkapnya...
Diperuntukkan..
Semakin Hebat..
belakangan, rinduku padamu semakin hebat. sama kuatnya dengan angin di Surabaya dua pekan terakhir. sama lebatnya dengan hujan yang turun sebulan terakhir. sejauh itu, aku pernah bertemu dan melakukan percakapan denganmu, menjelang sore, hari pertama bulan ini. singkat, sayangnya membekas dengan sangat. dan Kamu, diantara kotak jendela yang memisahkan tempat kita berdiri, tersenyum gak jelas ke mana diarahkan. Kau melihat ke kanan tapi senyummu menusukku dengan tajam. apa Kau tidak tau bahwa aku sangat menyukai senyum itu..? dan pada senyummu, berdiam rindu. padahal...
selama ini aku hadir dengan ketukan-ketukan. nada yang tak akan Kau lihat kecuali dengan sentuhan-sentuhan. di dalamnya berisi pesan. berupa teks dan animasi yang memuat kerinduan. aku tak mengharap pelukan. atau sebuah genggaman dari tanganmu tak berkesudahan. itu terlalu mesra, dan aku hanya bajingan tanpa aturan. aku hanya ingin agak lama bersamamu dalam satu episode pertemuan. bukan papasan. aku tidak peduli jika itu adalah perbincangan panjang yang menjemukan. atau duduk melamun dan saling diam bertatapan. selama itu bersamamu dan di dekatmu, sudah cukup menuntaskan kebekuan. tapi...
aku sudah tidak lagi tau kabar cuaca di hatimu. masih mendung atau kelabu. masih merah atau biru. sudah terisi dua atau masih satu. entah dia atau namaku. meskipun aku tidak lagi peduli siapa yang sudah membuat tawa di hari"mu. aku sudah cukup rela jika nantinya bukan padaku senyum itu mengarah dan beradu. sudah cukup bagiku jika aku melihatmu. dari dekat atau jauh. meskipun...
seringkali mendung datang menutup hari. menebar ketakutan dalam bayang. melukai senja sampai petang berhari-hari. dan menceritakannya pada malam yang hingar dengan kesenangan. aku tidak ragu, hanya sedang gelisah kalau" Kau pergi tanpa bilang. aku hanya ingin menyiapkan ruang. tempat yang tak akan Kau lihat hanya dengan satu mata. satu rupa. tanpa tanda-tanda. di sana berisi kata-kata. rusuh dan kumuh. tempat bernaung para hujatan dan benci. menampung semua bedebah dan makian keji. sesekali aku akan mampir, untuk menghujat dan memaki, jika aku sudah tak bisa lagi menahan rindu, nantinya. karenanya...
aku berdoa, semoga hari" ke depan cuaca cerah. tidak ada lagi cemas karena mendung. lari karena hujan. dan panik karena genangan. juga agar Kamu baik" saja. dan mau terima kenyataan kalau aku pernah menatapmu lama dengan sengaja. di satu meja, terpisah hanya oleh udara. membuatmu malu. membuat selingkar rona. menjadikanmu canggung dan akhirnya balik membuatku malu berantakan. itu hanya cerita. itu dulu. jauh sebelum semua bebatuan yang kita pijak melebar, menjadikannya jarak dan membuat kebekuan. tapi harusnya diulangi. waktunya tepat. karena rindu ini datang semakin hebat..
Selengkapnya...
Satu Kalimat..
aku lelah, capek dan merasa ngantuk. harusnya Kau kirim satu kalimat sayang, agar mereka pergi dari dalam tubuhku. agar rinduku yang terlanjur berdiam lama dan menumpuk, bisa keluar dan melawan mereka yang memenjerakanku. aku diam duduk di meja redaksi, tanpa tau di mana gelap menyembunyikan terang dari pandangan. aku menggerakkan semua jemari, seolah tidak peduli semua resah yang sedari tadi hinggap. memburuku, seakan mengajak berlari keluar lintasan, tempatmu mengaliri rindu.
sekali lagi, harusnya Kau kirim satu kalimat sayang untukku. bukan untuk mengantarku tidur dan lelap. bukan juga agar cerita kita bergema seperti roman dan mengalun romantis. apalagi untuk menemani senja yang sudah lama tak aku lihat itu. bukan. tapi agar aku bisa berdiri dari tempat duduk ini, dan membuatkanmu satu teh hangat, sementara aku membuat secangkir kopi, tentu untuk aku minum sendiri. agar aku bisa menggerakkan bibir, buat bicara padamu, tentang.......apa ya. banyak hal lah. tentang semua pertemuan kita yang sudah lama sekali terjadi. atau juga aku hanya akan mendengarkanmu, bercerita tentang hatimu yang sekarang sudah terisi.
aku ingin menulis hal lain sebenarnya. masih tentangmu. banyak hal. tapi aku ingin menyicilnya, karena menulis tentangmu selalu memberi energi lain yang aku sendiri tak tau namanya. tentang wajahmu yang belum pernah puas aku pandangi. tentang benang hitam diantara kaki-kaki kita yang saling membelakangi. atau aku hanya akan mendengarkanmu, bercerita tentang suaramu yang sekarang tak hanya meluruhkanku. tentang masa kosong, awal Kau mulai menjauh, meludahi garis dan memberikan jarak antara kita. aku lelah, aku ingin diam. aku hanya ingin duduk di dekatmu, mendengar semua ceritamu. tak peduli jika Kau sudah memilih lainnya.
aku lelah, aku ingin tiduran. menyandarkan kepala di atas meja dan memandangi lama wajahmu. dari dagu sampai ujung jilbabmu. mungkin pandanganku akan berhenti agak lama di matamu, yang judes. jahat dan tajam. lalu berubah teduh dan mengantarkanku terpejam. tapi aku pastikan bisa mendengar suaramu. karena aku tak tidur, hanya sengaja memejamkan mata sebentar. lalu aku kembali hadir di ruang rindu yang kita ciptakan. karenanya, sebaiknya segera Kau hadirkan satu kalimat sayang untukku. agar aku bisa memperpanjang semangat menulis lagi tentangmu..
Selengkapnya...
Pertemuan..
apa yang sudah aku pikirkan. menemui seseorang yang harusnya tak aku temui. mengiyakan permintaan untuk satu percakapan panjang. dan duduk berseberangan dalam satu meja ber jam-jam. mantan kekasih yang dulu hilang, datang. memintaku mengosongkan pagi dan menemuinya. aku bukan luluh pada serak suara dan isak-nya yang mulai terdengar saat menghubungiku mendadak. tapi aku ingin menjadi seorang teman yang baik, yang mau menemuinya, seperti yang dia sampaikan sebagai permohonan.
'aku akan menikah',
'lalu..?',
'Kau ingin mengatakan sesuatu..?',
'oh, selamat. itu kabar yang bagus',
'bagaimana jika pernikahan ini hanya untuk pengalihan. dari Kamu yang sudah masuk terlalu dalam di hidupku',
'harusnya itu tidak terjadi. karena sudah tidak ada apa" diantara kita. iya kan..?',
pembicaraan ini terlalu serius dan tanpa basa-basi. aku berharap hujan segera mengguyur tempat ini. aku tak ingin percakapan ini memburu kami ke masa itu. kami terdiam agak lama.
'sebenarnya, kenapa kita di sini..?',
'sampai orang itu melamarku, aku masih menunggu ada kabar dari Kamu. aku memang bodoh. aku sadar itu tidak akan terjadi, tapi aku tetap melakukannya. dan di sinilah aku sekarang. mengaku, agar aku lega. agar tidak ada lagi beban. aku tidak ingin merasa bersalah pada orang itu. aku ingin baik" saja sampai pernikahan itu terjadi', dia menarik nafas dalam". membuang pandangan dan meneguk teh hangat di depannya. aku tidak hanya kaget, aku tercengang.
kami terdiam lama. aku membiarkan angin yang tidak lagi sepoi ini menyapu semua inderaku. aku melihat dia gemetar kedinginan, tanpa jaket. sesekali tatapan kami bertemu dan membuangnya ke bawah.
'aku kira kalau kita bertemu sudah tidak akan canggung. hmmm, kapan pernikahanmu..?',
'pertengahan tahun. setelah lebaran. apa Kau pengen aku undang..?', aku tertawa. diikuti juga tawanya. aku mengangguk.
'tapi ada syaratnya. Kau harus datang dengan..', kalimatnya berhenti. menggantung. '..Kau sudah menikah..?', aku tersenyum. 'tunangan..?', senyumku semakin lebar. 'pacar..? jangan bilang pacar pun gak punya..', aku menatap matanya dan menghembuskan nafas.
'bohong. ah, aku gak percaya',
'percaya saja. aku gak ada alasan buat bohong ke Kamu',
kami kembali diam. sepertinya aku melakukan kesalahan. raut mukanya kembali serius, alisnya bertemu, seperti sedang berpikir runyam.
'kalau gitu, kenapa tak ada kabar..? aku menunggu',
'tapi aku tidak. sudahlah. rasanya, percakapan sebelum ini cukup menyenangkan',
percakapan ini seperti roller coster, memberi rotasi emosi yang tidak aku inginkan. mungkin juga dia. aku melihatnya, dia menoleh lalu juga melihatku. pandangan kita beradu agak lama. dan tawa kami pecah.
'eh beneran. aku tanya, siapa pacarmu..? boleh aku tau..?',
'gak punya. masih gak percaya..?', lalu percakapan kami berlangsung lama. tentang masa kosong tanpa kabar itu. tentang bagaimana dia bertemu dengan pria yang akan menikahinya ini. tentang alasan"ku yang belum ingin menikah.
'aku selalu kagum dengan caramu berpikir. tapi alasanmu tadi, lebay',
'santai lah. nanti aku juga akan menikah. entah kapan', angin tiba" kencang berhembus. aku masih berharap hujan, agar kami punya alasan untuk menyudahi pertemuan ini. aku tau, diapun berharap memiliki alasan buat menyudahi percakapan ini.
'seperti yang aku bilang tadi, aku cuma mau memberi tau itu. kabar baik seperti yang Kamu katakan. semoga tidak ada lagi alasan buat satu pertemuan lagi denganmu. aku senang melihatmu. sangat. bisa melihatmu lagi seperti hadiah ulang tahun bagiku. tapi cukup satu kali ini saja',
'sepertinya begitu',
'Kid..', dia berdiri dan menjulurkan tangannya. samar" aku melihat jarum jam di tangan kanannya sudah menunjukkan angka 11. waktu yang tepat buat mengakhiri pertemuan ini. '..terimakasih kesediaanmu menemuiku', lanjutnya. aku juga menjulurkan tangan dan menjabat tangannya.
'terimakasih juga sudah mengisi hari Mingguku sebelum kerja',
'kalau gitu, assalamu'alaikum', dia melepaskan jabatan tangannya.
'wa'alaikumussalam', dia membalikkan badan dan pergi. aku kembali duduk dan menghabiskan kopiku. sampai akhirnya adzan Dzuhur berkumandang, aku juga pergi.
Selengkapnya...
Rupa Kebahagiaan Malam Itu..
malam itu hujan baru saja reda. jalanan Surabaya masih basah dan sedikit licin. aku melaju kencang tanpa tau akan ke mana jalur selanjutnya. aku melewati gerimis yang masih turun dengan bayangan tentang jalan yang pernah aku tempuh, tidak sering. aku mengingat" rute yang baru saja aku buka dari google maps. aku harus sampai di Rumah Sakit Al-Irsyad segera. sesegera mungkin.
di kepalaku, malam itu harus jadi momen yang tak boleh dilewatkan. di kepalaku, aku mereka-reka waktu yang sedang aku tempuh. jika harus telat, tidak boleh lebih dari garis waktu emosi yang sedang kakakku rasakan. aku hanya khawatir, pengetahuanku tentang jalan-jalan di Surabaya membuat rencana itu lewat. hujan mulai turun semakin kencang saat aku tiba dan memarkir motor depan rumah sakit. aku segera masuk dan memencet beberapa nomor di hapeku. aku sudah tidak bisa mengandalkan receptionist. orangnya hanya satu dan sedang menangani orang lain.
'tuuuttt.. tuuuuttt', suara itu mendominasi pendengaranku selama 10 menit dan tak ada jawaban. di ruang tengah itu, aku memutar mataku ke semua sudut yang memungkinkanku menemui kakakku dan kakak ipar berada.
'Mim', dari belakang tiba" suara itu muncul dan mendekat. aku dan Zainal juga mendekat. Itu suara Reza, kakakku. ada yang aneh. senyumnya sangat lebar dan raut wajahnya penuh dengan kebahagiaan. dia menyingkirkan tanganku yang aku julurkan untuk bersalaman. dia menarik bahuku dan memelukku. lama dan masih dengan senyumnya, tampak dari hembusan nafasnya dan hampir tertawa.
'Alhamdulillah, ponakanmu perempuan. perempuan. perempuan', dia berbisik ke telingaku. dia melepaskan pelukannya dan bergantian melakukan hal yang sama pada Zainal.
'Alhamdulillah, di mana dia sekarang..?. sudah bisa ditemui..?',
'belum. kalian kehujanan..?',
'enggak. bagaimana dengan kakak ipar..? baik..? normal atau caesar..?',
'baik. oh iya, bentar, saya harus mengurus kamar inap untuk Nazril', suaranya terengah seperti sedang diburu kebahagiaan yang ingin menyerbu semua indera dan tiap organ raganya.
'oh OKe, saya temani. kau belum jawab, normal atau caesar..?',
'caesar, tapi semuanya baik" saja',
'ada siapa saja di sana..?',
'ada Ibu, Lilid dan Ibu Mertua. bentar ya', semua kalimat, dia ucapkan dengan penuh senyum dan tawa.
aku belum pernah memiliki anak. aku belum pernah tau bagaimana rasanya memiliki anak. tapi malam ini, kakakku memberi tauku hal itu. semuanya sangat jelas tampak dari wajahnya. aku tidak berhenti tersenyum melihat raut mukanya yang bahagia. aku seperti sedang terhipnotis, larut dalam kebahagian yang dia rasakan. ada gemuruh yang sedang berdengung di dadaku. seolah ingin muncul lewat mulut untuk aku teriakkan.
ternyata begitu. karena kesederhanaannya, bahagia bisa hadir dalam banyak bentuk. sama seperti saat aku diam" melihatmu. mata dan pandanganmu yang tajam dan meneduhkan. malam ini, bahagia itu datang dengan kehadiran satu lagi anggota keluarga ke sini, ke dunia yang harusnya damai ini. aku tidak bisa menyembunyikan bahagia itu saat kami masuk melewati lorong-lorong rumah sakit dan melihat bayi itu. kami dipisah kaca. bukan, aslinya, kami ada di luar ruangan tempat si bayi berada. sebagian keluarga kakak ipar juga datang, bercakap dan melihat si bayi dengan penuh rasa senang.
setelah semua obrolan dengan keluarga kakak ipar berakhir. diam" sambil berbisik aku bertanya padanya tentang nama bayinya.
'jangan bilang Kamu kaget dan hanya menyiapkan satu nama buat laki"',
'sudah ada. aku sudah punya nama. aku sudah siapkan dua nama sejak awal. hahahahaa..', lalu dia menggerakkan bibirnya, tanpa suara, menyebut satu nama. sepertinya nama ini masih dia rahasiakan, bahkan dari Mok Nap, bibiku, ibunya.
kebahagiaan itu juga yang membuat waktu terasa cepat. malam cepat berlalu dan semakin gelap. hujan yang turun lagi, sudah kembali reda. diantaranya, ada rasa kantuk yang tidak bisa aku bendung. ternyata sudah dini hari.
baru malam itu aku hadir saat kerabat atau temanku melahirkan. sesaat nanti, aku berharap juga bisa datang di momen serupa, momen saat istri Kak Aziz melahirkan anak keduanya..
Selengkapnya...
How You Remind Me..
Mati. Ternyata Kamu berencana pergi dan segera meninggalkan kota ini. Segera memperlebar jarak dan mentetapkan radius. Segera menjauh dan menghilang dari pandanganku. Padahal sekarang saja aku sudah kesulitan menemukanmu. Terakhir kali melihatmu dua hari lalu, saat pagi, berpapasan tanpa sengaja, tanpa senyummu yang diam" aku inginkan.
Keresahan ini sama saja seperti aku akan kehilangan kalimat pertama untuk menuliskan rinduku. Bagaimana jika keresahan ini melebar ke mana". Saat aku tidak bisa lagi sembunyi" menunggu senyummu merekah. Saat aku tidak bisa lagi mendengar suara tawamu, meski dari kejauhan, tapi tidak lebih dari 14meter. Dan aku masih berharap Kau akan melihatku dengan caramu dulu, yang tajam dan meneduhkan, suatu hari nanti, meski juga tanpa sengaja.
Dua hari ini, setelah aku tau Kau akan segera pergi dan meninggalkan kota ini, aku menyusuri jalanan Surabaya yang basah dengan keresahan. Aku membawanya jauh sampai ke bagian timur kota. Bahkan How You Remind Me milik Avril tak lagi sanggup menyudahi resah yang aku sembunyikan bersama rinai hujan setiap malam, saat aku menyebrangi Wonokitri Besar dan Ir Soekarno, bolak balik.
Lagu yang berhasil dinyanyikan dengan irama syahdu oleh Avril ini mengingatkanku, tentang sebuah episode yang pernah dan sudah terjadi. Sudah dan lambat laun hilang meninggalkan kita. Episode itu berupa pertanyaan yang terangkum dalam lima kata 'Are we having fun yet?'. Lima kata yang juga diulang lima kali dalam lagu ini. Lima kata yang merangkum banyak istilah setelah informasi itu datang, dalam lima huruf; resah, sendu, waktu dan tentu saja rindu. Tapi, aku hanya tau diri..
Selengkapnya...
Hampir Merutuk Hujan..
Aku hampir saja merutuk pada hujan, kalau saja dia turun tadi. Tadi, sebelum petang menjemput. Saat aku baru sadar kalau langit sudah sangat gelap di bagian barat, tengah dan selatan Surabaya. Karena aku belum shalat Ashar. Karena aku bajingan. Meninggalkan shalat tepat waktu dan memilih masuk beskop saat adzan Ashar hanya tinggal 10 menit lagi, tadi. Aku masuk beskop dan melihat Istirahatlah Kata-Kata.
Perubahan angin dan mendung itu sudah terasa sejak aku berangkat ke Tunjungan Plaza sore tadi. Aku berharap hujan turun saat aku sudah masuk TP dan reda saat aku keluar beskop. Hahahaha, harapan konyol yang dibuat-buat. Tapi jalanan masih kering sampai aku kembali ke parkiran dan membawa sepeda motor keluar dari TP. Aku ngebut dan merutuk pada hujan, kalau saja dia turun tadi.
Dingin yang hadir menunggangi mendung masih terasa saat aku sampai di Pakis, bahkan sampai aku menyelesaikan tulisan ini di kamar. Sepertinya hujan tidak akan datang sendirian malam ini. Seperti sepekan sebelumnya. Hujan mengajak petir, kilat, badai dan banjir setelahnya. Jalanan tidak lagi ramah dan kesehatan yang utuh tidak lagi didapat dengan mudah.
Samar, di balik pintu kamar, aku mendengar gluduk bersahutan. Semoga Kamu juga baik saja..
Selengkapnya...