Waktu..

Waktu berlalu
Waktu mengajarkan sesuatu
Waktu itu bisu
Tapi waktu seolah bicara

Waktu memupuk rasa
Lalu waktu menghadiahkan cerita
Tapi waktu menenggelamkannya
Waktu menghilangkannya tanpa suara

Akhirnya aku merasakan sejuk. Ditandai dengan semilir angin yang perlahan hilangkan kantuk. Ditemani suara dedaunan yang jatuh di jendela mengetuk-ngetuk. Kota ini, Malang, selalu berhasil menepikan sumuk. Kembali ke kota ini seakan menyegarkan ingatan yang sudah lapuk. Lalu aku menempatkannya sebagai kota penghilang suntuk.
Di depanku, di seberang tempatku duduk, masih di meja yang sama, seorang teman berbicara pelan. Menceritakan setiap detil kisah yang mengganggunya akhir” ini. Mencurahkan setiap kesah bersama suara bising sendok dan garpu. Aku mendengarkannya tanpa suara menyela. Sudah lama aku ingin menemuinya. Aku tau dia sedang tidak baik” saja. Bersama bising malam, aku menyimak setiap kata dan kalimat yang terlontar.
Sembari mendengarnya, aku bertanya pada diriku sendiri. Apa dunia benar” memiliki mata..? Sehingga bisa melihat hati yang tertawa. Atau dunia hanya memiliki telinga..? Dan hanya mendengar bisik senyum tanpa tau rupa. Senyum dan tawa bisa dibuat begitu saja. Tapi butuh alasan yang kuat agar bahagia itu bermakna. Lalu apa bedanya dengan mereka para drakula. Berpura berjuang di samping lalu menghisap tiap menit kehidupan manusia.
Entahlah, mungkin aku sedang mengigau. Kondisi ini benar” membuatku kacau. Temanku lalu mengingatkanku agar terlebih dulu berbenah diri. Bagaimana mungkin mendengarkan cerita lain saat Kau kebingungan. Bagaimana mungkin menyimak kisah lain saat Kau sedang terbelenggu bersama persepsi yang meragukan. Lalu temanku mengambilkanku sebuah pandangan, agar percaya bahwa yang aku hadapi adalah tembok besar yang bersarang di diriku sendiri. Bukan pada orang lain, tempat lain, atau pada semua tulisan oleh jemariku.
Aku tersenyum kecil mendengar ocehannya. Mungkin dia benar. Apa yang sedang aku hadapi, bagaimana melewatinya, hanya aku yang tau. Lalu aku membalasnya bahwa apa yang sedang kita hadapi tidak lebih dari racun dalam pikiran. Kita terpenjara dalam pikiran kita sendiri. William Addis, Shakespeare, Soekarno bahkan Buya Hamka adalah sederet nama yang harusnya jadi contoh. Terpenjara secara fisik, tapi merdeka dalam berpikir, hingga menghasilkan masterpiece. Lalu aku..? atau temanku..? Mungkin kita yang kedua, bebas secera fisik, tapi seringkali memenjara pikiran sendiri. Berkata ‘tidak bisa’, ‘tidak akan’ atau kalimat” penyangkalan lainnya. Padahal, Kau bisa menemukan mutiara dari dalam dasar laut yang mematikan.
Aku terdiam dalam hening. Kemudian aku kembali mengalihkan pandangku pada temanku. Dia duduk di sampingku dengan obrolan yang tak lagi sama. Kali ini dia banyak becerita tentang prinsip hidup yang harusnya dipegang setiap manusia. Aku mengangguk tanda setuju. Kemudian dia mengaitkannya dengan cerita” kami yang sebenarnya bisa kita hadapi dengan santai. Tanpa irama menjemukan, tanpa gurat amarah yang memuakkan dan tanpa pikiran yang tercipta sendiri atas dasar kebingungan.
Aku melihat jam tangan. Ternyata sudah malam sekali dan baru sadar bahwa Sabtu sialanku ini aku habiskan bersama orang ini. Kemudian aku beranjak dari tempat duduk dan menggiring langkah ke arah keheningan. Kebingungan ternyata masih menghantuiku. Dia mengikuti setiap langkah yang aku buat. Sebelum pergi, temanku membacakanku sebuah kalimat dari novel Paulo Coelho, bahwa ada dua kekeliruan yang fatal dalam hidup; yaitu bertindak terlalu dini dan membiarkan kesempatan terlepas begitu saja. Lalu aku berkata padanya, ‘Ini soal waktu. Aku dan Kamu pasti menemukan jawaban bersamaan dengan waktu yang memberikan jeda. Terimalah, rasakan, kemudian Kau akan sadari kapan Kau harus bergerak dan kapan Kau harus menunggu untuk melakukan gerak selanjutnya’.
Temanku mengangguk, dan dia berkata ‘Ya, ini soal waktu’, sambil terseyum.

0 komentar:

Posting Komentar