Refleksi Setahun..


Mohammad Hamim Arifin..

Sudah sembilan belas tahun kau hidup di dunia ini terhitung mulai detik hari ini. Banyak hal tentunya yang sudah kau dapat dari usiamu ini. Dari enam tahun belajar mempersiapkan pencarian jati diri setelah enam tahun sebelumnya menjalani proses belajar dari lingkungan sekitarmu. Dan enam tahun berikutnya untuk mencari jati diri yang sebenarnya kau tau belum kau dapatkan sepenuhnya. Harus kau sadari itu dan segera memberikan sikap. Aku rasa akan sangat panjang jika harus dipaparkan disini kehidupan yang sudah kau jalani selama tiga kali enam tahun. Karena kau juga tau tidak sedikit yang kau alami dan kau dapatkan selama itu.

Setahun lalu kau masih bingung menentukan sikap sebagai persiapan menyongsong ambisi dan harapanmu itu. Masih terlalu dini kau pikir. Karena masih banyak PR yang belum kau selesaikan sebelum beranjak dari keterbelakangan pengalamanmu. Masih terlalu pendiam untuk manusia yang memiliki ambisi besar macam kau. Masih terlalu naif dengan tingkah lakumu yang sudah melampaui batas kewajaran. Masih hijau dengan syarat segudang pengalaman yang harusnya kau miliki sebelum melangkahkan kaki. Dan tentunya kau juga masih kekanakan untuk mencapainya. Namun dengan segala kekurangan yang kau miliki, saat itu kau dengan yakin melantangkan semua impian, harapan, cita-cita, ambisi dan anganmu walau kau juga belum tau apa yang akan terjadi dengan semua mimpi itu.

Kini kau sudah menapaki hidup ke-sembilanbelas tahun-mu dengan(lumayan) sukses. Dalam kurun waktu setahun ini kau sudah banyak memberikan bahan persiapan-persiapan yang memang seharusnya kau penuhi.sudah kau pelajari sejarah hidup sebagai perjalanan menuju impianmu. Kau rubah sedikit kebiasaanmu untuk menjadikan harapanmu berarti. Proses belajarmu telah kau sesuaikan dengan cita-cita yang selama ini kau teriakkan. Mulai mengenali dunia yang kau tujukan pada besarnya ambisimu. Dan berusaha mengunggah khayalmu dengan meyakinkan angan yang akan kau raih.

Hidup memang tak semudah dan tak seindah waktu kau kanak-kanak dulu. Panas dan dinginnya duniamu tak bisa diterka seperti kau menjawab soal-soal statistik yang akan kau hadapi semester depan. Butuh strategi hidup untuk bertahan dari seleksi alam yang berlaku. Tapi apapun yang terjadi, harus kau jalani dan harus kau hadapi dengan segenap hati. Walaupun dengan keadaanmu yang terluka yang kau sadari itu. Dan jangan pernah kau lari dari kenyataan ini. Karena belum waktunya kau berhenti. Dan jangan sampai cepat berpuas diri. Bekerja dan kejarlah apa yang sudah menjadi mimpimu hingga saat kau tak berguna lagi. Maka apapun yang terjadi, harus kau jalani dan harus kau hadapi dengan segenap hati. Walaupun dengan keadaanmu yang terluka yang kau sadari itu. Dan jangan pernah kau lari dari kenyataan ini.

Selamat Ulang Tahun yang ke-19..
Keep Moving Forward..!!
Bila hidup tak berputar, kau tak akan merasakan semuanya..
Be Ready..!! Selengkapnya...

Study Tour Kere..

Hari ini aku cukup disibukkan dengan agenda angkatan adik kelas SMA-ku dulu. Karena hari ini pun aku bukan tanpa kesibukan di kampus. Dan yang paling urgen adalah tugas resume dan presentasi mata kuliah Komunikasi Antar Personal. Tak lupa aku juga harus menemui dosen mata kuliah AIK(Agama Islam Kemuhammadiyahan)-ku yang telah siap memberikan waktu diskusi setelah jam ajarnya pagi ini.

Namun, Tuhan selalu memberikan jalan kepada setiap HambaNya yang sedang berdiri dalam dua pilihan. Akupun mendapatkan pertolonganNya.

Keterlambatanku memasuki kelas AIK masih bisa dimaklumi dosenku. Pagi ini aku harus sedikit olahraga. Ketika jam sudah memberitahukan keterlambatanku sekitar 12 menit, aku masih berada di depan laptop yang sedari subuh aku nyalakan untuk membantuku menyelesaikan tugas yang semalam harus aku pending karena keterbatasan tenagaku. Dan parahnya, aku masih disibukkan dengan sifat manusiawi-ku ketika sudah berada didepan masjid(mata kuliah AIK diadakan dimasjid). “Gawat..! aku lupa ruanganku..” Aku juga sedikit heran dengan peristiwa bodoh ini. Peristiwa yang berlangsung selama dua menitan ini juga mengundang tanya satpam masjid yang berdiri didepanku.

“Hmm..” Dan anehnya lagi, ingatan tentang ruanganku muncul ketika aku melihat kearah rumah makan Otoy yang berada didepan masjid.


Masalah muncul lagi saat aku harus memilih antara kuliah Komunikasi Antar Personal-ku dan amanatku sebagai guide angkatan adik” kelas SMA(mereka ngadain study banding kekampusku..nggak ada kerjaan nich..!?) yang telah tiba tujuh menit sebelum aku memasuki ruang kelasku.

Dengan sedikit keberanian, aku meminta ijin dosenku untuk menemui rombongan yang telah diterima di Aula Rektorat.

Setelah menemui dan berbincang” dengan mereka(adik” kelasku), aku harus berhadapan dengan orang” terhormat dari rombongan mereka. Memang tak sekeren Joe Sandi yang telah terpilih sebagai The New Master of Magic, tapi bagiku berhadapan dengannya akn ada rasa gugup dan segala kecanggungan yang menghampiri dalam diri. Mereka adalah mantan wali kelasku serta kepalah sekolah SMA-ku. Hufftt.. But its oke. Nothing problem waktu aku ngobrol dan lumayan terkendali. Bahkan aku sempat membincangkan pola pikir filsafat teologi klasik dengan mantan guruku yang sekarang akan melanjutkan S2-nya di Fakultas Filsafat Institut Agama Islam Negeri Surabaya.


Jam 11.45 adalah tenggat waktu mereka dikampusku dan waktunya melanjutkan agenda Study Tour yang telah direncanakan.


Rasanya cukup menyenangkan bertemu dengan mereka(lagi). Hampir setahun. Dan tidak ada media yang cukup efektif untuk sekedar ngobrol dengan mereka. Apalagi bersilaturahmi dengan Dewan Guru-nya. Seakan tidak percaya, ketika perpisahan dulu kerelaan kami dikarenakan tiada pertemuan yang abadi. Namun, sudah dan akan terbukti bahwa seperti pertemuan, tiada perpisahan yang abadi.

Selengkapnya...


Assalamu'alaikum Kak Hakim..

Sudah dua minggu ini aku belum memberikan sedikit bingkisan cerita padamu. Sebelumnya bisa aku kabarkan bahwa keadaanku sedikit lebih baik walau kemaren sempat demam dan flu..

Dimulai dari berita paling menghebohkan yang juga sempat menenggelamkan berita politik tentang koalisi partai yang saat itu tengah panas karena publikasi komunikasi SBY-Mega yang tak lagi romantis, kasus pembunuhan bos PT. Putera Rajawali Banjaran(PRB) Nashruddin Zulkarnaen. Kasus yang terjadi pada tanggal 14 April tersebut sukses menyeret nama Ketua KPK Antasari Azhar sebagai terdakwa. Bukan Dia yang membunuhnya, tapi disinyalir Dialah dalang dibalik pembunuhan itu. Sempat ada kabar, motif pembunuhannya adalah cinta segitiga antara Antasari, Sang Boz dan istri siri Sang Boz, Rani Mulyani. Namun sampai saat ini, walaupun resmi menyandang status tersangka, pengadilan masih belum bisa membuktikan kejahatannya.
Kasus ini juga sempat membuat gerah pemerintah yang sekarang sedang menikmati masa koalisi partai dan kompetisi mengejar RI-1 dan RI-2. Akhirnya, SBY sebagai presiden memberikan komentar sekaligus keputusan terkait dengan status Antasari Azhar sebagai Ketua KPK melalui Jubir-nya, Andi Malarangeng dan Menteri Sekretaris Negara, Hatta Radjasa. Dengan itu diputuskan Antasari Azhar dinon-aktifkan sebagai Ketua KPK untuk sementara.
Wah....Jurus apalagi nich...?!?

Informasi selanjutnya mungkin akan memberikanmu sedikit kejutan. Minggu kemaren Ketua Mahkamah Konstitusi(orang Madura itu lho...!) Mahfudh MD, dengan resmi membuka pendaftaran bagi Capres dan Cawapres bagi yang telah memenuhi syarat pendaftaran seperti partai yang mengusung nama mereka harus memiliki suara minimal 20%. Dan yang bikin kejutan pertama adalah pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto. Pasangan Golkar dan Hanura yang tidak diprediksikan sebelumnya ini mendeklarasikan pencalonan mereka ditempat yang sedikit istimewa, Tugu Proklamasi. Alasan yang mereka kemukakan sebagai pertimbangan pemilihan tempat adalah tempat yang sesuai dengan momentum yang ada. Dan dengan lugasnya juga, pasangan pertama ini juga telah memberikan slogan(motto) yang nantinya akan mereka tebarkan; Lebih Cepat, Lebih Baik dan Lebih Tegas. Sureprise kan..?!

Huufff..........,,,,.,.,.,.,...
Hari ini sebenarnya aku capek banget Kak dan kebetulan saat aku menulis tulisan ini, aku sedang ngantuk dan lemas. Jadi, sorry kalo tulisannya terkesan bukan aku yang biasanya. Sedikit keburu juga, coz besok aku harus kuliah pagi.
Mungkin bisa aku cukupkan sampai disini aja. Oke..!? Satu sentuhan terakhir untuk aku rekomendasikan untuk jadi tambahan bahan renungan: "Kehilangan uang dapat tergantikan. Namun kehilangan waktu, siapa yang bisa ganti?"
Selengkapnya...

Hati yang terbungkus..


Assalamu'alaikum Kak Hakim..

Waduh..dah lama ya nggak ketemu. Gimana kabarnya sekarang..? Dah sejahtera ya..? Semoga aja kayak gitu..
Btw, trims ya kemaren bantuannya. Bukan berarti aQ syirik ato semacamnya, tapi bener dech nggak ada bantuan kakak kemaren, kemana lagi aQ harus memperjuangkan cita" yang selama ini aku banggakan dan selalu teriakkan ini..?
Sejak kau berangkat menjelajahi dunia dengan segala pengetahuanmu, aku selalu berusaha keluar dari bayang" semu yang selama ini mengurungku. Sumpah aku nggak betah. Dan itu sedikit membuat impianku kadang terjatuh berantakan di lautan suram yang pernah aku singgahi. Mungkin kau juga tau itu.
Btw, aku tau kau ingin aku menceritakan keadaan disini kan..? Hmm..lebih baik aku mulai dari keadaan negerimu yang sudah 8 bulan kau tinggalkan ini.

Negeri yang dulu pernah kau banggakan ini sekarang sedang dilanda banyak musibah dan kegilaan. Tuhan kita memberikan tidak sedikit musibah di "Zamrud Katulistiwa"mu ini. Yang paling anyar adalah peristiwa jebolnya Situ Gintung di Karawang 27 Maret lalu. Belum lama setelah itu banjir bandang mengahantam 2 daerah di Sumatera Barat. So..
Pekan awal April sebuah pesta besar"an serentak terselenggara dinegerimu. Sohibul Hajjahnya si KPU..sayang banget kau melewatkannya Kak. Walaupun sebenarnya aku tau kau akan sama denganku menilai pesta ini. MUNAFIK. Ya, aku pernah menangkap sedikit omonganmu tentang PEMILU2009 ini. Banyak hal yang kau ungkapkan dan tak bisa aku tangkap sepenuhnya. Kau juga sepakati kalo Golput yang dikatakan MUI haram itu merupakan sebuah partisipasi politik juga kan..? Sekarang setelah Quick Count dilegalkan, diketahui Demokrat menjuarai 'kompetisi' ini Kak. Menyusul Golkar dan PDI Perjuangan dibelakangnya. Kau masih memendam kekotoran SBY kan di benakmu..??? Jangan sampai kau hilangkan itu Kak. Sebaiknya aku teruskan ya. Seminggu yang lalu, Demokrat dan Golkar yang kita tau sudah bahu-membahu membangun negeri ini dalam kurun waktu lima tahun terakhir harus berpisah karena visi yang mereka usung sudah tidak bisa berjalan beriringan lagi. Dan kau tahu, Jendral Nagabonar yang kau jagokan dengan sembilan partainya itu sepertinya kehabisan bensin untuk motornya mengahadapi mobil-mobil pesaingnya Kak menuju RI-1. Sebenarnya membicarakan politik yang sudah terkontaminasi dengan banyak racun di negeri kita ini terkadang membuatku mual. Hanya sebagai informasi buatmu yang ntar lagi meninggalkan Amerika Tengah menuju Itali untuk sekedar bertemu Totti aku menceritakannya Men..
Sedikit sama dengan keadaan negerimu ini, nasibku tengah melebur. Banyak hal yang membuat suasana hatiku tak karuan. Kehidupan sosialku, atau mungkin yang lebih spesifik persahabatanku dan kisah cintaku. Sebenarnya aku benci mengakuinya, tapi suwer itu jujur.
Persahabatan dan Cinta. Dua hal yang berkaitan dan akan memiliki irama saat keduanya dipertemukan. Dan saat ini irama yang muncul dari ketukan persahabatan dan cinta yang aku miliki ada di titik 'Sol'. Berbahaya untuk orang sepertiku yang masih labil. Belum memiliki banyak ilmu tentangnya. Karena baru" ini seorang sahabat mengarahkan aku untuk menghindari sebuah urusan tanpa aku menguasai ilmunya. Wuih..lumayan ruwet sich bagiku Kak. Hanya saja aku nggak lagi fokus mikir itu. Stay Cool Men. Itu kan yang sering kau ucapkan ke aku saat aku kalah maen PS melawanmu...?
Aku hanya bisa mengambil pelajaran bahwa "Hati manusia selalu akan berbolak-balik sesuai dengan kodrat penciptannya". Selengkapnya...

Geram Kedua Kalinya..


Dear Zein..

Kemarin adalah hari yang sangat melelahkan bagi kakak. Banyak kegiatan yang merupakan kelanjutan dari tugas-tugas UTS kakak kerjakan kemaren. Tapi lebih dari itu, ada satu hal yang membuat kakak sangat terpukul terkait kegiatan yang melelahkan itu. Dan ini tidak pernah kakak alami sebelumnya.
Kakak kira, kakak nggak akan cerita ini disini. Karena ini sangat pribadi yang tidak harus menjadi beban. Tapi sekali lagi, ini merupakan kenyataan pahit (cie..cie..) yang baru kali ini kakak alami.
Kemaren saat kakak mengikuti sebuah lomba yang diadakan kampus dalam rangka Rektor Cup, kakak kalah di semifinal. Ini sebuah pencapain yang sangat tidak bisa kakak terima. Bukan karena gengsi atau sebuah penyesalan karena salah menjawab soal yang mengurangi poin yang sudah kakak peroleh, terlebih karena kekalahan ini tidak murni dari kesalahan yang dibuat kakak dan teman-teman kakak. Ada sebuah alasan mengapa kakak wajib kecewa atas kekalahan ini. Kami merasa DICURANGI. Ya, kami merasa itu bukan sebuah kompetisi yang adil. Ada sebuah kebodohan dalam tubuh panitia dan tentu ini bisa dikatakan sebuah hal yang wajib dibenahi oleh panitia yang merupakan anggota dari JF. Benar-benar tidak profesional.
Kakak kira bukan tindakan terpuji jika kakak menyebutkan kebodohan-kebodohan mereka disini. Biar kakak dan temen-temen kakak kemaren aja yang tau dan biarkan mereka intropeksi walau itu terkesan sulit terealisasi bagi mereka.
Hufmm hah..daripada itu ada beberapa hal yang harus kakak jadikan bahan intropeksi bahwa kita tak akan belajar bila tak pernah melakukan kesalahan. Selengkapnya...

Aku Manusia (6)..



Dunia sesak dengan rasa pahit
Ketika semua yang dilihat serasa menyempit
Bukankah itu karena kau yang sedikit
menganggap keagungan adalah penyakit

Tidak. Itu rasanya tidak benar.
aku keliru menilai sekelilingku dengan mata
sehingga kuragukan hati saat mengoceh

Kusetir kerinduan api amarah dalam-dalam
menyeruak, membuncah mendengarkan kesah
Begitu, rasanya keberadaan ini harus berdarah

Menusuk tangan syetan di telapak pikiran
Kemegahan langit memudar kehitaman
disiang hari yang penuh kebahagiaan

Mentah, karena sekarat akan beban
jujur, aku tak ingin nilai itu kuberikan

Menjadi buruk dengan tanda-tanda
bahwa aku bukan manusia seperti dia

Ingin rasanya berhenti bermimpi
Menyandang kekuatan bumi dan berdiri
Tak usah tegak, aku sudah belajar mandiri
Bukan ini yang akan musnah karena duri
Tapi perisai yang melindungi harga diri
Kehormatan bisa aku dapat saat berlari

Apa aku berbohong..?
Ini bukan omong kosong

Bukan sekedar bualan
juga bukan ucapan orang gila
Tapi kepenatan dari pikiran
Selalu mencari tanpa tau selingan

Selanjutnya dua dunia itu terbang
dengan angkuh, bayangan putih hilang
bersama kabut di pagi cerah
apa aku terlihat berdusta..?

Burung sering berkicau dengan riang
Tapi ini bukan kicauan burung
juga bukan isapan jempol

Semuanya akan berakhir

Kenanglah keindahan sejarahmu
Kau pasti butuh itu
Terus berlalu
Namun tak pernah berlalu

Menanamkan bayang semu
dalam kecaman dunia maya

Bukankah kau juga pesakitan
Menangis dan tertawa bersamaan

Kau anggap kau orang tenang..?
Gila, bisa jadi seperti itu
Karena kau belum tau siapa dirimu

apa tujuanmu selama ini..?
apa yang kau tuju..?
apa benar kau punya tujuan..?


Sumenep, 31 Jule 2007
Selengkapnya...

Obrolan Perjalanan Semalam..


Siang itu matahari serasa membakar kulit. Sangat tidak bersahabat. Aku liat jam di Hpku sudah menunjukkan angka 11.56 dan cuaca panas ini terus memberikan suatu peringatan bahwa bukan ide bagus berangkat ke Malang ditemani terik sinarnya yang menyengat. Ya, hari Sabtu siang kemarin aku melakukan perjalanan ke Malang setelah sebelumnya dua hari berada di Madura untuk turut berpartisipasi terhadap Pemilu Keparat 2009 ini.
Aku dan temenku saat itu tau akan keadaan ini, tapi rencana dan janji tidak dapat diubah semau kita. Kami punya rencana dan janji pada dua orang kawan yang tidak mungkin untuk kami ingkari. Tapi aku tidak akan membicarakan tentang perjanjian ini. Aku hanya ingin menggambarkan pada para pembaca tentang perjalanan melelahkan kami berdua kemarin. Fiuhh..aku rasa bisa kita mulai kan..?
Seperti yang kuceritakan diatas, siang itu sangat panas. Dedaunan dan pohon” yang berdiri disamping jalan tau itu. Berdua kami mengenakan jaket yang terbuat dari kain yang ringan. Temanku yang memakai jaket warna abu” terus mencoba berkonsentrasi mengemudikan motornya untuk kemudian lebih mengabaikan panasnya cuaca siang itu. Aku sendiri dengan jaket coklat berharap keluhan itu tidak aku ucapkan lagi dengan mengenakan topi.
Sekitar dua kilometer perjalanan aku membuat sebuah kecerobohan. Hah..? Topi yang aku kenakan terbang di terpa angin. Untung saat itu tidak ada mobil yang meremukkan topi itu. Huff..dan ini membuat aku dimarahi temanku. Rasanya dengan usahanya untuk konsentrasi itu, kesalahan sekecil apapun tidak bisa dimaafkan. Oke, aku mengerti. Perjalanan berlangsung kembali.
Sebelumnya aku ceritakan bahwa perjalanan ini dari Sepulu, sebuah desa sekaligus kecamatan tempat tinggal kami di Bangkalan Madura menuju kota yang saat ini menjadi domisili kami, Malang. Untuk itu kami harus melewati pelabuhan penyebrangan selat Madura, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan untuk sampai di kota yang katanya dikenal dengan Kota Pendidikan, Malang.
Cerita dilanjutkan sesampainya kami di pelabuhan Kamal. Pelabuhan untuk menyebrangi selat Madura. Seharusnya tidak ada masalah dengan pelabuhan ini. Tapi kemudian keluhan datang akan penumpang yang bejubel dan sekali lagi, cuaca yang panas.
Kami dengan ribuan penumpang lainnya harus berbagi antrian untuk banyak hal. Beli karcis, masuk kapal dan menempatkan kendaraan di atas kapal.
Tepat setelah kami mendapatkan tempat di belakang kapal (aku lupa apa sebutan untuk belakang kapal..!?), kami memutuskan naik ke lantai dua dari kapal ini. Dan aku lupa satu lagi kenyataan bahwa kami juga harus berbagi tempat duduk di kapal feri ini (sebutan untuk kapal penyebrangan..).
Sesampainya di Surabaya, kami sempat mendatangi dua tempat yang semestinya tidak ada dalam rencana perjalanan kami, yaitu GAMA MOTOR, toko onderdil resmi Vespa yang ada di jalan Indrapura untuk membeli beberapa barang terkait dengan keanggotaan temenku sebagai KOMPAS (KOMunitas vesPA Sepulu), dan tempat kost kakakku di daerah Stikes Yarsis tempat Ia kuliah untuk mengembalikan digi.cam dan menyampaikan beberapa pesan dari keluarga.
Setelah sedikit nyantai sejenak dan menyegarkan badan dan wajah, sekitar jam empat sore kami meneruskan perjalanan (yang sedikit) sial ini menuju kota berikutnya, Sidoarjo.
Kesialan yang berbuah keresahan ini diawali saat kami merasa ada yang aneh pada sepeda motor yang kami tunggangi sesampainya di Sidoarjo. Temenku bilang knalpotnya bocor dan harus segera dibengkelin untuk menghindari copotnya onderdil satu-satu.
Sejauh kurang lebih tiga kilometer kami melirik kanan kiri guna mencari bengkel yang dapat meredakan keresahan kami sampai akhirnya kami menemukan sebuah bengkel di kiri jalan. Sekali lagi, “Cuacanya panas nich..!”
Tak berhenti disitu saja, keresahan sekali lagi muncul ditandai dengan bunyi”an aneh dari roda depan kami. Setelah beberapa kali kami menghentikan motornya untuk diperiksa, akhirnya kami memutuskan untuk mengabaikannya (walau sebenarnya takut juga sich..!?) dan menuju kota berikutnya, Pasuruan.
Tidak banyak hal yang bisa diceritakan di Pasuruan. Antrian seperti biasanya di sepanjang jalan Raya Gempol ditambah udara panas yang menemani dan sesekali ikut menghantam bersama dengan debu jalanan menjadi cerita yang sudah biasa AKPER (AnaK PERjalanan) alami. Indahnya pemandangan dan banyaknya pabrik air mineral dalam kemasan menjadi hiasan mata orang-orang yang lewat di sepanjang jalan termasuk kami. Terbenamnya matahari dan berkumandangnya Adzan Maghrib ikut menandai tibanya kami di Malang.
Lawang, sesuai dengan artinya yang berarti ‘pintu’ adalah gerbang masuk ke kota Malang. Dengan semangat motor kami melalui berpendarnya cahaya matahri pada ilalang-ilalang di kanan-kiri jalan raya yang kami lewati. Nyaris tak ada yang bisa kami keluhkan setibanya disini. Udara yang tak lagi panas dengan sejuknya menyentuh pori-pori kulit dan menyeka peluh yang kami rasakan. Mungkin terdengar berlebihan. Tapi setidaknya kami tak lagi mengeluhkan panas dan debu berterbangan yang kami takuti menghilangkan manisnya wajah kami. He hee..
Singosari menjadi kecamatan kedua yang kami lewati. Disini temenku semakin kencang mengemudikan motornya. Namun, disini pula bencana terjadi. Ditengah perjalanan yang sangat menyenangkan dengan menikmati alam, tiba-tiba..”Breett..”, aku tidak tau pasti suaranya, tapi mungkin bisa sedikit mengimajikan suara motor mogok.
“Kenapa ne Him..?”, sembari kaget aku bertanya.
“Sepertinya bensinnya abis Mim..”.
“Hah..? Disini..? Sekarang..? Ya baguslah..”.
“Hmm..”. Ya, motor kami mogok. Bensinnya habis. Dan kami terpaksa harus melakukan kegiatan yang paling dihindari orang yang sedang berkendara: ‘Ayo dorong..!’
Tidak ada cara lain selain mendorong motor ini sampai menemukan tempat untuk membeli bensin. Kami pun dengan semangat yang sedikit mengendor mendorong motor sejauh mungkin. Tak kami hiraukan semua pandangan yang mengarah pada kami. Walaupun sebenarnya ada rasa malu yang terlalu berat untuk akmi singkirkan.
Setelah sekitar dua ratus meter mendorong, kami berhadapan dengan jalan menurun yang menguntungkan. Tentunya membri respon positif. Tanpa basa-basi kami kembali menunggangi motor dan “Ngeengg..”, motor kami melaju. Sepertinya motor kami juga senang meluncur tanpa harus menghidupkan mesin.
Namun, rasa senang itu segera menjadi beban bagi kami.
“Waduh..tanjakan nich Mim..”, temanku memberi peringatan beban yang harus kami tanggung sebentar lagi. Kami pun mencoba memberikan respon sepositif tadi. Dan huhf..kami pun mendorongnya sekuat tenaga hingga ke atas. Tapi sial tenaga kami sudah habis untuk acara semangat dorong-mendorong tadi di bawah sampai ke atas sini.
Untuk meringankan beban ini, kami pun ngobrol gaya jadul yang sudah lama kami tidak perankan. Sebelumnya perlu diketahui kami adalah satu angkatan dari TK dulu dan masih bertahan sampai saat ini.
“Kamu masih ingat liburan TK Cawu I kita di Malang..? Sudah lama banget ya..? Dan sekarang kita bolak-balik ke Malang untuk masing-masing urusan kita..! Dan bahkan pelabuhan untuk sebuah cita-cita..!”, temenku membuka obrolan ini dengan mengenang masa imut kita dulu.
“Ya, kadang aku juga merasa masa-masa seperti itu tidak ingin berlalu dan terus kita rasakan. Tapi itu hanya pikiran bodoh. Banyak yang akan kita lakukan di depan dan tidak akan berpengaruh pada masa itu..”.
“Jujur kadang aku iri pada kalian. Kalian sudah berhasil menjadi orang setengah jadi yang siap untuk dipakai. Aku yang amburadul seperti ini bahkan tidak tau apa yang terjadi esok. Apa kamu yakin bisa bertahan dengan kehidupan kita yang seperti ini menghadapi dunia yang semakin keparat ini Mim..”.
“Kehidupan seperti apa yang kamu maksud..?”.
“Kehidupan sosial kita yang pas-pasan ini. Kehidupan dengan gaya hampa dan tidak jelas ini..”.
“Kalo boleh aku bilang kehidupan ini yang aku merasa enjoy didalamnya. Kehidupan ini bukanlah suatu hal yang harus membuat kita malu kan..? miskin harta bukan berarti kita juga harus miskin hati dan cinta..! Bukan untuk dibebankan. Walaupun aku juga masih belum bisa bersyukur dengan kehidupanku yang sekarang..”.
“Ya, kamu pernah bilang kalo kaum yang pertama masuk surga adalah orang-orang miskin iya kan..? Kamu juga bilang kalo miskin juga bisa juga sebuah pilihan kan..?”.
“Ya aku ingat itu. Kenapa..?”.
“Aku hanya ingin bertaruh untuk itu. Aku sadar punya kekayaan hati pun bukan sebuah jaminan. Ada hal” lain untuk kita bisa sejahtera di akhirat ntar. Tapi setidaknya kita optimis dengan segala kekurangan yang kita miliki..”.
“Yup, bahkan untuk beribadah pun bisa jadi sebuah pilihan. Apakah kita akan mengingkari tujuan hidup kita atau sebaliknya..? Sama halnya dengan usia lanjut dan kedewasaan. Kamu kan yang sampaikan itu padaku..?”.
“Ya, aku liat tag line iklan (A-Mild) itu benar. Dan entah kenapa aku merasakan keduanya saat ini..?”.
“Dah ngerasa tua kali..! By the way, di depan kayaknya jual bensin tuch..!”, ucapku menunjuk bengkel didepan memberi isyarat selamatlah kita dari acara dorong-mendorong.
“Akhirnya..!”. Sebuah kata ujung dari kepasrahan itu mengakhiri komunikasi linear model New Comb (yang memberikan pesepsi yang sama dan selaras terhadap sebuah objek) kami.
Kami pun beli satu liter bensin untuk terus melaju sampai Tlogo Mas. Seperti kafilah yang menemukan air di tengah padang pasir, kami meloncat tanpa sadar dan langsung meluncur hingga akhirnya sampai di kost.
Sesampainya di kamar, mandi, shalat dan makan adalah kegiatan kami sebelum akhirnya merebahkan diri di atas kasur.
Perjalanan yang sedikit menguras tenaga untuk diceritakan. Tanpa banyak memikirkan hikmah apa yang terkandung di dalamnya, aku memberanikan menceritakan perjalanan ini setelah dipaksa beberapa kawan untuk menceritakan kisah konyol dengan kegiatan bodoh dorong-mendorong itu.
Selamat menikmati Bingkisan Cerita ini..
Selengkapnya...