Sabtu, 31 Mei '14..
Bagiku, semua hari adalah perjalanan. Perjalanan untuk dikisahkan. Sebagian aku sembunyikan. Tapi tetap menyentuh hikmah untuk aku berikan. Semuanya tersimpan tak rapi di memori hampir terabaikan. Karenanya, aku memilih untuk dituliskan.
Sore ini aku kembali menghirup udara rumah. Rumah dalam arti sebenarnya. Rumah yang di dalamnya berpenghuni keluarga; ayah, ibu dan adik kecilku yang paling bontot serta nenek, perempuan paling dicintai oleh 10 cucunya di rumah ini. Rumah yang hanya sebulan sekali aku singgahi. Rumah yang hampir aku abaikan karena perjalanan pendidikanku. Ya, aku harus meninggalkan rumah sejak usia 12 tahun, sampai sekarang. Tiap tahun, aku hanya berkesempatan pulang dua kali. Itu juga yang membuat perlahan air mataku mengering untuk merindu rumah.
Kali ini aku pulang dengan harapan tinggi; ngopi bareng ayah. Mungkin terdengar biasa dan ah konyol banget. Tapi bagiku inilah momen pria kepala keluarga dan yang mewarisinya bicara. Selama 24 tahun aku hidup, baru sekali aku duduk bersila dan bersama menyruput kopi yang disajikan ibu, dengan ayah di depan lobi rumah. Baru sekali. Itupun tidak disengaja dan berlangsung sebentar. Saat itu aku sesekali mendapat pertanyaan dan pernyataan tentang hidup yang sudah aku lalui.
Tapi sayang sekali, malam ini aku gagal melakukannya. Ayah harus istirahat karena besok dini hari harus bangun berangkat melaut. Jangankan duduk bersama bersila, dari raut wajahnya tampak guratan lelah yang seakan berbicara padaku ‘jangan malam ini, aku belum bisa bicara banyak denganmu’. Aku tertunduk lemas sembari menahan sakit di tangan yang digigit adikku. Sepertinya dia mau mengajak main, tapi entah. Aku memilih mengajaknya membantu Ibu di dapur.
Aku terdiam berdiri termangu membisu di dalam kamar. Aku lihat jendela belum sepenuhnya tertutup. Samar” aku merasakan angin bertiup menerpa wajah kusamku. Perlahan aku duduk di depan meja kamar dengan tumpukan buku di dalamnya. Aku sisihkan satu”. Ternyata koleksi di meja ini sudah mulai disesaki oleh komik adik keduaku. Simpul senyumku mengembang kecil. Bagi Ibu, ini adalah alasan yang tepat untuk marah pada adikku saat koleksi bukunya hanya komik. Tapi bagiku, ini menunjukkan perkembangan karena dia mulai suka membaca.
Suasana malam ini sudah hampir sepi. Padahal jarum jam di tanganku masih menunjukkan angka 8. Bahkan lalu lalang kendaraan di depan rumah hanya menyisakan becak” mengantar barang” pemasok ikan berupa es batu. Beberapa diantaranya menyapa ayah dan dibalasnya sekenanya. Pandanganku kemudian tertuju pada ayah yang beranjak dari depan TV menuju kamar. Langkahnya sedikit lunglai, seperti ada batu gunung yang menahan dirinya berjalan.
Hmmm.. Hai ayah, seandainya Kau mengijinkanku untuk menggantikan posisimu, sungguh aku sangat senang. Aku ingin sekali tau bagaimana memiliki bahumu. Bahu yang menopang ribuan derita tanpa tepi. Bahu yang harus Kau gunakan melihat untaian ujian yang datang setiap hari. Bahu yang Kau bawa pulang tiap senja dari laut yang keji. Bahu yang 25 tahun ini setia menemani Ibu dengan kisah harmonis dan pertengkaran yang menguras emosi.
Tapi Kau selalu bilang, bahwa setiap manusia memiliki jalan dan perjuangan sendiri-sendiri. ini jalanku dan ini jalanmu. Kau harus merasakan sakit sebelum hinggap rasa senang. Kau bilang bahwa aku harus berada di luar sana lebih lama, untuk memaknai perjalanan yang ditempuh. Aku tidak tau kapan aku harus berhenti mendengarkan ocehanmu, karena aku ingin sekali berada di sisimu, di sisi Ibu lebih lama. Berada di samping kalian di setiap detiknya. Sudah 12 tahun aku meninggalkan rumah dan hanya memiliki satu atau dua pekan saja di rumah di setiap tahunnya. Aku sudah tidak sanggup merantau tanpa melihat senyum kalian tersungging.
Sial, malam semakin larut saat aku tau aku hanya memiliki keinginan semu. Semua menyisakan sendu. Bahkan aku tidak sanggup memeluk Ibu. Dia terlihat kerepotan melayani setiap pelanggan yang masih datang ke warungnya. Ingin sekali berada di balik tubuhnya sambil memijat pundaknya. Tapi pasti dia marah karena itu hanya akan mengganggunya. Haahahaaha.. Aku masih ingat saat adikku yang lugu melakukannya setelah melihatmu kelelahan melayani mereka. Kau marah dan membuat Zein ngeloyor menahan sedu tangis berjalan ke arahku. Kemudian setelah sejam berselang, Kau datang dan mengecupnya. Hangat sekali. Taukah Kau Bu, aku iri melihatnya.
Kau selalu berpikir aku sudah besar diperlakukan seperti itu. Tidak layak dan memalukan. Tapi di sudut dada ini, selalu ada alasan untuk meginginkan setiap senti pelukanmu. Saat mataku lelah menatap layar komputer tiap hari. Saat otakku panas dan tak sanggup lagi mengurai semua informasi jasa layanan ini. Setiap pagi, aku hanya bisa memencet nomor hapemu dan mendengar suaramu dari seberang pulau. Setidaknya, suara 7 menit itu yang memberikan luapan rasa senang tanpa harus menyalakan TV melihat stand up comedy.
Awan malam sudah datang tanpa menyisakan cahaya bulan. Dia menyembunyikannya begitu sempurna sampai saat aku matikan lampu kamar, hampir tak ada berkas cahaya yang masuk. Dalam lelapku, dalam diamku, dalam hening ini, aku berharap dan selalu, aku tidak tau kapan hidupku akan berakhir, tapi semoga hidupku penuh manfaat bagi sesama.
Selengkapnya...
Dad, Once More..
Fine, I'm Out.. Keep Going On..
Surabaya siang ini terik seperti biasa, menegaskan kota metropolitan yang padat penduduk. Memang hari ini libur, tapi lalu lalang kendaraan masih ramai. Angka 27 di kalender berwarna merah, tapi tak merona. Merahnya pudar dengan kebohongan yang masih melekat di sudut pandangku.
Siang ini semuanya tak berjalan biasa. Gumpalan amarah terlihat jelas di handphone-ku karena kesalahan yang aku buat. Belum lagi wejangan pagi dari Pak Kos jelang aku berangkat kerja. Semuanya tambah ruwet saat beberapa rekanan di Malang meminta dan mengingatkan ini dan itu. Jadilah hari libur ini tidak sedap akhirnya. Paling parah, ada kebohongan yang tertinggal.
Tidak ada yang sempurna di planet ketiga dalam Tata Surya ini. Sama seperti penghuninya, semua rasa-nya juga tidak sempurna. Termasuk di dalamnya adalah kejujuran. Tidak ada kejujuran yang sempurna. Kejujuran akan luruh oleh sepercik kebohongan. Satu kebohongan akan menyertakan kebohongan lainnya. Begitu terus siklusnya hingga Kau berhasil menghentikannya di titik itu.
Hahahahaa.. Tiga paragraf di atas seperti meracau. Maaf, aku hanya sudah jengah dengan lingkaran sialan ini. Kau masih bersama 'dia' dan berbohong saat aku tanya. Padahal ada 'dia' yang masih berjuang menuju ke arahmu dengan gigih, dengan cucuran keringat serta air mata. Entahlah, semoga Kau memiliki alasan yang rasional. Semoga Kau tau apa yang Kau lakukan. Bukan aku jahat dengan tidak mengatakannya langsung. Tapi ini cukup menjadi pembatas bahwa aku hanya teman, partner, sahabat, saudara atau apapun namanya. Itu cukup membuatku tahu diri bahwa ada sekat privasi yang tidak bisa aku masuki berkali”.
Sudahlah, aku tidak ingin lagi membicarakan hal ini. Aku juga bingung kemarin saat ingin menyapa. Bukan karena sakitku, tapi karena bingung memilih kata pertama sebagai sapaan saking kesal mengatahui hal ini. Pusingku bertambah saat bangun dari sofa melihatmu yang sudah duduk dengan baju merah yang menyala. Seperti nyala api asmara yang belum bisa Kau sembunyikan.
Siang sudah berganti sore. Sinar matahari juga berpendar dengan gagah menunggu mega merah yang sunyi. Harusnya aku ikut si Kurus satunya memilih ikan di Pasar Ikan Gunungsari sana. Harusnya aku memindahkan sejenak senja dengannya bersama beberapa batang tembakau yang untungnya tidak membuat langsung mati. Biarlah, sudah sore, sudah saatnya senja Surabaya kembali hadir menguning di atap” rumah. Jelas sekali terlihat dari sini. Memintaku untuk mengabadikannya.
Aktivitas soreku ini kembali berlangsung di ruangan ini. Ruangan yang semakin aku benci, tapi di sinilah aku hidup dan belajar. Mengeluh tidak ada gunanya saat ini. Aku tidak ingin merasa angkuh dengan merasa tidak adil hanya masalah kecil yang aku anggap besar. Karena di luar sana, di dunia sekitarku ada manusia” lain yang tidak seberuntung aku duduk dengan pendingin bekerja menulis sesuai passionku. Oleh karenanya, aku tidak ingin meracuni ini dengan mengurusi hal” yang bukan urusanku dan terlibat kencang di dalamnya. Aku sudah berjanji untuk diam dan tak akan mengusik urusanmu yang satu ini. Ya, hanya urusanmu yang satu ini. Keep smile Sist, I still love You. Eh, ini sayang lho.. Ntar dikira lain, bisa berabe. ^_^
Selengkapnya...
Terimakasih, Masih 24..
Malam masih menyisakan panas yang sedari siang mendera Surabaya dan semua penghuninya. Dua AC ruangan tempatku berada saat ini hanya memberi sedikit angin untuk mengusirnya. Tidak terusik, hanya membisik seperdelapan detik. Bahkan membuka jendela ternyata bukan ide yang baik. Itu hanya membiarkan hawa panas di luar merajalela masuk perlahan.
Malam ini diperparah dengan sakit yang menyerang tubuh sejak Sabtu saat di Malang. Tubuh panas, meriang, hidung pilek, sedikit tersumbat dan bersin” sampai hembusan nafaspun terasa panas. Pertanda apa ini Tuhan..? Terakhir kali begini adalah saat aku menyakiti hati perempuan dengan mengatakan aku masih belum bisa wisuda karena malas mengrusnya; ibuku. Setelah itu aku terbaring sakit di kamar dan tidak bisa melanjutkan aktivitas biasa juga kerja.
Dua hari lalu, Jumat (16/5) adalah hari ulang lahirku ke-24. Seperti biasa, aku sudah biasa tidak merayakannya. Bagiku ini hanya seremonial untuk mengakhiri kontrak dengan Tuhan di kehidupan ini secara perlahan. Tahun demi tahun, berkurang dan terus tergerus. Entah disertai sakit ataupun cara” meninggal lainnya. Karena saat usia semakin bertambah, ironisnya masa beribadah di dunia semakin berkurang.
Selain keluarga, aku hanya beruntung memiliki teman. Merekalah yang kemudian mengurangi beban sisa kontrak ini dengan senyum, emosi dan air mata. Merekalah yang membuat simpul senyum itu, menyulut emosi dan memainkannya serta menyeka air mata yang secara alami dimiliki manusia. Manusia biasa. Seperti aku.
Ya, aku manusia biasa yang memiliki semua rasa alamiah seperti digariskan Tuhan, putus asa misalnya. Aku sudah putus asa untuk kembali menarik dan menyatukan benang akademisku. Semakin aku kumpulkan, semakin terasa jika hal itu hanya dipaksakan. Tentu saja hasilnya tidak bagus. Sudah berkali” aku melakukannya di sini, di kota ini. Tapi aku tak kunjung mendapatkan sentuhan seperti di Malang dulu.
Aku sudah kehabisan ide. Akalku mandeg tiba” tanpa lagi menggenggam berkas stimulus yang biasa sampai ke otak. Aku merasa bodoh di sini. Bahkan aku merasa kalah. Kalah jika disandingkan dengan teman” sejawat di sini. Entahlah, aku hanya merasa jemu dengan semua kesemuan ini. Malah aku berani mengatakan bahwa minat bacaku berkurang. Meskipun aku masih melakukan rutinitas biasa belanja majalah tiap minggu dan buku setiap bulan, tetap saja minatku tak segede dulu. Sial.
Lebih sialnya, malam ini aku menyadari satu hal. Masih dengan tangan dan jemari bau minyak kayu putih habis aku oleskan ke beberapa bagian tubuh, aku menyadari satu hal ini. Aku sadar bahwa aku tidak memiliki resolusi yang jelas di usiaku tahun ini. Gilak kan..?! Shit banget Men. Padahal banyak yang harus aku lakuin di tahun yang sudah berlangsung 5 bulan ini. Tapi aku belum melakukan apa”, tidak untuk harapan bahkan tidak untuk sebuah keinginan.
Aku hanya berpikir hal ini kau rasakan karena efek dari sakit saja. Semoga hari” selanjutnya aku sudah memikirkan, menggenggam dan memiliki resolusi” tersebut. Aku sudah tidak kuat lagi terus membayangkan mata mereka. Mereka yang kecewa denganku karena terlalu besar memberikan nilai padaku. Padahal mereka adalah alasan terbesarku untuk meninggalkan asmara walaupun mestinya bisa berjalan beriringan.
Malam ini, di ruangan ini aku hanya mampu mengingat satu pesan ayahku dulu. Mungkin karena kemampuan tubuhku yang tidak mengimbangi jadinya aku hanya mengingat satu. Satu yang dulu aku anggap masterpiece dari ayahku. Tapi belakangan aku melihat pesan ini terkenal di mana”. Ternyata itu sebuah quote yang entah siapa pencetusnya. Ayahku mengatakannya saat ditelpon “Nak, badai yang tak langsung membuatmu mati, akan membuatmu lebih kuat dari sebelumnya”.
Terimakasih Ayah. Mungkin Kau tidak memberikan selamat. Seperti biasanya, tidak ada tradisi itu di keluarga untuk anggota yang ulang lahir. Tapi Kau sudah memberiku nasihat yang terus membekas dan aku ingat malam ini. Jangan khawatir Ayah, aku memiliki teman” di kehidupan ini. Mereka kemudian aku anggap sebagai keluarga yang aku pilih. Satu terbaik diantaranya memberiku thermal mug (aku juga bingung apa namanya) kemarin. Melihatnya, jadi rindu duduk bersila di depan rumah ‘ngopi’ bersamamu.
Selengkapnya...
Cerita Egois Untukmu Sista..
Hai Perempuan..
Langit Surabaya sudah gelap saat aku menulis ini. Mega merah yang menenggelamkan senja baru saja ikut terbenam. Sudah lama sekali aku tidak menemuimu. Bukan ku lupa, tapi aku hanya tak dapat lagi melukiskanmu. AKu sudah kehabisan kanfas. Sampai akhirnya aku menepi untuk menghela nafas.
Sayang sekali, kali ini bukan ceritamu yang aku sentuh untuk aku deskripsikan. Tapi selembar hubungan persahabatan dengan kekosongan kepercayaan yang sudah terlanjur aku sematkan. Kepercayaan yang luruh justru saat senyum yang aku lihat hanya kepalsuan. Alibi dari sebuah fakta yang tak terkatakan.
Hai Perempuan..
Aku sangat mengagumi sebuah hubungan persahabatan daripada duri yang ada dalam kisah asmara. Pertemanan dengan tangan yang selalu menggenggam hangat selalu hadir memberikan kenyamanan. Pertemanan yang selalu diselimuti kepercayaan tanpa jeda. Tapi mengharuskan selalu ada spasi yang tidak boleh disela.
Kota ini selalu memberiku panas yang tak sedikit. Aku selalu berusaha mengayunkan payung untuk berteduh. Tapi rindang pohon selalu berhasil memberiku lebih. Sembari berteduh, aku akan selalu berada di dekatnya menghalau aksi jahat burung gagak. Gagak yang tak Kau sukai. Karena di atas dahannya sudah ada sangkar burung lain yang menikmati hangatmu. Aku hanya tidak ingin ada burung lain yang menempati sangkar burung yang lebih dulu tersebut. Dan aku akan berbuat apa saja untuk menjaga burung dan sangkarnya dan dahan yang hangat tersebut dari ‘bujuk’ burung lain. Sungguh.
Hai Perempuan..
Kisahmu selalu inspiratif bagiku. Kau tampak kuat, jika aku mendengarkan ceritamu dengan seksama. Kau tampak hebat, saat aku membayangkan alurmu tanpa menyeka. Dan aku sangat tidak ragu menyebutmu sebagai sahabat, dengan begitu kita selalu terbuka. Aku bahkan menyayangimu layaknya saudara. Dan hanya itu alasanku untuk tetap menjagamu mempertahankan keberadaan burung dan sangkarnya di atas pohon tadi daripada menerima kerlingan mata burung lain.
Aku akan sangat sakit hati seperti dua hari ini, jika Kau benar” melakukan itu. Melupakan 'dia' untuk memilih 'dia'. Karena aku yakin dia selalu ada buatmu. Memberikan nyaman dan kesungguhan, bukan kehadiran sesaat yang meletup-letup. Dia selalu berusaha keras untukmu meskipun ada ragu terbesit, bukan mengalihkan fokusmu dengan bahagia sesaat.
Aku juga akan cemburu, karena nantinya Kau juga berhenti memberikan rindang itu pada yang lain termasuk padaku. Terdengar egois memang. Atau mungkin Kau berpikir ini adalah hidupmu dan aku hanya manusia yang numpang berteduh. Tidak ada urusan ataupun hak. Tapi..ah sudahlah. Maaf.
Hai Perempuan..
Seperti yang aku tulis sista, Kau bisa saja mengatupkan bibir untuk tidak berkata.. tapi tidak dengan senyum itu, senyum yang menandakan kebahagian dan menyimpan kebohongan..
Selengkapnya...
Rindu Bertanya..
Hai, apa kabar..?
Aku baru sadar ini hari Rabu. Ini hari kelahiranku. Tapi aku tidak dengan sengaja menunggu menggoreskan lagi rinduku padamu sampai hari ini tiba. Hanya saja mood-ku menulis tentangmu kembali membuncah siang ini. Aku berharap Kau tidak terganggu dengan hadirnya rindu ini. Mungkin getarannya sampai di nadimu dan membuatmu berdenyut bingung. Tenang, itu rindu dariku.
Hai, apa kabar..?
Sebenarnya aku tau kabarmu. Aku selalu tau. Hanya saja, aku masih belum menggerakkan semua anggota tubuhku untuk menyapamu. Semalam aku melihatmu dari kejauhan dengan pakaian gelap sama seperti kamarku saat ini. Mengenakan jaket biru berselonjor kaki di ruangan itu. Kau kembali menutup wajahmu setengah dengan tatapan sinis bersandar di balik tembok putih. Seperti biasa, Kau masih manis, anggun dan smart.
Hai, apa kabar..?
Hujan kembali mengguyur Surabaya deras. Deras sekali. Semoga hujan ini kembali membersihkan abu vulkanik erupsi Gunung Kelud yang menyelimuti tebal hampir semua wilayah Kediri dan sekitarnya. Tapi yakinlah, hujan ini tak akan mampu melunturkan rinduku padamu. Walaupun aku tak tau pada siapa hatimu kini berlabuh.
Hai, apa kabar..?
Hahahahaa, tiga paragraph di atas sangat kacau. See, bahkan jemariku tak bisa menggambarkan dengan tenang rindu ini. Aku sangat membenci pada tulisanku yang kurang purna. Hanya saja aku tidak ingin kehilangan momen kerinduan ini. Kerinduan yang selalu menghantui tiap detik yang aku lewatkan. Kerinduan yang berhasil menghasut penglihatanku tetap terjaga dan menujumu. Kerinduan yang berhasil aku tahan sampai kembali mendengar suaramu malam itu. Kerinduan yang tidak berhasil menyembunyikan kekhawatiranku padamu malam itu.
Hai, apa kabar..?
Mungkin di sana Kau telah menetapkan hati menetapkan sebuah nama untuk Kau simpan. Menetapkan tangan yang nantinya akan menggenggam hangat telapak tanganmu dan mengusir angin malam di sekitarnya. Dulu akau pernah merasakan cemburu yang begitu hebat. Tapi kini aku sudah belajar dengan baik. Berikanlah senyummu itu padanya dengan baik. Cemburuku akan terbakar saat bibirmu kembali menyunggingkan senyum itu. Senyum yang selalu meluluhkan kerasnya siang di kota ini. Tapi tak usah khawatir, cukup biarkan saja aku menyukaimu. Karena dengan begitu Kau selalu hadir di sini, tepat di hati ini.
Hai, apa kabar..?
Semoga baik” saja, seperti doaku yang selama ini aku panjatkan untukmu..
Selengkapnya...
Satu Paragraf untuk Menghentikanku..
Akhirnya aku tiba di titik ini dengan menuliskan satu paragraf untukmu. Satu paragraf yang akan menjelaskan bahwa aku tidak memiliki alasan untuk mengusik hidupmu. Menganggu aktifitasmu. Membuatmu terasing. Membuatmu risih dan tak lagi mau menyapa. Satu paragraf yang ingin menjelaskan bahwa benar aku menyukaimu, tapi aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman sehingga jari jemarimu tak lagi lentik menyapaku dengan canda. Benar aku suka, tapi itu hanya sekelabat rindu. Bukan hasrat yang menggebu untuk mencintaimu apalagi menjadikanmu seorang kekasih. Masih banyak yang lebih pantas mengejarmu dan lagipula aku tau diri saat Kau katakan biasa saja. Satu paragraf yang akan menghentikanku untuk berjalan ke arahmu. Satu paragraf ini akan menyimpan semuanya. dan satu paragraf ini untuk menghentikan semua filosofimu dan ketakutanmu. Keluarlah dari sana. Dalam penglihatanku, Kau memiliki kekuatan yang mungkin tak Kau sadari. Kau lebih kuat dari yang Kau pikirkan. Semua orang melihatnya, apalagi aku. Aku melihat itu jauh sebelum aku menyukaimu. Saat pertama kali aku melihatmu di ruangan besar itu. Aku tidak ingin meremehkan. Sekali lagi aku tidak ingin meremehkan luka itu. Tapi Kau harus menghentikan semua ketakutan itu. Kau harus memperkecil sifat melankolismu. Kau bisa tegar dan tegas lebih dari yang Kau lihat pada dirimu saat ini. Walaupun aku tetap menyukaimu, memperhatikan setiap detilmu, atau mungkin juga sayang padamu tapi akhirnya satu paragraf ini akan menjauh darimu. Selengkapnya...
Berlalu dengan Biasa..
Malam ini semuanya berlalu terlalu biasa. Bahkan sapaanku melewatimu tanpa terasa. Aneh, tapi itulah yang terjadi saat tadi hujan reda. Semuanya biasa. Aku sudah tak lagi bisa membuatmu tertawa. Seperti lupa caranya. Seperti tak lagi bisa. Semuanya seakan tak sama. Bukan aku lupa. Tapi aku tak bisa menghadirkan tawa. Tawamu yang biasa. Tawa yang sering Kau seunggingkan saat aku melempar canda. Semuanya berlalu biasa. Ya, terlalu biasa.
Senyum itu. Senyum yang dulu tergantung di dinding langit kamarku sungguh berarti. Kini seakan tiada artinya. Senyum itu. Senyum itu gemanya telah hilang dalam ruang. Tapi masih aku ingat senyum itu. Senyum yang lebih lebar, lebih lepas di bulan ini tahun lalu. Bulan Desember.
Mungkin sudah waktunya aku bebas. Bebas dari semua ingatan. Bebas dari kenangan. Semua yang membekas tanpa cerita. Semua yang tertinggal tanpa ada perubahan. Mungkin benar apa yang Kau perbuat. Kau harus segera beranjak dari tempatmu saat ini. Berdiri sendiri dalam hening malamku. Terus menerus meninggalkan jejak dari penglihatanku. Mengintip ke arahku dan memenuhi hampir semua pandanganku.
Sudah lama sekali aku ucapkan selamat tinggal pada senyum itu. Tekadku sudah lama aku kumpulkan untuk tak lagi melihat ke arahmu. Tapi apa dayaku. Kau selalu muncul. Bukan salahmu. Karena kemunculanmu tak pernah aku duga. Kau hadir begitu saja dalam kepala tanpa aku mau. Bahkan aku dapat melihat setiap senti senyummu. Senyum yang membelah batas kegialaanku. Senyum yang tak bisa menghentikan kerinduanku. Dan sayangnya itulah alasan aku pergi dan kini Kau harus juga pergi. Atau lebih tepatnya, Kau harus menghilang jauh dariku. Ah tidak adil. Harusnya aku yang memindahkan semua tentangmu.
Jika Kau tau, Kau adalah satu”nya alasanku malam itu untuk tersenyum. Seperti aku katakan Kau sungguh dekat malam itu. Bahkan aku bisa menyentuhmu jika aku mau. Tapi aku hanya membiarkan pendengaranku mendengarkan bisikmu. Bisik dengan senyum yang membungkusnya. Apa jadinya jika senyum itu Kau buka dan membiarkanku melihatnya..? Tapi aku. Aku yang selalu membuang dan mengalihkan pandangku. Walaupun beberapa kali aku menyebut namamu dengan sengaja. Sengaja agar aku mendengar suara lembutmu. Tapi itulah jadinya, Kau menjawab lirih tanpa pandangan tajam yang biasa aku lihat.
Malam ini sama saja dengan malam itu. Hampa seperti lubang yang sekarang bersarang di diriku. Seperti tidak pernah, sedang dan akan terjadi apa" di antara kita. Antara aku dan kamu. Antara hati yang tertutup kesunyian. Kesunyian yang lebih banyak menjadi temanmu. Teman yang selalu bisa membuatku cemburu. Cemburu untuk berada di posisi itu. Posisi yang ingin aku tempati. Bisa mendengarkanmu. Bisa memberikanmu semangat itu. Bisa memberikan semua yang ingin aku balas padamu. Bisa memberikan warna lain seperti Kau mengenalkan lebih dalam tentang kegelapan.
Aku tidak tau pada siapa tulisan ini akan tertambat. Aku tau ini hanya akar rindu yang merambat. Walaupun aku juga tau ini hanya akan menjadi alasan senyummu yang terlambat. Sangat berat. Tapi yakinlah hujan itu adalah sinergi awan dan air yang mengalun lambat. Lalu mengalir ke arah tujuan dengan tepat.
Kamu.. Kamu.. Kamu.. Kamu tidak akan mendengar nama yang selalu terpanggil di ruang hati ini. Begitu juga aku tidak akan mengerti apa yang Kau inginkan dari diri ini. Pergilah atau Mendekatlah..
Selengkapnya...