Siang ini aku kembali mendengar suaramu. Meskipun bukan berarti aku melihatmu. Aku tau, Kau berada di ruangan itu. Kau ada di gedung itu. Gedung yang selalu memiliki alasan untuk memisahkan kita. Gedung yang selalu berhasil menciutkan egoku untuk menahanmu lebih lama berada di sini. Aku sangat membenci saat” seperti ini. Saat aku tak bisa menyapamu dalam tulisan apalagi suara. Tapi aku akan sangat kecewa jika aku mengganggu proses itu. Proses Kau kembali ceria dan menyunggingkan senyum itu padaku. Ya, ke arahku.
Siang ini aku lebih beruntung. Suaramu berhasil meredakan sesak dada yang penuh berontak ini. Padahal sore kemarin ada sendu yang menggelantung berat di dadaku. Aku juga tidak tau apa sebenarnya yang berada dan mengisi di dalamnya. Aku hanya merasakan ada sesuatu yang ingin membuncah ke luar dari dada ini. Jangan ditanya, karena aku juga bingung apa itu. Tapi aku tidak menyangsikan jika itu semuanya tentang Kamu.
Tawa lepasmu adalah pandangan favoritku selama tiga hari kemarin. Sebenarnya senyum kecilmu saja sudah cukup membuatku semangat untuk membuatnya lagi. Tapi tawamu adalah bonus yang sangat istimewa. Dan aku berhasil membuatnya beberapa kali. Walaupun Kau mengganggu dengan selalu menatapku sinis, tapi aku tidak pernah menyeka pandangan itu. Aku akan menerima semua emosimu asal Kau memberiku tawa.
Lalu, jika Kau tanya tempat favoritku tiga hari kemarin, dengan lantang akan aku jawab tempat duduk di sampingmu. Entahlah, alasannya bisa bermacam”. Tapi ada kenyamanan yang tiada sangka saat Kau membolehkan aku duduk di sampingmu. Gemetar dan canggungku hilang. Aku bisa berbicara denganmu sangat lepas; bukti kenyamanan yang sangat pas. Tapi sayang sekali, itu terjadi hanya sekitar 40 menit sebelum seorang teman datang. Bukan aku tak suka, aku masih duduk di sampingmu saat itu. Tapi itu tak cukup memberiku kenyamanan. Jika Kau tanya dengan detail, aku tak tau. Tapi aku sangat memfavoritkan tempat itu; duduk di sampingmu.
Kau selalu ingin melihatku. Tak apa, karena akan konyol jika Kau melupakan wajah ini. Tapi akan sangat senang jika Kau menyisakan tempat di sampingmu untuk aku tempati. Sebenarnya, aku juga ingin selalu melihatmu. Mata ini harusnya melihatmu lebih sering. Tapi aku tidak memiliki banyak kemampuan untuk itu. Menatap matamu saja aku berjuang. Saat Kau berbicara, pandanganku selalu tertuju pada sepatumu. Sepatu yang selalu aku injak agar kotor dan tak lagi bisa Kau pakai jalan”. Mungkin jahat, tapi aku tidak ingin Kau selalu bepergian, setidaknya sampai Kau kembali 100%.
Siang ini, di kamar ini, kegilaanku karenamu masih berlanjut. Tapi tak apa, aku bisa menahannya dengan menuliskan namamu di setiap sudut kamar. Nama yang selimuti tebal pandangan rapuhku. Dengan begitu, aku tak akan sadari bahwa Kau tak lagi di sini. Bahwa tak ada lagi tempat favotit itu. Tak ada lagi pemendam mimpi yang selalu ingin aku temukan. Tak ada lagi sesumbar dari lagu Lyla yang selalu Kau dendangkan.
Aku tidak tau secara pasti apa yang sebenarnya ingin aku tulis di cerita kali ini. Aku hanya tidak mampu lagi berbohong untuk mengatakan bahwa aku tidak merindukanmu. Mungkin kedengaran lebbay, tapi siang ini, semua angin yang berhembus mengarah ke telingaku seakan membisikkan setiap kenang kita. Karena semakin hari terbangun, aku memikirkanmu. Tapi aku sadari, ini tidak akan menjadi nyata sebelum kita bertemu lansung. Kau masih ingat aku memplesetkan sebuah pepatah yang temukan, bahwa ‘gelap tidak bisa mengusir gelap, hanya cahaya yang bisa.. rindu tidak akan mengusir rindu, hanya pertemuan yang bisa’.
Oleh karenanya, aku ingin sekali mengatakan padamu: ‘Ijinkan tulisan”ku hidup dengan semua ilustrasimu’.
Selengkapnya...
(Masih) Satu Cerita..
Time; Generasi, Mewarisi dan Inspirasi
Sabtu, 28 Juni 2014
Pagi ini aku kembali mengerahkan tenaga menuju rumah. Kakiku tergerak ingin sekali pulang sampai” malam tadi aku resah. Memikirkan setiap teks yang masuk ke inbox hapeku dari dia dengan gelisah. Bahkan aku berpikir, apa dia benar” melakukan ini agar aku pulang ke rumah.
Dia yang aku maksud adalah Zainal, adikku, anak kedua dalam keluarga ini. Anak yang selalu menjadi objek untuk disalahkan dengan tingkahnya yang belum baik. Anak yang selalu dianggap sebagai perusuh oleh Ibu karena selalu dibandingkan denganku. Anak yang selalu mengganggapku sebagai kakak sekaligus tembok yang harus dilewati. Anak yang mungkin membenciku karena tak pernah ada waktu bersamanya. Tapi aku selalu tau, dialah adik yang selalu aku rindu untuk diajak bermain.
Dengan hampir dua belas tahun aku tidak di rumah, waktuku bersamanya sangat minim. Aku bahkan tidak bisa mengingat tanggal lahirnya dengan jelas. Walaupun semua tanggal lahir kami tercatat saat kita lahir di lemari ayah di kamarnya. Tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Yang aku ingat, hanya setiap perilaku dan kenakalannya. Nakal yang sampai melibatkan Ibu dan Ayah. Ibu dipanggil Kepala SD berkali”, dan Ayah sampai harus minta maaf pada seorang wali murid lainnya karena membully anaknya hingga menangis trauma sampai berhari”.
Aku mengingat setiap cerita Ibu dengan jelas tentang kenakalannya. Tapi aku juga inget setiap senyum yang Ibu sunggingkan setelah cerita itu berlalu di telinga. Tidak peduli senakal apapun anaknya, dia tetaplah anak yang Ia sayangi. Aku pun juga demikian. Aku tak berhenti mencintainya, dan keluarga ini, keluarga besar ini. Keluarga besar yang penghuninya sedang bertebaran di mana” ini.
Dengan mengantongi salah satu alasan itu, aku pulang. Aku naiki bus ke Perak pk. 7 di depan MaPolsek Wonokromo. Di perjalanan kota, aku gelisah karena duit di dompet ternyata tinggal dua lembar lima puluh ribuan. Biasanya, kondektur complain dan marah saat melihat kita menjulurkan duit dengan nominal segede ini. Padahal ongkosnya hanya lima ribu rupiah saja. Kegelisahanku berlalu seiring bergantian naik pengamen dan menghibur penghuni bus. Karena ini bus biasa tanpa AC, jadinya gampang dimasukin pengamen. Seperti biasa, tidak semua pengamen enak didengerin.hal itu berdampak pada penumpang yang ogah”an memberikan duit buatnya.
Bus sudah memasuki halte Penyebrangan Perak saat aku menghentikan lamunanku. Sial, aku melamun dengan headset di telinga dari handphone-ku. Aku segera melangkahkan kaki keluar dari bus dan menuju loket beli tiket. Saat aku keluarkan dompet, ternyata duitku masih utuh dua lembar 50ribuan tadi. Ah, ternyata aku belum bayar bus tadi. Dan sepertinya kondektur melewatkanku. Senyum sok asik campur bersalah nongol di bibir. Saat aku berada di depan loket, tiba” tiga orang lain yang berjalan di belakangku main serobot dan bayar loket. Aku lupa, ini orang” Madura semua. Orang”ku. Orang” yang gak paham betul dengan budaya antre. Akhirnya aku mengalah dan menunggu sampai tidak ada lagi orang yang berada di belakangku, kemudian aku bayar.
Hmm, akhirnya aku berada di kapal penyebarangan, atau biasa kita sebut dengan kapal fery. Sudah hampir empat kali pulang aku tak menaikinya. Artinya, sudah sekitar empat bulan aku selalu melewati Suramadu sebagai akses pulang dengan sepeda motor bersama sepepuku. Tapi kali ini, aku sendirian dengan aroma khas Madura di kapal.
Aku sempatkan membaca majalah TEMPO yang ada di tas, sebelum kantuk datang menyerang. Akupun memilih memasukkan majalah ini dan tidur di kursi. Sekitar 20 menit kemudian aku terbangun oleh klakson kapal. Entah siapa yang dia klakson. Mungkin ada ikan lewat menghalangi jalannya sehingga dia harus memberikan klakson agar si ikan minggir. Tapi saat aku buka mata, terpampang jelas, penyebarangan Kamal di depanku. Aku sudah tidak sabar turun dan menemui Zainal.
Setelah menghabiskan perjalanan sekitar 1,5 jam, aku sampai di rumah pk. 11.00. Saat aku munculin wajah tanpa suara langkah kaki di depan pintu rumah yang terbuka, seorang perempuan kaget bukan kepalang. “Lho, kemarin bilang ke Ibu gak bakal pulang..? Kok sekarang udah nongol..?”, Ibu ngomel” seperti biasa.
“Assalamu’alaikum warahmatullah. Iya Bu, pikirku sebelum Zainal balik pondok besok, rasanya pengen ngobrol dan denger ceritanya”, jawabku sambil mengambil tangannya untuk aku cium.
“Hah..? Mim, kamu kenapa..? Tumben mau ketemu Zainal..? Adikmu bikin masalah..?”, tanya Ibu dengan mendongakkan kepalaku.
“Hmm, enggak Bu. Cuma pengen ketemu aja, ya mumpung dia libur. Lagipula, besok kan mulai puasa, aku mau memulai Ramadhan dengan sahur pertama di rumah. Baru kali ini bisa kayak gini Bu”, jawabku sekenanya.
“Ooh, bagus. Nal, Kakakmu dateng”, tereak Ibu memanggil Zainal. Aku masih berusaha melepas sepatuku di lobi rumah.
“Kak”, Zainal datang meraih tanganku dan membungkusnya dengan ciuman. Seperti biasa, anak ini selalu bisa menghormati anggota keluarga yang lebih tua. Tapi Zainal selalu belum bisa menghormati semua perjuangan Ibu untuk menyekolahkannya, dengan prestasi. Setidaknya itu yang Ibu selalu keluhkan saat di telpon.
Di belakang Zainal, ada Zein, adik paling bontot di keluarga ini. Dia datang malu” dan menirukan Zainal mengambil tanganku serta menyalaminya. Aku tersenyum dan berbalik arah untuk kembali melepas sepatuku. Tiba” dari belakang, Zein menggelantung dengan tangan melingkar di leher dan pundak.
“Sepertinya, ada maunya tuh Kak. Paling minta dibeliin susu”, ujar Zainal melihat tingkah Zein. “Gak pernah tuh dia gitu ke aku Kak. Dia tau mungkin siapa yang punya duit”, kata Zainal lagi dengan memploroti celana pendek Zein yang dia kenakan.
Aku tertawa melihat mereka. Begitu aku masuk kamar, aku langsung taruh tas di samping pintu kamar dan merebahkan tubuh ke kasur. Semenit kemudian, Ibu berada di depan pintu dan menawariku makan. Aku langsung sigap karena lapar yang aku rasakan sejak semalam masih membekas sampai siang ini.
Seperti biasa, Ibu selalu menyajikan lauk favorit anak sulung dan keponakan”nya yang merantau; Kella Je Assem. Agak sulit menjelaskannya. Makanan yang hanya ditemuin di desa ini. Yes, hanya di desan ini. Aku, Kak Reza, Kak Hakim dan Kak Aziz sangat menyukai makanan ini. Mungkin hanya Mb’ Iseh yang agak menjauhkan diri.
Seperti biasa pula, Zainal selalu mengeluh saat Ibu begitu baik padaku dengan menghidangkan makanan” kesukaan.
“Yah, kalau Kak Hamim dating aja, semua makanan dikeluarin. Yang enak” selalu milik Kak Hamim. Heran, padahal Ibu gak tau Kak kalau Kamu bakal pulang hari ini. Tapi ada cadangannya”, aku dan Ibu tertawa.
“Kamu ini, selalu iri. Kenapa sih Kamu gak iri sama yang baik”nya. Nurul tuh juga sekarang prestasinya banyak. Kenapa gak Kamu iri-in sekalian..?”, kata Ibuku sambil menjewer telinga Zainal.
Cerita Ibu selanjutnya bermuara tentang Nurul, anak ketiga yang saat ini sekolah di sebuah pesantren di Malang. Nurul baru kelas 1 SMP, baru 1 tahun dia di Malang. Tapi dia sudah membawa pulang dan menyesaki lemari kami dengan enam piagam penghargaan dan 3 piala bergengsi di pesantrennya. Baru seminggu lalu sampai di rumah. Salah satunya, piala dan piagam penghargaan untuk santri teladan se asrama.
Sama seperti Zainal, Nurul juga menjadikanku Kakak serta musuh yang harus dia lewati. Dia juga bosan selalu dibanding”kan denganku. Sampai kelas 5 SD, mereka berdua tidak menonjol. Tidak pernah mewakili sekolah untuk mengikuti lomba dan menjuarainya. Aku dulu pernah dan membawa piala untuk Juara Mata Pelajaran se Kecamatan dan se Kabupaten. Hanya saja, Ibu selalu melebihkan” dengan mengulang prestasi biasa itu hingga masuk ke relung mereka berdua hingga membenciku. Sayangnya, perbandingan itu hanya berlaku di rumah, guru” di SD juga selalu melakukan hal yang sama pada mereka berdua saat tau kalau mereka berdua adikku.
Zainal tetap stay cool tanpa peduli mendengar hal itu. Dia masih menjadi ketua geng di kelasnya saat sudah memasuki tahun terakhir di sekolah. Mungkin bagi dia, hal inilah yang tak bisa aku lakukan, makanya dia menjadi semacam penguasa atau preman sekolah. Dan ya, dia berhasil membuat namanya terkenal di sekolah, tapi sebagai perusuh.
Sedangkan Nurul menjalaninya lebih baik. Saat dia sadar bahwa ini tahun terakhirnya di sekolah dan tidak berniat ada tahun lagi untuknya, dia bengkit melawan. Dia mati”an belajar bahasa Inggris. Dia kemudian mengajukan diri untuk mewakili sekolah di Lomba Pidato Bahasa Inggris se Kecamatan. Yeah, dia berhasil. Walaupun juara 3, tapi Ibu bangga menceritakan itu padaku. Ibu juga mengirim foto pada Nurul padaku dengan piala di tangannya. Sial, saat itu aku bener” bahagia.
Nurul tidak berhenti di situ. Suatu saat, dia bercerita pada Ibu bahwa dia menemukan ternyata hampir di semua buku tulis dan buku koleksiku, ada puisi di halaman belakang. Nurul meniru membuatnya, tidak hanya sekali dua kali. Tapi tidak pernah berhasil menurutnya. Akhirnya, Nurul menemukan cara lain, dia membacanya dengan gaya pujangga seperti di film”. Suatu saat, dia memberanikan diri meminta Kepala SD untuk mengikutsertakan dia jadi salah satu wakil di Lomba Baca Puisi se Kecamatan. Aku tertawa terbahak” mendengarnya. Bukan karena lucu, tapi perjuangan ingin menyaingiku dia lakukan dengan seserius seperti itu. Walaupun dia tidak tau secara pasti, apa yang dia lakukan.
Tapi setahun berlalu, dia sudah melakukan apa yang tidak aku lakukan di pesantren lalu, menerima 6 piagam penghargaan dan 3 piala di akhir tahun..!! Gilak..!!
Dari cerita siang itu juga, aku baru tau dari Ibu bahwa saat ini Nurul berusaha menghafal al-Quran seperti yang aku lakukan. Aku tidak tau dia akan melakukannya atau tidak, atau aku ragu. Karena dulu dia pernah mengatakannya padaku, ‘aku gak mau sekolah di tempat Kakak yang ngafalin Qur’an, itu berat’. Tapi jika dia juga melakukannya, aku tidak bisa lagi berkata apa” selain bahwa kebenciannya benar” dalam.
Dalam kemiripan wajah dan nasib, Ibu dan Ayah serta banyak orang lain mengatakan anak ganjil mirip dengan ganjil dan genap dengan genap. Jika diliat dari foto saatkecil yang dipajang di kamar, wajah Nurul memang mirip dengan wajahku saat kecil. Wajah Zein juga mirip dengan Zainal. Tapi aku tidak berharap nasib kita semua sama. Harus beda, setidaknya harus lebih baik dari aku.
Perbincangan siang itu terpotong oleh adzan Dzuhur yang baru saja berkumandang. Aku dan Zainal buru” bergantian ke kamar mandi untuk wudhu’ buat melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah itu kami kembali ke kamar yang masih ada Ibu di dalamnya dengan Zein. Perbincangan berlanjut pada penghakiman Zainal. Saat itu Ibu langsung memulainya ‘mumpung ada Kak Hamim, katakana apa yang Kamu inginkan..? Aku gak ngerti Nak, hanya Kamu yang gak punya keinginan di sini. Setidaknya Kamu punya cita”, biar kami juga tau yang akan kami lakukan padamu..’, kata Ibu menunjuk ke Zainal.
‘Jadi, Kamu masih belum tau akan ke mana setelah lulus..?’, ucapku kaget.
‘Bukan begitu Kak, Ibu terlalu membesar”kan. Aku sudah memikirkannya sejak setahun ini. Sejak Kakak selalu memarahiku di facebook. Tapi aku gak yakin, aku gak tau ini akan kalian dengarkan’, Zainal menghentikannya. Dia ambil nafas dan kembali berucap. ‘Aku ingin jadi koki yang gak hanya diam di satu tempat’, Zainal melihat kea rah mataku dan Ibu.
Aku kaget, Ibu juga. Ibu melihat ke arahku dengan menaikkan alis tanda beliau tak mengerti.
‘Maksudku, jadi koki yang bisa keliling. Tidak hanya di satu kota, jika bisa, tidak hanya di satu negara. Gampangnya, aku ingin berlayar seperti Kak Hakim tapi di bagian dapur. Memburu dollar di laut, sepertinya asik’, lanjut Zainal. Kali ini dia bernafas lebih panjang.
Ibu terdiam lebih lama, melirik ke aku berharap aku mengatakan sesuatu.
‘Hmm, itu gila. Tapi, jika itu yang Kamu inginkan, kenapa tidak. Mari buat plan’, sebenarnya aku asal mengatakan ini. Tapi aku beneran juga kaget mendengarnya.
‘Bentar Kak, jangan suruh aku kuliah. Kalaupun harus, aku ingin kuliah yang sebentar, cukup 1 atau 2 tahun’, Zainal memotong.
‘OKe, boleh. Aku akan memikirkannya. Ini pasti seru’, kali ini aku serius mengatakannya. Ini gila, tapi aku benar” sudah tidak sabar mewujudkan keinginan anak ini.
‘Oia Bu. Apa mungkin keinginan Zainal ada hubungannya dengan profesi Ibu. Jujur, saya pun suka sekali masak. Bahkan masak sudah menjadi hobi kedua saya setelah menulis. Di Malang lanjut Surabaya, aku benar” menyukainya’, kataku pada Ibu. Ibu hanya tersenyum kecil. Ibu kemudian melirikku dengan mata tajam seakan ingin mengatakan, ‘Kalian Gila’.
Langit senja sudah hampir muncul saat dering hape Ibu meramaikan ruang dengar kamar ini. Dari Ayah ternyata, senyumku pun mengembang.
‘Oh, udah sampe..? OKe, kebetulan semua anakmu ada di rumah. Ini mereka lagi di kamarnya. Oh, bukan. Nurul belum datang. Iya, mereka siap menjemputmu. Wa’alaikumussalam’, ucap Ibu mengakhiri percakapan di telpon. ‘Senang sekali..?’, tanya Ibu padaku.
‘Tidak ada yang lebih menyenangkan sore ini selain ngambek (menjemput orang datang) ayah dari laut Bu. Ini salah sat tujuanku pulang’, kataku sambil melepaskan kaos.
‘Aku sudah tiap hari sejak libur melakukan ini Kak, tapi aku tidak pernah bosan melakukannya. Kali ini lebih senang lagi karena ada Kakak. Ayoo Kak’, Zainal juga terlihat ganti celana.
Dari dulu, 12 tahun lalu, sejak aku meninggalkan rumah, aku selalu senang saat berkesempatan menjemput Ayah usai melaut. Dulu sekali, Zainal dan Nurul selalu heran kakaknya yang lucu dan imut ini segera pergi ke pantai saat ada kabar Ayah pulang. Entahlah, tidak bisa dideskripsikan dengan jelas. Tapi aku sungguh senang dan bahagia saat puluhan langkahku menuju laut.
‘Kak, aku mulai mengerti kenapa dulu Kamu sangat senang menjemput Ayah. Aku baru memahaminya. Mungkin Nurul juga demikian Kak’, Zainal membuyarkan lamunanku. Aku balas dengan senyum.
‘Oh iya, hmmm.. Kamu ingin seperti Sanji One Piece..?’, tanyaku saat kami keluar rumah dengan bawa bak buat ikan hasil melaut Ayah.
‘Iya Kak’,
‘Kamu mulai merokok..?’, aku meliriknya tajam.
‘Iya Kak’, aku kaget dengan jawabannya. Sial. Reflek bak yang aku bawa aku lempar ke kapalanya.
‘Duhh, sakit Kak. Lagian, aku niru Kakak’, aku terperangah mendengarnya. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Zainal, akhir tahun lalu, saat pernah mampir ke kosku di Surabaya, pernah melihat aku merokok.
‘Jika itu tidak baik, jangan ditiru’, ujarku.
‘Iya Kak’, jawabannya mengesalkan.
Setibanya di pantai, kami samar” melihat pejala, sebutan untuk perahu nelayan di sini, yang dipakai Ayah muncul. Jauh. Kami masih ngobrol mengisi kesempatan itu.
‘Apalagi yang belum saya ketahui Nal..?’, tanyaku padanya.
‘Hmm, saya sedang semangat menjalani sisa liburan ini Kak. Itu aja yang harus Kakak tau’, jawabnya.
‘Kenapa..?’,
‘Baru sekarang Kakak pulang ke rumah karena ada saya. Saya jadi tujuan Kakak pulang, seneng banget. Tapi lebih seneng lagi kalo saya nyampe duluan di pejala Ayah. Haahahahaa, ayoo Kak’, katanya sambil berlari melewati riak ombak. Aku tersenyum lebar. Sial, aku gak menyangka hal” kecil seperti ini membuat dia senang. Aku menghela nafas beberapa detik sambil melihat Ayah melambaikan tangan ke arah kami. Aku pun menyusul Zainal.
‘Assalamu’alaikum Pak’, salamku pada Ayah di tengah laut sambil menjulurkan tanganku meminta tangannya.
‘Wa’alaikumussalam. Kenapa pulang Mim..?’, tanya Ayah dengan memberikan tangannya ke arahku.
‘Gapapa Pak, biar rame aja sahur pertama’, jawabku asal. Aku dan Zainal langsung naik ke atas pejala, memindahkan ikan” tangkapan Ayah ke bak yang kami bawa. Sementara itu Ayah menurunkan jangkar dan mengikat pejala dengan tali tampar.
Dari kejauhan, di pantai, aku melihat Zein sedang guling” nangis dengan Ibu berdiri di sampingnya. Aku melirik Zainal, dia menaikkan bahu dan mengatakan ‘Biasa Kak, Zein pengen ikut, Cuma pasti Ibu gak bolehin. Makanya nangis, tapi kadang bakat Kakak di teater nular kayaknya ke Zein. Tuh, dia dramatis gitu sampe guling” ke pasir’, kata Zainal panjang. Aku mengangguk mendengarnya.
Sumpah sore ini aku sangat senang. Baru segini aja yang ada di rumah, tapi itu sudah cukup memberikan sumbangan lekuk senyum di bibir. Zainal tak berhenti melihat ke arahku yang senyum” sendiri dari pantai sampai rumah. Aku merasakan sore ini nyaris sempurna. Semilir angin dan senja yang perlahan berpendar menggodaku untuk lebih lama berada di luar rumah dengan mata terpejam.
Petang kemudian menjemput sore. Hingga akhirnya semuanya berlalu dalam larut malam. Ibu dan Ayah tak berhenti saling sindir tentang program TV yang akan disetel. Zainal memilih bela Ayah, Zein lebih banyak gigit Zainal karena bela Ayah. Aku, aku tertawa dengan canda Ayah yang lucu banget. Kadang aku berpikir, apa selera humorku turunan dari Ayah ya..? Tapi dulu gak ada tuh stand up comedy. Haahahaa..
Kemudian Ibu banyak cerita tentang masa kecilku. Ini adalah momen cerita keluarga yang selalu aku tunggu saat malam. Ibu menceritakan kisah” masa kecil kami atau masa” kecil Ibu dan saudara”nya. Saat cerita itu mengalir ke kisah kecil Zainal, Ibu agak kecewa. Menurutnya tak ada yang bisa diceritakan dengan baik, karena mengecewakan. Aku tertawa, Zainal tertawa, Zein masih sibuk mukul”in Zainal karena bersandar di paha Ibu. Ayah kemudian buka suara, ‘Ini semua gara” Nurul. Nurul terus yang disanjung. Ntar Bapak beliin Kamu piala dan print-kan piagam deh buat ngalahin Nurul’, canda Ayah ke Zainal dengan lirikan tajam pada Ibu. Kontan Ibu, aku dan Zainal ketawa ngakak.
Ibu tidak mau kalah, beliau langsung nyambar ‘Iya bagus, print yang banyak. Ntar setelah diprint buat bungkus gado-gado Ibu aja’, ibu menimpali disambut senyum Ayah.
Malam itu juga, Ibu mengatakan sebuah nasihat berharga buat Zainal. Sambil memegang tanganku, Ibu berkata padanya ‘Nak, jangan sampai takut berbuat baik. Berbuat baik tidak ada ruginya. Jika Kamu merasa rugi, berarti itu bukan kebaikan’, Ibu semakin kencang memegang tanganku. Aku melihat Ibu, entah apa maksudnya meremas tanganku untuk mengucapkan nasihat ini pada Zainal.
‘Bukan sekarang balasannya, tapi pasti ada manfaatnya. Bisa jadi, apa yang Kakakmu rasakan sekarang adalah buah kebaikan semua orang rumah. Semua kebaikan berdampak runtut’, Ibu merenggangkan remasan tangannya. Sial, ini nasihat nusuk banget. AKu baru mendengar Ibu menasihati dan muka Zainal menyimak begini. Biasanya dia enggan menyimak pesan selain dariku, karena aku memberikan nasihat dengan dahi mengkerut. Tapi baguslah, dia mendengarkan dengan baik.
Malam itu akhirnya harus berakhir. Aku tenang melewataknnya. Banyak hal yang bisa aku simak dari percakapan tadi. Aku pun sangat senang dengan semua kemauan yang ditunjukkan adikku. Aku harap itu tidak menguap. Karena jika itu hasrat, aku akan selalu berada di sampingnya. Satu lagi yang aku dapatkan dari rumah hari ini, bahwa setiap tindakan terinspirasi, termasuk tindakan yang tidak baik. Entah baik atau tidak, sampai tulisan ini aku buat, aku tidak lagi merokok.
Selengkapnya...
Dad, Once More..
Sabtu, 31 Mei '14..
Bagiku, semua hari adalah perjalanan. Perjalanan untuk dikisahkan. Sebagian aku sembunyikan. Tapi tetap menyentuh hikmah untuk aku berikan. Semuanya tersimpan tak rapi di memori hampir terabaikan. Karenanya, aku memilih untuk dituliskan.
Sore ini aku kembali menghirup udara rumah. Rumah dalam arti sebenarnya. Rumah yang di dalamnya berpenghuni keluarga; ayah, ibu dan adik kecilku yang paling bontot serta nenek, perempuan paling dicintai oleh 10 cucunya di rumah ini. Rumah yang hanya sebulan sekali aku singgahi. Rumah yang hampir aku abaikan karena perjalanan pendidikanku. Ya, aku harus meninggalkan rumah sejak usia 12 tahun, sampai sekarang. Tiap tahun, aku hanya berkesempatan pulang dua kali. Itu juga yang membuat perlahan air mataku mengering untuk merindu rumah.
Kali ini aku pulang dengan harapan tinggi; ngopi bareng ayah. Mungkin terdengar biasa dan ah konyol banget. Tapi bagiku inilah momen pria kepala keluarga dan yang mewarisinya bicara. Selama 24 tahun aku hidup, baru sekali aku duduk bersila dan bersama menyruput kopi yang disajikan ibu, dengan ayah di depan lobi rumah. Baru sekali. Itupun tidak disengaja dan berlangsung sebentar. Saat itu aku sesekali mendapat pertanyaan dan pernyataan tentang hidup yang sudah aku lalui.
Tapi sayang sekali, malam ini aku gagal melakukannya. Ayah harus istirahat karena besok dini hari harus bangun berangkat melaut. Jangankan duduk bersama bersila, dari raut wajahnya tampak guratan lelah yang seakan berbicara padaku ‘jangan malam ini, aku belum bisa bicara banyak denganmu’. Aku tertunduk lemas sembari menahan sakit di tangan yang digigit adikku. Sepertinya dia mau mengajak main, tapi entah. Aku memilih mengajaknya membantu Ibu di dapur.
Aku terdiam berdiri termangu membisu di dalam kamar. Aku lihat jendela belum sepenuhnya tertutup. Samar” aku merasakan angin bertiup menerpa wajah kusamku. Perlahan aku duduk di depan meja kamar dengan tumpukan buku di dalamnya. Aku sisihkan satu”. Ternyata koleksi di meja ini sudah mulai disesaki oleh komik adik keduaku. Simpul senyumku mengembang kecil. Bagi Ibu, ini adalah alasan yang tepat untuk marah pada adikku saat koleksi bukunya hanya komik. Tapi bagiku, ini menunjukkan perkembangan karena dia mulai suka membaca.
Suasana malam ini sudah hampir sepi. Padahal jarum jam di tanganku masih menunjukkan angka 8. Bahkan lalu lalang kendaraan di depan rumah hanya menyisakan becak” mengantar barang” pemasok ikan berupa es batu. Beberapa diantaranya menyapa ayah dan dibalasnya sekenanya. Pandanganku kemudian tertuju pada ayah yang beranjak dari depan TV menuju kamar. Langkahnya sedikit lunglai, seperti ada batu gunung yang menahan dirinya berjalan.
Hmmm.. Hai ayah, seandainya Kau mengijinkanku untuk menggantikan posisimu, sungguh aku sangat senang. Aku ingin sekali tau bagaimana memiliki bahumu. Bahu yang menopang ribuan derita tanpa tepi. Bahu yang harus Kau gunakan melihat untaian ujian yang datang setiap hari. Bahu yang Kau bawa pulang tiap senja dari laut yang keji. Bahu yang 25 tahun ini setia menemani Ibu dengan kisah harmonis dan pertengkaran yang menguras emosi.
Tapi Kau selalu bilang, bahwa setiap manusia memiliki jalan dan perjuangan sendiri-sendiri. ini jalanku dan ini jalanmu. Kau harus merasakan sakit sebelum hinggap rasa senang. Kau bilang bahwa aku harus berada di luar sana lebih lama, untuk memaknai perjalanan yang ditempuh. Aku tidak tau kapan aku harus berhenti mendengarkan ocehanmu, karena aku ingin sekali berada di sisimu, di sisi Ibu lebih lama. Berada di samping kalian di setiap detiknya. Sudah 12 tahun aku meninggalkan rumah dan hanya memiliki satu atau dua pekan saja di rumah di setiap tahunnya. Aku sudah tidak sanggup merantau tanpa melihat senyum kalian tersungging.
Sial, malam semakin larut saat aku tau aku hanya memiliki keinginan semu. Semua menyisakan sendu. Bahkan aku tidak sanggup memeluk Ibu. Dia terlihat kerepotan melayani setiap pelanggan yang masih datang ke warungnya. Ingin sekali berada di balik tubuhnya sambil memijat pundaknya. Tapi pasti dia marah karena itu hanya akan mengganggunya. Haahahaaha.. Aku masih ingat saat adikku yang lugu melakukannya setelah melihatmu kelelahan melayani mereka. Kau marah dan membuat Zein ngeloyor menahan sedu tangis berjalan ke arahku. Kemudian setelah sejam berselang, Kau datang dan mengecupnya. Hangat sekali. Taukah Kau Bu, aku iri melihatnya.
Kau selalu berpikir aku sudah besar diperlakukan seperti itu. Tidak layak dan memalukan. Tapi di sudut dada ini, selalu ada alasan untuk meginginkan setiap senti pelukanmu. Saat mataku lelah menatap layar komputer tiap hari. Saat otakku panas dan tak sanggup lagi mengurai semua informasi jasa layanan ini. Setiap pagi, aku hanya bisa memencet nomor hapemu dan mendengar suaramu dari seberang pulau. Setidaknya, suara 7 menit itu yang memberikan luapan rasa senang tanpa harus menyalakan TV melihat stand up comedy.
Awan malam sudah datang tanpa menyisakan cahaya bulan. Dia menyembunyikannya begitu sempurna sampai saat aku matikan lampu kamar, hampir tak ada berkas cahaya yang masuk. Dalam lelapku, dalam diamku, dalam hening ini, aku berharap dan selalu, aku tidak tau kapan hidupku akan berakhir, tapi semoga hidupku penuh manfaat bagi sesama.
Selengkapnya...
Fine, I'm Out.. Keep Going On..
Surabaya siang ini terik seperti biasa, menegaskan kota metropolitan yang padat penduduk. Memang hari ini libur, tapi lalu lalang kendaraan masih ramai. Angka 27 di kalender berwarna merah, tapi tak merona. Merahnya pudar dengan kebohongan yang masih melekat di sudut pandangku.
Siang ini semuanya tak berjalan biasa. Gumpalan amarah terlihat jelas di handphone-ku karena kesalahan yang aku buat. Belum lagi wejangan pagi dari Pak Kos jelang aku berangkat kerja. Semuanya tambah ruwet saat beberapa rekanan di Malang meminta dan mengingatkan ini dan itu. Jadilah hari libur ini tidak sedap akhirnya. Paling parah, ada kebohongan yang tertinggal.
Tidak ada yang sempurna di planet ketiga dalam Tata Surya ini. Sama seperti penghuninya, semua rasa-nya juga tidak sempurna. Termasuk di dalamnya adalah kejujuran. Tidak ada kejujuran yang sempurna. Kejujuran akan luruh oleh sepercik kebohongan. Satu kebohongan akan menyertakan kebohongan lainnya. Begitu terus siklusnya hingga Kau berhasil menghentikannya di titik itu.
Hahahahaa.. Tiga paragraf di atas seperti meracau. Maaf, aku hanya sudah jengah dengan lingkaran sialan ini. Kau masih bersama 'dia' dan berbohong saat aku tanya. Padahal ada 'dia' yang masih berjuang menuju ke arahmu dengan gigih, dengan cucuran keringat serta air mata. Entahlah, semoga Kau memiliki alasan yang rasional. Semoga Kau tau apa yang Kau lakukan. Bukan aku jahat dengan tidak mengatakannya langsung. Tapi ini cukup menjadi pembatas bahwa aku hanya teman, partner, sahabat, saudara atau apapun namanya. Itu cukup membuatku tahu diri bahwa ada sekat privasi yang tidak bisa aku masuki berkali”.
Sudahlah, aku tidak ingin lagi membicarakan hal ini. Aku juga bingung kemarin saat ingin menyapa. Bukan karena sakitku, tapi karena bingung memilih kata pertama sebagai sapaan saking kesal mengatahui hal ini. Pusingku bertambah saat bangun dari sofa melihatmu yang sudah duduk dengan baju merah yang menyala. Seperti nyala api asmara yang belum bisa Kau sembunyikan.
Siang sudah berganti sore. Sinar matahari juga berpendar dengan gagah menunggu mega merah yang sunyi. Harusnya aku ikut si Kurus satunya memilih ikan di Pasar Ikan Gunungsari sana. Harusnya aku memindahkan sejenak senja dengannya bersama beberapa batang tembakau yang untungnya tidak membuat langsung mati. Biarlah, sudah sore, sudah saatnya senja Surabaya kembali hadir menguning di atap” rumah. Jelas sekali terlihat dari sini. Memintaku untuk mengabadikannya.
Aktivitas soreku ini kembali berlangsung di ruangan ini. Ruangan yang semakin aku benci, tapi di sinilah aku hidup dan belajar. Mengeluh tidak ada gunanya saat ini. Aku tidak ingin merasa angkuh dengan merasa tidak adil hanya masalah kecil yang aku anggap besar. Karena di luar sana, di dunia sekitarku ada manusia” lain yang tidak seberuntung aku duduk dengan pendingin bekerja menulis sesuai passionku. Oleh karenanya, aku tidak ingin meracuni ini dengan mengurusi hal” yang bukan urusanku dan terlibat kencang di dalamnya. Aku sudah berjanji untuk diam dan tak akan mengusik urusanmu yang satu ini. Ya, hanya urusanmu yang satu ini. Keep smile Sist, I still love You. Eh, ini sayang lho.. Ntar dikira lain, bisa berabe. ^_^
Selengkapnya...
Terimakasih, Masih 24..
Malam masih menyisakan panas yang sedari siang mendera Surabaya dan semua penghuninya. Dua AC ruangan tempatku berada saat ini hanya memberi sedikit angin untuk mengusirnya. Tidak terusik, hanya membisik seperdelapan detik. Bahkan membuka jendela ternyata bukan ide yang baik. Itu hanya membiarkan hawa panas di luar merajalela masuk perlahan.
Malam ini diperparah dengan sakit yang menyerang tubuh sejak Sabtu saat di Malang. Tubuh panas, meriang, hidung pilek, sedikit tersumbat dan bersin” sampai hembusan nafaspun terasa panas. Pertanda apa ini Tuhan..? Terakhir kali begini adalah saat aku menyakiti hati perempuan dengan mengatakan aku masih belum bisa wisuda karena malas mengrusnya; ibuku. Setelah itu aku terbaring sakit di kamar dan tidak bisa melanjutkan aktivitas biasa juga kerja.
Dua hari lalu, Jumat (16/5) adalah hari ulang lahirku ke-24. Seperti biasa, aku sudah biasa tidak merayakannya. Bagiku ini hanya seremonial untuk mengakhiri kontrak dengan Tuhan di kehidupan ini secara perlahan. Tahun demi tahun, berkurang dan terus tergerus. Entah disertai sakit ataupun cara” meninggal lainnya. Karena saat usia semakin bertambah, ironisnya masa beribadah di dunia semakin berkurang.
Selain keluarga, aku hanya beruntung memiliki teman. Merekalah yang kemudian mengurangi beban sisa kontrak ini dengan senyum, emosi dan air mata. Merekalah yang membuat simpul senyum itu, menyulut emosi dan memainkannya serta menyeka air mata yang secara alami dimiliki manusia. Manusia biasa. Seperti aku.
Ya, aku manusia biasa yang memiliki semua rasa alamiah seperti digariskan Tuhan, putus asa misalnya. Aku sudah putus asa untuk kembali menarik dan menyatukan benang akademisku. Semakin aku kumpulkan, semakin terasa jika hal itu hanya dipaksakan. Tentu saja hasilnya tidak bagus. Sudah berkali” aku melakukannya di sini, di kota ini. Tapi aku tak kunjung mendapatkan sentuhan seperti di Malang dulu.
Aku sudah kehabisan ide. Akalku mandeg tiba” tanpa lagi menggenggam berkas stimulus yang biasa sampai ke otak. Aku merasa bodoh di sini. Bahkan aku merasa kalah. Kalah jika disandingkan dengan teman” sejawat di sini. Entahlah, aku hanya merasa jemu dengan semua kesemuan ini. Malah aku berani mengatakan bahwa minat bacaku berkurang. Meskipun aku masih melakukan rutinitas biasa belanja majalah tiap minggu dan buku setiap bulan, tetap saja minatku tak segede dulu. Sial.
Lebih sialnya, malam ini aku menyadari satu hal. Masih dengan tangan dan jemari bau minyak kayu putih habis aku oleskan ke beberapa bagian tubuh, aku menyadari satu hal ini. Aku sadar bahwa aku tidak memiliki resolusi yang jelas di usiaku tahun ini. Gilak kan..?! Shit banget Men. Padahal banyak yang harus aku lakuin di tahun yang sudah berlangsung 5 bulan ini. Tapi aku belum melakukan apa”, tidak untuk harapan bahkan tidak untuk sebuah keinginan.
Aku hanya berpikir hal ini kau rasakan karena efek dari sakit saja. Semoga hari” selanjutnya aku sudah memikirkan, menggenggam dan memiliki resolusi” tersebut. Aku sudah tidak kuat lagi terus membayangkan mata mereka. Mereka yang kecewa denganku karena terlalu besar memberikan nilai padaku. Padahal mereka adalah alasan terbesarku untuk meninggalkan asmara walaupun mestinya bisa berjalan beriringan.
Malam ini, di ruangan ini aku hanya mampu mengingat satu pesan ayahku dulu. Mungkin karena kemampuan tubuhku yang tidak mengimbangi jadinya aku hanya mengingat satu. Satu yang dulu aku anggap masterpiece dari ayahku. Tapi belakangan aku melihat pesan ini terkenal di mana”. Ternyata itu sebuah quote yang entah siapa pencetusnya. Ayahku mengatakannya saat ditelpon “Nak, badai yang tak langsung membuatmu mati, akan membuatmu lebih kuat dari sebelumnya”.
Terimakasih Ayah. Mungkin Kau tidak memberikan selamat. Seperti biasanya, tidak ada tradisi itu di keluarga untuk anggota yang ulang lahir. Tapi Kau sudah memberiku nasihat yang terus membekas dan aku ingat malam ini. Jangan khawatir Ayah, aku memiliki teman” di kehidupan ini. Mereka kemudian aku anggap sebagai keluarga yang aku pilih. Satu terbaik diantaranya memberiku thermal mug (aku juga bingung apa namanya) kemarin. Melihatnya, jadi rindu duduk bersila di depan rumah ‘ngopi’ bersamamu.
Selengkapnya...
Cerita Egois Untukmu Sista..
Hai Perempuan..
Langit Surabaya sudah gelap saat aku menulis ini. Mega merah yang menenggelamkan senja baru saja ikut terbenam. Sudah lama sekali aku tidak menemuimu. Bukan ku lupa, tapi aku hanya tak dapat lagi melukiskanmu. AKu sudah kehabisan kanfas. Sampai akhirnya aku menepi untuk menghela nafas.
Sayang sekali, kali ini bukan ceritamu yang aku sentuh untuk aku deskripsikan. Tapi selembar hubungan persahabatan dengan kekosongan kepercayaan yang sudah terlanjur aku sematkan. Kepercayaan yang luruh justru saat senyum yang aku lihat hanya kepalsuan. Alibi dari sebuah fakta yang tak terkatakan.
Hai Perempuan..
Aku sangat mengagumi sebuah hubungan persahabatan daripada duri yang ada dalam kisah asmara. Pertemanan dengan tangan yang selalu menggenggam hangat selalu hadir memberikan kenyamanan. Pertemanan yang selalu diselimuti kepercayaan tanpa jeda. Tapi mengharuskan selalu ada spasi yang tidak boleh disela.
Kota ini selalu memberiku panas yang tak sedikit. Aku selalu berusaha mengayunkan payung untuk berteduh. Tapi rindang pohon selalu berhasil memberiku lebih. Sembari berteduh, aku akan selalu berada di dekatnya menghalau aksi jahat burung gagak. Gagak yang tak Kau sukai. Karena di atas dahannya sudah ada sangkar burung lain yang menikmati hangatmu. Aku hanya tidak ingin ada burung lain yang menempati sangkar burung yang lebih dulu tersebut. Dan aku akan berbuat apa saja untuk menjaga burung dan sangkarnya dan dahan yang hangat tersebut dari ‘bujuk’ burung lain. Sungguh.
Hai Perempuan..
Kisahmu selalu inspiratif bagiku. Kau tampak kuat, jika aku mendengarkan ceritamu dengan seksama. Kau tampak hebat, saat aku membayangkan alurmu tanpa menyeka. Dan aku sangat tidak ragu menyebutmu sebagai sahabat, dengan begitu kita selalu terbuka. Aku bahkan menyayangimu layaknya saudara. Dan hanya itu alasanku untuk tetap menjagamu mempertahankan keberadaan burung dan sangkarnya di atas pohon tadi daripada menerima kerlingan mata burung lain.
Aku akan sangat sakit hati seperti dua hari ini, jika Kau benar” melakukan itu. Melupakan 'dia' untuk memilih 'dia'. Karena aku yakin dia selalu ada buatmu. Memberikan nyaman dan kesungguhan, bukan kehadiran sesaat yang meletup-letup. Dia selalu berusaha keras untukmu meskipun ada ragu terbesit, bukan mengalihkan fokusmu dengan bahagia sesaat.
Aku juga akan cemburu, karena nantinya Kau juga berhenti memberikan rindang itu pada yang lain termasuk padaku. Terdengar egois memang. Atau mungkin Kau berpikir ini adalah hidupmu dan aku hanya manusia yang numpang berteduh. Tidak ada urusan ataupun hak. Tapi..ah sudahlah. Maaf.
Hai Perempuan..
Seperti yang aku tulis sista, Kau bisa saja mengatupkan bibir untuk tidak berkata.. tapi tidak dengan senyum itu, senyum yang menandakan kebahagian dan menyimpan kebohongan..
Selengkapnya...
Rindu Bertanya..
Hai, apa kabar..?
Aku baru sadar ini hari Rabu. Ini hari kelahiranku. Tapi aku tidak dengan sengaja menunggu menggoreskan lagi rinduku padamu sampai hari ini tiba. Hanya saja mood-ku menulis tentangmu kembali membuncah siang ini. Aku berharap Kau tidak terganggu dengan hadirnya rindu ini. Mungkin getarannya sampai di nadimu dan membuatmu berdenyut bingung. Tenang, itu rindu dariku.
Hai, apa kabar..?
Sebenarnya aku tau kabarmu. Aku selalu tau. Hanya saja, aku masih belum menggerakkan semua anggota tubuhku untuk menyapamu. Semalam aku melihatmu dari kejauhan dengan pakaian gelap sama seperti kamarku saat ini. Mengenakan jaket biru berselonjor kaki di ruangan itu. Kau kembali menutup wajahmu setengah dengan tatapan sinis bersandar di balik tembok putih. Seperti biasa, Kau masih manis, anggun dan smart.
Hai, apa kabar..?
Hujan kembali mengguyur Surabaya deras. Deras sekali. Semoga hujan ini kembali membersihkan abu vulkanik erupsi Gunung Kelud yang menyelimuti tebal hampir semua wilayah Kediri dan sekitarnya. Tapi yakinlah, hujan ini tak akan mampu melunturkan rinduku padamu. Walaupun aku tak tau pada siapa hatimu kini berlabuh.
Hai, apa kabar..?
Hahahahaa, tiga paragraph di atas sangat kacau. See, bahkan jemariku tak bisa menggambarkan dengan tenang rindu ini. Aku sangat membenci pada tulisanku yang kurang purna. Hanya saja aku tidak ingin kehilangan momen kerinduan ini. Kerinduan yang selalu menghantui tiap detik yang aku lewatkan. Kerinduan yang berhasil menghasut penglihatanku tetap terjaga dan menujumu. Kerinduan yang berhasil aku tahan sampai kembali mendengar suaramu malam itu. Kerinduan yang tidak berhasil menyembunyikan kekhawatiranku padamu malam itu.
Hai, apa kabar..?
Mungkin di sana Kau telah menetapkan hati menetapkan sebuah nama untuk Kau simpan. Menetapkan tangan yang nantinya akan menggenggam hangat telapak tanganmu dan mengusir angin malam di sekitarnya. Dulu akau pernah merasakan cemburu yang begitu hebat. Tapi kini aku sudah belajar dengan baik. Berikanlah senyummu itu padanya dengan baik. Cemburuku akan terbakar saat bibirmu kembali menyunggingkan senyum itu. Senyum yang selalu meluluhkan kerasnya siang di kota ini. Tapi tak usah khawatir, cukup biarkan saja aku menyukaimu. Karena dengan begitu Kau selalu hadir di sini, tepat di hati ini.
Hai, apa kabar..?
Semoga baik” saja, seperti doaku yang selama ini aku panjatkan untukmu..
Selengkapnya...