Luka hati akan mati jika jiwa terus menari dan bermimpi..
Hari ini tepat sepekan lalu aku bertemu dengan seorang perempuan, adik perempuan atau tepatnya adik kelas. Sudah dua tahun sejak pertemuan terakhir dengannya. Tak banyak perubahan yang aku lihat dari dirinya. Mungkin siang itu aku hanya melihat perubahan dari wajahnya yang agak pucat dan kehitaman. Akhirnya aku tau darinya kalau dia sedang dalam masa penyembuhan setelah sakit beberapa waktu lalu.
Siang itu seperti biasa, anak ini selalu ceria dalam bicara. Melemparkan senyum pada setiap kalimat yang dilontarkan. Selalu menyelipkan semangat dalam setiap geraknya. Dua tahun lalu aku sudah melihat itu berkali-kali dari dirinya. Tapi siang itu aku merasakan apa yang Ia perbuat begitu beda.
Siang itu, aku menyusuri panasnya Malang bersamanya dengan sepeda motor matic yang aku setir. Cerita” dari masing” kami kisahkan menemani perjalanan lumayan jauh ini. Cerita tentang kuliahnya, asmaranya, asmaraku, kegiatannya serta kegiatanku kami habiskan di setengah perjalanan yang kami lalui. Tapi tiba” darahku berdesir setelah perjalanan kami hampir mencapai tujuan.
Luka hati akan mati jika jiwa terus menari dan bermimpi..
Perempuan ini bercerita tepat di belakang telingaku. Hingga aku mendengar suaranya dengan jelas. Aku bisa dengan tepat mendengar intonasi bicaranya. Aku dapat dengan seksama mendengarkan setiap lembut tarikan nafasnya saat dia mulai bercerita bagaimana duka yang Ia terima selama dua tahun ini. Entah apa yang ada di kepalaku saat aku menghitung total dia kehilangan empat orang yang Ia sayangi dalam kurun waktu tersebut. Dua sahabat yang sudah Ia anggap seperti saudara, satu pria yang ia sebut kekasih serta seorang ayah yang sangat Ia cintai.
Secepat kilat, kepalaku kembali flashback pada apa yang terjadi padaku di Oktober lalu dengan setumpuk masalah yang sudah aku posting sebelum tulisan ini di blog. Terutama kehilangan Abah. Kisah perempuan ini menyadarkanku bahwa duka dan kesedihan bisa datang kapan saja pada kita, tanpa permisi, tanpa toleran, mungkin tanpa bahagia yang datang bersamanya dan duka itu bisa merenggut siapa saja.
Aku sedikit lunglai mendengar kisah”nya. Aku berusaha fokus pada caraku menyetir sepeda motor ini. Aku bahkan berusaha mendekatkan telingaku agar aku lebih dalam merasakan kesedihannya. Dari spion yang mengarah padanya, aku melihat matanya. Mata itu. Mata yang memancarkan kesedihan, namun terbesit ketegaran. Dari setiap suara yang dia keluarkan, aku merasa hatinya sangat sekali ingin menunjukkan ketabahan. Namun sepertinya tak bisa karena sedih ini terlanjur dalam dan menyayat setiap inci hatinya.
Luka hati akan mati jika jiwa terus menari dan bermimpi..
Banyak hal di dunia ini penyebab duka dan gugurnya kebahagiaan. Namun Tuhan sudah berjanji bahwa saat kesulitan datang, kemudahan hadir bersamaan dengannya. Walaupun tidak semua manusia dapat dengan sadar secara penuh bahwa ada suka yang terselip dalam dukanya.
Aku kembali tersentak saat sesampainya di Surabaya, aku menyempatkan melihat beberapa photo dirinya di akun facebook miliknya. Tak hanya sedih, tapi dia juga menyimpan sendu yang sangat gelap. Dia juga tak henti memendam serta menanggung rindu yang sangat dalam pada orang” tersebut. Namun begitu, gurat kesedihannya tak tampak saat pagi dan siang menghujaninya dengan banyak cahaya yang membuat matanya silau. Mungkin Ia percaya bahwa percuma sedih atau menangis. Air mata itu pasti akan segera kering di hadapan cahaya matahari.
Dan sialnya, hingga hari ini, sudah seminggu aku tak dapat melupakan ketajaman tekadnya itu di balik pilu yang Ia alami. Benar aku belum mengerti apa” tentang duka jika dibandingkan dia. Tapi aku cukup percaya bahwa luka hati akan mati jika jiwa terus menari dan bermimpi..
Selengkapnya...
Sebuah Pelajaran Tentang Duka
Eine Hoffnung, Bye Oktober
Saat tulisan ini sampai di paragraph kedua, aku menarik nafas panjang sedalam”nya. Banyak sekali sedih yang aku alami di bulan ini. Banyak sekali kesialan yang aku dapatkan. Banyak kesalahan yang aku lakukan setiap harinya. Bahkan tak terhitung kekeliruan yang menghampiriku dalam sepekan terakhir. Sial, bodoh sekali.
Semua rencana yang sudah aku tuliskan selalu berakhir dengan kecewa. Padahal, sudah aku tempatkan whiteboard di balik pintu kamarku. Berharap saat aku bangun atau berencana keluar kamar, aku mengingat semua rencana di setiap harinya. Tapi, mungkin mataku terhalang untuk melihatnya atau aku terlalu bodoh untuk membuat eksekusi rencana. Pada akhirnya, kekuatan niat yang berbicara. Mungkin niatku terlalu lemah untuk mengantarkanku pada setiap gerak.
Kerjaanku hampir berantakan. Beberapa kali aku sering telat. Bahkan tak hanya satu atau dua menit, tapi pernah satu dan dua jam. Itu terjadi dua kali di awal bulan ini. Terdengar gila dan sangat ceroboh. Tapi itu terjadi. Walaupun sebenarnya aku memiliki alasan, saat itu aku tidak enak badan. Tapi tetap itu tidak termasuk alasan untuk telat dan diucapkan pada atasan di kantor.
Aku sering melakukan kesalahan di kantor. Tapi di bulan ini, kesalahan itu tambah membesar dan hampir mendekati fatal. Aku tak ingin menuliskannya. Itu hanya akan membuat merasa sangat bangsat-nya aku. Bahkan kemarin, aku menghadiri rapat evaluasi divisi yang dihadiri semua anggota, tapi hanya membahas kesalahan dan evaluasiku. Ya hanya buatku. Jadi, rapat itu dibuat hanya untuk aku. Benar” gila. Apa yang sudah aku lakukan sejauh ini. Di sela” break rapat, aku sempatkan menelpon Ibuku. Bukan manja. Mungkin kedengaran terlambat, tapi aku menghubungi beliau untuk meminta maaf. Maaf untuk sesuatu yang belum aku sadari dan menyakiti beliau. Beliau sangat bijak dengan mengutip satu ayat al-Qur’an. ‘Ibu sudah maafkan. Minta tolonglah pada Tuhan. Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu. Dan jangan lupa bahwa di kamarmu ada al-Qur’an yang harus Kau baca’. Istimewa sekali. Hmmmm.. Kondisi ini sangat menyulitkanku. Sangat. Tapi entahlah, yang penting saat ini dari rapat evaluasi itu aku sudah menyadari di mana letak kesalahan” yang aku perbuat.
Oktober 2013 ini juga memberikanku duka yang mendalam. Dalam satu tulisan sebelumnya di blog ini, aku menyebutkan duka ini sangat mengejutkan dan mendalam. Aku tak bisa membahas lagi duka dan luka ini. Semua keluarga merasa kehilangan. Apalagi nenek, ibu, paman dan bibiku. Mereka adalah orang terdekat abahku. Belum lagi istri dan anak” Abah yang sekarang menjadi janda. Aku tak dapat dengan mudah mengingatnya. Aku malah tak ingin mengingatnya. Terlalu menyakitkan.
Kesialan yang tak kalah hebatnya adalah aku tak dapat dengan benar dan serius menjalani aktifitas mahasiswa-ku. Skripsiku tak selembar pun aku sentuh dan satu hurufpun aku tulis lanjutannya. Sejak empat hari lalu, aku membiarkan kamarku berantakan dengan banyak tulisan dan reminder untuk meneruskan skripsi. Berantakan sekali. Ditambah dengan cucian yang belum aku setrika, Koran dan kabel di mana”. Kerusakan ini akan tambah parah jika debu yang bertebaran juga dihitung. Entahlah, sementara aku lebih nyaman dengan kamar yang seperti ini.
Aku juga melakukan banyak kesalahan pada organisasi”ku. Sebenarnya bisa saja tak usah dipedulikan. Tapi aku sangat layak mendapat julukan jahannam jika tak aku pedulikan. Aku sudah dipercaya dan sudah mendapati amanat ini. Dua di Malang dan satu di rumah. Gila kan. Ketiga”nya posisiku sebagai orang nomor satu dalam struktur. Mungkin benar apa yang pernah dikatakan Kak Reza padaku, ‘Kau bukan adikku yang aku kenal dulu. Semangat, selalu memiliki keinginan, selalu membuatku iri karena prestasimu dan saat ini Kau hanya menjadi pecundang dengan tidak menghiraukan kepercayaan banyak orang’. Apa yang dikatakannya sangat dalam dan membuatku berpikir panjang. Walaupun dia akhiri dengan ‘Walaupun begitu, aku dan yang lainnya masih terus di sampingmu’.
Terakhir, aku mengacaukan komunikasiku dengan beberapa teman, lalu juga Kau. Jika membaca tulisan ini, tolong maafkan aku Kawan. Aku tak bermaksud menaburkan duri” tajam dalam komunikasi persahabatan ini. Aku hanya belum bisa berbenah diri. Bahkan, semalam aku kesulitan mencari orang untuk aku hubungi. Hanya untuk sekedar bercerita. Beruntung aku memiliki Mb’ Iseh yang setia di hape, pulsa karena nomornya sama dan selalu mendengarkan apa yang ingin aku keluhkan dari busuknya kondisi ini. Kak Aziz dan Kak Hakim tak mungkin aku ganggu dengan urusan ini. Mereka berdua fokus bekerja dan menghidupi keluarga kecilnya. Mungkin kabar gembira Oktober ini adalah telah lahir seorang anak, seorang ponakan, seorang cucu, seorang cicit bernama Alif di Surabaya. Anak Kak Hakim. Pekan lalu aku dan keluarga menjenguknya sebelum mengantarkan pamanku ke Bandara Juanda.
Dan untukmu, ya Kau. Aku juga minta maaf padamu untuk beberapa alasan aku bersembunyi darimu. Padahal aku sangat ingin bertemu denganmu, menyapamu lalu memegang erat tanganmu dan menanyakan kabarmu. Tapi aku terlalu lemah untuk melakukan itu dan hanya bisa memberikan tiga hal yang akan membalut dan menjaga ragamu, pergelangan tanganmu dan hatimu.
Siang ini aku tau beberapa hal, aku butuh dua hal untuk kesialan dan kesalahan” yang aku lakukan. Jam tangan dan jam alarm.
Selengkapnya...
Merindukan Malammu
Malam ini terlalu membosankan. Semua sentuhan rindumu kembali menyapa kamarku yang mulai berantakan ini. Tak hanya mengalun di telinga, tapi juga membuat dadaku berdesir. Entah bagaimana Kau melakukan ini. padahal kemarin pagi, aku hanya melihatmu dari atas. Melihatmu duduk di sepeda motor dengan kaos putih bergaris hitam dan jilbab hitam menutupi kepalamu. Aku tak sanggup menyapamu hingga Kau berlalu dari pandanganku dengan deru bising sepeda motor itu.
Aku merasa malam ini begitu tegas menyayat resahku perlahan. Begitu nyata dan merobohkan caraku bertahan. Aku seperti kehilangan. Sebuah pesan datang menghampiri dinding kamar dan memintaku untuk sandaran. Aku ingin sekali menghiraukan. Karena malam ini sudah menghadirkan pekat dan menghalangi pandangan. Bahkan aku tak dapat menghentikan tangan mendera dua lembar kertas dengan goresan.
Sudah lama sekali aku tak melewati malam dengan rindu yang begitu hebat padamu. Padahal kesibukan ini sudah lama membelenggu kisahmu. Ingatan tentangmu hanya berakhir dalam lelap. Tak pernah kembali dalam rasa ingin bertemu. Sekedar kekakuan melihat senyummu dari beberapa gambar. Tapi malam panjang dengan suhu 35 derajat celcius di kota ini, wajah dengan rona anggunmu datang. Menghinggapi semua ketulusan dan mendekap kehadiranku untuk segera berlabuh. Tapi sayang sekali, aku ingin menghindarimu dan bayangmu, berlari ke arah pohon cempaka kemudian berteduh.
Tidak sekali ini juga rindu datang menyakiti, tapi baru malam ini mataku menjadi saksi. Aku begitu tergugah. Aku terpesona. Aku ingin sekali bicara padamu. Sungguh aku ingin ucapkan satu kali saja kegelisahan ribuan kata. Sudah lama sekali aku terdiam dalam hening yang tak tau kapan berakhir. Sekali lagi mataku menjadi saksi kelunya bibir ini. Saksi kakunya raga ini. Saksi tak berdayanya hati ini dalam rindu.
Hingga malam ini akan berakhir, hanya kesunyian datang menemani. Benar katamu, kesepian adalah teman yang setia. Menempa celah dalam jiwa untuk kuat. Memberikan sedikit bayang senyummu dalam semangat. Terus begitu hingga aku tak lagi mampu mengingat. Setiap detil wajahmu. Setiap centi senyummu. Setiap huruf dalam bisikmu. Setiap desah dalam suaramu. Setiap gores jejakmu. Setiap lembar nafasmu. Semua tentangmu abstrak dalam setiap tetes tanyaku.
Selengkapnya...
Duka yang Mendalam Hari Ini
Entahlah.. Hingga aku menulis ini, tak ada air mata kesedihan yang aku kucurkan untuk kepergian Abahku yang meninggal dini hari tadi karena kecelakaan sehari sebelumnya (16 Oktober) di Lamongan. Tapi bagiku, tulisan ini begitu emosional. Bukan karena kecelakaan itu juga mengambil nyawa dua menantunya yang berkendara dengannya di mobil Avanza itu, tapi karena Abah adalah manusia yang memberikan aku banyak kesempatan. Kesempatan hidup dalam kubangan sendu. Kesempatan mengenyam pendidikan hingga sejauh ini. Kesempatan belajar untuk ikhlas. Kesempatan mengambil setiap hikmah dari luka. Kesempatan untuk berdamai dengan kerasnya jalan menuju impian. Kesempatan untuk terinspirasi agar selalu menunduk dan down to earth yang hingga hari ini tak bisa aku lakukan secara penuh. Benar Tuhan yang memberikannya, tapi itu semua lewat Kamu Abah. Lewat Kamu.
Kejadian kemarin tiba" juga merenggut nyawamu. Abah, kepergianmu tak hanya menyisakan luka bagi kami. Tapi juga merenggut hampir semua ceria yang ada hari ini. Bahkan, jika dari sana Kau melihat aku tertawa, itu karena aku sedang menghibur adikku yang ditinggal ayah dan ibu untuk menjemputmu di rumah sakit. Ada luka dan sedih yang menganga dari dalam tubuh ini. Aku lunglai Abah. Aku pilu. Aku remuk saat mendengar Kau tak lagi bisa menyambung nyawa menyusul dua menantumu yang meninggal di tempat dan setengah jam setelah dilarikan ke rumah sakit.
Kesedihan ini jelas menyisakan isak tangis yang tak sebentar Abah. Kau semacam salah satu cahaya yang dikirim Tuhan pada keluarga besar ini. Kau memang bukan satu”nya, tapi Kau yang memulainya. Kau sudah menjadi tangan yang selalu terbuka untuk Kami raih. Kau adalah raga yang selalu siap untuk Kami peluk saat Kami risau. Kau adalah langkah yang kami tiru gerakannya. Kau adalah api yang membara dan sangat panas untuk menginspirasi agar Kami selalu berbagi.
Kami tidak pernah tidak mencintaimu. Kami selalu menggapmu lebih dari sekedar kakak sepupu dari orang tua kami. Kami selalu menggapmu sebagai ayah, sodara dan teman untuk bicara. Aku tidak pernah tau seberapa besar porsi sayangmu pada masing” dari Kami. Aku, Kak Aziz, Mb’ Iseh, Kak Hakim atau Kak Reza. Aku tidak pernah tau. Tapi aku selalu tau bahwa Kami sangat mencintaimu. Menyayangimu. Merindukan setiap detik pertemuan dan bercanda bersama. Aku juga tidak tau siapa yang paling Abah sayang diantara Kami, tapi Kami tak peduli hal itu. Setiap kali Abah menemui Kami, yang Kami pedulikan hanya sebuah cara agar bisa duduk denganmu tanpa sungkan.
Abah, kebaikanmu mengajarkan banyak hal hari ini pada Kami. Kebaikanmu mengajarkan Kami cara bersedih yang tepat. Kebaikanmu selama ini mengajarkan Kami agar selalu siap untuk suatu saat berduka. Kebaikanmu mengajarkan Kami untuk selalu kuat dan bersatu padu jika suatu saat ditinggalkan lagi. Semua orang pasti akan menemui ajalnya. Semuanya. Tapi hal itulah yang membuat aku, Kak Aziz, Mb’ Iseh, Kak Hakim dan Kak Reza selalu tau dan sadar bahwa ada tangan dan senyum di keluarga ini saat Kami menemui masalah yang tak bisa dipecahkan sendiri.
Kami berlima sudah cukup tua untuk Kau lepas. Kami ikhlas. Kami, kecuali Kak Aziz, hanya sedih tak bisa bertemu denganmu saat terakhir kali Kau datang ke rumah. Itu adalah penyesalan yang sangat menyedihkan. Kini Kami hanya bisa melihatmu, mengenangmu, merindukanmu lewat gambar dan photo yang tersebar di mana”.
Saat tau Kau sudah tiada, aku ingin sekali meluapkan kesedihan. Tapi saat itu, terlalu banyak orang di rumah. Tetangga dan kerabat jauh berdatangan di rumah. Aku hanya tak ingin terlihat lemah. Sejak dulu, aku tak bisa menangis di depan orang lain. Apalagi jika manusia di depanku itu adalah perempuan. Itu Kau dan ayah yang mengajariku.
Saat menulis ini, aku sedang di kamar Kos, sedang siap” untuk kembali bekerja. Tapi Kau tau Abah, saat menulis satu paragraph di atas, air mataku tak henti mengalir dan membuatku sesenggukan. Berlembar” tisu di samping laptopku penuh basah dengan air yang aku uspa dari mataku.
Abah, entah bagaimana cara menyampaikannya. Kami minta maaf atas setiap detik yang pernah Kau lewatkan dengan amarah pada Kami. Kami hanya kumpulan ponakan yang kadang menyebalkan. Kami minta maaf jika itu pernah terjadi. Apalagi, saat aku kecil dulu, aku sering sekali meyentuh kulit yang mengganti jempolmu yang hilang karena kecelakaan juga. Aku selalu memainkannya karena lucu. Itu saja. Tak ada maksud lain. Karena saat kecil dulu, aku hanya mencari hiburan dari semua orang.
Banyak orang di rumah yang mengatakan Kau meninggal saat sudah menuntaskan semuanya. Semua tanggungan. Semuanya. Walaupun Kau tidak sempat tau bahwa Ce’ Nana dan Ce’ Masadeh saat ini menjadi janda. Tapi percayalah Abah, itu hampir benar bagi Kami. Kami berlima pun juga sudah bersiap bertempur di kehidupan yang nyata. Walaupun aku dan Kak Reza masih terjebak di kehidupan dunia mahasiswa yang belagu, tapi Kami berdua sudah hidup berdampingan dengan realitas yang kejam ini.
Kami berlima akan menjaga rumah yang dihuni keluarga besar di sini. Kami akan menjaga para orangtua yang berada di dalamnya. Kami juga akan mendedikasikan semuanya pada lima plus dua generasi kedua selanjutnya setelah kami di sini. Kami berjanji.
Selengkapnya...
Jauh Dari Jarak Pandangmu
Tak banyak yang bisa aku lakukan malam ini. Aku hanya bersembunyi dari panas yang tak tau malu menyerang hawa malam. Aku hanya berusaha menghindari kebusukan siang hari di balik pintu kamar. Aku hanya menulis, dan berupaya seolah tak ada apa”. Aku hanya ingin membunuh bosan yang sudah lama menggelayuti raga.
Sekali lagi kembali sebuah bayangan menjelma dalam sebuah teks. Mengantarkanku untuk berlaku kejam dan tak sopan padanya. Perlakuan biadab yang sebelumnya pernah aku terima. Tapi aku tak ingin mengenangnya. Kenangan hanya akan menjadi hantu di sudut pikiran. Harusnya juga Kau tanamkan itu. Karena apapun yang Kau alami saat itu, itu hanya memperlambat tanganmu untuk menyambut cahaya lain yang lebih terang.
Aku ingin meredupkan sebuah keinginan. Keinginan yang tak bisa aku penuhi hanya dengan sebuah tekad. Aku tak bisa bergerak dalam sunyi dan berteriak dalam senyap. Aku memutuskan untuk lelap dalam lelah. Sekalipun sendu terus bertahan dan nyaman berada dalam tubuh mungil ini, aku terus mengingat pedihnya yang tak sebentar.
Pintu kamarku masih terkunci dari dalam. Segelas kopi dan beberapa batang biskuit tepat berada di sebelah kanan notebook dan buku catatan kerjaku. Di atasnya sebuah bolpen berada jauh dari tutupnya. Sebuah suara langkah kaki diam” mendekat dan berhenti di depan pintu. Seorang teman membuka dan menyapa dari baliknya. Dengan senyum yang dibuat”. Sama seperti kebekuan ini. Kita hanya membuatnya seolah besar dan tak bisa diperbaiki. Padahal sebuah senyum dan segelas teh sebenarnya cukup mencairkannya. Mengantarkan kita pada satu arah yang tak akan berbeda. Hanya saja sebuah nada pernah aku dengar dengan lembut dan tak bersuara menghampiri dan mendekam semua semu. Kemudian terluka.
Aku seringkali membuatnya terasa mudah. Atau setidaknya seakan-akan mudah seperti yang tampak. Tapi aku salah. Banyak yang tidak mengerti. Kau pun juga demikian. Menyimpulkannya sendiri. Terluka dan saling menyalahkan kemudian. Karenanya aku takut membicarakan tentang hati. Padamu dan pada siapapun. Maka aku tuliskan saja pada secarik kertas. Lalu aku akan aku simpan pada sebuah tempat. Sebuah tempat jauh dari penglihatanmu dan hanya aku yang dapat mengubahnya. Mungkin suatu hari aku akan mengirimkannya ke.. entah ke mana.
Tapi sialkulah, Kau selalu bisa menemukannya. Aku kira awan hitam yang aku kirim bisa menghambat langkahmu. Tapi aku salah. Kau dengan mudah berteman dengannya. Kau tiba” menangkapnya dan menuliskan sebaliknya. Maka aku putuskan untuk pergi saja. Jauh dari pandanganmu. Jauh dari jarak pandangmu. Jauh dari jalan yang bisa dengan mudah Kau rasakan. Biarlah tersimpan. Mungkin akan lebih aman.
Selengkapnya...
Katakan Saja..
Rasanya hawa pagi di kamar ini memunculkan keinginan untuk tetap menulis setiap hari. Entah motivasi apa yang ada di baliknya, yang pasti aku menikmatinya. Sama seperti saat ini aku sangat menikmati hembusan udara penuh wewangian di kamar ini. Kamar yang sangat nyaman untuk beristirahat sebenarnya setelah melakoni aktifitas sangat melelahkan. Namun, keinginan ini menunda sejenak tubuhku berbaring. Apalagi, seorang teman penghuni kamar sebelah, dengan kencang menyetel lagu” milik Sheila On 7. Hampir tak ada alasan untuk tidak terjaga.
Katakanlah..
Udara pagi ini juga yang mengantarkanku untuk kembali menelusuri jalan pikiranmu. Jalan pikiran yang tak pernah aku tau dan aku tebak. Aku seperti terjerembab dalam gerombolan ombak. Mengalir kencang dan memaksaku untuk terus bergerak. Mendikte iringan langkah di tepi air laut yang riak. Saat ini aku sungguh ingin mendekati ragamu dan berteriak. Sungguh, ini bukan karena aku baru saja minum dan tersedak. Tapi akibat degupan jantung yang tak beraturan terus berdetak. Bisakah Kau tak mengatakan tidak. Karena aku terus menghampirimu agar Kau jujur pada dirimu sendiri hingga Kau terdesak.
Katakanlah..
Dunia ini bukan lagi arena bertaruh dalam kesenjangan. Aku masih belum peduli pada topik” di luar sana yang selalu mengantarkanku istirahat lebih sedikit dari orang lain. Kasus Djoko Susilo, desas desus pencalonan Djokowi untuk jadi presiden, Ahmad Dhani yang sampai saat ini masih mengkhawatirkan kesehatan Dul, adanya mobil murah, langkanya kedelai hingga rivalitas Ronaldo-Bale dan Messi-Neymar yang mulai berlangsung. Aku masih hanya peduli pada alasanmu untuk tidak kembali membuka mulut kecilmu berkata. Berkata padaku apa yang Kau rasakan tanpa menutupi.
Katakanlah..
Bukan saatnya lagi Kau berada pada kebimbangan. Kau sudah melewati masa” itu dengan baik. Masa” dua tahun lalu yang selalu Kau takutkan. Masa” penuh rasa sakit yang sangat menguras emosi. Masa” sendu hingga Kau mengeluarkan air mata tak sedikit. Masa” keraguan untuk tetap menjalani hidup atau terus mengurung diri di kamar. Bukankah Kau sudah katakan padaku bahwa semua itu kebodohan. Kau juga mengatakan bahwa semua itu sudah berlalu dan tak ingin lagi mengingatnya. Bahkan Kau juga mengatakan bahwa setiap orang yang ada di sini, di Bumi ini, memiliki masa lalu yang ingin dihapus. Itu Kau yang mengatakannya. Mengatakan padaku. Mengatakan tepat di telingaku.
Katakanlah..
Aku tidak ingin memaksa kehadiranku untukmu. Aku hanya ingin melihatmu tak lagi berada dalam kubangan penyesalan dan kesedihan. Kau harus tersenyum. Senyummu, walaupun tak merepresentasikan kejernihan jiwamu, sangat tulus bagi orang yang melihatnya. Tak ada orang yang tak menyukai senyummu. Senyum yang selalu berhasil menghipnotis kepedihan orang” di sekitarmu. Senyum yang kadang berhasil dengan mudahnya membuat orang lain langsung terpana. Senyum yang sangat indah. Senyum yang suatu saat akan Kau tunjukkan padaku tanpa penghalang.
Katakanlah..
Katakanlah apapun yang ingin Kau katakan. Katakanlah sesuatu agar Kau tau apa yang sebenarnya menjadi keinginanmu. Katakanlah apa yang menjadi permintaan hatimu sebenarnya. Katakanlah. Katakanlah jangan ragukan jeritan hatimu. Katakanlah dengan lantang. Telinga dan ragaku siap mendengarkan semua kata yang akan Kau katakan. Katakanlah. Kau sudah lama menganiaya semua kata. Kau sudah terlalu lama menyandera semua kalimat. Kau tak bisa lagi memenjara semua huruf” itu.
Katakanlah..
#haikamu, ingatlah satu hal. Saat Kau berpikir bisa menghidarkan semua bahasa itu dariku, jangan pernah berpikir bisa menyembunyikannya dari Tuhan..
Selengkapnya...
Rindu Dalam Doa
Hari ini pagi, siang dan soreku menyatu dalam kebisingan. Aku tak bisa menyembunyikan kekesalan yang begitu saja muncul saat aku menemui soreku. Oh, tidak, tapi sore yang menemuiku. Membangunkan tidurku hingga aku merasa pagi dan siang meninggalkan semua keluh kesah yang ingin aku sampaikan.
Aku tidak tau pasti apa yang terjadi pada rindu yang sempat menghantuiku. Seakan musnah tanpa kelakar yang selalu tersembunyi dalam teks keheningan. Seakan hilang tanpa sendu yang selalu membuncah saat pikiranku tak bisa membendung bayangmu hanya dengan berpikir. Seakan senyap tanpa suara yang selalu berbisik lembut di setiap organ dalam tubuhku sampai aku gila. Entah apa yang terjadi. Aku tak bisa menemukan alasan dan jawabannya. Aku hanya bisa merasakan Kau lebih dekat. Sangat dekat. Hingga seakan wajahmu tepat berada di depanku dengan amarah yang membuat cantikmu memuncak.
Kebisingan sore ini semakin menjadi-jadi saat masjid di kompleks tempatku tinggal mengumandangkan adzan pada pukul 16.21. Katanya ada kegiatan pelepasan calon jemaah haji yang dilakukan sedari tadi. Mungkin adzan tersebut untuk menguatkan tekad dan niat mereka sebelum berangkat ke Sukolilo untuk menunggu kloter. Atau jangan” mereka memang baru shalat Ashar. Entahlah, apapun itu semoga kalian diberkahi dan dirahmati Allah. Semoga juga aktifitas hajimu mabrur sepulangnya nanti.
Samar” aku mendengar suara rindumu di sela” kebisingan tadi. Semakin jelas di telingaku saat aku kembali mengingat sebuah kabar dari seorang saudara-yang-aku-pilih semalam. Semacam kabar dan respon baik darimu. Semoga saja begitu. Karena aku tau Kau juga tak bisa menepikan rindu itu. Rindu yang juga mengalir deras dari pandanganmu. Tapi bagaimana mungkin aku bisa mendengar suaramu di tengah kebisingan yang tak sebentar itu. Aku hanya bisa tersenyum dalam kagetku. Apakah itu yang dinamakan rindu suci. Rindu yang tak pernah diungkapkan satu sama lain. Rindu yang memuncak saat keduanya tak saling bertemu, mengirim pesan teks tapi diam” saling mendoakan. Yaahh, akhir” ini aku sering mendengar kalimat itu dari Sudjiwo Tedjo.
Apa Kau melakukan hal yang sama..? Menyelipkan namaku di setiap doamu seperti yang aku lakukan..? Seberkas senyummu selalu hadir saat namamu aku sebut dalam doaku. Menggantikan bayangan senyum wajah lainnya yang aku sebut namanya bergantian.
Sore ini cepat berlalu dan lenyap dalam gelap malam. Aku masih duduk di depan notebook ini menceritakan semua keluh yang tak mungkin aku sampaikan pada lainnya. Tidak juga padamu. Karena sudah lama aku tak mendengar suaramu. Sudah lama sekali Kau sembunyikan dariku. Sudah lama sekali Kau hindarkan suara manjamu itu di telingaku. Sekali lagi, apapun yang terjadi, aku hanya berharap Kau baik” saja menjalani rutinitasmu di sana.
Selengkapnya...

