Hanya Ingin Bercerita..

hai. aku hanya sedang gak bisa tidur, bukan merindukanmu. semua urusan baru selesai jam segini, sebagian serba mendadak dan meeting yang bertubi-tubi. semuanya terjadi dalam sehari, yang tak hanya menguras tenaga, tapi pikiran dan juga waktu ngopi. aku hanya ingin cerita. jika di paragraf ini Kau sudah bosan, baiknya hentikan.

hari-hari belakangan cukup sulit. banyak cerita yang harus aku baca. semuanya berupa muka. yang tak bisa aku pilih dan membuat letih. aku harus menganalisis beberapa senyum di wajah, dahi yang mulai mengkerut, sampai kata-kata di balik amarah. karenanya, aku harus mengatur emosi dengan cepat. jika telat, aku hanya bisa mengungkapnya dengan sambat. mungkin, seperti yang sedang aku tulis sekarang. yang pura" aku ceritakan padamu, yang pura" sedang Kau baca.

hai. kabar baiknya, akhir" ini Surabaya kadang berawan. jalanan jadi rindang dan kamar tak segerah yang aku ceritakan. Kau juga, Kau juga mengeluhkannya kadang". berawan, meneduhkan pandangan, dan menghembuskan ilir angin yang tak sengaja lewat di samping pipimu. berawan, seperti mau hujan. cuaca yang tepat untuk bepergian.

sekali lagi, aku hanya ingin bercerita. bahwa playlist di Spotify-ku tak lagi bisa menolong dengan cermat aku menulis. aku lebih banyak menghabiskan waktu senggang yang sangat sedikit ini untuk tidur. beruntungnya, aku bisa tidur di mana saja dalam kondisi apa saja. aku cukup melihat jadwal dua puluh satu menit ke depan, jika kosong, aku hanya perlu menyenderkan badan dan kepala, lalu memejamkan mata. bahkan film yang ingin aku tonton di laptop harus aku putar enam kali baru kelar.

hai. terima kasih jika Kau membaca sampai paragraf ini. abaikan jika Kau pikir aku merindukanmu. aku hanya ingin bercerita. sekarang giliranmu.
Selengkapnya...

Bertemu Kali..

sesampainya di Surabaya, saya masih mikir-mikir buat nulis cerita ini. karena akan terdengar norak, alay, dan lebay. tapi mengungkap kesenangan, apa salahnya..?!

Sabtu (3/8/2019) malem hari, adalah hari terakhir liburan saya di Jogja. dua list yang masih tersisa di catetan adalah ngopi di Warung Mojok dan Klinik Kopi. saya gak peduli makan-minuman apa yang akan saya beli di sana nanti, saya ingin experience-nya. ingin merasakan suasananya. warung yang sering dijadikan aktivitas banyak penulis mojok dan sang kepala suku, juga kedai kopi yang mengakomodir banyak petani kopi.

bersama teman menjelang petang, saya berangkat dari penginapan di Sosrowijayan Malioboro dengan GoCar. timingnya kurang tepat. jam segitu Kota Jogja macet di mana-mana. ditambah ini adalah malem minggu, malem yang membunuh semua jalur di Jogja, kata drivernya gitu. jauh dan mahalnya gak jadi soal, tapi lamanya kita berada di jalanan adalah hal yang disesalkan. karena waktu Magrib yang sebentar dan kami tertahan di jalan.

setelah sekitar 40 menit, kami sampai di Warung Mojok. driver kami memilih jalur Palagan, ketimbang Kaliurang yang macet. hanya dua meja yang terisi, berpenghuni masing-masing dua orang. kami pesan sekenanya. saya pesan Wedang Cabai, yang pernah dipromosikan Puthut Ea di twitter.

semua tampak biasa. ada toiletnya, saya buang air kecil di sana, biasa. ada mushallanya, saya shalat Magrib di sana, seneng karena jarang ada warung menyediakan mushalla, tapi masih biasa. semuanya tampak biasa, sampai pada akhirnya seorang perempuan datang bersama seorang anak dengan tas ransel AS Roma.

saya dan temen saya adalah pembaca mojok.co. nyeleneh, tapi lucu dan pemberi jeda dari mumetnya deadline. awalnya kami membaca mojok.co karena Puthut. cara dia menyampaikan gagasan sangat baik dalam tulisannya. dia menganalisa persoalan dalam tulisannya dengan nyaman, hingga akhirnya menyentuh kesimpulan yang seringkali masuk akal. darinya, lalu saya juga menyukai tulisan" di circle mojok.co seperti Arman Dhani, Dea Anugerah, Sabda Armandio, sampai Agus Mulyadi dan Kalis. tapi semalem, saya ndredeg. bukan karena ketemu nama-nama itu, tapi sosok yang sering diceritakan Puthut di tulisan"nya; Kali.

apa jadinya, atau, begimana perasaanmu, bertemu seseorang yang sebelumnya hanya Kau dengar cerita-ceritanya dalam tulisan..?! freeze..? salting, mungkin. tapi saya jauh lebih kikuk dari bertemu dan mewawancarai Sheila On 7 di backstage, Ivan Makhsara di festival literasi FMF 2018 lalu, dan Aan Mansyur di acara yang sama. ketiganya adalah beberapa idola yang akhirnya berhasil saya jumpai. tapi bertemu Kali ini kayak beda.

saya memang belum pernah bertemu Puthut Ea, paling ya ndredeg juga. tapi ketemu Kali kok bisa se-ndredeg ini. kami saling pandang dan ngobrol gak penting beneran 'masak itu Kali..?!' | 'kampret, iya bener itu Kali. itu ibunya, saya pernah liat' | 'gilak itu beneran Kali..?! anak kecil yang biasa kita baca ceritanya..?!'.

karena profesi, saya biasa bertemu dan mewawancarai orang terkenal di bidangnya. karena gak nge-fans, saya biasa aja. saya juga gak tau kenapa ketemu Kali kudu ndredeg begini. harusnya kan sama Puthut-nya. ah entahlah. males mikir. kami malah nyari cara saat itu gimana caranya bisa ngobrol atau foto lah sama Kali. mau izin, tapi ibunya sedang rekap laporan warung dengan salah satu pekerja warung. jadilah kami hanya mendiskusikan beberapa tulisan Puthut tentang Kali, baik yang ditulis di instagramnya, maupun di buku Dunia Kali.

sialan, kayak gak ada kerjaan di Warung Mojok ngomongin Kali dan jalan pikirannya di tempat yang ada orangnya. Kali duduk terpisah dua meja dari kami, dengan tab di tangan dan matanya gak bergeser memandanginya dengan sesekali tertawa. sedangkan ibunya, duduk tepat di belakang meja kami. saya gak yakin ibunya dengar obrolan kami, karena pembicaraan tentang Kali ini sangat pelan dan ibunya ngobrol serius.

sampai jam lapan malem, kami masih membicarakan Kali dan betapa senangnya menjumpainya. akhirnya, kami memutuskan untuk mengakhiri ketidakjelasan ini dengan pergi dari warung. masih dengan peci haji warna kecoklatan, Kali masih sibuk dengan tab-nya. kami ngloyor dan sengaja lewat di celah mejanya lalu menyapa.

'halo, Kali', Kali menoleh dan menjawab 'halo, Om'.
Selengkapnya...

Badai Rindu..

tidak ada rindu-rindu yang harus disampaikan. semua menjadi buih dengan terlanjur. atau mungkin sengaja. saat kita beradu jarak, atau kita yang memilihnya begitu. tidak ada rindu-rindu itu, begitu juga isyarat yang tiap malam bercumbu bersama semilir angin. karenanya, jangan ditunggu, tidak ada lagi yang seperti itu. dariku, juga darimu.

kita mendatangi badai dengan percaya. menyelam di tengahnya dengan jemawa. bermain-main tanpa melihat luka-luka. diam lalu berkejaran bersama-sama. kita tak pernah tau ada yang mengintai di kejauhan. perlahan mendekat tanpa suara. bicara terbata dengan senyum belum purna. kita mengabaikannya, juga semua pesan yang dia sampaikan dengan tangan kanan yang menggenggam bara. kita mengabaikannya. sangat disayangkan, kita mengabaikannya.

kita mendatangkan badai tanpa sengaja. diam-diam menjadikannya teman sehari-hari. menjadi lawan bicara, mendiskusikan beberapa lagu, sampai bersembunyi dari bulan purnama. kita tak tau badai itu. bentuknya, rupanya, dan suaranya. kita tidak pernah tau. hingga akhirnya dia membelenggu tanganmu, mencengkram kakiku, dan memperlihatkan sosoknya. memporak porandakan rumah yang kita tinggali dan semua yang bersemayam di dalamnya. termasuk rindu-rindu itu.
Selengkapnya...

Orang yang Rumit..

beberapa teman mengatakan bahwa aku orang yang rumit. aku juga tidak tau kenapa. sama halnya saat beberapa teman bilang aku adalah orang yang tidak bisa berpura-pura. harusnya bisa tersenyum meski situasi sedang merutukmu. berbicara biasa meski hati sedang kacau. aku tidak tau kenapa hal itu disematkan padaku. mungkin aku rumit, tapi aku mudah tersenyum saat bersamamu. dan aku sering berpura-pura di depanmu. aku adalah pembohong yang nyata. selalu merasa berantakan di depanmu dan tak bisa menyapamu dengan manis. dan aku sedang berpura-pura tidak merindukanmu, padahal aku sangat membutuhkanmu karena Kau tau alasannya. Kau selalu tau. selalu.

hari ini aku mendapatkan buku Puthut EA yang baru. iya, aku membelinya. salah satu kalimat yang dia tulis 'tanpa rasa gembira, semua hanya sia-sia'. aku lalu mencari sesuatu yang membuatku bahagia hari ini. ternyata lumayan sulit, karena aku sedang berada di ruangan yang penuh dengan deadline dan aku ada di dalamnya. sore sudah usai, petang datang melambai. aku pulang dan menemukan diriku yang lain sedang terbaring lunglai. membiarkannya sampai mega merah memanggil. hingga akhirnya menyadari Yesterday mulai tayang hari ini. petang itu juga, aku sudah mendapatkan satu kursi di studio 6 Sutos untuk Yesterday.

setelah menontonnya, aku menyadari beberapa hal. bahwa aku adalah orang yang rumit, bisa jadi. aku sudah tidak jujur pada diriku sendiri dan orang lain selama ini tentang perasaan-perasaan. aku membiarkannya blur dan kabur. tidak terlihat jelas bagaimana bersikap dan membodohi diri sendiri dengan banyak penyangkalan. membiarkan waktu berjalan banyak dan melihatnya berputar sendirian. padahal ada orang lain yang ingin Kau ajak menyaksikannya berlalu. tapi benar, aku orang yang rumit. aku tidak bisa mengatakannya karena aku adalah pembohong besar. aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku merindukanmu, terlihat jelas di semua gerak kecilku, tapi aku masih bertahan untuk berbohong.

aku hanya tidak tau harus berjalan ke arahmu lagi, atau diam mendendam. aku juga sedang tidak bahagia. aku tidak sedang bersama rasa gembira saat menulis ini. aku merasa kacau. sedikit kesepian dan rindu, entah pada apa. aku hanya ingin berkata jujur, bahwa nanti-nanti, aku harus ...
Selengkapnya...

Cela dalam Dirimu..

terlalu banyak yang akan menyakitimu setiap hari. kata, suara, bahkan sunyi yang ada di hatimu. Kau akan mendengar suaramu sendiri. kalimat yang menyayat karena pikiranmu sendiri. kekhawatiran yang membuatmu takut tak diterima. kegelisahan yang membuatmu berkali-kali ragu. it's oKee. Kau hanya belum siap menatap cahaya di balik pintu itu. hatimu masih mengumpulkan keberanian. mungkin juga membutuhkan tangan lain untuk menguatkan.

Kau akan dicaci tanpa sepengetahuanmu. mungkin olehku juga, secara sengaja atau tidak. seringnya sengaja. dengan kata, suara, bahkan sunyi yang sengaja ditempatkan di sampingmu. Kau akan terus menerimanya, sampai Kau sadar Kau ditempa olehnya. sampai Kau sadar tak ada hidup yang lebih baik dari yang sedang Kau jalani. aku tau Kau membenci sebagian dari hidupmu, tapi bukan karena Kamu. bukan karena Kamu, tapi apa yang terkonstruk dalam pikiranmu. bukan karena Kamu.

Kau akan terus menerima pengkhianatan. begitulah siklus kehidupan bekerja. tersakiti, Kau terdiam, berpikir, menolak, melawan, tersakiti lagi, bangkit melawan, begitu seterusnya sampai Kau berencana mengubah hidup dan caramu hidup. Kau hanya harus menyadari bahwa ada cahaya terang di dirimu yang perlu Kau kuatkan, Kau buka, dan sebarkan.

you're gud just the way you are. mudah mengatakannya bagiku, karena aku berada di seberangmu. Kau tak perlu mengubah apapun, karena suatu saat dunia bisa menerimamu. yang Kau perlukan hanya menoleh ke kanan, juga kirimu. di sana ada kekuatan yang Kau butuhkan, tangan yang akan menggenggammu, dan hati yang akan selalu ada di sampingmu. jangan lupakan itu.


*ngadaptasi penampilan Alessia Cara menyanyikan Scars To Your Beautiful di The MTV VMAs, 2017.
Selengkapnya...

Sebelum Jarak, Sampai Sekarang..

aku biasa mendengarkan lagu-lagu ini menjelang pertemuan kita. di jalan. di perjalanan dari parkiran tempat motorku berada, ke kediaman yang Kau sebut kos. lalu jarak perlahan terbentuk, mendekati kita yang masih duduk bersama dengan tawa, dan berhasil memisahkan kita pada akhirnya.

semua malam adalah perjalanan panjang kita. tantangan untuk ditaklukan dalam teriakan dan wajah yang murung. tantangan untuk mengubahnya menjadi tawa dan kesah. kita membicarakannya berbisik, bermain mata seolah tidak ada yang tau, dan menganggukkan kepala tanda setuju. kita merutuk di sepanjang jalan pulang. tapi seringnya kita menepi karena rindu bertemu masih tertuang.

lagu-lagu ini jadi aneh saat aku dengarkan sendiri, sekarang. membuatku tersenyum dan menghubungimu. bicara lama seolah tak terjadi apa-apa, sampai sekarang.


ngadaptasi Us.
Selengkapnya...

Tidak Berjarak..

malam tak pernah menolongku menyembunyikan rindu. dia menggerutu keras dan memaksa mulut bersuara tegas. percuma melawan. aku pernah menghalanginya, tapi jalanan berubah sunyi saat pandanganku menatap tepat pada matamu. Kamu langsung tau kalau dadaku merutuk dan berdegup. Kamu membalasnya dengan senyum dan berlalu. berjalan pelan lalu menoleh, memintaku mengejarmu, berjalan beriringan dan bercerita.

Kamu selalu tau kalau rindu menghinggapi kita bukan saat tak bertemu. bukan saat berjarak dan membiarkan jeda berarak. tapi saat seperti ini. saat kita bicara dan jalan kaki di trotoar. bercerita tentang banyak hal tidak penting yang kita tertawakan. atau saat kita berada di satu meja tanpa sengaja. lalu memilih duduk bersebrangan agar pandangan kita bertemu. senyap, tapi selalu berhasil kita lakukan. malam ini juga sama. senyap, tanpa banyak cakap.

berkali-kali kita beradu pandang. berali-kali pula kita berebut memulai pembicaraan. rindu yang membuat kita begini. membuat pertemuan ini jadi canggung dan tanggung. ingin lama, tapi tak banyak kata yang kita sebut. ingin lama, tapi sebentar lagi harus usai. rindu juga yang membuat kita tak pernah berhasil mengalihkannya. semua kalimat yang kita ucapkan selalu berakhir senyum. semua hela nafas selalu berakhir dengan kerlipan mata. dan setiap malam yang kita lewati begini, berakhir sunyi. tidak ada kata. Kau melihatku, aku tersenyum. Kau membalasnya, memandangiku lalu tersenyum.



*ngadaptasi Us and Night.
Selengkapnya...