Sebelum Jarak, Sampai Sekarang..

aku biasa mendengarkan lagu-lagu ini menjelang pertemuan kita. di jalan. di perjalanan dari parkiran tempat motorku berada, ke kediaman yang Kau sebut kos. lalu jarak perlahan terbentuk, mendekati kita yang masih duduk bersama dengan tawa, dan berhasil memisahkan kita pada akhirnya.

semua malam adalah perjalanan panjang kita. tantangan untuk ditaklukan dalam teriakan dan wajah yang murung. tantangan untuk mengubahnya menjadi tawa dan kesah. kita membicarakannya berbisik, bermain mata seolah tidak ada yang tau, dan menganggukkan kepala tanda setuju. kita merutuk di sepanjang jalan pulang. tapi seringnya kita menepi karena rindu bertemu masih tertuang.

lagu-lagu ini jadi aneh saat aku dengarkan sendiri, sekarang. membuatku tersenyum dan menghubungimu. bicara lama seolah tak terjadi apa-apa, sampai sekarang.


ngadaptasi Us.
Selengkapnya...

Tidak Berjarak..

malam tak pernah menolongku menyembunyikan rindu. dia menggerutu keras dan memaksa mulut bersuara tegas. percuma melawan. aku pernah menghalanginya, tapi jalanan berubah sunyi saat pandanganku menatap tepat pada matamu. Kamu langsung tau kalau dadaku merutuk dan berdegup. Kamu membalasnya dengan senyum dan berlalu. berjalan pelan lalu menoleh, memintaku mengejarmu, berjalan beriringan dan bercerita.

Kamu selalu tau kalau rindu menghinggapi kita bukan saat tak bertemu. bukan saat berjarak dan membiarkan jeda berarak. tapi saat seperti ini. saat kita bicara dan jalan kaki di trotoar. bercerita tentang banyak hal tidak penting yang kita tertawakan. atau saat kita berada di satu meja tanpa sengaja. lalu memilih duduk bersebrangan agar pandangan kita bertemu. senyap, tapi selalu berhasil kita lakukan. malam ini juga sama. senyap, tanpa banyak cakap.

berkali-kali kita beradu pandang. berali-kali pula kita berebut memulai pembicaraan. rindu yang membuat kita begini. membuat pertemuan ini jadi canggung dan tanggung. ingin lama, tapi tak banyak kata yang kita sebut. ingin lama, tapi sebentar lagi harus usai. rindu juga yang membuat kita tak pernah berhasil mengalihkannya. semua kalimat yang kita ucapkan selalu berakhir senyum. semua hela nafas selalu berakhir dengan kerlipan mata. dan setiap malam yang kita lewati begini, berakhir sunyi. tidak ada kata. Kau melihatku, aku tersenyum. Kau membalasnya, memandangiku lalu tersenyum.



*ngadaptasi Us and Night.
Selengkapnya...

Bepergian..

sunyi baru saja tiba di pintu kamarmu. mengetuk perlahan agar Kau tak bangun dan beranjak. setelah terbuka, dia melihatmu berdiri memegang handphone. berjalan merunduk dari depan cermin ke arahnya. dia menutup pintu dari dalam dan mulai memperhatikanmu. malam sudah sangat larut, tapi Kau masih segar dengan jaket dan kerudung. seolah bersiap pergi dan beranjak.

sunyi duduk di atas kasurmu. melihatmu yang masih berjalan merunduk memegang handphone. berjalan dari pintu ke arah depan cermin. lalu kembali lagi. dia yakin Kau menunggu pesan dari seseorang, yang sepertinya akan mengajakmu keluar meninggalkannya. Kau melihat ke arahnya, tersenyum dan membuka lemari. di sana, ada sepi dan kantuk yang bersembunyi dari tadi. Kau mempersilakan mereka berdua keluar dan meminta ketiganya ngobrol. 'di sini dulu ya, aku mau keluar. daahh'.

aku duduk di atas motor, di depan pagar rumahmu dan merunduk memegang handphone. Kau menyunggingkan senyum dengan membawa helm. menyapaku dari belakang dan duduk. motor melaju, Kau diam, aku juga. jalanan masih ramai. karena kita sedang ada di kota yang tak pernah mati. karena kita, sedang ada di malam yang tak akan pernah sepi. dan akan berlangsung lama. sebulan, dan sudah berjalan sepertiganya. bepergian yang menyenangkan. yang akan sering diulangi.

*ngadaptasi dari Night and Us
Selengkapnya...

The Dark Night..

kota ini memabukkan di tiap sudutnya. Kau bisa merasakan gelap yang sangat sunyi di malam hari, atau gempita di sudut lainnya. masih di kota yang sama, Kau juga akan menemukan kesedihan tiba sendiri tanpa Kau undang. kota ini memabukkan, tapi tak ada tempat yang cocok untuk kita berdua. hanya kesendirian yang bisa bertahan dan menetap. mereka yang bising, adalah kumpulan kesepian yang terlampiaskan.

malam hari selalu jadi rumah saat kota sudah larut. kita menyusuri penat dan merangkul jenuh yang berserakan. kita berjalan beriringan dengan happy together terputar di sepanjang langkah. tidak ada dingin, tidak ada ingin. kita baik-baik saja selama Gerard Way terus menyanyikannya. tidak ada gandengan tangan, tidak ada kata rayuan. Kau mempersilakan kita berangkulan dan bicara omong kosong.

kota ini bukan tempat menghasilkan senyuman, karena yang kita tau, pembunuhan berkali-kali datang darinya di awal. membunuh karakter, membunuh kepercayaan dan kemanusiaan. kita terus berjalan lurus ke depan, ke tempat baru yang meninggalkan kenangan. atau, maksudnya, kita membuatnya. takdir mempertemukan kami, aku tidak bisa terus mengabaikannya. hari ini adalah hidup, besok adalah misteri. ketidakjelasan yang orang-orang kejar dan berusaha taklukkan. besok adalah jalan yang sangat panjang dan bisa menipu. besok, adalah pembohong. sama seperti rupa kota ini saat malam.

*ngadaptasi dari lagu Kill of the Night - Gin Wigmore
Selengkapnya...

Rencana yang Tertunda..

Kau terbiasa merutuk berkali-kali, karena hujan turun gak henti-henti. di pagi saat Kau ingin tau, di siang saat kita berencana, dan di malam saat kita hampir bertemu. tapi senyummu selalu tersimpul di ujung sunyi, karena percakapan kita tidak pernah sepi. hujan hanya memberi jarak, tidak pernah sungguh memisahkan. ragaku dan tatapanmu. pandanganku dan kursi yang sedang Kau duduki. hujan hanya menawarkan jeda, yang bisa kita tolak hanya dengan seperangkat baju.

Kau biarkan kaki-kakimu basah saat hujan turun. berdiri di antara batas lantai dan percikannya. melamun heran memandangi air-air itu mengalir. bunyi-bunyian yang keras. kendaraan yang masih melaju. dan nafasmu yang Kau tarik dalam-dalam. Kau ingin memaki, tapi tak punya kata yang tepat untuk mencaci. hanya saja, satu rencana sudah pergi. tidak terjadi. malampun tak lagi hening. semuanya menjadi bising. bahkan saat Kau tengadahkan wajah, tidak ada yang membalasmu dengan ramah.

Kau masih merutuk satu dua kali, karena hujan baru berhenti sekarang ini. saat jam tak lagi nyaman buat mengadakan pertemuan. untuk berencanapun sudah terlambat. apalagi untuk mengangkat tubuh dari atas kasur, pasti terasa berat. yang tersisa hanya kehendak, sebuah harapan kecil dengan rencana-rencana lain. dan juga rindu.
Selengkapnya...

Di Rumahmu..

hai, apa Kau baik-baik saja..?! aku bangun tidur dan baru melihat semua panggilanmu. jadi aku pergi buat membalasnya. aku mampir ke rumahmu, kosong. aku melompati pagarnya. Kau tidak ada. rumahmu sepi. hanya ada ragaku dan jejak wewangian yang biasa Kau pakai di balik pintu. masih harum. Kau baru saja pergi. tapi aku tak ingin mengejarmu, aku di sini saja, di depan rumahmu yang sepi.

rinai hujan mulai turun. rintiknya mengenai kaki dan sepatu yang aku pakai. teras rumahmu basah. aku tidak ingin mengetuknya. aku tidak ingin tetanggamu mendengar dan tau kalau ada penyusup di rumahmu. jika boleh, aku ingin duduk di kursi terasmu. sebentar saja, sebelum aku meninggalkan rumahmu. duduk dan mereka-reka apa yang sebenarnya ingin Kau sampaikan di telpon tadi.

perlahan, aku mencium wewangian yang aku kenal. samar, dan semakin mendekat. itu Kau, membuka pagar rumah dan melihatku kaget. Kau menutup mulutmu, rambutmu terurai ke depan wajah dan menutupi sebagian mata. Kau berlari menghampiriku, memegang tanganku dan berbisik pelan. aku mengangguk. aku masih mendengar ... juga melihat luka yang dulu. aku mendengar suaramu, juga derita itu.

*ngadaptasi puisi 'Mampir' Joko Pinurbo (2002)
Selengkapnya...

Sebelum Petang Juga Memerah..

Kau mulai memejamkan mata, tak peduli sedang di mana. Kau tau Kau sedang di mana. dengan semua bunyi klakson dan desing knalpot itu, Kau tau sedang di mana. tapi Kau ingin memejamkan mata, karena menghela nafas saja sudah tak sanggup menyelesaikan persoalan ini.

Kau di jalan menuju rumah. aku tau Kau tau itu. hanya saja Kau tidak bisa membedakan pagi yang baru lahir dan sore yang merana. langitnya merah, tak lagi jingga atau kuning pudar. merah merana, seperti sedang terluka dan marah. sepertimu yang sekarang sedang memejamkan mata.

Kau masih memejamkan mata, tak peduli Kau sedang di mana. Kau pikir mati sekarang atau besok sama saja. kesedihan ini tidak mengantarkanmu pada banyak kejernihan. terlalu susah menggapainya. dada terasa sesak dengan amarah. ingin meledak bersama peristiwa yang bisa saja terjadi di jalan.

banyak kilometer yang harusnya Kamu tempuh sore ini. ditambah macet yang pasti terjadi, Kamu tau akan menemui petang di sini, di jalan, seperti biasa. tapi jalan begitu sunyi. Kau hanya mendengar teriakan dan bising suara dari kepalamu. pikiran itu berkecamuk di antara ributnya jalanan.

sore ini hanya ada Kamu dan semua pikiran yang ingin Kau diamkan, tapi tak bisa. bising gak karuan. Kau pejamkan mata meski Kau tau sedang di mana. Kau sudah tidak bisa lagi membedakan banyak hal. lampu jalanan yang berbaris dan langit merah yang bergaris. petang sebentar lagi. Kau bahkan tak bisa bedakan rintik hujan dan air mata yang mulai mengalir di pipimu.

kondisi itu tidak bisa Kau hentikan, sampai akhirnya Kau tiba di rumah. memanggil-manggil namaku, mencari, dan menemukanku. sambil terisak, Kau memelukku. Kau ingin bercerita, tapi suaramu tidak keluar. Kau ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan. Kau diam, dan masih terisak. tapi aku tau Kau sedang sedih. entah kenapa keheningan membuat kami lebih terhubung ketimbang berkata-kata.

*ngadaptasi puisi 'Di Jalan Menuju Rumah' M Aan Mansyur (2016)
Selengkapnya...