Tidak Lagi Menunda"..

aku seringkali menunda" banyak hal. menunda mengerjakan skripsi yang berakibat menunda harapan Ibu dan Bapak. menunda merivisinya sampai membuat dosen"ku marah dan enggan menyapa. menunda mengatakan banyak hal padamu, sampai Kau juga mengabaikan banyak hal padaku. dan menunda menulis; hal paling ingin aku sudahi. aku sudah melewatkan banyak momen karena kebiasaan menunda ini. melewatkan banyak timing untuk review" film bagus yang sudah aku tonton. seperti malam ini, aku menunda menulis review film Dunkirk dan malah membuat tulisan ini 21 menit setelah nonton episode kedua game of thrones session ke tujuh. aku banyak menunda, dan aku banyak melewatkan momen.

saat pulang kemarin, seorang mantan menegurku karena gelagat menunda" ini. dengan sok tau, dia bilang begini:
'saya masih sangat suka baca blog-mu, semua tulisan"mu. tapi aneh, saya kecewa, blog itu udah lama gak keisi. sepertinya, sang tuan tidak sedang bahagia. butuh kekasih yang membuatnya tertawa dan senyum" sendiri. seperti apa? biar saya carikan. biar semua orang yang menunggu blog-mu senang. sebutkan kriteriamu? pasti sudah bukan seperti saya, karena terakhir, pacarmu cantik sekali dan manis. saya punya banyak teman yang seperti itu, sapa tau ada yang cocok', dia mengatakan ini di depan rumah, saat dia lewat tanpa sengaja. dia menghentikan motornya dan bertamu setelah melihat saya di rumah. tidak lama, tapi cukup membuat banyak orang lain yang lewat salah paham. dia cuma mengatakan itu, dia salaman dengan Ibu yang kebetulan keluar, lalu pergi. biadab.

aku tidak perlu banyak alasan buat menulis. aku hanya butuh motivasi, inspirasi, lalu satu tulisan sengaja atau tidak, akan aku tulis dengan senang hati. iya, karena aku butuh mood buat menulis. ini yang mungkin banyak orang tidak tau. mereka menegur dengan teks dan verbal tentang blog, tapi mereka tidak tau banyak bahwa hal terakhir yang aku butuhkan adalah mood. aku tidak senang dibicarakan, disapa dengan sanjungan apalagi secara langsung lewat obrolan. aku diam" menyesali tulisanku di blog yang mendapat pujian, ingin aku hapus tapi eman. lalu aku memilih untuk tidak menulis lagi sampai orang" lupa dengan blog-ku. aneh kan..? hal ini tidak aku katakan sebagai jawaban pada mantanku itu. tapi dia sudah cukup membaca tulisan ini sebagai pernyataanku.

malam ini pun, aku sedang tidak dalam situasi terbaik buat menulis ini dan mengisi blog. tapi aku terjebak di kantor setelah Festival Kopi di Cak Durasim, Dunkirk dan Game of Thrones. aku membuka chat setelahnya. seseorang mengirimiku update baru blog-nya dan aku membacanya lewat PC. aku membuka youtube mendengarkan dua lagu Linkin Park, lalu aku mulai membuka notepad dan menulis ini. aku juga tidak tau kenapa aku harus menulis ini. tadi hanya sekilas kepikiran mengisi blog dan kembali menjadikannya rutinitas. aku hanya ingin berlatih saja, untuk tidak lagi menunda". karena, seseorang pernah bilang padaku, menunda berarti menumpuk masalah.
Selengkapnya...

Setelah Kau Pergi Mi'..

hai Mi'.. aku sudah melihat banyak ironi selama hidup, yang paling menyakitkan adalah hari ini. di depanku saat ini, berkumpul kedua orangtuaku, semua sodara kandung dan sepupuku, bibi dan pamanku, semua anak dan cucumu, Mi'. mimpi dan keinginanmu, yang hanya bisa terjadi setiap Iedul fitri dan dulu sekali saat aku kecil. tapi ironisnya, momen ini terjadi saat yang punya mimpi sudah tiada, pergi dan tidak kembali. hai Mi' bagaimana kabarmu di sana..? di tempat lama sebelum Kamu lahir dan diciptakan. tempat yang nantinya Kau siapkan kita berkumpul lagi.

semuanya sekarang jadi mudah Mi'. mengumpulkan niat potong rambut pun jadi sangat mudah. aku tidak perlu lagi bertengkar dengan semua penyesalan dan gengsi yang mengakar di helai rambutku. aku sudah potong rambut berkali" setelah Kau tiada. iya Mi', setelah Kamu tiada. benar" tiada, tidak meninggalkan raga. berkumpul pun dengan keluarga besar ini sekarang jadi lebih mudah. ironisnya jutsru karena Kamu. karena Kamu yang sudah tiada ini, membuat kami lebih mudah berkumpul dan membuat lingkar hangat pertemuan. sayangnya, kami tidak tau bagaimana raut wajahmu saat melihat kami di sini, di Bumi. aku juga tidak tau bagaimana senyummu tersungging saat tau aku potong rambut, hal yang selalu Kau inginkan saat aku pulang ke rumah. katamu dan Ibu, aku lebih mirip orang gila daripada mahasiswa, daripada jurnalis atau semacamnya. bahkan Kau tidak ingin mengakuiku sebagai ustadz dan ketua persatuan santri karena rambut panjang ini. Kau lebih ingin aku rapi seperti Kak Aziz, Kak Hakim dan Kak Reza. biar adik"ku gak ikut"an. sekarang Mi', sekarang alasan"mu lebih mudah aku terima. dan aku, sekarang lebih mudah mengumpulkan niat untuk potong rambut.

ironi lainnya, penyesalan itu begitu dekat dengan kehilangan. aku, menyesal, saat kehilangan. lalu karena menyesal, aku menunda kehilangan, yang walaupun aku tau itu sia". saat aku potong rambut misalnya, ingin sekali aku lakukan agar Kau tersenyum saat aku pulang ke rumah. tapi itu sia", karena aku sudah kehilangan kesempatan itu, potensi melihat senyummu, yang sudah terkubur bersama ragamu. tapi aku, sekarang, tak pernah lagi menyesal potong rambut. bagaimanapun, niatku potong rambut hanya untuk melihat senyummu, meskipun sudah tidak mungkin lagi terjadi.

hari ini, sudah 100 hari Kau pergi. kami di sini mengirim tidak hanya Al-Fatihah, tapi 114 surat di dalam Al-Quran. iya Mi', kami khatmil Qur'an. aku dan Sinal pulang dengan sangat cepat meski terlambat. Sinal semalem masih harus kerja sampai malem. kata Ibu, hari ini juga bertepatan haul Kakek. Ibu cerita, sebelum Kau tiada, Kamu pengen sekali mengajak semua undangan buka bersama di haul Kakek, karena terjadi di bulan puasa. tapi ternyata, alasan buka bersama itu tidak hanya haul Kakek, tapi juga karena Kamu. hahahaha, jangan bilang aku terlalu sentimentil Mi'. hanya ini yang bisa aku tulis untuk kenangan. hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mempertajam ingatan. dan menyulamnya dalam sajak kerinduan.

hari ini juga, sebulan yang lalu, aku ulang tahun Mi'.



16 Juni 2017
Selengkapnya...

Kepergianmu, Mi'..

Hai Mi’. Hmmm, rasanya masih belum percaya Kau sudah tiada. Semuanya sudah terasa tenang. Semua sudah dengan lapang dada menerima. Bukan perkara ikhlas, ini hanya soal mengenang. Aku yakin, aku bukanlah yang paling menderita dan sedih dengan kepergianmu. Ada. Ada yang jauh lebih sedih dan terpukul dengan kejadian ini. Tapi Kau tidak boleh mengingkari bahwa aku sangat kehilanganmu. Rumah sudah tidak lagi sama. Pulang, sudah berganti irama. Aku yakin semua juga merasa demikian. Rumah adalah Kamu. Kamu adalah pulang. dan kami terjebak untuk menerjamahkannya setelah Kau tiada. Kami harus menata ulang apa arti pulang. Mendefinisikan lagi, apa arti rumah. Dari sana, aku yakin Kau masih bisa melihat Kami tertawa. Lepas. Tapi semua mengalir tanpa tujuan. Karena sebelumnya, Kamu yang selalu ingin melihat kami tertawa. Sebelumnya, Kamu adalah alasan kami bahagia.

Aku tidak yakin dengan apa yang aku tulis ini. Saat ini aku berada di kamar, mengasingkan diri setelah tau kalau hari ini adalah lewat sebulan Kau tiada. Duduk di depan laptop dan menggerakkan jemari tanpa tau perasaan apa yang hinggap. Sedih tentu saja. Duka yang sangat dalam. Lapang, untuk tidak lagi melihatmu kesakitan. Rindu yang pasti tak hanya aku yang merasa. Semuanya bermula dari saat Kau mulai sakit”an. Saat Kau tak lagi nyaman berjalan seperti biasa. Kau terlihat lemah dan sengat rapuh. Tapi tidak dengan jiwamu. Hatimu yang selalu besar dan kuat, merangkul kami cucu”mu setiap kali pulang dan mengetuk kamarmu. Setelah semua itu, tentu saja yang ada hanya kesedihan melihatmu terbaring dan tak bicara.

Senin malam seperti sekarang, Kau dilarikan ke rumah sakit. Kami senang akhirnya Kau mau diajak dan dirawat di rumah sakit. Tapi Kau sudah tak sadarkan diri sejak di dalam ambulance, jauh sebelum tiba di UGD. Mendengar itu, aku dan Sinal gemetar. Mungkin juga yang lain. Bukan. Bukan sedih, tapi itu bentuk ketakutan. Takut kalau malam itu adalah waktumu. Takut kalau malam itu adalah akhir dari usiamu. Kamu terbaring lemah di sudut ruang itu. Kami bergantian menjaga, keluar masuk ruangan buat memastikan Kau masih membuka mata. Kami menyapamu dengan air mata. Kami ingin sekali Kau bicara. Bergantian, kami yang ada di situ heboh membuatmu tetap terjaga.

Kami yang takut, memaksa semua petugas rumah sakit dan dispendukcapil membantu memuluskan perawatanmu. Kak Reza mengatur pertemuan dengan Kepala Dispendukcapil dan memuluskan administrasi rumah sakit yang kemudian diteruskan oleh Kak Aziz dengan semua peluhnya. Kami sudah bukan lagi Aziz, Azizah, Reza, Hamim, Zainal malam itu. Bukan lagi Yuhai, Yumik, Arifin, Mordifi, Nafsiah saat itu. Kami adalah bajingan yang siap melakukan apa saja demi perawatanmu, agar Kau sehat kembali. Kami panik, kami takut. Kami ingin segera melihatmu kembali tersenyum, dengan sadar. Bahkan di luar sana, ada tangis yang pecah. Zainal memeluk Ibu, karena takut. Dia takut karena belum sempat memelukmu lagi. Dia takut melihatmu begini, tergolek dalam kekosongan.

Pas. Selang 24 jam setelah Kau tiba di rumah sakit dan mendapat kamar, Kau pergi. Kau tinggalkan kami semua. Semua. Di 24 jam itu, kami cucu”mu sudah bukan lagi orang yang punya profesi Bankir, Guru, Dosen, pekerja media dan pramusaji. Kami adalah cucu”mu. Setengah dari cucu”mu, ditambah Zein. Kami kembali mengingat siapa Kamu dan bagaiman Kamu menemani Kami sampai besar. Dalam doa, namamu selalu kami sebut. Dalam doa, namamu mungkin bukan yang pertama disebut, tapi selalu jadi yang terbanyak. Dalam doa, selalu ada tangis yang menyertai. Kami takut, bukan sedih. Kami takut jika nantinya amal kami memberatkan langkahmu ke surga. Kami takut kebadungan, kenakalan, kekurangajaran kami menjadi sandunganmu masuk ke surga. Kami takut. Kami belum sepenuhnya membahagiakanmu, ta’at padamu, mencintaimu seperti Kau mencintai kami. Kami takut belum menjadi shalih dan shalihah untukmu.

Setelah itu, tidak ada tangis yang berhenti pecah Mi’. Bahkan untuk berhari” setelahnya. Bukan tidak ikhlas. Bukan. Ikhlas itu persoalan hati. Tapi air mata ini adalah cara kami meluapkan kehilangan. Malam itu juga, rumah ramai dengan banyak orang, sebelum Kau jenazahmu tiba di rumah. Banyak sekali orang yang ingin mengantar kepergianmu. Tapi semuanya harus menunggu sampai besok pagi. Tiga cucumu lagi yang masih sekolah dan kuliah diminta pulang. Iya Mi’. Lilid, Nurul dan Iin pulang malam itu juga. Entah bagaimana perasaan mereka. Lama tidak melihatmu, lalu mendengar kabar duka ini. Aku hanya tau kepedihan Mbak Siti. Malam itu, aku bergegas masuk ke kamarnya setelah Ibu memintaku menenangkannya. Mbak sendirian, tiduran dengan tatapan kosong. Aku tau tatapan itu. Aku pernah melihat di raut wajah orang lain sebelumnya. Aku mencari tangannya, aku gapai dan menggenggamnya erat. Dia sangat kehilangan, Mi’. Kehilanganmu. Tentu saja, karena dia yang paling dekat denganmu. Sialan, malam itu tidak ada momen yang tidak membuatku menangis.

Subuh setelahnya, aku terbangun juga dengan haru. Nurul dan Iin bergantian merangkul Ibu sambil menangis. Menyesal karena belum berbakti padamu. Dalam suara yang terisak, Nurul bercerita pada Ibu. Dan aku mendengarnya Mi’. Dia bilang kalau sebelum berangkat ke pondok di edisi terakhir, dia pernah menolak permintaanmu dengan suara yang agak tinggi. Dia menyesal Mi’. Menyesal karena belum minta maaf. Dia menangis sejadi”nya. Subuh itu, suara tangis kembali pecah tidak hanya dari Nurul. Tapi juga Iin, cucu yang sangat Kau sayangi sebelum Zein akhirnya lahir. Nurul memaksa Ibu, meminta agar dia diperbolehkan memikul salah satu segi kerandamu menuju tempat peristirahatan terakhirmu.

Sampai pagi menjelang, kami tidak berhenti mengucap banyak ayat di samping jenazahmu, masih dalam haru. Orang yang hadir sangat banyak Mi’. Mereka memenuhi halaman dan tiga rumah tetangga lainnya. Kamu hebat Mi’. Banyak orang yang kehilanganmu. Kebaikanmu selama hidup, membuat semua orang berebut ingin melayani dan mengurus hingga Kau benar” dikebumikan. Aku Mi’. Aku yang mencuci keranda sebelum Kau dimandikan. Aku tidak melewatkan satu senti pun debu menempel. Hmmm, baru kali itu aku sangat antusias melakukan sesuatu. Aku rasa, pagi itu aku menggunakan hati terlalu serius. Aku benar” senang mencuci keranda itu. Aku ingin sekali kendaraan terakhir yang akan Kau naiki ini bersih. Sayangnya, cucumu tidak lengkap pagi itu. Lilid belum datang dan Kak Hakim masih berlayar di laut Pasific. Lilid masih di kereta dari Jogja. Dia bercerita kalau dia langsung menemukan tiket go-show, tinggal satu. Apa itu juga rencanamu Mi’..? Kamu minta pada Tuhan ya, agar dia bisa cepat pulang..? Hmmm, tapi bagaimana dengan Kak Hakim Mi’..? Padahal dia udah bilang ke Kamu kan di awal bulan, kalau dia akan tiba di Indonesia 23 Maret. Dua minggu lagi dari hari itu Mi’, tapi Kau meninggalkannya terlalu cepat. Dia tidak berhenti menelponku sejak saat Kau dilarikan ke rumah sakit.

Hai Mi’, aku atau mungkin juga ini diakui oleh Kak Hakim, Kak Reza, Zainal, Lilid, Nurul dan Iin, akhir” ini kami jauh darimu. Kami jarang bertemu denganmu. Sangat. Tapi jangan Kau ragukan rasa sayang kami padamu. Kamu tidak pernah absen di hati kami. Pergi itu soal sudut pandang Mi’. Nanti kita akan bertemu lagi.
Selengkapnya...

Diperuntukkan..

Kak Reza mendekatiku dan langsung bertanya 'Selain karena film, baru kali ini saya lihat Kamu nangis',
'Hah..? Kelihatan ya..?',
'Iya tadi Nazril melihatmu mengeluarkan air mata saat meluk kaki Nenek. Nazril berbisik ke saya dan saya lihat',
'Hahahahaa', tawaku sambil menahan kembali air mata keluar.

hari ini cucu Nenek berdatangan. Nenek tergolek sakit. lemah terbaring di kasur sejak lima hari lalu. aku yang bangsat ini baru bisa datang kemarin pagi karena libur. Kak Reza juga baru bisa datang di hari yang sama. sedangkan Mbak Siti dan Kak Aziz sudah berhari" menjaga Nenek bersama Ibu dan Budhe.

kemarin pagi, aku datang dan bergegas masuk ke kamar Nenek. mengambil tangannya dan menciumnya. aku melihat ke mata itu sambil terus menggenggam tangannya. tak ingin aku lepas. aku juga tidak ingin bertanya tentang sakitnya dan pertanyaan gak penting lainnya. aku ingin seperti ini sampai Nenek berkata sepatah kata padaku. Nenek hanya melihatku dengan pandangan sayu. aku melekatkan pandanganku membalas. mata itu, menyimpan banyak sakit yang tak terkata. kedipnya pelan masih dengan mulut tertutup tanpa suara.

kemarin siang, aku masih di kamar Nenek dengan Mbak Siti dan Ibu. sementara Budhe di ruang tengah menemui tamu yang menjenguk. sesekali aku memijat tangannya. mengelusnya sampai dia tertidur sebentar. lalu bangun lagi seperti mimpi buruk baru saja mampir di pejamnya. aku melihat cara Ibu dan Mbak Siti membantu Nenek makan dan minum. aku tidak lagi sedih, tapi tersedu" dalam hati. aku dekatkan telapak tangannya yang hangat ke wajah kananku. sampai Nenek membalikkan tubuhnya dan tidur. sampai kamar ini tenang dan sunyi. sampai akhirnya aku juga tertidur.

kemarin sore, aku kembali ke kamar Nenek untuk menemaninya bersama Mbak Siti dan Kak Aziz. bangsat. kenapa saat" seperti ini malah membuatku terharu. aku tidak lagi ingin beranjak dari kamar ini. tiba" waktu hinggap dengan banyak kenangan. muncul dan menghampiriku tanpa aku mau. saat Nenek menemaniku tidur saat kecil di kamarnya, karena Ibu tidur sama adikku yang masih bayi. menceritakan tentang Makkah dan gagahnya kota Madinah. cerita kalau makanan di Arab Saudi itu enak. dan memintaku harus besar sebelum naik haji nanti. karena harus berdesak"an dengan Muslim bangsa lain dan banyak yang meninggal saat lempar jumrah. Nenek juga cerita tentang semua ikan laut yang pernah dijualnya dan bagaimana Kakek mendapatkannya dulu. Nenek bercerita banyak, tapi aku mengingatnya baru sekarang. aku takut.

kemarin petang, Kak Aziz pulang dan Kak Reza datang. dia juga langsung menuju kamar Nenek dengan banyak barang dan buah bawaan di tangan kanan-kirinya. memeluk Nenek dan mencium tangannya. lalu dia mencoba berbincang dengan Nenek tapi hasilnya nihil. Nenek tidak bisa diajak bicara. kami akhirnya ke masjid, menunaikan shalat Maghrib. aku bergegas pulang ke rumah meninggalkan Kak Reza. di lobi rumah, tiba" sepi. aku langsung ke kamar Nenek dan menemui mereka semua di sana. Nenek meracau gak karuan. di dalam kamar Nenek, juga ada Mbak Nazril, Kakak Ipar. Nenek berisik. suaranya meracau terengah". aku sontak kaget. Mbak Siti mengelus dada Nenek, Ibu memegang tangannya, aku tersungkur lemas dan memegangi kaki Nenek. cukup lama Nenek seperti itu. brengsek, tiba" air mata keluar dari sarangnya. turun cukup panjang, keluar dari sudut gelap mataku. kami semua memenuhi kamar termasuk Kak Aziz yang kembali datang dan Bapak yang sudah pulang melaut. tidak, tidak. aku tidak ingin. belum saatnya. setengah jam berlalu. setengah jam lalu Nenek tenang. kami berusaha menenangkan diri masing" dan berpura menguatkan diri bahwa semua sedang baik" saja. kami keluar dari kamar dengan senyum palsu setelah Nenek tertidur. kami melanjutkan beraktivitas. masak bubur buat Nenek, masak nasi dan lauk buat makan malam serta menemui tamu yang sengaja kami terlantarkan sesaat tadi.

kemarin malam, suasana makan malam di rumah jadi meriah. semua tawa hampir terdengar merdu dan menyenangkan. di rumah ini, tidak ada yang bisa menampik Tenggiri Panggang buatan Ibu. semuanya suka dan tergiur. tamu" kami yang berkunjung dan menjenguk Nenek juga ikut merasakan nikmatnya. apalagi, Ibu menyiapkan tiga sambal berbeda sekaligus. sayang, Nenek gak bisa ikutan. Nenek terbaring dan tidur setelah makan bubur tadi. hingga malam semakin larut, Kak Reza pulang kembali ke rumah, ke Kota. sementara Mok Nap, Ibu Kak Reza, menetap dan berencana menginap beberapa hari ke depan. tidak lama, aku menerima kabar duka dari Malang. hapeku berbunyi, seorang teman nelpon kalau Inal meninggal karena sakitnya yang parah. Inal, sahabatku semasa kuliah. Inal, sangat disayangkan. Inal, selamat jalan. Inal, aku hanya bisa berdoa dengan sedih yang sangat mendalam.

tadi pagi, aku baru sadar kalau dini hari Arsenal main dan sekarang sudah Subuh. aku melewatkannya. kondisi Nenek dan kabar duka dari Malang belum membuatku menjadi diriku sendiri seharian kemarin. aku tidak peduli ke banyak hal. sampai akhirnya aku kembali melihat Nenek terbaring, masih di kasurnya. aku menganggukan kepala memberi isyarat agar Mbak Siti istirahat dan tidur. dari matanya aku tau kalau Mbak Siti semalaman belum tidur, menemani Nenek di kamar. Zein mengikutiku ke kamar Nenek dan menyanggupi permintaanku buat memijat kaki Nenek. padahal sebelum ini, keduanya adalah rival di rumah. keduanya selalu bertengkar karena beda keinginan. hahahahaa. aku berada di kamar Nenek sampai akhirnya tertidur di sampingnya.

tadi siang, aku pamit kembali ke Surabaya. Nenek hanya mengangguk dan mengedipkan mata seolah memberi restu. aku meninggalkan kamarnya dengan perasaan campur aduk. aku tidak ingin beranjak dari rumah. aku ingin di sini sampai Nenek sembuh. pikiran itu mengangguku sampai akhirnya gas sepeda motor aku tarik. di perjalanan, semua jadi tidak mudah. pikiranku masih terfokus ke Nenek. seharian kemarin menjadikanku berpikir banyak. satu diantaranya, aku tidak ingin lagi bertengkar, aku tidak ingin berdebat dan terlibat perseteruan di kantor. aku tidak ingin membuang energi percuma. ada hal lain yang sekarang lebih penting. ada hal lain yang membutuhkan energiku. aku tidak ingin banyak membuka mulut dan berbusa hanya untuk semua kebodohan. ada hal lain yang tidak ingin aku lewatkan. aku hanya tau; ke mana Tuhan membawa kita, ke sanalah Ia menyediakan kekuatan untuk menopang kita.
Selengkapnya...

Semakin Hebat..

belakangan, rinduku padamu semakin hebat. sama kuatnya dengan angin di Surabaya dua pekan terakhir. sama lebatnya dengan hujan yang turun sebulan terakhir. sejauh itu, aku pernah bertemu dan melakukan percakapan denganmu, menjelang sore, hari pertama bulan ini. singkat, sayangnya membekas dengan sangat. dan Kamu, diantara kotak jendela yang memisahkan tempat kita berdiri, tersenyum gak jelas ke mana diarahkan. Kau melihat ke kanan tapi senyummu menusukku dengan tajam. apa Kau tidak tau bahwa aku sangat menyukai senyum itu..? dan pada senyummu, berdiam rindu. padahal...

selama ini aku hadir dengan ketukan-ketukan. nada yang tak akan Kau lihat kecuali dengan sentuhan-sentuhan. di dalamnya berisi pesan. berupa teks dan animasi yang memuat kerinduan. aku tak mengharap pelukan. atau sebuah genggaman dari tanganmu tak berkesudahan. itu terlalu mesra, dan aku hanya bajingan tanpa aturan. aku hanya ingin agak lama bersamamu dalam satu episode pertemuan. bukan papasan. aku tidak peduli jika itu adalah perbincangan panjang yang menjemukan. atau duduk melamun dan saling diam bertatapan. selama itu bersamamu dan di dekatmu, sudah cukup menuntaskan kebekuan. tapi...

aku sudah tidak lagi tau kabar cuaca di hatimu. masih mendung atau kelabu. masih merah atau biru. sudah terisi dua atau masih satu. entah dia atau namaku. meskipun aku tidak lagi peduli siapa yang sudah membuat tawa di hari"mu. aku sudah cukup rela jika nantinya bukan padaku senyum itu mengarah dan beradu. sudah cukup bagiku jika aku melihatmu. dari dekat atau jauh. meskipun...

seringkali mendung datang menutup hari. menebar ketakutan dalam bayang. melukai senja sampai petang berhari-hari. dan menceritakannya pada malam yang hingar dengan kesenangan. aku tidak ragu, hanya sedang gelisah kalau" Kau pergi tanpa bilang. aku hanya ingin menyiapkan ruang. tempat yang tak akan Kau lihat hanya dengan satu mata. satu rupa. tanpa tanda-tanda. di sana berisi kata-kata. rusuh dan kumuh. tempat bernaung para hujatan dan benci. menampung semua bedebah dan makian keji. sesekali aku akan mampir, untuk menghujat dan memaki, jika aku sudah tak bisa lagi menahan rindu, nantinya. karenanya...

aku berdoa, semoga hari" ke depan cuaca cerah. tidak ada lagi cemas karena mendung. lari karena hujan. dan panik karena genangan. juga agar Kamu baik" saja. dan mau terima kenyataan kalau aku pernah menatapmu lama dengan sengaja. di satu meja, terpisah hanya oleh udara. membuatmu malu. membuat selingkar rona. menjadikanmu canggung dan akhirnya balik membuatku malu berantakan. itu hanya cerita. itu dulu. jauh sebelum semua bebatuan yang kita pijak melebar, menjadikannya jarak dan membuat kebekuan. tapi harusnya diulangi. waktunya tepat. karena rindu ini datang semakin hebat..
Selengkapnya...

Satu Kalimat..

aku lelah, capek dan merasa ngantuk. harusnya Kau kirim satu kalimat sayang, agar mereka pergi dari dalam tubuhku. agar rinduku yang terlanjur berdiam lama dan menumpuk, bisa keluar dan melawan mereka yang memenjerakanku. aku diam duduk di meja redaksi, tanpa tau di mana gelap menyembunyikan terang dari pandangan. aku menggerakkan semua jemari, seolah tidak peduli semua resah yang sedari tadi hinggap. memburuku, seakan mengajak berlari keluar lintasan, tempatmu mengaliri rindu.

sekali lagi, harusnya Kau kirim satu kalimat sayang untukku. bukan untuk mengantarku tidur dan lelap. bukan juga agar cerita kita bergema seperti roman dan mengalun romantis. apalagi untuk menemani senja yang sudah lama tak aku lihat itu. bukan. tapi agar aku bisa berdiri dari tempat duduk ini, dan membuatkanmu satu teh hangat, sementara aku membuat secangkir kopi, tentu untuk aku minum sendiri. agar aku bisa menggerakkan bibir, buat bicara padamu, tentang.......apa ya. banyak hal lah. tentang semua pertemuan kita yang sudah lama sekali terjadi. atau juga aku hanya akan mendengarkanmu, bercerita tentang hatimu yang sekarang sudah terisi.

aku ingin menulis hal lain sebenarnya. masih tentangmu. banyak hal. tapi aku ingin menyicilnya, karena menulis tentangmu selalu memberi energi lain yang aku sendiri tak tau namanya. tentang wajahmu yang belum pernah puas aku pandangi. tentang benang hitam diantara kaki-kaki kita yang saling membelakangi. atau aku hanya akan mendengarkanmu, bercerita tentang suaramu yang sekarang tak hanya meluruhkanku. tentang masa kosong, awal Kau mulai menjauh, meludahi garis dan memberikan jarak antara kita. aku lelah, aku ingin diam. aku hanya ingin duduk di dekatmu, mendengar semua ceritamu. tak peduli jika Kau sudah memilih lainnya.

aku lelah, aku ingin tiduran. menyandarkan kepala di atas meja dan memandangi lama wajahmu. dari dagu sampai ujung jilbabmu. mungkin pandanganku akan berhenti agak lama di matamu, yang judes. jahat dan tajam. lalu berubah teduh dan mengantarkanku terpejam. tapi aku pastikan bisa mendengar suaramu. karena aku tak tidur, hanya sengaja memejamkan mata sebentar. lalu aku kembali hadir di ruang rindu yang kita ciptakan. karenanya, sebaiknya segera Kau hadirkan satu kalimat sayang untukku. agar aku bisa memperpanjang semangat menulis lagi tentangmu..
Selengkapnya...

Pertemuan..

apa yang sudah aku pikirkan. menemui seseorang yang harusnya tak aku temui. mengiyakan permintaan untuk satu percakapan panjang. dan duduk berseberangan dalam satu meja ber jam-jam. mantan kekasih yang dulu hilang, datang. memintaku mengosongkan pagi dan menemuinya. aku bukan luluh pada serak suara dan isak-nya yang mulai terdengar saat menghubungiku mendadak. tapi aku ingin menjadi seorang teman yang baik, yang mau menemuinya, seperti yang dia sampaikan sebagai permohonan.

'aku akan menikah',
'lalu..?',
'Kau ingin mengatakan sesuatu..?',
'oh, selamat. itu kabar yang bagus',
'bagaimana jika pernikahan ini hanya untuk pengalihan. dari Kamu yang sudah masuk terlalu dalam di hidupku',
'harusnya itu tidak terjadi. karena sudah tidak ada apa" diantara kita. iya kan..?',

pembicaraan ini terlalu serius dan tanpa basa-basi. aku berharap hujan segera mengguyur tempat ini. aku tak ingin percakapan ini memburu kami ke masa itu. kami terdiam agak lama.

'sebenarnya, kenapa kita di sini..?',
'sampai orang itu melamarku, aku masih menunggu ada kabar dari Kamu. aku memang bodoh. aku sadar itu tidak akan terjadi, tapi aku tetap melakukannya. dan di sinilah aku sekarang. mengaku, agar aku lega. agar tidak ada lagi beban. aku tidak ingin merasa bersalah pada orang itu. aku ingin baik" saja sampai pernikahan itu terjadi', dia menarik nafas dalam". membuang pandangan dan meneguk teh hangat di depannya. aku tidak hanya kaget, aku tercengang.

kami terdiam lama. aku membiarkan angin yang tidak lagi sepoi ini menyapu semua inderaku. aku melihat dia gemetar kedinginan, tanpa jaket. sesekali tatapan kami bertemu dan membuangnya ke bawah.

'aku kira kalau kita bertemu sudah tidak akan canggung. hmmm, kapan pernikahanmu..?',
'pertengahan tahun. setelah lebaran. apa Kau pengen aku undang..?', aku tertawa. diikuti juga tawanya. aku mengangguk.
'tapi ada syaratnya. Kau harus datang dengan..', kalimatnya berhenti. menggantung. '..Kau sudah menikah..?', aku tersenyum. 'tunangan..?', senyumku semakin lebar. 'pacar..? jangan bilang pacar pun gak punya..', aku menatap matanya dan menghembuskan nafas.
'bohong. ah, aku gak percaya',
'percaya saja. aku gak ada alasan buat bohong ke Kamu',

kami kembali diam. sepertinya aku melakukan kesalahan. raut mukanya kembali serius, alisnya bertemu, seperti sedang berpikir runyam.

'kalau gitu, kenapa tak ada kabar..? aku menunggu',
'tapi aku tidak. sudahlah. rasanya, percakapan sebelum ini cukup menyenangkan',

percakapan ini seperti roller coster, memberi rotasi emosi yang tidak aku inginkan. mungkin juga dia. aku melihatnya, dia menoleh lalu juga melihatku. pandangan kita beradu agak lama. dan tawa kami pecah.

'eh beneran. aku tanya, siapa pacarmu..? boleh aku tau..?',
'gak punya. masih gak percaya..?', lalu percakapan kami berlangsung lama. tentang masa kosong tanpa kabar itu. tentang bagaimana dia bertemu dengan pria yang akan menikahinya ini. tentang alasan"ku yang belum ingin menikah.

'aku selalu kagum dengan caramu berpikir. tapi alasanmu tadi, lebay',
'santai lah. nanti aku juga akan menikah. entah kapan', angin tiba" kencang berhembus. aku masih berharap hujan, agar kami punya alasan untuk menyudahi pertemuan ini. aku tau, diapun berharap memiliki alasan buat menyudahi percakapan ini.

'seperti yang aku bilang tadi, aku cuma mau memberi tau itu. kabar baik seperti yang Kamu katakan. semoga tidak ada lagi alasan buat satu pertemuan lagi denganmu. aku senang melihatmu. sangat. bisa melihatmu lagi seperti hadiah ulang tahun bagiku. tapi cukup satu kali ini saja',
'sepertinya begitu',
'Kid..', dia berdiri dan menjulurkan tangannya. samar" aku melihat jarum jam di tangan kanannya sudah menunjukkan angka 11. waktu yang tepat buat mengakhiri pertemuan ini. '..terimakasih kesediaanmu menemuiku', lanjutnya. aku juga menjulurkan tangan dan menjabat tangannya.
'terimakasih juga sudah mengisi hari Mingguku sebelum kerja',
'kalau gitu, assalamu'alaikum', dia melepaskan jabatan tangannya.
'wa'alaikumussalam', dia membalikkan badan dan pergi. aku kembali duduk dan menghabiskan kopiku. sampai akhirnya adzan Dzuhur berkumandang, aku juga pergi.
Selengkapnya...