Aku Marah, Juga Sedih..

aku tidak hanya marah, aku juga gusar dan risau. padahal Sancaka Pagi baru berjalan setengah jam dan grup WhatsApp redaksi mulai ramai karena ada ledakan bom bunuh diri di gereja Ngagel Surabaya. biadab, bangsat, jancok, aku tidak berhenti misuh, tapi dalam hati. aku kehabisan kata pisuhan dan rasanya tidak bisa bernafas dengan benar. aku berdiri, pria yang duduk di sampingku melihatku dan tanpa diminta, dia memberiku jalan.

aku memukul-mukul buku yang aku pegang dengan sangat geram. aku berjalan menuju lorong di gerbong tiga. membuka pintu dan bersandar di pintu toilet. grup WA tambah rame, dua ledakan serupa terjadi di dua gereja lainnya. sialan, satunya di dekat tempatku tinggal, GKI jalan Diponegoro. aku menarik nafas dalam, sangat dalam. di kepalaku sedang mendaftar nama" yang harus aku hubungin. Sinal dan Kak Hakim baik" saja. saat mau ngubungin temen" Comanraiden, ternyata di grup mereka rema dewe dan semua aman.

aku masih berdiri di depan toilet saat temenku di redaksi mulai mengupdate jumlah korban meninggal. satu, dua, tiga dan tidak berhenti. yang terluka lebih banyak. aku masih memantau lewat grup WA dan semuanya sedang hectic. pikiranku masih melayang ke lainnya. shit, shit, shit, Ibu. aku langsung menelpon Ibu.

'Assalamu'alaikum. ada apa, Nak..?',
'Ibu di mana..? Bapak dan Zein..?',
'di rumah. Bapakmu lagi nerima telpon. Zein main. kenapa..?',
'alhamdulillah. gapapa, Buk. gapapa',
'Kamu tuh jangan sering" panik. sering mikir ini itu. Kamu tuh mikir kesehatanmu',
aku terdiam, tidak fokus. 'hah. gimana, Bu? oh iya, pasti', aku menjawab sekenanya. 'yaudah Bu. Assalamu'alaikum',

akhirnya aku masuk ke toilet. menaruh 'Aruna dan Lidahnya' yang sedari tadi aku pegang di dekat jendela toilet dan mencuci muka. aku tak berhenti merutuk. sialan, kenapa mereka macem" dengan Surabaya. kenapa memilih Surabaya. kenapa sekarang, berselang tiga hari setelah kejadian di Mako Brimob Jakarta. aku tidak ingin berspekulasi, tapi aku tak berhenti misuh.

aku kembali ke tempat dudukku dengan muka yang masih murung. setidaknya itu yang dikatakan penumpang sebelahku. 'kenapa murung, Mas? maaf jika kami mengganggu', tanyanya. mengganggu, kenapa mengganggu. aku masih belum fokus. oh iya. mungkin yang dimaksud mengganggu karena anaknya dari tadi teriak-teriak. pria ini melakukan perjalanan dengan istri dan satu anaknya. anak dan istrinya ada di 14C dan D. sementara dirinya bersamaku di 14B.

'oh enggak, Mas. gapapa',
'maaf, tapi Mas pucat',
hah, iya kah..? sebelum menjawab, saya kembali menarik nafas dan memutar banyak kata untuk aku keluarkan. 'gapapa, Mas. mungkin karena belum sarapan', aku menjawab ngaco.
'ini, Mas', dia menyodorkan sebungkus Sari Roti.
'oh, makasih Mas. saya baru saja mau makan roti yang saya bawa. ini', saya mengambil roti dari tas. pembicaraan kami berhenti, karena dia harus menenangkan anaknya dan aku kembali melihat hape memantau situasi biadab ini.

aku tak hanya marah, tapi juga geram. beberapa grup WA dan sesekali japri, menginfokan kabar keliru, kabar tak jelas dan berdasarkan katanya katanya. aku geram, ingin misuh pada mereka-mereka yang menambah kepanikan dan menyebarkannya menimbun keresahan.

aku tak hanya marah, tapi juga sedih. aku sedih, dalam arti sebenarnya. sialan, aku sedih. aku sedih, seperti sedang kehilangan.
Selengkapnya...

Lebih Peduli..

aku seringkali memilih tidak tau banyak hal. diantaranya, aku memang tidak peduli. mungkin itu juga yang membuatku seolah sinis pada banyak perkara. terlihat tak acuh dan tak menghiraukan banyak sapa. itu juga yang membuatku lebih banyak diam di tengah ramainya suasana. itu juga yang membuatku sering lupa bertanya kabar" yang ingin aku dengar, bahkan keluarga. bukan pada Bapak-Ibu, tapi pada lainnya. Ibu yang sering menegur. memintaku untuk menelpon sodara"ku dan kerabat lainnya. bukan karena kesombongan yang merenggut simpati itu, tapi memang aku belum biasa melakukannya. karena aku selalu berpikir, mereka selalu baik" saja. sodara"ku orang hebat, mereka selalu menemukan jalan di tengah gelapnya nasib.

seminggu sebelum ini, Ibu menelpon. mengabarkan kalau akan menjenguk Nurul di pondoknya bersama orang tua lain. Bapak tidak menyertai, tapi Zein ikut. juga mengabarkan kalau ada satu seat lagi di mobil, seolah menyiratkan ajakan padaku. agar aku ngobrol dengan Nurul yang sebentar lagi kelas tiga es em aa. juga, memotivasi Nurul yang sekarang terdepak sebagai pemeran utama di video" milik pondoknya, di semua film pendek dan clip kreatif pondoknya. bersamaan itu, Ibu yang mendapat kabar dari ustadz asramanya, bilang, kalau sejak terdepak, nilai akademik Nurul ikutan turun. Nurul belum bercerita banyak pada Ibu saat beberapa kali suara keduanya bertemu di telpon. karenanya, Ibu ingin mengajak kakaknya. entah aku atau Sinal. tapi hanya aku yang bisa. di hari yang sama, Sinal tidak libur.

kebetulan, aku juga sudah lama tidak bersua Nurul. pun ngobrol. tapi saat Ibu mengabarkan perihal ini, aku sedang lelah yang teramat. kegiatan yang diadakan kantorku benar" menguras tidak hanya energi secara harfiah, tapi juga pikiran. benar" melelahkan. meski begitu, aku tidak berpikir dua kali untuk berkata iya. memutar otak bentar, ngobrol dengan Laras dan Pram, dan ketemu solusinya. semiggu berlalu dan Jumat dini hari yang agung tiba. sebenarnya saat itu aku sedang bersedih atas tersingkirnya Arsenal di semifinal UEL. bukan karena kekalahannya, tapi karena permainan tim yang buruk malam itu. juga, karena era Wenger harus berakhir dengan begini.

sementara dini hari yang beku mulai menyesakkan karena Arsenal, hatiku kembali hangat saat Ibu nelpon. menyampaikan kalau dirinya sudah berangkat dan sekira satu jam lagi sampai di tempat pertemuan yang dijanjikan. begitu aktivitas Subuh selesai, aku menyusuri jalanan Surabaya yang asing di penglihatan. titik pertemuan di depan RS Adi Husada Kapasari. duh, ini di mana. 'Kapasari ya, bukan yang Undaan', Ibu berkali" mengingatkan. aku hanya mengiyakan, menenangkan Ibu agar tak lagi nelpon khawatir. atas bantuan Jarvis, Friday dan Zordon, nyampe juga di titik transaksi. iya transaksi. karena Sinal turun dari mobil dan diganti aku. Sinal juga kebingungan. 'Kak, ini saya pulangnya ke mana..?'. 'cari, berhenti, minggir, liat maps dan pelajari'. tidak sampai dua puluh menit, Sinal mengabarkan lewat WhatsApp kalau dirinya sudah nyampe kos. gud.

aku sendirian di kursi belakang saat Zein diam" melihatku berkali". entah karena dia merindukanku, ingin duduk bersamaku, atau hanya ingin pinjam hape buat maenan. sedangkan satu kursi di belakang, di sampingku, harus dihilangkan, karena memuat banyak barang buat Nurul dan teman"nya yang juga ikut dijenguk. suasana mobil agak ramai. karena emak" ngobrol dan aku gak ngerti apa yang kudu aku jawab saat sesekali pertanyaan mampir menyebut namaku. 'hahaha, iya', begitu terus jawabanku sampai akhirnya aku tertidur. lalu kembali bangun.

pagi itu, fajar di jalan Tol Surabaya-Malang begitu mempesona. aku sempat mengabadikannya di IG Story sebelum akhirnya tertidur lagi. bangun-bangun, perjalanan sudah tinggal separoh. kami sudah sampai di exit Tol Gempan. lalu lintas yang lancar dan suasana pagi yang nyaman, membuat semua tidur emak" di mobil tidak nyenyak. mereka ketiduran, lalu dipaksa bangun untuk melihat suguhan indahnya pagi, hingga akhirnya kami sampai di AnNur setelah beberapa insiden.

Jumat biasanya dipilih banyak wali santri untuk menyambangi anak"nya. membuat semua lapangan dan parkiran penuh serta gedung" dipakai buat pertemuan. kami tidak hanya memenuhi sepetak, tapi separuh satu bangunan kelas alam. kami hanya empat wali santri, tapi santri/wati yang kami sambangi ada sebelas. karena wali santri lainnya tidak bisa ikut dan memilih mengirim paket jajan, makanan daaann, ini yang aku kecewakan, hape. mereka sukses jadi generasi merunduk saat hape di tangan. beruntung Nurul tidak banyak keperluan dengan hapenya, jadi saat aku atau Ibu meminta hapenya untuk ditaroh, Nurul manut dan ngobrol dengan kami. esensi untuk sambang jadi hilang. padahal dulu saat aku di pesantren, sambang berarti kebahagiaan tak terkira. karena momen bertemu keluarga, tidak terjadi setiap hari. aku sesekali ngomel, tapi entahlah. aku memilih ngobrol dengan Nurul dan Zein yang diliat Ibu sambil tiduran. meminta Nurul agar selalu memanfaatkan hapenya dengan baik, melihat dan menggunakan sisi positifnya.

sebelumnya, aku dan Zein menjemput Nurul di asramanya. 'Rul, ini ya kakakmu yang itu..? wah iya ya ternyata', teman" Nurul bertanya dalam Bahasa Arab, sambil melihatku lama sampai akhirnya kami meninggalkan asramanya dan pergi ke kelas alam tempat semua emak" dan anaknya yang kecanduan hape berada. entah apa yang pernah diceritakan Nurul pada teman"nya. sepertinya mereka mengenal dan tau beberapa informasi tentangku.

'soal nilai, aku tidak begitu peduli nilaimu bagus atau tidak. selama Kamu punya passion dan keinginan, aku dan sodara"mu akan mendukung', aku membuka percakapan di perjalanan menuju titik sambang. Nurul masih diam.
'tapi di kelas tiga nanti, Kamu harus belajar banyak. biar masuk kampus bagus sesuai ilmu yang ingin Kamu pelajari', aku meneruskan obrolan.
'hahaha iya, Kak. dari awal saya kira Kakak gak begitu peduli ke saya. karena sejauh ini Kakak lebih membela Kak Sinal dan mendukung buat kerja sesuai keinginannya', aku mulai terhenyak.
'oh ya..?', aku bertanya heran.
'sejak SMP, saya suka teater dan tampil di banyak acara dan lomba. sampai akhirnya saya selalu jadi pilihan pertama di teater sejak SMP. saya cerita itu ke Ibu, tapi tidak pernah dapat respon apa" dari Kakak. karena saya yakin Ibu pasti cerita kan', keluhnya. aku diam, menata semua kata yang akan aku keluarkan.
'Kak Sinal sudah hidup bersama Kakak, dan bisa ngasi banyak hal ke Bapak-Ibu. saya belum. pikirku, saat tampil di film" pendek punya pondok, itu membanggakan kalian. membanggakanmu, karena pasti akan tersiar lewat YouTube', Nurul meneruskan curhatnya lalu diam. perjalanan menuju kelas alam masih jauh ternyata.
'hahahaa. Kamu harus meluruskan niat. bukan saya yang harus Kamu banggakan. Kamu tidak perlu membuktikan apa”. sejauh ini, Kamu paling hebat secara akademik. di rumah, di atas kulkas, lemari di kamar Bapak, berisi semua pialamu. saya dan Kak Sinal dulu gak pernah begitu. Kamu suka teater dan akting, harus berdasarkan keinginanmu. Kak Sinal bekerja dan memilih hidup di Surabaya sekarang karena keinginannya. Kamu, suka teater dan tampil di banyak acara, juga harus karena keinginanmu. Kamu tidak perlu meragukan pepatah tua kalau punya kemauan, pasti ada jalan', sialan, apa yang aku katakan barusan sangat emosional. aku pelan" mengatakannya.
'soal film pendek, saya sudah tidak lagi terpilih di video" itu. mungkin karena ini', Nurul menunjuk jerawat di beberapa titik wajahnya.
'Kakak pasti udah tau kan kalau nilai akademikku turun. aku sudah memperbaikinya. nih', Nurul menunjukkan kertas rekap nilai ujiannya. hasilnya bagus. rata" sembilan puluh.
'bagus. teruskan semangat ini sampe setahun ke depan. di UN dan di ujian masuk kuliah. soal video, Kamu gak usah khawatir. lagian Kamu masih terpilih di pementasan teater, kan..?', kataku membesarkan hatinya. Nurul meresponnya dengan anggukan.
ada harga yang harus dibayar agar kita menjadi seperti sekarang. Kamu fokus pada akademikmu, dan beginilah nilaimu sekarang. dulu, fokusmu terpisah dan sebagian nilaimu turun. ada harga yang harus dibayar untuk yang kita lakukan’, aku menata kalimat ini untuk menenangkannya. Nurul melihatku, bernafas dalam lalu bersuara.
‘apa harga yang sudah Kakak bayar akhir” ini..?’,
‘saya..? hmmm apa ya. saya baru aja putus cinta’,
‘iya..?! apa yang hilang..?’
‘semangat’,
‘semangat hidup..?’,
‘semangat nulis’,
‘bagaimana mengatasinya..?’,
‘saya mencari alasan lainnya’,
‘sudah nemu..?’,
‘sudah’,
‘cinta yang baru..?’,
‘bukan’,
‘apa..?’,
‘kalian. kalian semangat nulisku sekarang’,
‘hmm, kalau nanti ada cinta yang lain..?’,
‘entahlah. bisa jadi’,

bangunan kelas alam sudah dekat. jalannya menanjak dan Zein berlari ke atas, berteriak menyebut namaku dan Nurul. haahahaa, aku lupa kalau daritadi ada Zein di antara kita. mungkin sejak tadi dia mengumpat karena tidak dilibatkan dalam percakapan.

aku dan Nurul duduk di samping Ibu. aku memberi kode pada Ibu bahwa semuanya sudah clear, Nurul sudah bicara dan mencurahkan kesahnya. Ibu tersenyum dan segera membuka tas yang berisi nasi dan lauk yang dibawa dari rumah. bagiku, disambangi Ibu berarti piknik. dan masakan Ibu, adalah makanan paling enak tak hanya di lidah, tapi juga jiwa. halah.

di perjalanan pulang, aku mulai berpikir untuk sering" melihat hape. memilih tau banyak hal dan lebih peduli. mengontak semua yang aku kenal dan menyapa mereka lebih lantang. sepagian ini, aku lega bisa mendengar kabar semua sodara"ku. dan siang ini, aku ingin memperbaiki hubungan dengan teman yang pernah marah hingga memblokir kontakku.
Selengkapnya...

(Memulai) Kembali..

aku bisa bercerita banyak tentang kehidupan, karena setiap hari adalah perjalanan. tapi tak semua kisah pertemanan bisa aku ceritakan, karena tidak setiap hari bersama mereka aku lewatkan. aku hanya beruntung bisa bertemu mereka lagi dalam satu meja yang memanjang. tertawa dan sesekali menimpali murung dengan senang. menyembunyikan banyak persoalan dan menggantinya dengan ragam senyuman. satu hari bersama mereka, aku bisa bercerita setiap detil yang kita gunakan untuk pertemuan.

lama sekali mengabaikan perjumpaan ini, hingga semuanya terasa seperti masa lalu. belakangan, semua kehidupan yang lain seperti sangat menjauh dan tersembunyi dalam debu. padahal itu ada di balik telapak tangan. bergerak mengikutiku selama perjalanan lain dimulai, cerita-cerita itu dan semua langkah-langkah itu. aku tidak mengingat jelas kapan terakhir aku singgah di kota ini, tapi seperti sangat lama dan aku merindukannya. aku tau itu saat mereka mengeluh, saat mereka memaki dan melihatku dengan penuh kebencian karena sudah lama tak bersua. tapi genggaman hangat dan pelukan mereka yang sangat kuat menggambarkan kerinduan yang dalam. kerinduan yang sudah lama kita tepikan hanya untuk lembaran kertas dengan banyak nilai terbilang.

pagi itu, aku datang tanpa banyak ekspektasi. persoalan berbahaya yang hanya menimbulkan kekecewaan saat dimiliki terlalu tinggi. aku datang untuk terhibur. karena Surabaya sudah sangat melelahkan untuk bertutur. aku tidak bisa menyembunyikan wajahku yang kusut dan hati penuh kekosongan. sejuah itu, hanya secangkir kopi dan beberapa lembar kertas-bolpen yang bisa aku andalkan. tapi tidak ada yang aku butuhkan lagi saat dingin Malang segera menyergap diri. bukan lagi pahitnya robusta, asamnya arabica atau atau semua kepalsuan dibalut tawa. saat mereka duduk mengitari meja, aku tau yang aku butuhkan hanya lima menit saja.

bagian paling berbahaya dalam perjalanan adalah datang dan pergi. niat yang Kau sematkan harus kuat dan rapi. agar tak ada peluru yang menembus ragamu lalu mati. hasrat seperti itu, adalah anugerah yang dimiliki tanpa sadar. tapi tersembunyi oleh ketakutan yang berlapis dan berpendar. begitu juga pergi, bagian yang sangat solid untuk diurai dalam kepingan ketidakpastian. aku harus menemukan jawaban dari rumusan masalah yang sudah disusun saat datang. tanpa itu, pergi hanyalah pengecut, dan bertahan tinggal hanya membuatku perlahan membusuk.

aku, datang dan pergi dalam kebimbangan. membawa banyak harapan tanpa tau di mana menemukannya. Malang hanya bagian kecil kehidupan yang seringkali aku sebut rumah. padanya, aku titipkan banyak harap dan senyum ramah. beruntungnya, aku berhasil mendapatkannya. mendapat semua jawaban dan bonus berupa tawa panjang yang mengharukan. mungkin diam-diam, niatku terlalu kuat, dan prologku terlalu tangguh untuk dibinasakan oleh banyak alasan. karenanya, aku bisa pergi dengan sangat gembira. membawa kesenangan dan cerita untuk pulang. mereka terlalu yakin bahwa aku akan ke kota itu lagi. dalam waktu dekat atau saat aku mengalami hal-hal hebat. mereka seolah tidak peduli berapa lama aku pergi, karena mereka percaya aku akan kembali.
Selengkapnya...

Pertemuan yang Membingungkan..

sabtu adalah siang, waktu benda ini diam-diam terpasang. aku tidak ingin bertanya banyak hal yang merepotkan. atau berdebat tentang semua peristiwa yang sudah terjadi dan membingungkan. perhatianku terpusat pada tawa itu, yang sudah lama kudengar hanya dari gelombang-gelombang sinyal. padahal jarak sebelumnya adalah sejauh kilometer dan harus ditempuh sebanyak jam dalam sehari.

aku tidak tahu bagaimana kita bercakap sebelumnya. memulai tukar pesan dan menjadikannya cerita. aku dan juga Kamu, samar-samar memiliki ingatan tentang perkenalan satu dekade itu. tanda yang teramat klise untuk bertemu. takdir yang sengaja datang di bulan ketiga setelah banyak kurasan hidup yang baru. sekali lagi menempuh satu jenjang pendidikan dan harus bertikai dengan batin untuk memilih langit lain yang juga biru.

semua persoalan menjadi riwayat. lakon hidup yang harus kita jalani dengan berat. ini bukan hikayat. kisah-kisah yang harus kita dengar saat sempat. tapi ini adalah rencana Tuhan yang harus kita isi. aku dan juga Kamu, merayakannya dengan berbagi. sepanjang hari dan tanpa spasi. sungguh, tawamu terasa aneh saat mendengarnya langsung. seperti betapa aku merindukan dia dan kenyataan saat bertemu.

takdir kembali bertindak dengan baik, juga membingungkan. saat yang dekat menjauh, lalu yang jauh mendekat dengan banyak pertimbangan.
Selengkapnya...

Menuju Patah Hati..

hitam dan putih itu bersebelahan. keduanya terpisah tapi tak memisahkan. dinding yang mereka bangun sangat tipis dan bisa dirasakan. sama halnya dengan perasaan. senang dan sedih itu berdiri sangat dekat. mereka duduk diantara sekat. tapi bukan mereka yang membuat. saat Kau sedih, senang juga ada di situ untuk hadir sewaktu-waktu. senang akan menggantikan sedih saat sudah rapuh dan tak bisa bertahan. sebaliknya demikian. tidak usah Kau tanyakan, itu sudah janji Tuhan.

aku, sedang menuju patah hati. karenamu. aku, sedang tak bisa bernafas dengan benar. nafasku tersenggal-senggal. terengah-engah mengontrol emosi yang sedang membuncah di dada. karenamu. aku, sedang tidak tau apa yang dirasa. aku menerka-nerka, tapi juga belum tau namanya. aku, seringkali merindukanmu tanpa sebab. aku, juga sering mereka-reka. apa namanya. banyak yang bilang jatuh hati. karena itu, berarti aku sedang menuju patah hati. karenamu. karena jatuh hati dan patah hati juga bersebelahan.

belakangan, aku jadi sering menarik nafas dalam-dalam. untuk mengatur emosi dan perasaan yang sedang aku bawa ini sampai malam. tapi seperti percuma. emosi ini menggumpal sudah lama dan dewasa. begitu nafas aku tarik, bukan kekosongan yang aku dapat. justru wajahmu yang muncul berkelabat. saat nafas aku hembuskan, emosi itu segera mengalir lagi dan mengisi ruang dada. seolah berada di sana sangat banyak dan siap berganti seketika. padahal aku melakukannya agar irama ini stabil dan meredakan emosiku.

sekali waktu, pereda itu bernama hujan. kejadian alam yang tak begitu Kau senangi. aku sebaliknya, merindukannya tiap hari. berbagi kesenangan dan menghantar tarian dengan bunyi. menjadikan langit agak gelap dari biasanya. biru tanpa cerah yang kerap menyembunyikan mega merah.

aku masih belum tau namanya. tapi aku sedang menuju patah hati. karenamu. karena aku menyukaimu, merindukanmu. mirip seperti hujan. aku tak bisa lama menatapmu, begitu juga hujan. aku hanya ingin merasakannya. mirip seperti hujan. membuatku jatuh hati dan merindukannya tiap hari.
Selengkapnya...

(Bukan) Pecinta Musik..

aku bukan orang yang punya pengetahuan banyak tentang musik. aku tidak bisa menyebutkan banyak genre dalam tiga detik jika ditantang. di kelapaku tidak berisi itu. aku tidak akan bisa menyebut banyak band dalam satu genre. atau band pelopor tahun sekian. apalagi harus mengurutkan sejarah musik. tidak, aku bukan orang yang tau banyak tentang musik. tapi aku suka mendengarkan musik. tentu saja yang ramah di pendengaran dan menenangkan hati.

aku tidak mendengarkan semua lagu. pengetahuanku tentang musik tidak mengantarkanku ke sana. tapi aku menyukai musik yang iramanya menyenangkan di telinga. seperti satu kalimat lirik yang dinyanyikan dalam satu tarikan nafas, dengan intonasi naik turun. kali terakhir aku mendengarnya ada di IDGF milik Dua Lipa, liriknya 'I don't need Your love', dua kali dalam satu reff. itu sangat ramah di telingaku. enak.

mungkin terdengar receh. tapi musik" yang aku dengarkan berputar diantara genre yang familiar dalam hidupku. sesekali aku juga mendengarkan lagu yang hanya aku yang tau. atau sedikit orang yang tau. menjaganya agar tetap ekslusif buat didengar. sama seperti bacaan. aku bahkan tidak suka musik atau bacaan yang disukai banyak orang. itu penyakit yang harus dibasmi. tapi aku masih senang memeliharanya sampai sekarang.

aku juga suka lagu yang menyatukan irama dan lirik setelah reff. tidak ada jeda. selain karena liriknya yang longlast, aku menyukai Sheila On 7 dan Linkin Park karena komponen itu. seringkali Sheila dan LP melalukan itu. dengarkan saja di 'Seberapa Pantas' atau 'From The Inside'. lalu mereka juga menambahkan sepenggal lirik sebelum penutup dengan irama yang lain sepanjang lagu. kreatif dan enak didengar.

jangan tanya kenapa, aku juga tidak tau tiba" ingin menulis ini. mungkin karena tontonanku selama satu shift di meja redaksi ini adalah Indonesian Idol. mengulang-ulang performance para kontestan yang maskin ke sini bagus". hampir semua lagu yang mereka nyanyikan harus disingkat dan akhirnya pada secara materi. tak ada jeda setelah reff, seolah tidak membiarkan telinga istirahat sejenak di musiknya. Ayu dengan DeJavu milik Beyonce atau Maria dengan Kecewa yang dibawakan bagus banget. sangat tidak membosankan.

tapi, aku juga harus mengakhiri cerita colongan ini. karena jam ngopi tidak bisa ditunda. apalagi, besok pagi" sekali aku harus keluar dari Surabaya untuk satu tahun Nenek. allaahumma fir laha..
Selengkapnya...

Menyapa..

sudah hampir sebulan ini, dua kali saya disinggahi tamu tak diundang; jerawat. bagi saya itu biasa, wajar saja. hal yang tak perlu diributkan. tapi banyak yang protes dan mempertanyakan. lagi rindu siapa, lagi suka siapa, saya sedang dekat dengan siapa, siapa yang sedang dekat dengan saya. padahal dua frase terakhir itu sama saja. akhirnya saya juga mulai mempersoalkan.

hampir sebulan ini memang saya mengalami gejala yang aneh. sedikit-dikit senyum. entahlah. saat melihat ke langit, saya merasa sedang ada yang menyapa. terasa hangat dan menyenangkan. seolah ada yang sangat merindukanku dan saya membalas merindukan. lalu melihat langit menjadi hal yang sangat menenangkan. ini gila, saya akui itu. padahal tak ada pemandangan lain selain terik dan mendung yang datang bergantian.

hampir sebulan ini, dua jerawat itu datang, di tempat yang beda. seorang teman lalu menerka-nerka. kalau letaknya di sini akan begini dan jika di sana berarti begitu. saya anggap ini hanya lelucon. awal bulan lalu memang saya punya kesempatan bertemu dengan teman" Comanrainden. dan mereka, selalu saya rindukan. tapi setelahnya, saya jadi sering bertemu karena harus membicarakan reuni. jadi tidak mungkin karena mereka.

hampir sebulan ini juga saya sering ngobrol diskusi bersama dua teman kantor. berdiskusi banyak hal, mulai buku, tulisan sampai film. dan itu sangat menyenangkan. setiap panggilan datang, tak ada sedikit pun keraguan untuk tidak melangkah. menjadikan setiap seruputnya bermanfaat dan bermakna. seolah saya sudah berhasil mengusir satu kejanggalan yang menghimpit sejak di Surabaya. hmm, saya benar" merindukan diskusi seperti ini. memaksa saya untuk berkembang dan belajar lagi. tapi ini terjadi sebulan ini, jadi tidak mungkin karena itu.

hampir sebulan ini saya masih sering bertanya-tanya, tapi siapa peduli. yang terjadi, terjadilah. mengapa harus ada artinya.
Selengkapnya...