Obrolan yang Berpihak..

Black Dog Led Zeppelin adalah racun. saya gak mungkin menulis ini kalau warung kopi ini tidak tiba" menyetel lagu itu. gairah membuka blogku muncul, dan sekali melihat, aku selalu tergoda buat menulis. apapun. termasuk percakapan dengan Ibu di ujung telpon, barusan.

'halo, Nak. Assalamu'alaikum', kirian Nissa Sabyan, ternyata Ibu.
'Wa'alaikumussalam, Bu. ada apa..?',
'kok lemes..? kok belum tidur..? lagi kerja ini..?',
'enggak, Bu. udah pulang',
'kok rame..?', kalo Ibu udah nanya gini, jadi sungkan jawabnya.
'injih, Bu. lagi ngopi sama temen-temen di deket kos. srruuppp', duh. ngapain pake ingusan segala sih.

'lagi pilek..?',
'enggak, Bu. narik nafas aja',
'hmm, masuk angin ini', buset dah. kena ramal.
'baik-baik aja kok ini',
'tadi hujan-hujanan..?', nah kan. ketebak lagi.

'iya sore tadi. gerimis',
'kemarin..?',
'injih, pas beli makan siang',
'Senen..?',
'injih, malem pas lagi maen sama Bdoer',
'Minggu..?',
'injih, malem pas nyari makan sama temen kantor',
'Sabtu..?',
'injih, pas lagi di Malang',
'Jumat..?',
'injih, pas ...'

'Miiim, kok gitu. udah berapa hari itu hujan-hujanan..? suka hujan pas kecil aja. ngapain sampe sekarang masih hujan-hujanan..?', nah. mulai.
'itu sampe Jumat aja, Bu. Kamis enggak',
'iya tapi kok tiap hari sih. kan bisa berteduh', ini kalau dijawab lagi bakal kacau dunia perfilman.
'injih, Bu. udah enggak ini. lagi gak enak badan juga ini',
'nah kan', dih. doi gantian bilang 'nah kan'.
'injih, Bu. udah pada tidur ya di sana..?',
'jangan ngalihin pembicaraan', buset dah gak bisa banget dikerjain. 'yaudah, nanti pas pulang oles minyak kayu putih, istirahat.
'injih, Bu', lalu obrolan bisa saya alihkan. obrolan panjang yang mengantarkan saya pulang dengan jalan kaki sampai akhirnya saya membuka laptop untuk menulis ini.

'ssrrruuppppp', ngapain sih ingusan..?! memang, untuk menang, Kau harus tau berada di pihak mana. Ibu adalah perempuan yang gak mungkin (bisa) saya kerjain.
Selengkapnya...

Hari Ketiga; Taman Sungai Mudal..

'gak mau mikir lagi..? sudah bulat nih berhenti, pulang dan gak balik Jogja..?', Saiful, temen seangkatan Ullya semasa SMA, bertanya pada Ullya yang duduk di depanku. Ullya menatapku, melihat Ullya menatapku, Saiful juga melihat ke arahku.
'kenapa pada lihat saya..?', tanyaku pada mereka berdua. Murti yang duduk di depan Saiful, melirik ke arahku dan sekejab kembali melihat minuman di depannya.
'iya. udah bilang semua orang. udah bilang sekolah, udah bilang keluarga juga. gak usah dijelasin ke Mas Hamim kan..? kan udah cerita semalem', Ullya menjawab santai, dengan suara lirih sambil menyeruput jus pesanannya.
'kan yang nanya bukan saya. tuh si Saiful',
'panjang, gak usah cerita lah ya Ful', kata Ullya sambil mengangkat alis pada Saiful. tangan kanan Ullya masih memegang gelas jus dan menggerakannya mengikuti arah wajahnya yang beretorika.
'pulang kan kalo udah ada tujuan, nikah misalnya', kata Saiful pada Ullya. dia mengambil jeda, melihat ke arahku dan kembali bicara, 'emang Kamu udah ada yang mau nikahin..?', sontak aku tertawa mendengarnya. Saiful yang melihatku, juga tertawa. Saiful memastikan kalo aku, mas-nya, tidak akan marah membully Ullya.
'Kamu tuh ya. huh. Mas Hamim belain Ullya dong, malah ketawa', Ullya, masih dengan gelas di tangannya menggerakkan gelas seolah ingin menyiram Saiful.
'kalian dari pagi begini mulu, jadian aja dah', kataku pelan.
'idih', celetuk Ullya. bersamaan, Saiful juga bilang, 'hih'. sementara Murti tertawa merespon tanyaku dan jawaban kedua temannya itu.
'yaudah yaudah, diterusin gak nih UNOnya..?', tanyaku pada mereka. mereka menggangguk dan kembali konsentrasi melihat semua kartu-kartu di depannya. aku tau sepertinya permainan ini tidak akan mengesankan, karena tubuh kita dibalut lelah setelah seharian jalan. Warunk Upnormal yang kita datangi ini juga sepertinya tidak bisa lama kita singgahi. sesekali aku, Ullya, Saiful dan Murti menggerakkan badan seolah menunjukkan rasa lelah. juga, sesekali menguap. hari ini memang melelahkan, tidak hanya bagiku, juga bagi mereka. Ullya mengajak Saiful dan Murti untuk menemaniku dan Ullya jalan. Ullya punya usulan tempat buat wisata, aku mengiyakan, Ullya mengajak pasukan, dan dua yang tergerak menyetujui.

pagi sebelum jam yang dijanjikan untuk bertemu, aku keliling Malioboro, berharap lapak totebag yang aku incar sudah buka. aku berjalan jauh ke arah simpang nol kilometer. aku tidak ingat tepatnya lapaknya. aku hanya berjalan dan sesekali melihat banyak lapak lainnya, berharap totebag yang aku inginkan dijual di lapak itu dan aku gak perlu jauh" sampe ke persimpangan itu. tapi nihil. selain kepagian, juga karena totebag ini jarang ada. warna biru gelap, dengan sablon kacamata besar warna orange.

aku sudah sampai di depan gerbang Pasar Bringharjo, dan memulai pencarian. aku kembali ke arah sebaliknya, mengingat-ingat lapak yang aku temui kemarin sore. aku memang naif, menyesal baru sekarang setelah sadar bahwa tidak ada waktu lagi buat mencari besok. pagi ini jam sembilan aku sudah janji pada Ullya untuk menunggu di jalan Dagen Malioboro, titik kumpul buat jalan-jalan hari ini. sedangkan besok pagi-pagi sekali, aku sudah harus di Stasiun Tugu buat pulang. masih ada malam ini, tapi rasanya, jalan-jalan ini sampe malem. jadi, aku harus menemukan lapak dan totebag inceran itu pagi ini juga. tapi gagal. aku sudah berjalan sejak depan Pasar Bringharjo, sampe kembali ke gang Sosrowijayan, tidak ada.

aku hanya mandi keringat karena jalan cepat" dengan terburu. dan kondisi ini berlanjut hingga akhirnya aku sampai di penginapan dan bersiap" menemui Ullya. sebelum mandi, aku sampatkan bertanya pada Ullya, jadi jam berapa ketemunya dan di mana. aku punya firasat titik temunya akan geser dan jamnya juga molor. ternyata bener, Ullya membalas pesanku dengan permintaan maaf karena akan telat. Ullya harus menunggu temannya yang masih belum bangun, yang juga akan ikut perjalanan ini. OKee, aku pergi mandi pelan". aku melangkah empat detik dengan kaki kanan, dan empat detik juga dengan kaki kiri. slow motion. ya enggak lah. aku males punya urusan panjang dengan perempuan. jadi aku cepetin mandi, ambil tas dan masukin kamera, lalu keluar dari gang dan bersantai di pedestrian Malioboro.

setengah jam berikutnya, Ullya nge-Line dan mengabarkan kalau dia akan berangkat. satu temannya sudah bersamanya dan menuju kemari, sedangkan satu lagi masih baru saja bangun dan akan segera ke tempat pertemuan. mendengar itu aku masih meneruskan membaca Malam Terakhir milik Laela S. Khudori yang aku bawa di tas. aku sengaja tidak pesan kopi, khawatir Ullya tiba" sudah nyampe dan kopi belum habis. kopi adalah salah satu solusi dari semua persoalan idupku, jadi aku tidak biasa meninggalkan kopi tersisa. halah.

dua puluh menit berlalu saat Ullya nge-Line lagi kalau dia udah di Malioboro, di jalan Dagen. aku beranjak ke sana dan menemui Ullya. berkenalan dengan seorang temannya yang memakai masker dan gak dilepas". namanya Murti. kita bertiga di pinggir jalan di depan warung makan menunggu satu lagi teman Ullya. lama, ada kali hampir setengah jam, lalu datang. sesi kenalan dan ngobrol berjalan cepat dan kami berangkat. saking cepatnya, aku lupa namanya dan aku yang membonceng Ullya, berkendara di belakangnya yang membonceng Murti. dari belakang, aku perhatikan mereka ini pada bawa ransel, dan sepertinya bawa banyak barang. kayaknya ada rencana" yang aku kelewat.

'Mas, ini perjalanan mungkin sejam-an. gapapa..?', tanya Ullya tiba".
'udah jalan nih, ya gapapa jadinya. coba tadi bilangnya, ya cancel',
'hmm, jahat banget ya tamunya. tapi ya tuan rumahnya gak memuaskan ya. hehe', lalu obrolan berlanjut ke hal" gak penting. beberapa kali aku menanyakan nama kedua temannya yang di depan. aku lupa. 'Murti, Mas. yang cowok, Saiful. dua"nya angkatan Ullya di pondok. kalo Murti, Mas gak mungkin kenal, kalau Saiful, pasti inget kan..?',
'enggak. kenapa harus kenal..?',
'kayaknya Mas kelas akhir, Saiful kelas dua SMP. sama kayak Ullya',
'wah jauh banget. saya lupa kalo jauh gitu',
'udah tua kali, Mas', Ullya mengatakannya dengan sungguh". soalnya dia tertawa setelah itu. terbahak-bahak. sialan.
setelah setengah jam, perjalanan ini lebih mirip menuju Balekambang di Malang. jalan" kecil, kanan kiri sawah dengan sedikit bangunan.

'Mas, kira" lima belas menit lagi. gak nyampe sejam-an ternyata. maap ya Mas, jauh', lagi" Ullya minta maap. dan shit, wow. perjalanan ini makin seru. di depanku sekarang, terbentang pemandangan yang indah. OKe, mungkin agak berlebihan. tapi di depan mataku sekarang, ada jalan kecil dua arah yang cukup hanya untuk dua truk, gunung menjulang yang sangat tampak di mata dengan hijaunya, dan sepoi angin yang melewati wajahku dengan sangat lembut. mirip pemandangan pagi saat berdiri di depan gerbang UMM saat cuaca cerah. kalau perjalanannya begini, aku akan sangat menikmati.

'Ullya, ini bener jalannya..? gilak, bagus banget',
'cie',
'bagus banget. eh bentar, maksudnya apa cie..?',
'gapapa. lanjut, Mas',

tiga atau empat menit kami melintasi jalan dengan pemandangan tadi. aku tak berhenti memaki. sialan, bagus banget. aku tak akan protes kalau suguhan pemandangannya begini. tidak semua hal harus direkam dan dipost, beberapa diantaranya cukup dinikmati dengan mata. dan visual seperti ini sangat nyaman dinikmati.

setelah sempat nyasar karena Ullya dan Saiful yang lupa jalur pastinya, akhirnya kami sampai di sebuah parkiran. aku turun dari motor, menoleh ke Ullya dan dua temannya. 'wow, ini kita di atas..? pemandangan yang bagus. kita foto" lalu pulang..?',

'ini view dari parkirannya aja. bagus, kan..?! wisatanya air terjun, Mas. sumber air, pemandian',
'iya Mas', Murti dan Saiful menambahkan.
'hah..? saya gak bawa ganti baju lho ini',
'loh, iya ta..? kan Ullya udah bilang semalem. duh, gimana dong..?',
'hahaha, ya gapapa', aku duduk di bangku panjang dari kayu di parkiran terbuka itu. Ullya ngobrol dengan Murti. aku mengeluarkan kamera dan mengabadikan beberapa gambar. Saiful mendekat ke tempatku berdiri dan bicara.
'hmm, Tadz. saya Saiful',
'heh, bilang ustadz sekali lagi, atau kita gak usah kenal',
'oh iya, maap Lim',
'juga Mu'allim. panggil saja nama atau lainnya',
'iya Mas, maap', tampaknya Saiful ketakutan.
'hahaha, becanda Ful. tapi panggil nama saja gapapa. tolong jangan Tadz atau semacamnya',
'oKee deal. saya Saiful ...', lalu Saiful menjelaskan tentangnya, tentang dia yang kenal aku dan hal" yang membenarkan jika aku gak kenal dia. mungkin lupa. karena angkatanku empat tahun di atasnya dan dia juga tidak banyak aktif di organisasi selama di pesantren saat SMP, atau saat aku masih di pesantren. kami lalu banyak ngobrol nostalgia tentang pesantren dan isinya. juga tentang bagaimana perjalanannya bisa kuliah di UIN Jogja.

'OKee, Mas. kita turun. tempatnya di bawah', Ullya menunjuk pintu wisata itu, sekitar 200m dari tempat parkir ini. 'Mas, maap banget ya. tapi di sana ada kok penyewaan baju renang',
'hah, huss berisik. gapapa Ullya',

kami beranjak dari tempat parkir dengan becanda ala Saiful dan Ullya. sementara Murti masih tidak banyak bicara seperti tadi pagi ketemu. dia hanya tertawa melihat becandaan Saiful dan Ullya yang sesekali aku timpali.

saat masuk, kami harus bayar karcis masuk empat ribu per orang. tatanannya masih alami. jalan setapak yang kami lewati masih tanah yang dibentuk-bentuk. bertingkat seperti terasering. tidak ada paving atau semacamnya. kami langsung dihadapkan pada dua kamar mandi di kiri dan mushalla di satu lantai berikutnya. air wudhu'nya mengalir lewat kendi" besar yang sangat dingin. benar" sumber air. di timur mushalla, ada warung yang jual mie pangsit. setelah ngobrol dan melihat-lihat, kami shalat Dzuhur dulu. Ullya dan dua temannya masih menyalahkan diri dan sungkan karena aku gak akan ikut mandi.

'masih mau nyalah-nyalahin atau makan..?!', tanyaku.
'makan dong', mereka serempak jawab.
'makan aja kompak banget jawabnya. yaudah yuk. tadi saya udah ke situ, jualnya mie pangsit aja' gapapa ya..?',
'gapapa, Mas. kan Mas Hamim yang belum sarapan. kita mah udah. jadi makan apa aja gak masalah',
kami memesan tiga mangkok mie pangsit. Saiful hanya pesan es. kurang lebih setengah jam kita berada di warung itu. masih dengan becanda dengan objek utama bully adalah Ullya dan Saiful. kali ini Murti beberapa kali menimpali. aku, ikut tertawa dengan perut terisi.

puas tertawa dan nge-mie, kami turun. yoi, turun. ternyata Mudal ini semacam lembah dengan air terjun. mata airnya mengalir sampe ke bawah dan kami harus menuruni bebatuan yang sudah diberi tangga buatan dari bambu" untuk menuju kolam terbawah. di beberapa kelok perjalanan turun itu, ada air mineral dengan banyak gelas yang disediakan gratis buat pengunjung. kami minum. kami foto" dan kaget ternyata banyak bule di sini. mereka sama seperti kami, berwisata dan pengen mandi" aja. sesampainya di bawah. tiga anak itu ganti pakaian dan bincang" dengan penjaga kolam. aku di belakang mereka, tertahan dengan kamera di tangan yang masih takjub sama tempat ini. beberapa sudut aku abadikan, termasuk mereka.

saat aku tiba di kolam dan motret candid, mereka berteriak dengan masih wajah bersalah karena aku gak ikutan mandi. aku melontarkan satu dua alasan, dan mereka kembali berenang dengan riang. menyenangkan melihat mereka senang. tertawa-tawa di kolam tanpa peduli hal lainnya. di sana ada beberapa orang yang masih di kolam dan sudah kelar lalu menepi di warung di sampingnya.

mereka sewa pelampung baju renang. Ullya sih emang gak bisa renang, aku tau itu karena saat ke Jogja edisi sebelumnya, aku sama Ullya juga ke mandi" begini dan dia bilang gak bisa renang. tapi Murti dan Saiful kayaknya begitu, karena mereka juga sewa. kolamnya agak dalem, jadi kaki mereka gak bisa nyentuh dasar tanah dan harus sewa pelampung biar mandi"nya menyenangkan.

kelar foto" sekitar, aku turun ke warung dan memesan secangkir kopi. ternyata yang mereka sediakan hanya kopi sachet dan minuman dingin serta mie instan. aku pesan kopi dan duduk di bangku tempat anak tiga ini naroh pakaian. sekalian jagain. aku masukin kamera dan mengeluarkan hape. cek chat kantor dan lainnya. menghubungi Sinal, bertanya kabarnya dan cek medsos bentar. lalu kembali memasukkannya dan gantian mengeluarkan kamera sampai akhirnya mereka puas dan menyatakan kelar mandi"nya.

adzan Ashar sudah berkumandang saat mereka ganti baju. kami istirahat sebentar lalu naik lagi ke atas dan memutuskan shalat Ashar dulu sebelum pulang. becanda" dulu, baru menuju parkiran dan pulang. sepertinya bersenang" tadi juga melelahkan. akhirnya kami memutuskan singgah di warung makan di perjalanan, sekalian shalat Maghrib. karena petang sudah tiba dan meminta kita memberi jeda pada aktivitas.

kami makan di salah satu cabang super sambel, di jalur pulang. sepertinya kami sangat lapar, dan tidak berani bertaruh makan di tempat lain yang asing, yang gak tau rasanya enak apa enggak. aku mengiyakan dan warung sangat ramai. kami kebagian tempat di dalem dan pojok. selama kursinya empat, kami gak ada masalah. pelayanan lumayan cepat, makan kami juga demikian dan shalat dengan segera. hingga akhirnya memutuskan masih ingin nongkrong untuk ngobrol.

kami memilih mampir ke Upnormal di jalan Gejayan yang baru buka. katanya juga deket dengan kosan Murti, biar Ullya nganternya deket. kami agak lama di sana. melakukan obrolan gak penting hanya untuk meluruhkan penat dan mengendurkan syaraf yang tegang. Ullya, jadi bahan olokan. Saiful pelakunya. saya, menimpali. Murti yang menertawakan. semua simpul tawa itu berlangsung hingga malam larut dan dingin diam" menyergap memaksa kami mewujudkan niat untuk pulang.

'Mas, udah nyampe penginapan..? Ullya nginep di kosan Murti. dia takut sendirian', line Ullya masuk saat saya udah bebaring di penginapan.
'udah. btw, Saiful orangnya baik. boleh lah Ullya sama dia',
'enggak. Mas gak mau pamit apa ketemuan lagi gitu sebelum besok pagi-pagi pulang..? jangan nyebelin, mau pulang lho ini',
'hahahaa. gak usah lah. paginya banget, Ullya paling masih tiduran',
'yaahh. oke kalau gitu, segera pulang dan cari jodoh. segera',

nasihat apaan dah itu.
saya beranjak dari kasur, ganti baju dan kembali keluar kamar. duduk" di trotoar Mailoboro dan memesan secangkir kopi di warung. malam agak tenang, kios" udah pada tutup. keramaian hanya terjadi di titik pedestrian yang ada plang Malioboro. plang itu gak lagi tersedia di ujung jalan Malioboro, karena dibongkar untuk perbaikan jalan. tapi jalan agak deket sekitar 100m, ada plang itu di depan antara hotel Inna Simpang dan kantor kantor DPRD Yogya. sampai saya kembali ke penginapan satu jam kemudian pun, titik itu masih ramai. jenis keramaian yang aku senangi.

lihatlah mereka. tertawa dengan tulus. Kau harus melihatnya. melihat yang aku lihat. rasanya tawa itu menular. kebahagiaan itu terasa sampai ke ujung bibirku, memintaku juga ikut tertawa. mereka memiliki senjata paling dahsyat yaitu hati. keteguhan di dalamnya akan meruntuhkan semua nasib yang berpotensi jadi kesedihan. bisa saja Kau menghadapai semua persoalan hidup dengan strategi, tapi perjalanan ini dimulai dengan hati yang kuat. kemauan, kehendak, hasrat yang kokoh untuk terus berusaha. dan dalam satu suara tawa yang mereka keluarkan, ada semua rincian itu di sana. menular, juga membahagiakan.

selamat malam, Jogja.
Selengkapnya...

Bicara..

sore seolah berjalan lambat, sangat pelan sampai aku tak bisa mendengarmu lagi. inderaku hanya merasakan kopi yang baru saja aku seruput. di lidah, di pegangan, di hidung, aromanya membuat mataku perlahan terpejam. Kau memanggilku lagi, aku mendengarmu tapi aku abaikan. Kau memutari meja, berjalan ke arahku, duduk di samping dan menyentuh bahuku. menyebut namaku tepat di telinga. aku membuka mata, menoleh dan mendapatkan senyummu yang mengembang.

kita beradu pandang. matamu menatapku dengan ancaman. aku membalasnya tanpa tau bersikap. matamu bicara, dengarkan aku. mataku bertanya, sudah berapa lama Kau duduk di situ dan melihatku. pandanganmu hilang, turun ke bawah, tempat tanganku berada. mengambil dan menggenggamnya dengan sangat hati-hati. aku menggerakkan tubuhku. sekarang kita berhadapan, tapi aku masih bertanya, apa yang ingin Kau lakukan.

sore masih sangat muda saat Kau kembali berbisik di telinga. memintaku pergi dari sini, meminta kita meninggalkan tempat ini, sambil menatap ke arah meja tempat kopiku berada. matamu meminta, habiskan kopimu. mataku memohon, minumlah sedikit. gengganganmu renggang. menggerakkannya ke meja dan meraih cangkir itu. mengarahkannya ke mulut, mencium aromanya, raksi yang sangat mudah kita perdebatkan sepanjang kita kenal. bibirmu menyentuh tepi cangkir. Kau meminumnya, sedikit, tapi Kau meminumnya. segera matamu melihatku dan bersuara pelan 'pahit'. aku tertawa, Kau tersenyum kesal.

sore masih belia, kita beranjak, memilih melihatnya lebih jauh di jalanan. mungkin tidak banyak yang akan kita temukan. tapi pasti kita akan menjumpai sesuatu. keindahan itu, pendar itu, atau hal lain yang membuatmu tau tentang dirimu. aku, diam-diam sudah menemukan diriku lewat dirimu. dan Kau, juga harus menemukannya. bisa di perjalanan ini, atau nanti di tempat lain. saat ini, atau beberapa waktu lagi. tapi Kau harus menerima dirimu saat Kau menemukannya.
Selengkapnya...

Harus Sering Diingat..

aku sudah sering memikirkan kematian. perihal yang sangat dekat dengan kita diakui atau tidak. Kau tidak bisa memprediksi kapan datang dan bagaimana caranya. yang harus Kau lakukan hanya mempersiapkannya diri dengan sangat baik sebelum dia menjemput. aku sudah sering memikirkannya, bahkan membicarakannya, bertindak seolah besok adalah waktunya. tapi lain hal jika aku melihat potensi tanda-tandanya. seperti tiga hari ini.

Selasa malam lalu, saat BMKG mencatat ada gempa di utara Bangkalan, aku langsung panik. info itu sudah ramai di banyak tempat. aplikasi perpesanan, media sosial sampai bisik" tetangga. bagian paling sulit dalam kondisi ini memang menenangkan diri. beberapa detik setelah seruput kopi yang aku taruh di atas CPU komputer, aku kembali membaca info itu dengan detil. kedalamannya 576km dan kekuatannya berkisar di 4.6 SR, tidak dirasakan oleh warga. tidak dirasakan. aku tidak menghubungi Ibu, khawatir panik. aku hanya memberitakan dengan semua keterangannya, juga agar tidak panik.

malam saat pulang dari kantor, aku masih merasakan kekhawatiran dalam diri. berkali-kali aku melihat hape dan mencoba menghubungi Ibu, tapi aku takut dengan respon yang muncul. aku takut kalau Ibu khawatir dan panik. sampai akhirnya pagi mengecupku dan perlahan membekukan semua kegelisahanku. hari mulai berjalan separuh saat aku mulai berpikir lagi untuk menghubungi Ibu. bagaimanapun Ibu harus tau dan aku harus berani bilang. keberanian adalah perlawanan pada kekhawatiran. aku mulai mengeluarkan hape dari saku bajuku. tapi, pucuk dicinta ulam tiba. baru membuka kunci, hapeku bunyi karena telpon dari Ibu.

akhirnya aku memberi tahukan info ini. aku jelaskan info ini, juga tentang kondisi tempat tinggal kita yang sangat rawan karena di pesisir, sekaligus hal" yang harus diantisipasi saat terjadi guncangan. ternyata Ibu lebih tenang dari yang aku duga. Ibu mendengarkan semua info dan mengiyakan semua penjelasan. tanpa aku duga, Ibu bercerita tentang gempa yag dulu beberapa kali terjadi saat aku kecil. aku mendengarkan dengan sangat antusias dan beberapa kali ingin tahu bagaimana kondisi saat itu, karena aku tidak mengingatnya. lama, lalu pembicaraan teralih pada pembahasan yang hangat. kita bertukar salam dan menyudahi panggilan.

petang sampai malam setelahnya, aku bisa menikmati Rabu dengan nyaman. sampai akhirnya tengah malam tiba dan aku masih terjaga, gempa di sekitar Madura kembali terjadi. kekuatannya 6.4 SR, cukup besar. posisinya agak jauh, ada di selatan Sumenep. saat itu juga, aku menelpon Ibu yang membangunkan tidurnya. memberi info ini dan bertanya situasi di sana. ternyata Ibu nyenyak tidur, tidak merasakannya dan Bapak sudah pergi melaut. semuanya baik" saja, tapi tidak yang di Sapudi, pulau yang sangat dekat dengan titik gempa.

hari ini aku masih terus memikirkannya. sama seperti kematian, gempa dan guncangan patahan ini tidak bisa diprediksi dengan pasti. kita hanya bersiap saat salah satunya datang. bersiap, bukan menghindar. kita tidak bisa lari dari segalanya, apalagi dari kematian. tapi kita masih bisa mengetahuinya, untuk menyimpulkan kekuatan.
Selengkapnya...

Jangan Kamu, Biarkan Aku..

Kau harus menjauh. Kau terlalu buta mendekatiku. menjadikan semua kebutuhan sebagai alasan bertemu dan meyakinkan diri bahwa semua ini benar. Kau harus percaya, hal itu akan sangat menyakitkan nantinya. sama sepertimu saat ini, aku dulu pernah menjalani ini. mendekat tanpa peduli terik siang hari atau dinginnya malam. yang aku rasa, senang melihatnya dan bahagia di dekatnya.

detik-detik menjadi sangat berharga dan semua tempat yang kita singgahi adalah puisi yang akan menjalar ke semua saraf di otak, menjelajahi jalanan cerebrum dan mengendalikan kemampuan berpikirku. semuanya tentang dia dan kebaikan hari akan pudar tanpanya. aku sangat tergila-gila padanya, juga sebaliknya. dia adalah hal paling irrasional yang pernah aku sentuh, begitu juga sebaliknya. aku dan dia, saling mencintai tanpa spasi, seperti bahan bakar yang siap meledak kapan saja.

hari-hari menjadi sangat menyenangkan dengannya. tanpanya, aku hanya serpihan abu dari sisa anak panah yang terbakar. anak panah yang belum sempat lepas dari busurnya, terjatuh dan lenyap terbakar teriknya matahari. pekan-pekan berlalu dan kami menemukan cermin. berdiri di depannya membuat kami tau ada yang salah dengan cerita ini. kisah yang sudah kami bangun dua kali pergantian tahun dengan banyak motif untuk bertahan.

bulan-bulan menjadi sangat sunyi saat cermin itu kami bawa ke manapun kami pergi. menjadikannya sebagai kebutuhan untuk disadarkan. ada banyak lubang di wajahku dan wajahnya. menjelma menjadi ketakutan yang tak biasa. takut kehilangan, takut berjarak dan takut tak bisa bersama. kami menepi, duduk bersebelahan dengan kepalanya bersandar di bahuku. mengingat-ingat lagi semua kenang yang harus disimpan dan dilupakan. memilahnya. memilahnya. memilahnya sampai menemukan tali yang mengikat kedua tangan kami.

tahun-tahun menjadi senyap setelah semuanya menjadi sangat masuk akal. setelah semuanya kami masukkan dalam kepala yang menerima rasionalitas. aku mencintainya dengan sangat bahaya, demikian juga dirinya. saling mencintai di atas ranjau yang tertutup serbuk kenyamanan. ranjau yang sangat kuat saat meledak dan tak akan bisa kami tahan dengan hati yang kami miliki saat itu. lalu polemik datang, mengepung tempat duduk kami dan bertahan lama. dan kami memilih berjarak. kami memilih menjadi jeda.

Kamu, juga harus punya jeda denganku. aku pernah sebuta itu mendekati dan mencintai. aku tak hanya menyakiti orang yang aku cintai, tapi juga menyakiti diri. aku dan dia, saling menyakiti. Kau akan bernasib sama jika cintamu buta. memang Kau tak akan bisa memilih jatuh cinta pada siapa, tapi Kau harus menggunakan akal sehatmu untuk melanjutkan hidup. karena saat itu terjadi, kita akan merendahkan cara berpikir. kita bukan tak bisa membedakan kebaikan dan keburukan. kita bisa membedakannya, tapi kita memilih mengabaikannya.

jika nanti aku jatuh hati padamu, diamlah di situ. biar aku yang berjalan ke arahmu, mendekati dan menyapamu. tentu jika Kau izinkan.
Selengkapnya...

Percayai Dirimu Sendiri..

aku di pengkolan Pakis saat berniat menulis ini. melintas sambil mendongak ke langit dengan bulan setengah bulat, atau Kau menyebutnya dengan bulan separoh. aku tidak punya alasan utuh menulis ini, hanya ingin melampiaskan lelah yang disudahi. karena jika dipikir-pikir, hari ini berakhir dengan menyenangkan.

aku baru saja ngobrol dengan Tito tentang pekerjaan barunya, dan bagaimana kerja mereka menjadi asik dilakukan. selama dua jam dengan secangkir kopi buatku, segelas teh hangat dan sepiring tahu tek, kami memaki dalam diskusi dan menerjemahkannya dalam beragam sudut pandang. sebelumnya, aku mendapatkan suntikan endorphin dari Ibu dan Bapak lewat sambungan telpon. itulah kenapa aku selalu iri dengan mereka yang sekolah dan bekerja lalu bisa pulang ke rumah, tempat semua lelah menjadi abu dan hilang dalam senyap. mendengar suara dan ngobrol dengan keduanya saja, sudah sangat melegakan. apalagi bisa bertemu secara fisik.

sebelumnya lagi, aku harus meyakinkan diri untuk menunda ngobrol dan ngopi bersama Ipunk dan Ismail. terlalu jauh, dan belum ada hal urgent yang harus kita bicarakan. sebelumnya lagi, aku meluruhkan emosi bersama Neneng di banyak tempat. masih di Surabaya, tapi di banyak tempat. semuanya melelahkan, karena beberapa kali harus mikir dan menyederhanakan buat masuk lagi ke kepalaku yang sedang ruwet. kepala yang akhir" ini menolak buat mikir lebih dalam untuk beberapa hal berat. aku ingin yang ringan" saja sementara ini, karena beberapa kali, motivasiku sedang tenggelam.

hari yang melelahkan ini juga terasa menyenangkan juga karena aku sangat leluasa memilih dengan siapa aku ngobrol, baik teks atau suara. karena aku sudah seringkali berdamai dengan kenyataan bahwa aku dan temen"ku adalah orang" baik yang berada di tempat buruk. tapi aku juga percaya bahwa selalu ada jalan keluar untuk segala hal. bosan, download film. bosan, nonton. bosan, masak. bosan, hangout. bosan, beli buku. bosan, baca buku. bosan, ngopi. dan seringkali saat aku bosan, ya tinggal tidur. karena kadang dalam hidup, Kau hanya bisa mempercayai dirimu sendiri.
Selengkapnya...

Membeli..

kebiasaan. tergoda, membeli, dan hanya menyimpannya. sayangnya aku tak pernah bisa menahan godaan aroma buku dan pengetahuan di dalamnya. padahal aku masih punya hutang pada Kiki. the murder of roger ackroyd masih belum purna aku baca. dia seringkali mengingatkan ngomel", hmm, sudah dua bulan ini. dia ingin sekali aku membacanya, mengakhirinya sebelum selesai, menebak endingnya dan berdiskusi dengannya. aku, bahkan seringkali lupa kalau buku yang aku beli dua bulan lalu itu ada di tas. selalu ada di semua perjalananku, ke manapun. baru sembilan satu dari tiga lima dua halaman. bedebah.

malam saat aku beli, Kiki terstimulus untuk membeli juga. di malam yang sama, dia beli dua buku Agatha Christie dan menyelesaikan sebelum pagi. aku..? baru buka dan membaca dua halaman. mengetahui itu, Kiki memaki saat pagi baru berlangsung beberapa jam. sepertinya penjelasan tidak akan ada gunanya. tapi aku lebih suka dia memaki daripada menyuntikku dengan jarum"nya. sekalipun kita tidak pernah bertemu dengan pakaian kerja.

pagi ini, aku ingat, aku punya buku ini. ada di dalam tas. selalu ada. kadang Kau harus melihat lebih dalam untuk mengetahui yang Kau miliki. aku melakukannya pagi ini. setelah semalam aku terjebak di semua tumpukan buku di Big Bad Wolf, bazaar buku sialan yang membuatku lupa kalau dompetku sudah kritis di stadium empat. baru masuk, aku sudah menemukan dua buku harta karun yang menurut Tito kudu aku beli, OKe, maksudnya kudu aku baca. entah kapan. aku mengambilnya, membaca nama di bagian bawah cover depan dan sinopsisnya, dan ya, aku harus membelinya, maksudku, membacanya. entah kapan.

kabar baiknya, aku memiliki buku" itu. dan berharap punya umur panjang untuk terus ingat untuk membacanya. OKe ya, aku harus membacanya. karena jika tak jadi membeli, aku tak akan memilikinya, kan..?
Selengkapnya...