LK II Kab. Bandung; Perjalanan Berangkat..


Pak, ini di mana..?” ujarku dengan nafas terburu-buru sambil menyodorkan tiket kereta yang aku pegang pada petugas kereta di samping gerbong.
“Oh ini Mas, masuk dan cari kursi 7E”, jawabnya mengembalikannya tiketku.
“Terimaksih Pak”.
“Lebih baik langsung naik sekarang Mas, bentar lagi keretanya mau berangkat”.
“Oh iya Pak, Saya beli air mineral dulu”.
“Cepet ya Mas”, intruksinya aku sambut dengan anggukan sekenanya.

Hmm.. Akhirnya aku duduk dan memulai perjalanan ini. Perjalanan yang tak aku sangka benar” aku lakukan. Perjalanan untuk melanjutkan prosesku berorganisasi. Perjalanan sebagai bentuk penghormatan pada Anhar sebagai Ketua Umum pada ambisinya yang menginginkan semua presidium melakukan jenjang pelatihan tahap selanjutnya. Perjalanan yang juga untuk mengejar orang” pendahuluku melakukan pelatihan serupa. Perjalanan yang kali ini harus aku lalui sendirian.
Sebenarnya perjalanan aku jalani ogah”an. Aku sangat tak nyaman dengan kondisi ini karena tiga hal. Pertama, dana yang aku punya melakukan perjalanan ini sangat minim. Kedua, aku punya stigma negatif pada perjalanan ini karena kisah pelatihan serupa yang dilakukan Rumput LiaRKu (entah apa aku masih boleh meng-klaim dia). Dan ketiga, karena aku harus meninggalkan Aniez, seorang teman seperjuangan yang baru saja mengantarkan aku sampai stasiun sore ini, padahal kesempatan ini harusnya miliknya juga. Tapi, aku harus melakukan ini demi Anhar dan Komisariatku.
Tempat duduk 7E berada di samping jendela. Pas banget karena aku sangat ingin menikmati perjalanan ini dengan melihat semua kota yang aku lihat. Malang-Bandung sangat jauh, bisa dipastikan kota yang akan aku lihat sangat banyak. Sambil pamit pada teman” melalui sms, aku mendengar suara pemberitahuan bahwa kereta akan berangkat. Beberapa detik kemudian kereta MALABAR ini pun beranjak menyisakan debu dan hiruk-pikuk Kota Malang. Aku tenggak air mineral yang baru saja aku beli dan berharap perjalanan ini berjalan lancar.
Ingin sekali memejamkan mata dan istirahat, tapi perutku berbunyi tanda lapar. Aku harus makan sesuatu, tapi hanya permen yang aku temui di saku kiri celanaku. Sambil mengunyah permen tersebut, aku mulai menyandarkan diri di kursi dan mematikan hape untuk menghemat baterai.
Aku tidak ingat betul kota apalagi nama stasiun yang aku lewati saat aku sadari aku sudah di Kota Djogja. Kota indah yang seharusnya aku kagumi. Jam di pergelangan tangan penumpang di depanku menunjukkan angka satu dengan suasana gelap gulita. Hmm.. Sudah dini hari ternyata. Aku bergegas istirahat lagi setelah memastikan dua tas yang aku bawa dalam kondisi baik” saja.
Kereta masih bising seperti biasa saat aku terbangun karena cahaya fajar yang masuk di celah” jendela tempatku duduk. Sekilas, beberapa orang di gerbong ini tampak bergerak meregangkan badan dengan mengangkat tangan ke atas tanda abis istirahat. Perjalanan ini mulai menujukkan pemandangan eksotisnya. Hutan dan perbukitan serta sawah” aku lalui untuk dipandangi. Tak luput aliran sungai juga aku lintasi. Aku mulai gusar saat beberapa orang yang sebelumnya aku pastikan turun di Bandung mulai turun satu per satu di stasiun yang kita lewati. Lalu di mana aku turun..?!
Aku mencoba menggerakkan pantat yang sudah 16 jam menempel di kursi tak empuk ini. Aku berpikir 145 Ribu bukan angka yang kecil untuk membayar kereta ini jika aku tersesat dan kesasar. Karena kegusaranku itu, aku memberanikan diri untuk bertanya pada penumpang yang duduk di depanku.
“Kang (sok kenal dengan menyebut Kang, panggilan khas Sunda pada laki”), tujuannya ke mana..?”, tanyaku memulai percakapan.
“Bandung”, jawabnya melempar senyum.
“Ouu.. Nama stasiun yang Akang tuju apa..?”, tanyaku bego’.
“Stasiun Bandung. Mau ke mana..?”, tanyanya balik tetap dengan senyum yang mengembang diantara dua pipinya.
“Cipadung Bang. Cipadung Permai”, aku sebutkan tempat Sekret HMI Cabang Kab. Bandung.
“Hmm.. Gak tau tuh Mas. Coba ntar ditanya ke petugas di stasiun aja Mas”.
“Oo.. OKe Kang. Makasih”, sambutku sambil menempatkan tas di bahu saat aku lihat plang Bandung tanda aku sudah sampai di Stasiun Bandung.
Setelah cuci muka dan sedikit menyegarkan badan, aku beranjak ke tepi jalan raya tempat menunggu bus seperti yang disarankan petugas toilet tadi saat aku cuci muka. Sambil menunggu, aku aktifkan kembali hapeku. Seketika 16 sms masuk dan telpon masuk dari Rumput LiaRKu. Setelah ngobrol beberapa menit, bus menuju Terminal Cicaheum datang. Segera aku menutup telpon dan berburu dengan calon penumpang lain menaiki bus. Sekitar 20 menit kemudian, aku sampai di terminal Cicaheum dan meneruskan perjalanan dengan angkot menuju Cileunyi, tempat kampus UIN Sunan Gunung Djati berada. Setengah jam kemudian, aku sudah berdiri di depan kampus UIN SGD dengan wajah kusut menunggu jemputan dari panitia pelatihan Intermediate. Cukup jauh tempatnya ditempuh dengan motor karena berada di belakang kampus.
Tak berapa lama, aku sudah memiliki 8 orang teman baru dari berbagai daerah. Bagus lah. Istirahat sejenak, sebelum kemudian melengkapi administrasi untuk syarat pelatihan. Sebelum memejamkan mata, masih teringat jelas kebimbanganku untuk mengikuti pelatihan ini dengan pertimbangan 3 hal tadi dia atas. Perihal nomor tiga yang paling aku sesalkan. Tapi dengan bagitu aku tau bahwa Muhammad SAW tentu tak main” saat bersabda bahwa di balik semua kenyataan yang tak nyaman selalu ada hikmah yang dapat kita ambil. Setidaknya, aku tau ada tujuan lain Tuhan mengikutsertakan aku tanpa Aniez.

0 komentar:

Posting Komentar