Perjalanan Liburan Alay..

Jumat, 27 April 2012
Pagi ini begitu dingin saat aku menyentuh air untuk mandi. Dalam sebulan terkahir, baru kali ini aku mengguyurkan air di bak kamar mandi Komisariat di pagi hari. Tak seperti biasanya bangun untuk shalat subuh kemudian tidur lagi hingga matahari kadang benar” terik menyerbu celah” jendela kamar. Untuk hari ini tak apa, karena janji yang mesti ditepati dengan dua perempuan alay yang aku hormati.
Jam enam pagi tepat, aku bangun tidur lagi dan buru” mandi. Tapi ternyata tak demikian. Aku harus menunggu sekitar 14 menit sebelum masuk kamar mandi untuk mandi karena dua kader yang juga membutuhkan mandi. Antre. Selesai mandi jam 06.49 aku langsung memburu pakaian dan tas yang akan aku bawa. Seketika itu juga aku langsung membuka HP untuk memencet beberapa tombol dan menghubungi Aniez (salah seorang perempuan alay yang aku maksud tadi). Empat pesan dan sebelas kali telpon tak ada respon darinya. Baru aku tau ternyata janji yang semalam dibuat olehnya tak berlaku. Dia masih belum bangun. Hmmmm...
Sembari menunggu Aniez tersadar dari mimpi indahnya (pasti mimpi bareng si anu) aku mencoba menghubungi Mb’ Happy (perempuan alay satunya). Berbeda dengan Aniez, dia udah siap lahir bathin bahkan sudah melakukan aktifitas rutinnya. Aku hanya membaca buku saat telponku diangkat dengan sukses oleh Aniez, dia menjawab. Dengan santai dan suara parau, suaranya terdengar di telingaku.
Sekitar jam 08.56 kami berdua berangkat ke Batu, tempat Mb’ Happy berada. Sesampainya di kediamannnya, ternyata kami menerima pesan untuk menemui dia di Alun” Batu. Kami pun bergegas dan langsung mendarat di pinggir barat Alun” Batu. Tapi Mb’ Happy tak kunjung nongol. Pacarnya pun (orang keempat yang akan melakukan perjalanan ini) tak keliatan sehelai rambutnya. Di bawah panasnya matahari, kami seperti dua teroris yang akan mengebom Alun” Batu dengan celingak celinguk menolehkan wajah ke setiap sudut alun”. Namun, dua belas menit kemudian muncul Mas Inu (nama pacarnya Mb’ Senang, eh Mb’ Happy maksudnya) yang menyapa kami berdua dengan senyum (Aniez tersepona kayaknya). Selang empat menit kemudian Mb’ Happy muncul. Singkatnya, jam 09.42 kami berangkat setelah mampir ke Bank BRI Batu.
Kami pergi memulai perjalanan ini. Perjalanan yang akan membenturkan banyak kepentingan yang aku tinggalkan sejenak untuk bersantai dan menghibur diri. Terdengar egois memang, tapi aku sedang membutuhkan hal itu. Maaf Pak Ketum dan Ifa (MOT Ndoet yang aku tinggalkan buat mengelola latihan). Oia, lupa bilang. Perjalanan ini menuju ke Lamongan, tepatnya Wisata Bahari Lamongan.
Perjalanan ini sudah kami rencanakan sudah tiga minggu lalu. Jauh sebelum Mb’ Happy ujian skripsi ataupun sebelum Aniez seminar proposal skripsi. Malah perjalanan ini hampir gagal akhir April menimbang Aniez akan berangkat ke Garut untuk LK II. Hanya saja, tu perempuan emang alay. Dia tiba” menggagalkan dan lebih memilih berada di Malang. Mb’ Happy juga mengambil momen untuk sekalian berkencan dengan Mas Inu di luar kota. Ini yang tak aku suka. Benar” ujian.
Dalam perjalanan ini total hampir 350 jalan berkelok kami lewati. Dimulai dari daerah Payung yang sangat ekstreme dengan jurang di sisi kanannya. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai pada wilayah Pujon, tempat KKN alay yang mengharuskan aku sama Aniez satu bulan bertemu dengan sapi-sapi serta susunya yang m’bosankan. Kami sempet b’henti di sini karena perut kami sudah tak lagi kompromi dan meminta jatah sarapan pagi. Tapi sayang, bahan utama yang mau kami makan gak ada; nasi (kok bisa itu lho warung nasi gak ada nasinya).
Kami melanjutkan perjalanan. Sepuluh menit kemudian, entah daerah apa namanya, kami hanya melihat warung yang menarik dan langsung berhenti. Warung ini intinya menyediakan Nasi Rawon sebagai makanan utama dan satu”nya menu (selaen aer putih dan es teh lah). Dan satu perempuan alay yang senior berulah. Dia menraktir kami. Ah, bikin gak seru perjalanan. Tapi gak apa lah. Ada dua hal yang mungkin mendasari Mb’ Happy melakukan itu. Pertama, dia khilaf. Kedua, dia sedang senang nraktir supaya ultahnya gak nraktir lagi (Maaf Mb’ prasangka alay dari adikmu).
Sehabis sarapan kami langsung meluncur mengikuti jalan menuju Kediri sebelum bertolak ke Jombang. Sesampainya di pertigaan Kota Kediri sepasang kekasih yang sedang dilanda kerinduan di depan berulah. Mereka berdua mengarah lurus, padahal tujuan kami ke Jombang, arah kiri dari pertigaan Kediri. Kami pun mengejar dan meluruskan niat mereka m’ikuti jalan yang benar dan tak sesat. Benar” tak fokus mereka..
Jalan ke arah Jombang benar” membakar kalori. Bagaimana tidak, dengan aspal yang tidak merata serta teriknya matahari yang begitu menyengat membuat kami lunglai tak berdaya. Ditambah lagi kami benar” tak tau medan ini. baru pertama kalinya kami menginjakkan kaki (harusnya ban motor karena kami gak lagi jalan kaki) di sini. Tapi apa boleh baut, eh buat maksudnya, kami berdua percaya pada perempuan cenayang (kata Aniez lho Mb’) di depan tersebut.
Angka sudah menunjukkan angka 11.28 saat kami melihat jam beberapa belas meter dari arah pertigaan tadi. Artinya, kami harus berhenti untuk melakukan shalat Jumaat dan Dzhuhur bagi dua perempuan ini. Kami terus melaju untuk mencari masjid sekaligus menunggu adzan berkumandang. Setelah beberapa menit, motor yang dihuni sepasang kekasih di depan belok kiri menyebarangi jembatan dan berhenti di sebuah masjid samping sungai. Kami pun tak melewatkan momen ini. Momen yang sangat berharga untuk menggerakkan badan dan kepala yang harus menanggung helm selama dua jam lebih. Aku dan Mas Inu segera menuju masjid begitu khotib membaca khutbahnya siang itu, sedangkan di tepi sungai dua perempuan alay tadi sok manis dan mendramatisir keadaan untuk rehat sebelum berpindah tempat di sebuah rumah yang berada di samping masjid.
Aku dan Mas Inu berjalan menuju masjid dengan sempoyongan, berharap dapat segar kembali setelah mencuci muka dan berwudlu’. Tak terlalu khusyu’ aku rasa shalatku di tengah leher yang lelah menahan helm dan bahu yang menahan tas di depan. Tapi shalat berjema’ah selalu menimbulkan fokus yang berbeda bagiku ketimbang shalat dewean. Usai shalat Jumat, gantian Tim Preman (Aniez dan Mb’ Happy) menuju masjid melakukan shalat Dzuhur dan Tim Supir (Aku dan Mas Inu) menjaga tas serta barang” bawaan di rumah tadi.
Setelah bertanya pada penduduk setempat, kami langsung lajukan kembali motor kami ke tujuan. Tak terhitung kiloan debu kembali menempel di mukaku. Demen amat mereka nempel” gitu. Tapi tak apalah. Kami yakin hasilnya akan sangat memuaskan. Liburan, bermain dan sejenak melepas penat mendengar Rumput LiaRKu menemukan Bingkisan Tuhan lainnya. Apalagi momen ini jarang” aku lakukan, touring dengan aku yang nyetir. Biasanya aku dibonceng. Hahahahaa..
Kami girang banget setelah membaca gapura dengan tulisan ‘Selamat Datang di Kabupaten Lamongan’. Kami senang banget karena perjalanan melewati Jombang tak mudah. Kami harus melewati jalan raya yang lagi diaspal sepanjang satu kilometer dan panas banget saat kami lewati. Benar” panas. Beneran lho. Eh, serius. Beneran panas. Sumpah panas banget. Elu pade kagak percaya..?!?! Beneran lho. Kalian percaya gak sih..?!?!! Jawab bego’. (Maaf, lagi kumat)..
Aniez yang berada di belakangku teriak” gak ketulungan. Girang abis. Aku juga heran, ini anak tereak karena girang apa abiz ngeliat pocong Lamongan. Kami tetap melanjutkan perjalanan, pikir kami, kurang dari setengah jam kami akan sampai di WBL. Eh eh eh.. yang ada malah kesasar. Iya, kami sempet kesasar gara” sepasang kekasih di depan tak pandai membaca plang nama jalan petunjuk arah. Harusnya kami jalan lurus, ini malah belok kiri menuju Madiun setelah menunggu kereta lewat. “Gak apa apa wez. Namanya juga touring”, ujar Aniez santai. Yauda wez, toh kami bisa bertanya pada orang di jalan nanti. Tapi sial, di jalan ini banyak sekali larangan berhenti. Akhirnya, kami nekat bertanya dengan gaya alay. Kami mengejar sebuah motor yang dikendarai dua perempuan untuk bertanya jalan. Hahahaha.. Itu cara yang gak terlupakan.
Dengan arahan dari dua perempuan tadi kami sampai pada shirothol mustaqim. Kami berhasil berjalan menuju Babat. Kami melihat semua plang atau penunjuk arah mengandung (b’arti ntar lagi ngelahirin tuh) nama Babat. Tapi kesenangan itu harus disertai dengan sabar banget ternyata. Babat jauuuuh gilaaa. Kami terus melaju mengikuti setiap petunjuk jalan yang mengarahkan kami ke Babat. Sampe kami gak tau berapa truk yang kami salip.
Sampai akhirnya kami harus berhenti di SPBU terdekat untuk mengisi bensin motor yang dikendarai Mb’ Happy dan Mas Inu. Sedangkan aku dan Aniez menunggu di warung tak jauh dari SPBU tersebut. Sejenak aku minum beberapa teguk air mineral yang kami bawa, sedangkan Aniez menenggak bensin yang ada di motornya. Oh salah, Pocari Sweat maksudku. Setelah itu kami melihat sepasang kekasih tersebut muncul untuk meneruskan perjalanan. Tapi Aniez mengajakku ke SPBU. Entah kenapa. Padahal bensinnya masih banyak bahkan baru saja diisi. Aniez memberhentikan motor yang aku setir tepat di depan Musholla SPBU. Oo.. Mau dzikir mungkin. Tapi tidak. Rupanya dia ngeloyor ke kamar mandi. Hmmmm.. Aniez udah kebelet BAB ternyata. Kiraen mau sujud shalat minta ujan.
Babat masih belum kami lalui. Babat terlalu luas untuk kami lalui dengan mudah. Bahkan kami sudah sangat suntuk mengelu-elukan nama Babat. Tapi tak apalah. Kiranya ini bikin kami tau bahwa daerah penghasil wingko ini memiliki wilayah yang tak kalah luas dengan Batu untuk ukuran sebuah kecamatan.
Sekitar tiga puluh menit kebut”an dengan Mas Inu, aku melihat plang ‘Tuban’ di sebuah papan arah. Wow.. Senang banget rasanya. Walaupun kami tidak tau berapa kilometer lagi WBL, namun setidaknya kami sudah keluar dari Babat. Kami pun melaju sekencang”nya di wilayah ini. Jalan raya yang sangat sepi membuat kami leluasa untuk kebut”an. Tapi kami harus mengerem sejenak bakat terpendam itu saat menyadai bahwa bensin motor yang aku dan Aniez kendarai hampir habis. Kami pun berhenti di sebuah SPBU sambil mencuri kesempatan bertanya pada petugas SPBU arah WBL. Dan jawabannya kurang bagus. Kira” sejam lagi kami tiba di WBL menurutnya. Waddduu..
Kami terus melaju kencang kayak di pilem”. Pokoknya uda mirip genk motor dah. Untung aja gak ada polisi yang nangkep kami. Sekitar lima kilometer kemudian kami menemukan plang petunjuk arah di sebuah pertigaan dengan nama WBL ke arah kiri. Tiba” perempuan alay di belakangku merentangkan tangannya dan tereak” kayak kemalingan. Mengguncang” motor sambil joged”. Untung saja Aniez gak turun dari motor dan nyari pohon buat nari ala India. Aku pun sangat puas melihat plang tersebut. Motor pun aku kendarai dengan sangar tanpa peduli Aniez yang sedari tadi kesetanan girang. Jalan yang kami lewati sangat tak bagus. Kami sangat berhati” melewatinya. Pelan”. Khawatir kejadian berpindah tempat beberapa centimeter trulang kembali.
Jalan tersebut menyediakan ruas di sebelah kiri untuk dilewati kendaraan roda dua dengan kondisi sangat baik. Kami menggunakan ruas jalan tersebut dengan nyaman. Walaupun tak tenang karena selama 10 menit perjalanan kami tak kunjung menemui WBL. Akhirnya kami menghentikan laju motor dan bertanya pada pemuda yang sedang duduk” di motornya dengan teman”nya. Kau tau, jawabannya ngeselin. Dia bilang kami masih harus menempuh setengah jam lagi perjalanan untuk sampai di WBL. Jawaban yang sangat mengejutkan. Kami terpengarah mendengarnya. Oia, saat ini kami tak tau keberadaan Mb’ Happy dan Mas Inu. Kami terpisah. Tapi firasat kami dua orang tersebut jauh berada di depan.
Ucapan pemuda tadi benar, 25 menit kemudian kami sampai di pertigaan Paciran yang artinya kami harus berjalan lagi 5 menit ke arah kiri untuk sampai di WBL. Sadar akan hal itu kami mengendarai motor dengan pelan. Mb’ Happy dan Mas Inu juga pelan” dan menikmati aroma lelah dengan santai karena sebentar lagi sampai. Pantai di sebelah kanan jalan kami menandakan bahwa kami sudah sangat dekat dengan WBL. Walaupun senang, kami menahan senyum berkembang. Karena menurut informasi, WBL hanya buka sampai sore. Padahal saat ini jam di hape Aniez sudah menunjukkan angka 15.21. Wuuiihh.. Kami masih mencium aroma pantai saat kami melihat WBL 20 meter di depan. Sudah tak sabar.
Kami memasuki pintu masuk WBL dengan terlebih dahulu menunjukkan STNK serta mengambil karcis buat parkir. Kami cukup shock dan kaget saat petugas bilang bahwa untuk sebagian wahana sudah ditutup dan akan ditutup semua pada jam 16.30. Sedangkan WBL-nya akan ditutup setengah jam setelah itu. Gubrraaakkkk.. Setelah parkir, tempat pertama dan paling penting saat ini adalah kamar mandi. Kucel dan awut”an penampilan kita. Mencuci muka dilakukan oleh semua anggota tim. Daaaannn.. Here we go.. Inilah saatnya senang”. Setelah kami membeli karcis, kami melihat ada 43 wahana ternyata yang ada di sini. Tapi sayang, tak mungkin kami masuki semua. Apeess..
Kami sedikit bernafas lega saat kami masih melihat beberapa orang di dalam. Sekitar empat orang dan sepasang kekasih. Total, ada sepuluh orang di dalam saat ini. What..?!?! Ya sudah lah. Tak apa. Wahana pertama kami adalah Istana Boneka. Dari namanya saja, kalian bisa tebak bahwa yang ngusulin pasti salah seorang dari perempuan alay. Hmmm.. Kami Tim Supir hanya ngikut aja. Tadinya ke Rumah Sakit Hantu, tapi dua perempuan alay itu gak mau. Ya akhirnya kami harus melongo melihat boneka” geje yang bernuansa Aladin dan Arabian Night.
Usai sekitar 10 menit menghabiskan waktu melihat semua atribut boneka psikopat di ruangan muter”, kami mencari wahana yang masih belum tutup. Dan kami menemukan Drop Zone. Awalnya lamaran kami ditolak, karena jumlah kami hanya bertiga. Aniez gak mau ngikut. Gak tau kenapa. Alesannya banyak. Mau jagaen barang” lah, pengen liat aja lah, sakit perut lah, mules lah, mau salto kayang” lah, mau ngesot atau semacamnya lah. Tapi kami tau sebenarnya tu anak takut. Hahahahaha.. Akhirnya dengan bujukan maut Mb’ Happy, Aniez mau ngikut dan menyerahkan barang” ke petugas Drop Zone. Mb’ Happy dan Mas Inu di sisi barat sedangkan aku harus bersama perempuan alay yang sempet parno itu di sisi utara. Awalnya aku melihat wajah parnonya Aniez saat naik pertama. Tapi untuk kedua, ketiga dan seterusnya, tu anak malah ngakak gak karuan. Mungkin dia lagi ngigau liat stand up comedy di Drop Zone. Entahlah, yang penting dia masih sehat aku lihat.
Setelah tereak” di Drop Zone selama 7 menit-an, kami mencari satu lagi wahana yang masih ada petugasnya. Ada, Crazy Car. Semacam Roller Coaster dengan satu mobil dua penumpang saja dan arenanya tak terlalu curam. Sekali lagi, aku bersama Aniez berdua di belakang mobil pasangan kekasih itu. Dan sekali lagi, keanehan terjadi. Mb’ Happy, Mas Inu dan aku tereak” menikmati setiap taruhan adrenalin, eh si Aniez malah ketawa ngakak. Sepertinya setan Lamongan uda merasuk beneran ke anak ini pas di perjalanan tadi.
Dan Kau tau apa..?! Semua wahana ditutup pas setelah kami keluar dari Crazy Car. Kami sempet mau masuk ke Bom Bom Car karena aku dan Aniez punya rencana jahat mau nabrak dan m’celakakan sepasang kekasih yang b’jalan di depan kami ini. Hahahahahahahahahahaaa.. (tiba” tanduk iblis kami keluar). Maap maap, gak kok. Kami gak sejahat itu kok. Lagian Tuhan tak mengijinkan. Akhirnya, kami pergi ke mercusuar di dekat tanjung kodok. Karena ini yang pertama kalinya, kami mengabadikan momen” ini dengan background tanjung kodok. Selang sepuluh menit dengan photo” alay, kami pergi ke pantainya. Mb’ Happy awalnya ingin sekali mewujudkan niatnya berenang. Kebetulan pantainya deket ama Kolam Renang. Hanya saja, WBL yang sudah sepi sekaligus yang lain lagi gak minta, akhirnya dia memilih kencan di ayunan pantai. Akupun dan Aniez juga demikian. Kami maen ayunan gak jelas. Sebel juga gak jelas kayak gini. Tapi di kejauhan aku melihat ada bola lengkap dengan lapangannya, mataku langsung berbinar dan cabut meninggalkan Aniez yang mulai autis dengan BB-nya.
Sekitar setengah jam kami meng-geje di pantai, tiba” petugas m’hampiri kami dengan motornya. Dengan sangat sopan, dia mengingatkan bahwa WBL sudah ditutup setengah jam yang lalu, jadi dia memohon pada kami untuk segera angkat kaki dan pulang ke rumah orang tua kami (becanda). Akhirnya kami jalan menuju pintu keluar. Di perjalanan itu kami mikir untuk lebih mematangkan rencana jika ke sini lagi. Bayangkan saja, dari 43 wahana yang disediakan, kami melewatkan 40 gara” kesorean.
Kami tidak melewatkan b’photo di depan pintu masuk WBL dengan kepiting gede di atasnya. Selang beberapa menit kemudian, adzan Maghrib mengharuskan kami harus menuju musholla saat itu juga. Tapi peristiwa m’khawatirkan t’jadi. Kunci motor yang ditunggangi Mb’ Happy dan Mas Inu gak tau wujudnya. Mas Inu pusing, Mb’ Happy juga puyeng. Aku dan Aniez pun juga ikutan senang, eh, pusing maksunya. Sementara Mas Inu mencari ke dalam WBL, aku dan Aniez shalat minta hujan. Maaf, sahalat Maghrib maksudku. Alhmadulillah, Tuhan mengabulkan doa Satpam. Kunci motornya ketemu di salah satu wahana yang kita naiki tadi. Alhamdulillah. Kami pun meluncur pulang meninggalkan WBL dan isinya menuju Surabaya.
Di perjalanan, kami sempatkan makan malam Soto Lamongan. Hmmm.. Rasanya luaarrrr biasssaaa. Gak enak sumpah. Kebetulan aku pecinta kuliner soto. Dan jika dibandingkan Soto Lamongan yang dijual di Malang, rasanya lebih biasa. Tapi entahlah, Karen lapar mungkin, semangkok soto ini aku habiskan. Tanpa banyak santai, kami lanjutkan perjalanan menuju Surabaya yang begitu sepi dan hanya ramai dengan cerita” yang aku dan Aniez lontarkan secara bergantian tentang kehidupan sebelum berstatus menjadi mahasiswa.
Jalan raya begitu terang dan sangat ramai saat motor kami sampai di Kota Pabrik; Gresik. Di kanan dan kiri kami melihat kepulan asap dari berbagai pabrik yang ada di sepanjang jalan. Kami dapat pastikan pabrik Semen Gresik salah satu dari pabrik tersebut. Tapi karena fokus pada perjalanan ke Surabaya, kami begitu saja melewatkan daerah ini. Bahkan perlahan kami tanpa sadar sudah memasuki wilayah Surabaya. Kota Aniez, perempuan alay yang tak bisa feminin. Kami menuju rumah Aniez.
Entah dalam perjalanan menuju rumah Aniez ini aku merasakan sebuah angin yang tak biasa berhembus. Sebenarnya, banyak kisah dan cerita yang pernah mengukir namaku di kota ini. Sebagian secara sengaja dan sebagian lainnya tak sengaja. Hanya saja, cerita itu tak semuanya menimbulkan kegembiraan. Termasuk penyesalan yang pernah menjadikanku uring”an. Tapi semua itu telah lewat. Bersepeda motor dengan Aniez malah menimbulkan kembali ingatan itu. Sampai akhirnya kami tiba di gang tempat rumah Aniez berada; Kaliasin. Sebuah gang yang terletak di samping Mall Tunjungan Plaza pas.
Kami langsung bersua dengan kedua orang tuanya dan menyalaminya. Dari tiga orang tamunya, hanya aku yang tak ditanya tentang kuliah. Hahahahaa.. Tak apalah. Mungkin orang tua Aniez mengira aku masih SMP atau SMA. Tanpa banyak Tanya, Aniez perempuan alay itu memesan empat ‘tahu tek’. Makanan sejenis batagor atau tahu telor yang hanya ada di Surabaya. Spontan kami kaget dan menolak. Tapi apa daya, empat tahu tek telah tersaji ketika kami tau. Dasar.
Setengah jam berlalu akhirnya kami digiring oleh Aniez ke rumahnya yang lain di ujung gang yang saat ini dijadikan tempat kos perempuan. Gila. Aku harus tidur di rumah yang dipenuhi perempuan. Tapi tak apalah, daripada nge-gembel gue. Aku dan Mas Inu tidur di kamar yang tak dipakai di urutan paling depan. Kami tak langsung tidur, kami sempatkan mandi dan sedikit membaca buku. Sayup” aku masih mendengar cekikikan dari kamar sebelah, tempat Aniez dan Mb’ Happy berada saat jam menunjukkan angka 01.21. Heemmmm.. Apa sih yang mereka gosipin jam segini. Sementara kami terbangun dengan alasan yang berbeda. Aku karena kepanasan sedangkan Mas Inu karena nyamuk. Hahahahaa..
Sabtu, 28 April 2012..
Subuh” kami bangun dan shalat. Mas Inu langsung tidur kembali, aku memilih membuka laptop dan meneruskan draft LPJ PPPA sampai aku tertidur di depan laptop. Bangun” sudah duduk manis seorang perempuan dengan senyumnya yang alay untuk membangunkanku.
Dua jam setelah itu, kita masih mampir di Pasar Gembong, Kios Kaos Cak Cuk, DTC dan balik ke Malang, kota yang menuntun kembali pada kerisauan. Aku sadari bahwa dalam menempuh hidup, tak selalu kita patuhi peraturan jika tak nyaman dengan suasana hati. Aku rasa itu sah’ saja asalkan tak merugikan pengguna peraturan lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar